NovelToon NovelToon
Dicerai Karena Mandul, Kini Aku Bunda Kembar Tiga Sang Jenderal

Dicerai Karena Mandul, Kini Aku Bunda Kembar Tiga Sang Jenderal

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Penyesalan Suami / Mandul
Popularitas:791
Nilai: 5
Nama Author: Laras Jingga

Lima tahun menikah tanpa keturunan, Sekar dicap "mandul" oleh keluarga Danuwijaya yang terpandang. Puncaknya, sang suami—Rendra—membawa pulang Kirana yang tengah hamil, lalu menjadikannya istri kedua dengan alasan, *"Kamu tak bisa memberi keturunan, Sekar."*

Dipaksa menandatangani izin poligami, difitnah, dipermalukan di grup keluarga, bahkan pelayan setianya disingkirkan—Sekar akhirnya memilih pergi. Ia menggugat cerai, membawa apa yang menjadi haknya, dan berbalik dari keluarga yang selama ini menginjaknya.

Takdir mempertemukannya dengan Mayjen Arka Prawiranegara—jenderal berdarah dingin di medan, namun seorang duda yang lembut pada kedua anak angkatnya. Pria yang menyelamatkannya, membelanya di depan umum, dan berjanji: *"Seumur hidup, hanya kamu. Tak akan ada istri kedua."*

Lalu takdir menampar semua yang pernah menghinanya—**Sekar hamil. Kembar tiga.** Dan hasil pemeriksaan medis membongkar kebenaran yang selama ini dikubur: **yang mandul bukan Sekar… tapi Rendra.**

Saat namanya bersinar sebagai nyonya jenderal dan bunda dari tiga bayi, Rendra datang berlutut, memohon kembali. Sekar hanya tersenyum dingin, mengelus perutnya, dan berkata pelan:

*"Kamu yang dulu tak menghargai. Sekarang… kamu sudah tak pantas lagi, Mas Rendra."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28

Bayi Perempuan Bernama Sasa

Kontraksi pertama datang ketika Kirana masih memutar ulang video Rendra mengejar mobil Sekar.

Rasa sakit melingkari pinggangnya, membuat ponsel terlepas ke lantai. Yanti memanggil Wida dan sopir. Kurang dari satu jam kemudian, Kirana sudah berada di ruang bersalin sebuah rumah sakit swasta Jakarta.

Keluarga Danuwijaya memenuhi ruang tunggu.

Eyang Sri membawa tas berisi pakaian bayi laki-laki berwarna biru. Wida sudah memesan hiasan kamar dengan tulisan `Cucu Laki-Laki Danuwijaya`. Hartono sibuk menelepon kerabat penting, memberi tahu bahwa penerus keluarga akan lahir hari itu.

Tidak seorang pun bertanya apakah Kirana takut.

Rendra belum datang.

"Dia sedang rapat," kata Wida ketika Kirana menanyakannya untuk ketiga kali. "Jangan pikirkan itu. Fokus melahirkan."

Kirana menggenggam sisi ranjang saat kontraksi berikutnya datang. Ia teringat Sekar menjalani pemeriksaan selama enam tahun, masuk dan keluar rumah sakit sendirian. Dulu Kirana menganggap rasa sakit perempuan itu sebagai kelemahan yang bisa dipakai.

Sekarang lorong putih, suara alat, dan tatapan keluarga yang hanya menunggu jenis kelamin bayi membuatnya mengerti satu bagian kecil dari ketakutan tersebut.

Namun pengertian itu tidak melahirkan penyesalan.

Ia justru semakin marah kepada Sekar.

Beberapa jam kemudian, tangis bayi memenuhi ruang bersalin.

Dokter mengangkat tubuh kecil yang masih kemerahan. "Bayi perempuan. Napasnya baik."

Kirana menangis lega. Ia melihat jemari mungil bergerak dan seluruh kebisingan di kepalanya berhenti sesaat.

"Sasa," bisiknya. "Namamu Sasa."

Bayi diletakkan di dadanya untuk kontak kulit. Sasa mencari kehangatan dengan gerakan kecil yang belum terarah. Kirana menyentuh punggungnya dan untuk sesaat tidak memikirkan Rendra, Sekar, izin pengadilan, atau nama keluarga.

Lalu pintu terbuka.

Wida masuk paling dulu. Pandangannya turun kepada selimut merah muda, lalu berhenti.

"Perempuan?"

Satu kata itu menghapus kehangatan ruangan.

"Sehat, Bu," jawab dokter. "Beratnya baik dan tidak ada masalah awal."

"Kami diberi tahu kemungkinan laki-laki."

"Pemeriksaan ultrasonografi memiliki kemungkinan salah, terutama tergantung posisi janin. Yang penting ibu dan bayi sehat."

Wida memaksakan senyum ketika perawat melihat. "Tentu. Kesehatan paling penting."

Namun setelah dokter keluar, ia mendekati Kirana dan berbisik, "Kamu bilang yakin anak laki-laki."

"Saya bilang dokter menduga."

"Seluruh keluarga sudah diberi tahu."

"Apa saya harus meminta maaf karena melahirkan anak perempuan?"

Wida langsung melihat ke pintu, takut ada yang mendengar. "Jangan bicara keras. Kamu baru melahirkan."

Eyang Sri masuk bersama Hartono. Perempuan tua itu melihat Sasa hanya beberapa detik.

"Semoga anak berikutnya laki-laki," katanya.

Tidak ada ucapan bahwa Sasa cantik. Tidak ada tangan yang ingin menggendong. Tas pakaian biru tetap tertutup di kursi.

Hartono menerima telepon dan keluar. Eyang Sri mengatakan lelah lalu pulang. Wida tinggal sebentar untuk mengambil foto yang akan dikirim ke grup keluarga, tetapi memilih sudut yang tidak memperlihatkan hiasan bayi laki-laki yang salah.

Seorang petugas administrasi datang membawa formulir data kelahiran. Ia meminta dokumen identitas ibu, surat keterangan kelahiran, dan informasi perkawinan untuk proses pencatatan berikutnya.

Wida langsung mengambil map dari tangan Yanti. "Nama keluarga bayinya tulis Danuwijaya."

Petugas itu menjelaskan bahwa rumah sakit mencatat data sesuai dokumen yang diserahkan, sementara akta kelahiran diproses melalui instansi pencatatan sipil dengan persyaratan yang berlaku.

"Pernikahan mereka akan segera diresmikan," kata Wida.

"Permohonan izin poligami belum diajukan dengan persetujuan lengkap," balas petugas hati-hati. "Kami tidak dapat mengubah status dokumen berdasarkan rencana."

Wida menoleh kepada Kirana. "Lihat akibat Sekar keras kepala. Bahkan urusan nama anak menjadi rumit."

Kirana menahan sakit dan amarah. "Sasa tetap anak Mas Rendra."

"Kalau begitu seharusnya kamu melahirkan sesuatu yang membuat keluarga lebih mudah memperjuangkanmu."

Kalimat itu terlalu kejam untuk disebut salah dengar. Wida keluar sambil membawa formulir, meninggalkan Kirana menatap putrinya yang tertidur.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari perlindungan Danuwijaya tidak pernah diberikan kepada seorang perempuan. Perlindungan itu hanya disewakan selama perempuan tersebut berguna.

Di lorong, seorang perempuan bernama Lastri berdiri membawa termos. Ia memandang ke dalam kamar sekali, tersenyum samar kepada Wida, lalu berjalan menuju lift tanpa memperkenalkan diri kepada Kirana.

Kirana tidak memedulikannya.

Ia menunggu Rendra.

Lelaki itu baru datang menjelang malam. Kemejanya masih sama seperti di video SCBD. Lingkaran gelap terlihat di bawah matanya.

"Mas," panggil Kirana.

Rendra mendekati ranjang. Ia melihat Sasa, menyentuh selimutnya sebentar, lalu meletakkan buket bunga di meja.

"Dia sehat?"

"Sehat. Namanya Sasa."

"Bagus."

"Mas tidak mau menggendong?"

Rendra melirik jam. "Aku tidak biasa memegang bayi baru lahir. Nanti saja."

Kirana menahan napas. "Mas masih marah karena telepon Sekar?"

"Kita tidak membicarakan itu di sini."

"Mas mengejarnya di jalan, tapi datang terlambat saat anakmu lahir."

Rendra menatapnya dingin. "Kalau kamu tidak mengirim orang ke Puncak, tidak ada telepon yang perlu dibicarakan."

"Aku melakukan itu karena Sekar terus merusak kita."

"Kamu membuat namaku terhubung dengan penyelidikan percobaan pembunuhan."

"Mas tahu orang Ayah membantuku. Mas hanya tidak mau tahu detail."

Rendra mendekat, suaranya rendah. "Jangan pernah ucapkan itu kepada siapa pun."

Sasa menangis. Rendra mundur seolah suara kecil itu menambah tekanan di kepalanya.

"Aku harus pergi. Besok ada urusan kantor."

"Mas baru datang."

"Mama akan menyiapkan perawat."

Pintu tertutup di belakangnya.

Kirana menatap buket yang bahkan tidak dipilih Rendra sendiri. Kartu ucapan dicetak oleh toko. Tidak ada tulisan tangan.

Malam itu keluarga mengirim puluhan pesan di grup. Mereka mengucapkan selamat, tetapi hampir semuanya menyisipkan doa agar anak berikutnya laki-laki. Foto Sasa mendapat lebih sedikit reaksi daripada foto perut Kirana pada hari ia datang ke rumah.

Yanti membantu mengganti popok, lalu tertidur di sofa. Perawat membawa Sasa kembali setelah pemeriksaan dan menjelaskan jadwal menyusu.

Kirana memeluk bayi itu sendirian.

Sasa tidak bersalah. Jemarinya menggenggam ujung baju ibunya, tidak tahu bahwa orang-orang sudah menilai nilainya beberapa menit setelah lahir.

Kirana mencium keningnya. Luka di tubuhnya berdenyut. Di layar ponsel, video Rendra dan Sekar masih terus dibagikan.

Ia telah mempertaruhkan segalanya untuk menjadi perempuan yang memberi keluarga Danuwijaya keturunan. Sekarang mereka menatap putrinya dengan kekecewaan yang sama seperti dulu mereka menatap Sekar.

Bukannya membenci aturan kejam itu, Kirana hanya ingin memastikan dirinya kembali berada di pihak yang menang.

"Mama tidak akan kalah," bisiknya kepada Sasa. "Tidak akan."

Ia mengangkat wajah ke jendela. Di balik kaca, lampu Jakarta memanjang ke arah jalan yang membawa Sekar pergi dari SCBD.

Di mata Kirana, setiap cahaya di arah itu berubah menjadi sesuatu yang harus dipadamkan sebelum Sekar merebut seluruh panggung.

Apa pun caranya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!