Sejak kecil, Sekar hanya "anak nomor dua" di rumahnya sendiri.
Semua yang terbaik selalu untuk sang kakak, Laras—si sulung yang sempurna, cerdas, dan dibanggakan. Sekar? Cukup pakai baju bekas kakaknya, tidur di kamar bekas gudang, dan tersenyum saat dilupakan.
Maka ketika Laras membawa pulang tunangannya saat Lebaran—**Damar Wirajaya**, pewaris konglomerat yang dingin, tampan, dan kaya raya—Sekar pikir pria itu tak ada urusannya dengannya.
Ia salah besar.
Karena tatapan datar Damar selalu berhenti terlalu lama… di wajahnya. Karena hadiah, perhatian, dan "kebetulan-kebetulan" itu semua mengarah padanya. Dan pada satu malam yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun, Sekar menyadari kebenaran yang mengerikan:
**Bukan kakaknya yang diinginkan pria itu. Tapi dirinya.**
Damar tak akan melepaskannya. Dengan utang miliaran rupiah, perjanjian pranikah yang mengikat, dan kuasa yang bisa menghancurkan seluruh keluarganya, ia menyeret Sekar ke dalam pernikahan yang tak pernah Sekar inginkan—sementara satu-satunya cinta yang tulus, sahabat kecilnya **Rangga**, hanya bisa menatap dari kejauhi.
Tapi Sekar bukan lagi gadis yang menunduk dan menerima.
Di balik senyum patuhnya, ia menghitung. Ia menunggu. Dan ketika rahasia kelahirannya sendiri terbongkar—bahwa darah yang mengalir di tubuhnya jauh lebih rumit dari yang siapa pun tahu—Sekar berhenti menjadi mangsa.
Kali ini, dialah yang memegang pisau.
*Berapa harga sebuah kebebasan? Sekar siap membayarnya—sampai tetes terakhir.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 32: Kata yang Tidak Selesai
Aku sedang memasukkan ijazah ke dalam map ketika suara Ibu terdengar dari ruang tamu.
Sebelumnya, Ayah dan aku sudah memeriksa laci bersama. Kunci kecil itu masih bisa diputar, tetapi ada goresan baru di sekitar lubangnya. Di dalam, kantong berisi sisa teh tetap terselip di bawah buku catatan. Kotak gelang terbuka dan kosong.
"Jangan pegang kantongnya lagi," kata Ayah. Ia memotret posisi semua benda sebelum menutup laci. "Kita simpan fotonya dan catat tanggal."
Aku menunjukkan rekaman pengakuan Damar tanpa memutarnya. Ayah hanya melihat nama file dan durasi. Wajahnya berubah ketika kubilang Damar sendiri mengaku mengambil gelang sebelum perjalanan Surabaya.
"Berarti dia masuk rumah saat kita semua ada," katanya.
"Dia tahu kapan perhatian Ibu tertuju pada persiapan Mbak Laras."
Ayah menatap goresan di kunci. "Ayah akan mengganti seluruh kunci kamar."
"Aku belum mau tinggal lagi di sini."
"Ayah tahu. Bukan untuk menyuruhmu pulang. Supaya kalau kamu datang mengambil barang, ada batas yang baru."
Kami memindahkan kantong teh ke kotak plastik tanpa membuka segelnya, lalu Ayah menyimpannya di lemari besi kecil miliknya. Untuk pertama kalinya, bukti itu berada di tempat yang tidak diketahui Ibu dan tidak bisa disentuh Damar dengan mudah.
Aku baru saja merapikan map ketika suara di depan membuat percakapan kami terhenti.
"Mau apa kamu ke sini?"
Nada itu bukan untukku. Aku keluar dari kamar dan melihat Rangga berdiri di ambang pintu, satu tangan memegang helm, tangan lain mengangkat ikat rambut biruku.
Kari duduk di dekat kakinya, tampak bangga setelah menyeret Rangga hampir dua gang.
"Mengembalikan ini, Bu," kata Rangga.
Tatapan Ibu jatuh pada karet rambut, lalu pada pakaian sederhananya. "Barang murah begitu sampai harus diantar?"
"Milik Sekar tetap milik Sekar."
Ayah muncul dari arah dapur. "Masuk dulu, Rangga."
"Nggak perlu," potong Ibu. "Orang warung pasti banyak kerjaan. Jangan sampai pelanggan menunggu hanya karena mengejar perempuan."
Panas naik ke wajahku. "Ibu."
"Apa? Ibu cuma mengingatkan kelas orang harus tahu waktu."
Rangga tidak menunduk. "Warung kami memang kecil, Bu Endang. Tapi saya bisa mengatur waktu sendiri."
"Bagus kalau sadar kecil."
Aku mengenal penghinaan itu. Ibu mengucapkannya setiap kali nama keluarga Rangga disebut sejak kami masih sekolah. Saat ia mendapat beasiswa komputer, Ibu bilang sekolah sering membutuhkan kisah anak miskin. Saat ia membantu membuat sistem kasir warung, Ibu menyebutnya permainan. Tidak ada pencapaian yang cukup besar untuk menghapus bau kuah rawon dari penilaian Ibu.
Padahal tangan keluarga itulah yang membuka pintu ketika rumah ini mengusirku.
"Warung kecil itu memberi Sekar kamar ketika kita gagal memberinya rasa aman," kata Ayah.
Ibu menoleh tajam. "Kamu sekarang membela mereka?"
"Saya membela orang yang memperlakukan anak kita dengan baik."
Aku melihat punggung Ayah sedikit membungkuk, tetapi suaranya tidak surut. Janji di taman bukan lagi kalimat rahasia.
Ayah membuka pintu lebih lebar. "Dia tamu Sekar. Masuk."
Ibu menatap Ayah seolah baru pertama kali mendengar suaminya membantah di depan orang lain. Janji di taman terlintas dalam pikiranku. Ayah benar-benar melakukannya.
Rangga melepas sandal dan masuk. Kari ikut menyelinap, tetapi Ibu langsung mengusirnya dengan sapu kecil. Anjing itu berlari menuju kamarku.
"Aku ambil," kataku.
Rangga mengikuti sampai lorong, mungkin agar percakapan dengan Ibu berakhir. Dari belakang, suara Ibu masih terdengar.
"Sekar itu sedang bingung. Jangan manfaatkan keadaan hanya karena dia tinggal di rumah kalian."
Langkah Rangga berhenti.
"Saya nggak pernah memanfaatkan Sekar."
"Lalu kamu menganggap dia apa?"
Aku berdiri di balik pintu kamar, tidak terlihat dari ruang tamu.
Rangga menjawab setelah jeda. "Dia tetangga saya sejak kecil."
Dada yang sejak tadi tegang terasa jatuh.
Jadi hanya itu.
Semua makanan yang disisihkan, perjalanan menjemputku, malam ketika ia mendengarkan pengakuan, mungkin hanya bentuk tanggung jawab kepada tetangga lama. Aku yang mengisinya dengan arti lain karena sedang rapuh.
"Nah," kata Ibu. "Kalau cuma tetangga, jangan bertingkah seolah punya hak."
"Saya tidak bilang cuma..."
Ayah memotong dari ruang makan. "Endang, cukup."
Aku tidak menunggu kelanjutan. Aku masuk kamar, menuntun Kari yang bersembunyi di bawah meja, lalu menutup pintu lebih keras daripada perlu.
Beberapa saat kemudian terdengar ketukan.
"Kar?"
"Pintunya nggak dikunci."
Rangga masuk setengah langkah. Ia tidak pernah melewati ambang tanpa melihat reaksiku lebih dulu. Kamar ini masih sama seperti saat kutinggalkan, kecuali laci meja yang sedang menunggu diperiksa bersama Ayah. Kunci tetap tergantung di leherku. Gelang yang seharusnya ada di dalam laci justru mengelilingi pergelangan.
Rangga mengangkat ikat rambut. "Kari mencurinya dari kursi."
"Taruh saja."
"Kamu marah?"
"Nggak."
"Berarti sangat marah."
Aku mengambil karet itu dari tangannya. "Kamu sudah repot-repot mengantar barang murah milik tetangga. Terima kasih."
Rangga menghela napas. "Kamu dengar percakapan tadi?"
"Semua orang dengar. Ibu bicara seperti pakai pengeras suara."
"Aku tidak bilang kamu cuma tetangga."
"Tapi kamu bilang aku tetangga."
"Karena itu jawaban yang aman di depan Ibumu."
"Aman untuk siapa?"
"Untukmu. Dia sudah menuduhmu macam-macam karena tinggal di rumah kami. Kalau aku mengatakan..."
Ia berhenti.
"Mengatakan apa?"
Rangga menatap ikat rambut yang kugenggam, lalu gelang hijau di tangan yang sama.
"Bahwa kamu penting."
Jantungku berdegup lebih cepat. "Tetangga juga bisa penting."
"Bisa."
"Teman juga."
"Bisa."
"Jadi?"
"Jadi aku nggak mengejarmu pagi ini karena karet seharga dua ribu rupiah." Ia mengusap tengkuk. "Aku mengejar karena kamu pergi dengan wajah seperti ingin memutus percakapan selamanya."
"Mungkin aku cuma malu."
"Atau mungkin kamu ingin jawaban yang sama dengan jawaban yang ingin kuberikan."
Aku ingin bertanya sejak kapan. Ingin tahu apakah ia merasakan sesuatu sebelum aku datang menumpang atau baru setelah melihatku rapuh. Namun kata-kata itu bercampur dengan ketakutan bahwa jawaban indah dapat berubah menjadi tuntutan, seperti semua kebaikan Damar yang akhirnya menunjukkan harga.
Rangga seolah membaca perubahan wajahku. "Aku nggak meminta balasan apa pun sekarang."
"Tapi kamu belum mengatakan apa pun."
"Aku sedang mencoba mengatakannya dengan benar."
Ia membuka mulut. Dari ruang tamu, Ibu berteriak memanggilku.
"Sekar! Pakdhe Warto datang. Kamu jelaskan sendiri kenapa semua barang pernikahan harus dikembalikan!"
Bahuku langsung menegang.
Rangga melirik lorong. "Aku temani?"
"Nggak perlu. Katamu aku hanya..."
"Jangan selesaikan kalimat yang bukan kalimatku."
Aku mendorong ikat rambut itu kembali ke telapak tangannya. "Kalau begitu selesaikan sendiri."
Aku berjalan melewatinya menuju ruang tamu. Rangga mengejar sampai ambang kamar, tetapi Ayah sudah berdiri di lorong, meminta bantuannya mengeluarkan Kari sebelum Ibu semakin marah.
Ketika menoleh sekali lagi, kulihat Rangga masih memegang ikat rambut biru itu.
Kata-katanya tertahan di antara kami untuk kedua kalinya.
Dan kali ini, aku tidak tahu apakah aku lebih takut mendengar kelanjutannya atau kehilangan kesempatan untuk mendengarnya.