Anya, seorang wanita biasa yang hidupnya tenang, terpaksa terjebak dalam kesepakatan berbahaya untuk menjadi tunangan palsu Kenji, Tuan Muda dari klan mafia paling ditakuti, selama enam bulan demi melunasi utang ayahnya.
Rencananya tampak sederhana, hanya perlu berpura-pura jatuh cinta di depan publik, namun Anya segera menyadari bahwa hidup di sisi Kenji berarti menghadapi dunia yang gelap dan mematikan, di mana pengkhianatan, pertumpahan darah, dan ancaman dari geng rival menjadi makanan sehari-hari.
Anya harus berjuang bertahan hidup di jaring kekejaman mafia sambil melawan perasaan terlarang yang mulai tumbuh untuk pria berbahaya yang hidupnya selalu berlumuran darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Dia mengeluarkan saputangan putih dari saku jasnya dan mengelap tangannya seolah baru saja menyentuh kotoran.
"Berapa lama kau pikir kau bisa mengumpulkan lima ratus juta?" tanya Kenji sangat dingin.
"Bekerja seumur hidup pun sebagai pelayan kau tidak akan pernah bisa membayarnya."
[Pilihan Sistem Tersedia]
[Opsi 1: Menangis tersedu-sedu dan memohon ampun. Hadiah: Kematian instan]
[Opsi 2: Menawarkan diri menjadi budaknya seumur hidup. Hadiah: Disiksa pelan-pelan]
[Opsi 3: Tawarkan kesepakatan gila untuk menunda waktu. Hadiah: Peluang bertahan hidup 10 persen]
Anya membaca layar biru yang muncul di depannya itu dengan sangat cepat.
"Ini gila, tapi aku sungguh tidak punya pilihan lain lagi," batin Anya frustrasi.
"Aku akan melakukan apa saja untukmu," ucap Anya tiba-tiba dengan nada suara yang sengaja dinaikkan agar terdengar yakin.
Kenji menghentikan gerakan tangannya yang sedang membuang saputangan lalu menatap Anya kembali.
"Apa saja?" ulang Kenji mematikan.
"Ya, apa saja asalkan kau tidak membunuhku atau menjualku ke pelelangan."
Keheningan seketika menyelimuti ruangan kotor itu selama beberapa detik yang terasa sangat panjang.
Preman-preman di belakang mereka bahkan menahan napas karena takut memancing amarah Tuan Muda itu.
Kenji tiba-tiba mengukir sebuah senyuman miring di wajahnya.
Senyum itu sama sekali tidak terlihat ramah, melainkan memancarkan bahaya yang lebih besar.
"Keluarga inti sedang mendesakku untuk segera mencari pasangan dan menikah."
"Mereka terus saja mengirimkan wanita-wanita merepotkan untuk dijodohkan denganku setiap minggunya."
Anya mengerutkan keningnya karena merasa kebingungan dengan arah pembicaraan ini.
"Aku butuh seseorang untuk menjadi tamengku dari para tetua itu."
"Seseorang yang cukup bodoh dan putus asa untuk mempertaruhkan nyawanya di sisiku."
Kenji perlahan mengarahkan ujung pistolnya tepat ke tengah kening Anya.
"Jadilah tunanganku selama enam bulan."
Anya melebarkan kedua matanya karena sangat terkejut mendengar tawaran itu.
"Tunangan?" ulang Anya tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Ya, tunangan palsuku."
"Kau hanya perlu berpura-pura mencintaiku dan tinggal di rumah utamaku agar mereka percaya."
"Sebagai imbalannya, aku akan menganggap lunas utang ayahmu dan melindungimu dari anjing-anjing ini."
Kenji menunjuk ke arah pria botak dan anak buahnya dengan ujung pistolnya sekilas.
"Tapi mari kita perjelas satu hal sebelum kau setuju."
Kenji kembali membungkukkan badannya dan berbisik pelan tepat di dekat telinga Anya.
"Berada di sisiku berarti nyawamu akan selalu menjadi incaran utama musuh-musuhku setiap saat."
Anya menahan napasnya sejenak mendengar ancaman nyata dari bibir pria itu.
"Jadi, kau pilih mana sekarang?"
"Mati malam ini di tempat kumuh ini, atau mencoba bertahan hidup selama enam bulan di duniaku yang berdarah?"
[Misi Utama Diperbarui: Terima tawaran gila Tuan Muda Mafia]
Anya mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih pasi.
Dia melirik ke arah pria botak yang masih menatapnya dengan penuh dendam dan nafsu.
Lalu dia melihat kembali ke arah Kenji yang menunggu jawabannya dengan raut wajah sangat bosan.
"Enam bulan," ucap Anya akhirnya dengan nada mantap.
"Setelah enam bulan, aku akan bebas dan utang ayahku lunas sepenuhnya."
Kenji menarik kembali pistolnya dari kening Anya lalu menyimpannya di balik jas.
"Sepakat."
"Bawa dia ke mobilku sekarang," perintah Kenji pada seseorang yang baru saja melangkah masuk ke ruangan.
Orang itu adalah seorang pria berkacamata yang merupakan asisten pribadi Kenji.
"Baik, Tuan Muda," jawab asisten itu dengan sopan.
Asisten itu segera menghampiri Anya dan membantunya berdiri dari lantai yang dingin.
Anya berjalan tertatih sambil memegangi pipinya, mengikuti asisten itu keluar dari ruangan yang bau pesing tersebut.
Saat Anya melewati ambang pintu yang hancur, dia menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya.
Dia melihat Kenji masih berdiri di tengah ruangan sambil menyalakan sebatang rokok dengan santai.
"Mulai malam ini, hidupku yang damai sudah benar-benar berakhir," batin Anya pedih.
Hujan mulai turun rintik-rintik membasahi aspal saat Anya masuk ke dalam mobil mewah berwarna hitam pekat itu.
Pintu mobil ditutup dengan suara bantingan yang sangat halus.
Blam.
Mobil itu perlahan bergerak membelah jalanan, meninggalkan gang sempit dan gelap tersebut di belakang.
Anya menyandarkan kepalanya yang terasa pusing di kaca jendela mobil yang dingin.
Dia menatap kosong lampu-lampu jalanan kota yang terlihat buram tersapu air hujan.
[Selamat, Anda berhasil bertahan hidup hari ini.]
[Hadiah: Poin Keberanian +1]
Anya hanya bisa menghela napas panjang melihat tulisan sistem itu memudar dari pandangannya.
Di kursi depan, Kenji duduk dengan sangat tenang sambil sibuk memeriksa layar ponselnya.
Tidak ada pembicaraan sama sekali di antara mereka berdua di sepanjang perjalanan di dalam mobil itu.
Anya tahu betul bahwa ini baru saja permulaan dari mimpi buruknya yang sesungguhnya.
Satu dunia yang penuh dengan darah kini telah menyambutnya masuk.