Tidak semua bidak catur bermimpi menjadi Raja. Yudi hanya ingin satu hal: bertahan hidup dan membangun wilayah kecilnya sendiri untuk kaum yang terbuang. Menjadi Pawn rendahan bagi Sona Sitri adalah langkah pertamanya. Dengan [Imperial Tiger Mantle] yang terikat di jiwanya, ia menahan auman sang harimau dan mengubahnya menjadi keheningan yang mencekik lawan.
update Harian 1 bab per harinya sambil menunggu keputusan kontrak., semoga berhasil ya, kalau udah fix dapet kontrak akan kembali normal. Kalau kelewat mungkin akan tambah satu bab di besoknya. semoga gak pernah terjadi dan kalian semua bisa terus membaca kisah ini dengan tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyudi0596, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1
Langit malam di Dunia Bawah tidak pernah memancarkan warna gelap yang pekat seperti langit di Dunia Manusia. Di atas sana, ruang hampa tidak diisi oleh bintang-bintang, melainkan oleh gugusan kristal raksasa yang melayang secara statis.
Kristal-kristal tersebut membiaskan spektrum cahaya berwarna ungu muda, merah muda, dan biru pudar, menciptakan pendaran konstan yang menyelimuti seluruh bentang daratan. Cahaya lembut itu jatuh menyinari atap-atap perak dan pilar-pilar pualam putih di sebuah kediaman megah milik salah satu dari tujuh puluh dua pilar bangsawan iblis, keluarga Sitri.
Angin sepoi-sepoi bertiup dari arah perbukitan, membawa serta aroma manis dari flora eksotis Dunia Bawah yang bermekaran di malam hari. Angin itu menggoyangkan dedaunan pohon perak di taman kediaman, menghasilkan suara gemerisik halus yang memecah keheningan. Di bagian tengah taman yang luas tersebut, sebuah kolam ikan koi membentang dengan air yang sangat jernih.
Permukaan airnya beriak pelan, memantulkan bayangan langit kristal yang berpendar di atasnya. Di tepi kolam itulah, sebuah gazebo berbahan dasar kayu eboni gelap berdiri kokoh, diterangi oleh lentera-lentera kecil yang melayang di sekeliling tiangnya.
Di dalam gazebo, sepasang kursi berukir rumit ditempati oleh dua orang gadis berambut hitam dan berambut hitam panjang yang duduk saling berhadapan. Di atas meja bundar berlapis taplak renda putih di antara mereka, sebuah set teh dari porselen berkualitas tinggi tersusun dengan sangat rapi. Uap panas mengepul tipis dari moncong teko, berputar-putar di udara sebelum menghilang tertiup angin malam.
Gadis yang duduk di sisi kiri meja memiliki rambut hitam panjang yang diikat dengan gaya *twintail*. Ia mengenakan pakaian yang sangat mencolok; sebuah kostum bergaya gadis penyihir dengan *ruffles* merah muda, pita besar di dada, dan rok pendek yang mengembang. Tongkat sihir mainan tergeletak di pangkuannya.
Senyum ceria tidak pernah lepas dari wajahnya, matanya menyipit membentuk bulan sabit saat ia mengangkat teko porselen tersebut. Suara gemericik cairan teh berwarna kuning keemasan terdengar saat teh itu jatuh membentur dasar cangkir. Gadis berambut perak itu meletakkan kembali teko ke atas meja, lalu mengambil cangkir miliknya sendiri dan mendekatkannya ke bibir.
"Ara, Sona-tan," ucap Serafall Leviathan, nada suaranya mengalun riang dan penuh semangat. Ia meletakkan cangkir tehnya kembali ke atas tatakan dengan bunyi denting pelan. "Kau benar-benar harus mencari Pawn baru untuk melengkapi keluargamu. Rias-tan sudah membuktikan sendiri kemampuan luar biasa dari budak barunya itu. Lelaki yang memiliki Sekiryuutei itu benar-benar luar biasa di luar dugaan, bukan?"
Gadis yang duduk di seberangnya tidak langsung menjawab. Sona Sitri, mengenakan gaun malam berwarna biru tua yang elegan dan tertutup, duduk dengan punggung tegak lurus. Posturnya sangat anggun, tanpa sedikit pun gerakan yang tidak perlu.
Rambut hitam pendeknya bergerak ringan saat angin malam kembali berhembus. Tangan kanannya yang terbalut sarung tangan putih perlahan terulur, menjepit pegangan cangkir tehnya dengan ujung-ujung jari yang lentik.
Sona mengangkat cangkir tersebut sejajar dengan dadanya. Tatapan matanya yang tajam di balik kacamata berbingkai tipis menatap lurus ke arah permukaan teh yang beriak pelan.
"Aku tahu, *Onee-sama*," jawab Sona. Nada suaranya datar, tenang, dan sangat terkendali. "Semalam, *Sekiryuutei* itu datang menerobos masuk dan menyelamatkan Rias dari pesta pertunangan yang sama sekali tidak diinginkannya. Keberaniannya memang patut diperhitungkan."
"Justru karena itu!" Serafall mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan kedua sikunya di atas meja hingga pita di dadanya sedikit berayun. Senyumnya semakin melebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih.
"Kelompok Rias-tan sekarang memiliki seseorang yang sangat bisa diandalkan di garis depan pertarungan. Bagaimana dengan keluargamu sendiri, Sona-tan? Kau tidak boleh tertinggal dari rivalmu!"
Sona memiringkan kepalanya sedikit. Ia menyesap tehnya perlahan, membiarkan keheningan menguasai gazebo itu selama beberapa detik. Setelah menyesap tehnya, ia menjauhkan cangkir itu dari bibirnya dan meletakkannya kembali ke atas tatakan dengan gerakan yang sangat hati-hati hingga tidak menghasilkan bunyi denting sedikit pun.
"Aku akan mempertimbangkannya," ucap Sona singkat.
Percakapan mereka berakhir di titik tersebut. Sona berdiri dari kursinya, merapikan lipatan gaun birunya dengan kedua tangan, lalu menundukkan kepala sedikit ke arah Serafall sebagai bentuk pamitan. Serafall hanya melambaikan tangannya dengan riang.
Sona membalikkan badan dan berjalan keluar dari gazebo, melangkah menyusuri jalan setapak berbatu di taman kediaman Sitri. Langkah kakinya terdengar berirama, sepatu hak rendahnya berketuk pelan di atas batu-batu pipih.
Di ujung jalan setapak, Sona berhenti melangkah. Ia mengangkat tangan kanannya ke depan dada. Sebuah lingkaran sihir berwarna biru terang dengan lambang keluarga Sitri di tengahnya meluas perlahan di udara, berputar dengan kecepatan konstan sambil memancarkan partikel-partikel cahaya biru.
Sona melangkah masuk ke dalam lingkaran cahaya tersebut. Detik berikutnya, pendaran cahaya biru itu menyilaukan mata sebelum akhirnya meledak menjadi serpihan cahaya kecil, meninggalkan ruang kosong di tempat Sona berdiri sebelumnya.
Malam telah larut ketika udara di sudut Kota Kuoh bergetar hebat. Di sebuah gang sempit yang diapit oleh dua gedung bata merah, sebuah lingkaran sihir berwarna biru menyala terang di atas tanah beraspal. Cahaya biru itu menerangi tumpukan kotak kayu dan dinding-dinding bata yang dipenuhi coretan grafiti.
Dari dalam lingkaran sihir tersebut, siluet Sona Sitri muncul secara perlahan, wujudnya memadat dari partikel-partikel cahaya. Udara musim semi di Dunia Manusia terasa jauh lebih sejuk dan lembap dibandingkan dengan udara di Dunia Bawah. Angin malam berhembus menyusuri gang, membawa serta debu dan helaian daun kering.
Di kejauhan, suara mesin mobil yang melintas sesekali memecah keheningan, berpadu dengan suara jangkrik yang berderik samar dari arah taman kota.
Sona melangkah keluar dari gang sempit tersebut menuju trotoar jalan utama. Pakaiannya telah berubah. Gaun malam biru tuanya kini berganti menjadi seragam Akademi Kuoh yang rapi; blazer hitam dengan garis putih, kemeja berkerah, pita di dada, dan rok lipit.
Ia berjalan menyusuri trotoar yang lengang dengan langkah yang konstan dan tenang. Lampu-lampu jalan berwarna kuning temaram menyorot dari atas, melemparkan bayangan tubuhnya yang memanjang ke atas trotoar.
Suasana kota malam itu tampak sangat damai. Namun, kedamaian itu pecah seketika.
Brak!
Sebuah suara ledakan keras menggema di udara, menggetarkan kaca-kaca jendela di bangunan sekitarnya. Di kejauhan, dari arah sebuah area konstruksi bangunan yang terbengkalai, kilatan cahaya kuning menyala terang menembus langit malam, diikuti oleh kepulan debu tebal yang membubung tinggi.
Langkah Sona terhenti secara tiba-tiba. Matanya yang tajam menyipit di balik lensa kacamatanya. Ia memutar tubuhnya ke arah sumber ledakan. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Sona mengerahkan energi iblis ke kedua kakinya dan berlari dengan kecepatan yang tidak mungkin dimiliki oleh manusia biasa.
Ujung roknya berkibar keras di udara, sementara sepatunya hanya meninggalkan suara gesekan samar di atas aspal saat ia melesat membelah jalanan malam. Sesampainya di tepi area konstruksi yang dipagari oleh seng-seng berkarat, Sona melompat melewati pagar tersebut dan mendarat tanpa suara di atas gundukan tanah di bagian dalam.
Area itu dipenuhi oleh tumpukan beton, kerangka besi bangunan, dan alat-alat berat yang ditinggalkan. Debu masih berterbangan di udara, menghalangi jarak pandang. Di tengah area terbuka tersebut, pertarungan tidak seimbang sedang terjadi.
Seorang pemuda berpakaian kasual yang compang-camping tampak berguling ke tanah, menghindari rentetan tombak cahaya yang meluncur deras dari udara. Tombak-tombak bercahaya kuning itu menghujam tanah, meledakkan bongkahan beton dan menciptakan kawah-kawah kecil yang berasap.
Di angkasa, melayang sekitar sepuluh meter dari permukaan tanah, sesosok makhluk mengepakkan dua sayap berbulu hitam legam. Makhluk itu, seorang malaikat jatuh berpakaian jubah gelap, menatap ke bawah dengan senyum sadis yang mengembang lebar di wajahnya.