Sebuah kecelakaan membuat Alya terbangun di Dinasti Shue, ratusan tahun sebelum zamannya, dalam tubuh Shen Yueli, seorang putri bangsawan yang telah menikah dengan Pei Chanqing, jenderal dari kediaman militer.
Sebagai mahasiswi Sastra China, Alya memang mengenal sejarah negeri itu. Namun hidup di dalamnya adalah perkara berbeda.
Terlebih, pernikahan mereka bukan karena cinta, melainkan sebuah pernikahan politik antara dua kediaman militer.
Kini Alya harus belajar menjadi pengantin dari zaman kuno, sementara sang suami sama sekali tidak berniat mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua—Perangkap Jamuan
Alya terpaku di hadapan cermin perak, menatap lekat garis wajah yang terpantul di sana. Ini bukan lagi sekadar kemiripan biasa; sosok di balik permukaan logam mengilap itu adalah dirinya sendiri.
Di luar kamar peristirahatan tamu samping, situasi istana tengah memanas akibat insiden tenggelamnya Shen Yueli di tepi kolam beberapa jam lalu. Peristiwa tersebut menjelma menjadi bahan gunjingan berbisa di seluruh penjuru istana. Berbagai rumor miring beredar, mulai dari tuduhan bahwa ia sengaja menceburkan diri demi menarik perhatian sang putra mahkota—pria yang telah ia incar selama bertahun-tahun—hingga fitnah keji yang menyebutkan bahwa seorang calon putri mahkota sengaja mendorongnya ke dalam air.
Segala gosip dan tekanan itu datang bersamaan dengan persiapan Jamuan Musim Gugur yang diselenggarakan oleh sang putri kerajaan keempat, seorang bangsawan wanita yang terkenal akan kesadisannya. Seluruh putri bangsawan diwajibkan hadir tanpa terkecuali, termasuk Shen Yueli yang semasa hidupnya dikenal tertutup dan tidak pernah bergaul dengan kalangan bangsawan lainnya.
Kini, terjebak di dalam tubuh bangsawan yang tengah menjadi pusat skandal, Alya harus bersiap menghadapi intrik berbahaya di tengah kemegahan Dinasti Shue.
"Nona Shen," panggilan seorang pelayan terdengar di balik pintu. "Jamuan masih menunggu Anda. Apakah Anda akan datang?"
Shen Yueli terdiam lalu menoleh. Di dalam ingatannya, Shue Hao—Putra Mahkota yang kelak akan menjadi kaisar—terkenal sebagai pemuda yang arogan. Kekejamannya di bawah kekuasaan sang kaisar kian memanas hingga memicu perdebatan serta kudeta yang kelak diberantas oleh Pei Chanqing di masa depan.
Tangan Shen Yueli mencengkeram erat pakaiannya. Jika ia tidak keluar, ia akan menyinggung perasaan sang putri kerajaan; namun jika ia melangkah keluar, ia harus menghadapi calon tirani yang mungkin akan mencecarnya dengan seribu pertanyaan.
Lagi-lagi ia menatap cermin. "Shen Yueli, kau membuat kekacauan," gerutunya kesal.
"Aku akan keluar," sahutnya dengan suara lantang.
Ia bangkit, berjalan mendekat ke arah pintu. Sekali lagi, sebelum pintu itu terbuka, jantungnya berdegub semakin kencang. Pakaiannya telah berganti, tetapi rasa dingin justru menjalar dengan cepat ke seluruh tubuhnya.
Begitu ia keluar, langkahnya terayun pelan menuju paviliun jamuan yang telah terisi oleh beberapa putri bangsawan. Beberapa pasang mata langsung sibuk melihatnya, menilai dengan seksama. Dan benar saja, Shue Hao berada di sana bersama calon putri mahkota berdasarkan dekrit kaisar.
Wanita muda di sampingnya tampak menciut, seolah ketakutan yang membara memenuhi dadanya saat melihat sosok Shen Yueli. Begitu ia mendekat, Xuer berdiri di sebelah adiknya itu.
"Apakah Kakak baik-baik saja?" tanya Xuer.
Shen Yueli menganggukkan kepalanya, menatap lurus ke arah sang putri agung sebelum akhirnya memberi salam hormat kepada sang putri dan Putra Mahkota Shue Hao.
"Silahkan duduk, Nona Shen."
Shen Yueli duduk di sebelah adiknya. Mereka menatap hidangan jamuan yang disajikan satu per satu. Beberapa pertunjukan digelar demi kenyamanan para tamu, bahkan ada yang mempersembahkan puisi untuk sang Putri Agung.
Shen Yueli masih duduk dengan tidak nyaman; hatinya kian gusar meski wajahnya berusaha ia tenangkan. Tatapan Shue Hao tampak tajam, menyipit, dan seolah mampu membunuh. Belum lagi, salah seorang putri bangsawan mulai memuji keserasian antara Shue Hao dan calon istrinya.
"Putra Mahkota sangat serasi dengan Putri Bangsawan Cheng."
Putra mahkota tertawa pelan sambil mengangkat cangkirnya. "Terima kasih, Nona. Memang calon istriku ini yang terbaik, perangainya lemah lembut. Tidak seperti seseorang yang menyebarkan rumor bahwa dia baru saja..." Tatapan sang putra mahkota beralih tajam ke arahnya. "...sengaja menenggelamkan diri demi mencari perhatian dan cemburu."
Suasana mendadak kian kikuk. Shen Yueli dan Shen Xuer terdiam. "Sepertinya..." Xuer mencoba membela, namun putra mahkota justru menghentakkan cangkir porselennya ke atas meja.
"Nona Xuer, apakah kau tahu bagaimana kakakmu mengejarku selama bertahun-tahun, bahkan sering datang ke kediamanku tanpa kepentingan yang jelas?"
Shen Yueli terdiam rapat. Alya, yang kini terjebak di dalam tubuh itu, mulai menggigit bibirnya. Begitu cintakah pemilik tubuh ini dulu?
Shen Yueli kian meradang. Di balik tatapan tenang yang ia paksakan, jiwa Alya berontak hebat mendengar sindiran pedas tersebut. Dengan dagu terangkat kecil namun tetap menjaga etika seorang nona bangsawan, ia balas menatap sang putra mahkota.
"Tuan," ucapnya dengan nada yang sengaja dibuat lantang agar terdengar ke seluruh penjuru paviliun, "hamba bahkan tak mengingat kapan kejadiannya. Bisakah Tuan menceritakannya?"
Suasana jamuan yang tadinya riuh mendadak sunyi seketika. Beberapa putri bangsawan menutup mulut mereka karena terkejut atas keberanian Shen Yueli yang berani menantang langsung Putra Mahkota Shue Hao. Bahkan sang putri agung di singgasananya menyipitkan mata, mengamati perubahan drastis pada diri gadis yang biasanya dikenal penakut dan penurut itu.
Shue Hao tertegun sejenak, wajahnya mengeras menahan geram karena merasa dipermalukan di depan para undangan.
Shen Yueli menatap lurus cukup lama. Melihat bahu tegang sang putra mahkota, ia menyadari adanya fitnah yang sengaja diembuskan.
"Apakah itu terjadi baru-baru ini?" tanya Shen Yueli dengan sudut bibir terangkat, memasang senyuman tipis penuh arti.
"Maafkan saya, Tuan. Bahkan saya juga akan segera menikah dengan keluarga Pei. Jika fitnah ini terus disebarkan, dikhawatirkan akan memicu keguncangan hebat di dalam istana. Mohon untuk dipertimbangkan kembali."
Shen Yueli mendongak. Di sisi lain, tangan Shue Hao tampak terkepal erat di atas sandaran kursi, balas menatap tajam ke arahnya.
Hingga kemudian, langkah kaki pelan terdengar beriringan. Kelambu-kelambu lembut berkibar pelan seiring kedatangan seorang wanita paruh baya bersama putrinya. Tepat di belakang mereka, seorang pemuda bertubuh tegap dan tinggi berjalan mendekat, dengan jubah biru tua yang berkibar tertiup angin.
Garis wajah tegas itu seketika ia kenali dari buku riset yang baru saja dibacanya: Pei Chanqing. Calon suaminya di masa depan, sang jenderal besar yang terkenal dengan sepuluh selirnya.
Shen Yueli meneguk ludahnya dengan pelan, mulai mengutuk kebodohannya sendiri karena berbicara tanpa memperhitungkan garis waktu, terutama perihal perjodohan mereka yang ternyata sudah diatur. Shue Hao tersenyum miring. "Tuan Pei, Anda datang."
Pria yang dipanggil itu memberikan salam. Tubuh tegapnya tampak memukau, membuat beberapa gadis bangsawan saling bertatapan, berbisik lirih mengagumi ketampanan Pei Chanqing sekaligus membandingkannya dengan Shue Hao.
"Salam, Yang Mulia."
"Tuan Pei, aku ingin bertanya sesuatu kepadamu."
"Tentu, Yang Mulia. Hamba akan menjawabnya."
Shen Yueli merasa dadanya kian sesak oleh rasa takut; ada gemuruh tidak nyaman yang menelusup ke dalam hatinya. Ia mengerjap beberapa kali, bibirnya terkulum rapat sementara kepalanya tertunduk.
"Aku mendengar kabar tentang rencana pernikahanmu dengan Nona Shen Yueli. Apakah itu benar?"
Suasana di paviliun kian hening, menebarkan rasa tidak nyaman yang mencengkeram dada Shen Yueli.
"Hamba membenarkan kabar tersebut, Yang Mulia," jawab Pei Chanqing dengan suara tenang namun tegas yang langsung memecah keheningan paviliun.
Di tempatnya duduk, Shen Yueli menahan napas. Jantungnya berdegub kencang mendengar jawaban mutlak dari sang jenderal besar, pria yang kini resmi menjadi garis takdir barunya di Dinasti Shue.
...----------------...
Akhirnya terjebak ambisi sendiri
Berharap jadi selir atau gimana..
etdaaah
🤭🤭🤭🤭
🤣🤣
🤭🤭🤭
seruuu