"Aaaaaaa!"
Pekikan Amira membumbung tinggi begitu ia menyibak selimut. Pandangannya bergeser ke samping, dan jeritannya makin melengking melukai udara.
"Aaaaaa!"
"Aaaaaaaa!" Seorang pria di sebelahnya mendadak ikut berteriak panik. "Bajuku... bajuku mana?!"
Keduanya saling menoleh dengan napas memburu.
"Aaaaaaa!" jerit mereka bersamaan.
"Bajingan!" maki Amira seraya menunjuk pria itu.
"Kamu!"
"Kamu yang bajingan! Dasar Tante girang gila!" balik pria itu tak mau kalah.
"Apa katamu?!" Mata Amira membelalak lebar. Tangisnya mendadak pecah tanpa bisa ditahan. "Kamu pria bajingan! Kamu udah merusak aku!"
"Kamu yang mengambil keperjakaanku! Kenapa malah kamu yang menangis?" kata pria itu dengan santai. Tangannya meraba-raba area lantai, sibuk mencari celana tanpa peduli pada Amira yang terisak. Namun, gerakannya terhenti saat jarinya menyentuh cairan pekat berwarna merah. "Apa ini? Darah?"
Detik berikutnya, wajah pria itu pucat pasi. "Mamahah..." Giliran pria itu yang menangis sesenggukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17
“Sebenarnya malam itu kamu pergi ke mana?” tanya Amira menatap Rini lekat-lekat.
Rini mengerutkan dahi dengan raut panik dan bersalah. “Maaf, Amira... waktu aku di toilet, adikku telepon bilang kalau Mamahku sakit. Jadi aku panik dan langsung pulang.”
“Oh... penyakit Mamah kamu kambuh lagi?”
“Iya, namanya juga penyakit jantung, suka datang mendadak.”
Oh, pantas saja dia langsung pulang... gumam Amira dalam hati. Kecurigaannya pada sang sekretaris perlahan terkikis.
Suasana mendadak hening. Amira meletakkan tasnya di atas meja. Meski kecurigaan pada Rini berkurang, masih banyak teka-teki berputar di kepalanya: Kenapa ia bisa terbangun di kamar hotel bersama Raka? Siapa pemilik nomor asing yang menghubunginya dan mengabarkan Rini dalam bahaya? Lalu, bagaimana cara Luki bisa tahu dan menerobos masuk ke kamar hotel itu?
“Bagaimana persiapan pernikahan kamu dengan Pak Raka?” tanya Rini memecah keheningan.
Amira memicingkan matanya pada sekretaris sekaligus sahabatnya itu. “Kamu beneran enggak tahu apa yang menimpaku semalam dan kemarin?”
“Astaga, Amira... aku beneran enggak tahu! Hampir satu hari satu malam lho ponsel kamu enggak aktif,” jawab Rini membela diri. “Sebenarnya ada kejadian apa sih? Apa ada hubungannya dengan Pak Raka? Kata bibiku, menjelang pernikahan memang selalu saja ada godaannya, Mir.”
Amira menghela napas berat. “Maaf Rini, sekali lagi aku tanya sama kamu... Apa benar kamu enggak tahu apa-apa?”
“Aku beneran enggak tahu!” jawab Rini mantap. “Ayo dong, cerita...”
Amira kembali menghela napas, lalu menceritakan garis besar peristiwa kelam yang dialaminya. Beberapa kali dahi Rini mengerut dan mulutnya menganga lebar—eskpresi yang terpancar benar-benar seperti orang yang tak tahu apa-apa.
“Astaga... kok bisa begitu, Amira?! Kira-kira siapa ya pemilik nomor asing itu? Apa kamu sudah melacaknya?”
“Belum.”
“Coba aku lihat nomornya, mungkin aku kenal,” pinta Rini.
Tanpa ragu, Amira menyerahkan ponselnya. Rini mengambilnya, lalu jemarinya lincah menelusuri layar.
“Yang mana sih, Mir? Ini semua panggilan ada namanya. Nomor asing yang menghubungi kamu yang mana?”
Amira mengernyit, merampas pelan ponselnya lalu mengecek daftar panggilan dan obrolan pesan. Dahinya makin berlipat. “Lho... kok enggak ada?”
“Nah! Itulah kamu, selalu tergesa-gesa! Harusnya kamu screenshot,” omel Rini.
Amira makin heran. Ia merasa pasti tidak pernah menghapus nomor yang mengabarkan Rini dalam bahaya itu.
“Amira... aku turut prihatin kamu enggak jadi menikah dengan Pak Raka,” ucap Rini memasang raut simpati.
“Enggak masalah. Aku malah bersyukur...”
“Loh, kok bersyukur? Bagaimana dengan kerja sama keluarga Raka dan perusahaan kita kalau begitu?”
“Raka masih mau melanjutkan perjodohan dan kerja sama, karena Risma yang bakal menggantikan aku.”
“Oh, syukurlah...” ucap Rini lega. Ia berdiri lalu mendekati Amira. “Beneran kamu enggak masalah kalau Raka nantinya menikah sama Risma?”
“Gak masalah. Aku bersyukur setidaknya aku tidak jadi menikah dengan pria yang bahkan tidak mau mendengar penjelasanku,” jawab Amira pahit.
Suasana kembali hening dengan gelombang pikiran masing-masing.
“Terus... suami kamu yang ojol itu... enggak masalah?”
“Enggak masalah. Sepertinya dia pria baik, cuma agak sok kaya gitu.”
Rini terkekeh tipis. “Oh, begitu ya. Ya sudahlah, jalani saja.”
“Terima kasih, Rini.”
Amira kembali fokus pada komputernya, membaca laporan perkembangan keuangan perusahaan dengan sangat teliti. Rini pun kembali ke mejanya dan fokus bekerja.
Sepertinya Rini memang tidak tahu apa-apa... bisik Amira dalam hati, merasa lega.
Sementara itu, di lantai puncak Menara Perdana Holding, Luki Perdana sedang duduk tegap di kursi kebesarannya di hadapan setumpuk dokumen penting.
“Tuan, owner aplikasi driver online sudah datang,” ucap Kirana, staf sekretariat yang menjaga pintu ruangan CEO.
“Suruh masuk,” kata Luki tanpa menoleh dari berkasnya.
Tak lama kemudian, beberapa orang direksi dari perusahaan aplikasi ojol masuk dengan canggung. Mereka duduk melingkar di meja oval VIP.
“Oke, saya akan berinvestasi di perusahaan kalian. Tapi ada beberapa hal yang harus kalian benahi,” tegas Luki membuka pembicaraan. “Pertama, kesejahteraan mitra pengemudi. Kalian harus memberikan jaminan kesehatan yang ditanggung penuh oleh perusahaan. Kedua, berikan bonus bagi mereka yang mau mengambil orderan di jam-jam malam atau di daerah rawan. Ketiga, tingkatkan keamanan data customer. Pastikan identitas pengguna jelas, karena hari ini banyak sekali modus kejahatan dengan orderan fiktif.”
Para direksi mendengarkan dengan saksama dan mengangguk-angguk kagum.
“Bapak sepertinya lebih hafal medan dibanding kami ya?” puji Indra, salah satu direksi.
Luki terkekeh tipis. “Iya, sudah seminggu ini saya jadi driver online di aplikasi kalian. Sebenarnya keuntungannya kecil, tapi karena kalian melibatkan banyak orang dan membuka lapangan pekerjaan, saya setuju suntik modal. Tapi ingat, kalian harus benar-benar menyejahterakan para mitra.”
Kesepakatan pun diraih. Luki resmi menyuntikkan dana segar dengan kepemilikan saham sebesar 40 persen. Pembicaraan tingkat tinggi itu hanya berlangsung satu jam dari pembukaan hingga penandatanganan berkas di tempat—Luki memang tipe pemimpin yang tak suka bertele-tele.
Setelah para direksi pamit, masuklah Surya—sahabat Luki sekaligus pemilik bank swasta Surya Capital—bersama Andi, sang tangan kanan multifungsi.
“Bos, ada uang nganggur enggak?” celoteh Surya seraya mendaratkan diri di sofa.
Luki tertawa. “Kamu itu pemilik bank, masa pinjam uang sama aku?”
“Yah, Bos, namanya juga pebisnis, modalnya diputar-putar. Sekarang banyak kreditur yang kreditnya macet.”
“Peminjammu kan perusahaan besar, masa banyak yang macet?”
“Ini semua gara-gara Karyana Farmasi! Mereka pinjam uang dalam jumlah besar tapi pengembaliannya malah macet parah.”
“Kenapa bisa macet?” tanya Luki tertarik.
“Sepertinya pemiliknya menyalahgunakan uang pinjaman tersebut. Seharusnya bisnis obat-obatan itu enggak ada matinya, tapi mereka malah sampai tak sanggup bayar utang. Ditambah lagi, mereka menunggak pajak!”
“Sebentar lagi mereka akan bangkrut,” tiba-tiba Andi menyela dingin.
“Darimana kamu tahu?” tanya Surya menoleh kaget.
“Kamu seperti tidak tahu Andi saja. Kemampuannya kan memang melacak informasi yang tersembunyi,” jelas Luki santai.
Andi melanjutkan, “Mereka memalsukan laporan pajak. Saat ini Karyana Farmasi sedang diincar oleh kejaksaan karena ada indikasi menjadi sarana money laundering bagi para koruptor.”
“Waduh! Terus apa yang harus aku lakukan?” ucap Surya panik.
“Yah, kamu harus segera menekan perusahaan itu supaya mengembalikan pinjaman secepat mungkin!” saran Andi.
Luki menggelengkan kepala. “Sudah punya perusahaan besar, masih saja melakukan tindakan kejahatan. Padahal makan kita sama-sama cuma sesuap nasi.”
“Gaya hidup keluarga Karyana penyebab utamanya, Bos,” sahut Andi.
“Oh... begitu ya kalau orang tua terlalu memanjakan anak dengan uang. Akhirnya hancur juga.”
Andi tersenyum bermakna. “Anda tahu, Bos, siapa anak dari Lingga Karyana?”
“Siapa?”
“Raka Karyana.”
Luki tertegun sejenak, lalu terkekeh sinis. “Hah?! Laki-laki yang mulutnya ember itu? Yang debat sama kamu semalam, kan?