Mahardika yang harus menanggung penyakit kusta selama 3 tahun, setelah berobat di berbagai macam caranya, dari obat alternatif, hingga rumah sakit besar, tapi penyakitnya tak kunjung sembuh.
Hingga akhirnya, uang tabungan habis untuk berobat dan hanya tinggal sebidang tanah dan sebuah rumah yang tersisa. Dan itu tidak mungkin ia jual karena hanya itu satu-satunya peninggalan untuk anak dan istrinya.
Hingga akhirnya ia bermimpi ada seorang kakek datang dan memintanya untuk datang ke gunung Merapi jika ia mau sembuh.
Mahardika pun meminta izin dengan istrinya, dan berharap bisa sembuh jika ia berobat dengan kakek tersebut.
Hari berganti bulan, hingga akhirnya dia tahun berlalu. Kini Mahardika sudah sembuh total dan sehat kembali dan mendapatkan wasiat menjadi tabib.
Tapi saat ia pulang, alangkah terkejutnya dia. Karena rumah dan tanah itu sudah terjual, dan lebih sakitnya, anaknya ternyata di titipkan ke panti, sementara istrinya sudah menikah lagi.
Akhirnya ia membangun keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Tuan Baskoro memegang dadanya dengan napas yang makin teratur.
Ia menatap Mahardika dengan rasa kagum. Seumur hidupnya di dunia bisnis kota, ia telah bertemu banyak dokter spesialis ternama, tetapi tak satu pun memiliki kemampuan pengobatan kilat seajaib ini.
"Luar biasa... Anak Muda, kamu bukan cuma menyembuhkanku, tapi menyelamatkan nyawaku dari cengkeraman maut!" gumam Tuan Baskoro dengan penuh rasa syukur.
Saat itu, penjual sate melangkah mendekat dengan raut wajah ragu-ragu dan agak takut.
"P-pak... maaf. Saya senang Bapak sudah sehat kembali... Tapi gerobak dan tempat dagangan saya hancur tertabrak mobil Bapak..." kata penjual sate itu pelan sambil menunjuk gerobaknya yang hancur berantakan.
Tuan Baskoro langsung menoleh. Ia melihat pecahan kayu gerobak, arang yang berserakan, dan tempat usaha rakyat kecil yang hancur akibat mobilnya yang hilang kendali.
"Ah, maafkan saya, Pak!" kata Tuan Baskoro.
Ia merogoh saku dalam jas mewahnya dan mengeluarkan sebuah dompet kulit tebal.
Tanpa ragu, ia mengambil seikat uang kertas pecahan seratus ribu dan menyerahkannya langsung ke tangan penjual sate itu.
"Ini ada dua puluh juta. Tolong terima untuk mengganti rugi gerobak, dagangan Bapak, dan kerugian hari ini. Jika kurang, Bapak bisa hubungi sekretaris saya," ucap Tuan Baskoro tulus.
Mata penjual sate itu terbelalak tak percaya menerima seikat uang tebal tersebut. "D-dua puluh juta?! Ini... ini lebih dari cukup, Pak! Terima kasih banyak, Pak! Terima kasih!"
Melihat tindakan Tuan Baskoro yang tidak semena-mena dan langsung bertanggung jawab, penilaian Mahardika terhadap pria ini sedikit bergeser.
Sepertinya Tuan Baskoro bukanlah pengusaha licik, melainkan orang-orang di bawahnya, seperti Haryo dan Siska, yang menggunakan namanya untuk berbuat culas.
"Papa..." Amel mendekat pelan, menggenggam erat jari Mahardika sambil menatap Tuan Baskoro.
Tuan Baskoro menoleh, menatap putri kecil Mahardika yang manis. Senyum hangat terukir di wajah pria paruh baya itu.
"Ini putrimu, Mahardika?" tanya Tuan Baskoro lembut.
"Iya, ini Amel, putri saya," jawab Mahardika mengusap kepala Amel.
Tuan Baskoro mengangguk-angguk anggun.
Ia lalu merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna hitam tinta emas, lalu menyodorkannya kepada Mahardika dengan kedua tangan.
"Mahardika, budi baikmu menyelamatkan nyawaku tidak akan pernah kulupakan," kata Tuan Baskoro dengan tulus.
"Ini kartu nama pribadiku. Di kota ini, jika kamu membutuhkan bantuan apa pun, cukup sebut namaku atau hubungi nomor ini. Aku akan berdiri di belakangmu," kata Baskoro tulus.
Mahardika menerima kartu nama berkualitas tinggi itu dan melihat tulisannya: Baskoro Utama - Chairman Perkasa Group.
"Perkasa Group... Rupanya Haryo dan Siska menjual namamu untuk menindas rakyat kecil dan merebut tanahku," batin Mahardika tersenyum dingin di dalam hati.
"Terima kasih, Pak Baskoro. Saya akan menyimpannya," ucap Mahardika tersenyum tipis.
Tak lama kemudian, suara sirine mobil pengawal dan ambulans pribadi mendekati lokasi kejadian.
Beberapa pria bersetelan jas hitam melompat keluar dengan panik begitu melihat Tuan Baskoro duduk di pinggir jalan.
"Tuan Besar! Anda tidak apa-apa?!" seru pengawal pribadinya dengan cemas.
"Aku tidak apa-apa. Dokter muda ini yang menyelamatkanku," jawab Tuan Baskoro seraya berdiri perlahan dibantu pengawalnya.
Sebelum masuk ke dalam mobil pengawal, Tuan Baskoro berbalik sekali lagi menatap Mahardika.
"Mahardika, besok atau lusa, biarkan aku mengundangmu dan putrimu makan malam resmi sebagai ungkapan terima kasihku," undangnya sedikit membungkuk memberi hormat.
"Lihat nanti saja, Pak Baskoro. Yang terpenting sekarang tingkatkan kesehatan Anda dulu," balas Mahardika santai.
Tuan Baskoro tersenyum kagum melihat ketenangan pemuda itu, lalu mengangguk sebelum akhirnya berlalu pergi dikawal oleh anak buahnya.
Setelah kerumunan warga membubarkan diri dan jalanan kembali tenang, Amel mendongak menatap ayahnya. "Papa, kita jadi makan sate nggak?"
Mahardika tertawa renyah, menggendong Amel ke dalam pelukannya. "Penjual satenya kan gerobaknya hancur, Sayang. Gimana kalau Papa ajak Amel makan ayam goreng yang enak di ujung jalan sana?"
"Horeee! Mau, Pa!" seru Amel riang.
Mahardika melangkah menyusuri jalan malam sambil memegangi kartu nama hitam Tuan Baskoro di sakunya.
Siska dan Haryo berniat menggunakan nama Perusahaan Perkasa untuk menghancurkan rumahnya? Mereka sama sekali tidak tahu bahwa pemilik tertinggi perusahaan itu kini berutang nyawa padanya.