NovelToon NovelToon
Adik Tunanganku yang Nakal dan Liar

Adik Tunanganku yang Nakal dan Liar

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:905
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Malam pesta pertunangan yang seharusnya jadi malam paling membahagiakan, **Laras Wirasena**—pianis muda dari keluarga terpandang—malah memergoki tunangannya sendiri, **Radithya Adiwangsa**, pewaris Grup Adiwangsa, sedang bermain api dengan asistennya di balik pintu yang terbuka sedikit.

Belum sempat Laras mengamankan bukti, ponselnya direbut dan videonya dihapus—oleh **Bramantya**, adik kandung Radit yang terkenal nakal, urakan, dan tak kenal aturan. Bukannya membela, cowok itu malah menyeringai menantang:

> *"Menggodaku buat balas dendam ke abangku?"*

Laras cuma menginginkan satu hal: membatalkan tunangan dan lepas dari keluarga yang menjualnya demi sebuah proyek bisnis raksasa. Tapi malam itu mengubah segalanya. Sekali, dua kali... lalu malam-malam rahasia yang tak terhitung lagi jumlahnya.

Yang tak Laras sadari: di balik topeng *bad boy* itu, Bram menyimpan sebuah bekas luka di pinggang, sebuah tato Latin di jarinya, dan satu rahasia yang telah ia pendam bertahun-tahun. Pria yang katanya cuma cari senang ini ternyata pernah menahan sebuah peluru demi menyelamatkan nyawanya di sebuah gedung konser di luar negeri—dan telah mencintainya diam-diam, jauh sebelum takdir "mempertemukan" mereka.

Ketika perselingkuhan sang tunangan meledak di depan seluruh undangan, ketika kembang api pecah di atas panggung juaranya, ketika satu ciuman viral mengguncang seluruh negeri—Laras akhirnya harus memilih: terus berpura-pura, atau mengakui bahwa satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya justru adik dari pria yang mengkhianatinya.

Tapi Bram tak datang hanya untuk mencintainya. Ia datang untuk merebut kembali segalanya—dan menjatuhkan abangnya sendiri, sampai ke titik terdalam.

> *"Sekarang dia mantan tunanganmu, pacarku, dan calon adik iparmu. Kenapa, Mas?"*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8

Mahkota dan Sebuah Tamparan

Tak seorang pun menyebut kata batal ketika keluarga Wirasena tiba di kediaman utama Adiwangsa.

Pendopo luas di tengah kompleks menyala keemasan. Pelayan berseragam membawa teh melati dan jajanan pasar dalam piring porselen tipis. Di dinding ruang makan privat, ukiran kayu tua berdampingan dengan lukisan modern bernilai miliaran.

Semua tampak hangat. Terlalu hangat untuk dua keluarga yang seharusnya membicarakan perselingkuhan.

Bu Ratna memeluk Laras di foyer. "Kamu makin kurus, Nak. Jangan terlalu keras latihan."

"Saya baik-baik saja, Bu."

"Nanti setelah akad, suruh Radit memastikan kamu makan teratur."

Laras sempat menoleh kepada Pak Broto. Ayahnya sedang berjabat tangan dengan Pak Kusumo, seolah percakapan semalam tidak pernah terjadi. Bu Widuri pun tersenyum kepada tuan rumah dengan wajah sempurna seorang mantan aktris di depan kamera.

Radit datang terakhir dari ruang kerja. Ia mengecup udara di dekat pelipis Laras.

"Kamu cantik sekali."

"Terima kasih."

"Masih marah?"

"Kita bicarakan setelah makan."

Radit tersenyum yakin. "Tentu."

Kursi di seberang Laras masih kosong saat hidangan pertama disajikan.

"Bram memang begini," kata Pak Kusumo dengan nada meminta maklum. "Kalau bukan terlambat, berarti tidak datang."

Bu Ratna melihat ponsel. "Katanya dari rumah sakit."

"Eyang kenapa?" tanya Laras.

"Tidak apa-apa," jawab Bu Ratna. "Sejak jatuh dua tahun lalu, beliau lebih nyaman tinggal di kamar VIP rumah sakit. Perawat dan Pak Gito selalu ada. Kadang beliau merasa nyeri, lalu menyuruh semua orang panik."

Pak Kusumo menghela napas. "Umurnya hampir sembilan puluh, tetapi masih suka mengatur rapat dari ranjang."

Pak Broto menatap Laras. "Kamu harus lebih sering menjenguk Eyang. Beliau sangat menyukaimu."

Laras hampir tertawa. Ayahnya bahkan bisa memakai seorang lelaki tua di rumah sakit untuk mengingatkan kewajibannya sebagai calon menantu.

"Setelah konser minggu depan, aku akan antar," kata Radit.

"Mas bisa datang ke konser?"

"Maaf, sayang. Ada perjalanan dinas. Tapi setelah pulang, kita langsung ke rumah sakit."

Laras mengeluarkan empat amplop undangan dari tas. Ia memberikan masing-masing kepada Pak Kusumo dan Bu Ratna, lalu menaruh satu di depan kursi kosong.

"Untuk Bram juga?" Radit bertanya.

"Saya membawa sesuai jumlah anggota keluarga."

Pintu geser terbuka sebelum ia selesai bicara.

Bram masuk dengan kemeja putih dan jas gelap yang belum dikancing. "Maaf. Jalan dari rumah sakit macet."

"Kamu membuat semua orang menunggu," tegur Pak Kusumo.

"Padahal aku sudah bilang mulai makan dulu."

Bram mencium punggung tangan Bu Ratna, menyapa Pak Broto dan Bu Widuri dengan sopan, lalu duduk di seberang Laras. Pandangannya turun ke amplop di atas piring.

"Buat aku?"

"Tiket konser," jawab Laras.

"Datang," kata Bu Ratna. "Kakakmu tidak bisa. Setidaknya satu anak Ibu harus memberi dukungan."

Bram mengambil tiket itu. "Aku datang."

Jawabannya terlalu cepat. Radit melirik adiknya, sementara Laras berpura-pura sibuk dengan serbet.

Makan malam bergerak di atas rel yang sudah dipasang orang lain. Pak Kusumo dan Pak Broto membicarakan Cakrawala. Bu Ratna bertanya tentang kebaya untuk akad. Bu Widuri menyebut nama penata rias langganannya. Radit membahas jumlah undangan keluarga.

Tidak ada yang bertanya apakah Laras masih ingin menikah.

Saat hidangan utama dibersihkan, Bu Ratna memberi isyarat kepada pelayan. Sebuah kotak kayu gelap dibawa masuk dan diletakkan di meja.

"Ini seharusnya diberikan lebih dekat ke hari akad," katanya. "Tapi Ibu pikir malam ini waktu yang baik."

Tutup kotak terangkat.

Mahkota kecil berlapis berlian dan safir terbaring di atas beludru biru tua. Kilau batu-batunya memantul di gelas dan sendok, tajam seperti puluhan mata.

Bu Widuri menarik napas kagum. Pak Broto tersenyum untuk pertama kalinya malam itu.

"Ini tiara warisan keluarga Adiwangsa," jelas Bu Ratna. "Dulu milik ibu mertua Ibu. Beliau memakainya saat acara keluarga besar. Sekarang Ibu menyerahkannya kepada calon menantu pertama."

Kotak itu didorong ke arah Laras.

Berat mahkota tersebut bahkan belum menyentuh kepalanya, tetapi leher Laras sudah terasa tercekik.

"Bu Ratna, saya..."

Jemari Bu Widuri mencengkeram pergelangan tangannya di bawah meja.

Kuku ibunya menekan kulit tepat di atas nadi.

Laras menoleh. Bu Widuri tetap tersenyum kepada semua orang. Hanya matanya yang memberi peringatan.

Jangan macam-macam.

"Kenapa, Nak?" tanya Bu Ratna.

Laras menarik napas. Kalau ia menolak sekarang, Pak Broto akan menganggapnya sengaja menghancurkan Cakrawala di depan keluarga Adiwangsa. Bukti perselingkuhan memang ada, tetapi kedua orang tuanya sudah memutuskan bukti itu tidak penting.

Ia tidak boleh bertarung tanpa jalan keluar.

"Saya terharu," katanya akhirnya. "Terima kasih sudah mempercayakan benda sepenting ini kepada saya."

Bu Ratna tersenyum lega. Ia mengangkat mahkota dengan kedua tangan dan meletakkannya di telapak Laras.

"Jaga baik-baik. Nanti pakai saat acara keluarga setelah akad."

Laras mengangguk.

Di seberang meja, kertas berdesis pelan.

Bram sedang melipat tiket konser. Bukan sekali, melainkan menggenggamnya sampai permukaan kertas membentuk kerutan dalam. Wajahnya tenang, tetapi rahangnya keras.

Tatapan mereka bertemu.

Laras melihat pertanyaan yang sama seperti di bawah lampu jalan.

Masih mau nikah?

Ia memalingkan wajah.

"Tentang tanggal," kata Pak Kusumo. "Kami sudah bicara dengan Kepala KUA di wilayah kami. Jadwal penghulu padat setelah tahun baru, tapi dengan koneksi yang ada, tanggal enam belas Januari bisa diamankan."

"Akad pagi, lalu resepsi siang," Bu Ratna menambahkan. "Sederhana untuk ijab kabul, besar untuk resepsi."

Pak Broto mengangguk. "Tanggal itu cocok."

"Kami juga setuju," kata Bu Widuri.

Laras menatap kedua orang tuanya. "Tidak ada yang bertanya kepada saya."

Suasana meja berhenti.

Radit menutup tangannya di atas tangan Laras. "Kita sudah membicarakan pernikahan sejak bertunangan, sayang. Kalau enam belas Januari terlalu cepat, kita bisa mengatur persiapan bersama."

"Bukan soal persiapan."

Cengkeraman Bu Widuri kembali menekan pergelangannya.

Pak Broto berdeham. "Laras sedang tegang karena konser. Enam belas Januari tidak masalah."

Bram meletakkan tiket yang kusut di meja. Bunyi kecil itu membuat Laras menoleh.

"Kalau orang yang mau akad bilang ada masalah, mungkin didengar dulu," katanya.

"Bram," tegur Pak Kusumo.

Radit tersenyum tipis. "Adikku hanya khawatir Laras terlalu sibuk."

"Iya," jawab Bram tanpa senyum. "Khawatir."

Laras menahan seluruh kata di belakang giginya sampai makan malam selesai.

Dalam perjalanan pulang, mahkota itu terletak di pangkuannya. Berlian dan safir tetap berkilau setiap mobil melewati lampu jalan. Bu Widuri duduk di sampingnya, sementara Pak Broto berada di depan bersama sopir.

Tidak ada yang bicara.

Begitu mereka tiba di Vila Wirasena, Laras membawa kotak mahkota ke ruang tamu dan menaruhnya di meja.

"Saya tetap mau batal tunangan."

Ia membuka kotak dan memeriksa pengunci mahkota. Benda itu masih utuh. Lalu ia menutupnya kembali, mengikat pita pengaman, dan mendorongnya ke tengah meja.

"Besok saya kembalikan ke Bu Ratna."

"Kamu tidak akan melakukan itu," kata Pak Broto.

"Ini milik keluarga Adiwangsa. Kalau saya nggak jadi menikah dengan Radit, saya nggak berhak menyimpannya."

"Mengembalikan hadiah sehari setelah menerimanya sama saja menampar wajah mereka," ujar Bu Widuri. "Seluruh keluarga besar akan tahu ada masalah."

"Memang ada masalah."

"Kita akan menyelesaikannya diam-diam. Bapakmu bicara dengan Pak Kusumo, Tiara dipindahkan, lalu kalian lanjut akad."

Laras menatap ibunya. "Kalian sudah merencanakan itu tanpa saya?"

"Kami sedang mencari jalan terbaik."

"Terbaik untuk proyek."

Pak Broto berdiri di sisi meja. "Mahkota itu simbol kepercayaan keluarga Adiwangsa. Jangan mempermainkan sesuatu yang nilainya bahkan tidak bisa kamu ukur."

"Saya tahu nilainya." Laras menyentuh kotak kayu gelap itu. "Justru karena tahu, saya nggak mau memakai warisan perempuan keluarga mereka untuk menutupi aib seorang laki-laki."

Bu Widuri menarik napas tajam. "Semua pernikahan punya aib yang ditutup. Orang dewasa memilih mana yang layak dibuka."

"Dan Ibu sudah memilih menutup semuanya terlalu lama?"

Pak Broto melepaskan jas. "Kita sudah membahas ini."

"Bapak yang bicara. Saya tidak pernah setuju."

"Kamu menerima tiara itu."

"Karena Ibu hampir melukai pergelangan saya di bawah meja."

Bu Widuri menutup pintu ruang tamu. "Ibu mencegahmu mempermalukan keluarga."

Laras menunjukkan bekas kuku yang masih merah. "Radit seperti apa, Ibu dan Bapak tahu. Yang kalian inginkan bukan saya bahagia. Kalian hanya menginginkan izin dan pendanaan Cakrawala."

"Kami menginginkan masa depanmu aman," kata Bu Widuri.

"Aman dengan lelaki yang meniduri asistennya?"

"Jaga bahasamu!"

"Kenapa? Karena kalau disebut dengan kata yang benar, semuanya terdengar terlalu buruk untuk ditoleransi?"

Pak Broto mengangkat tangan. "Cukup, Laras."

Namun Laras menatap ibunya. Wajah cantik yang dahulu memenuhi layar bioskop itu kini masih sempurna, hanya lebih tegang di sekitar mata.

"Ibu berhenti berakting setelah menikah," kata Laras. "Ibu mengikuti semua keputusan Bapak, menjaga rumah dan nama baik. Setelah melakukan semuanya, apa Ibu benar-benar merasa aman dalam pernikahan ini?"

Wajah Bu Widuri memutih.

"Jangan membawa rumah tangga Ibu ke sini."

"Saya cuma ingin tahu. Kalau Ibu sendiri nggak punya rasa aman, kenapa Ibu mendorong saya masuk ke pernikahan yang bahkan sejak awal sudah busuk?"

Bu Widuri melangkah maju.

Tidak ada peringatan.

Telapak tangannya menghantam pipi kanan Laras.

Kepala Laras terlempar ke samping. Kotak mahkota yang tadi ia tarik ke pangkuan tergelincir. Tutupnya terbuka saat jatuh, dan tiara warisan itu menghantam lantai marmer dengan bunyi nyaring.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!