NovelToon NovelToon
Bukan Ibu Tiri Biasa

Bukan Ibu Tiri Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / CEO / Anak Genius / Ibu Tiri
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Ning terbangun di ranjang rumah sakit dengan tubuh yang bukan miliknya.
Perutnya rata. Bayinya hilang. Dan tahun di kalender menunjukkan angka yang mustahil — enam belas tahun telah berlalu sejak malam kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Tapi anaknya masih hidup.
Kian Nie, 16 tahun. Pewaris tunggal Semesta Group. Remaja berambut perak dengan tatapan sedingin es — yang langsung mengusirnya begitu mendengar namanya.
Karena nama Ning... adalah nama mendiang ibunya.
Ning tahu ia tidak bisa mengaku. Tidak kepada Kian yang masih memendam luka ditinggal ibunya. Tidak kepada Kevin Nie — suami lamanya yang kini menjadi CEO paling berkuasa di Jakarta, yang masih memakai cincin pernikahan mereka setelah enam belas tahun, yang masih menonton video terakhirnya setiap malam sebelum tidur.
Yang tidak Ning tahu: Kevin sudah mengenalinya. Matanya, caranya tertawa, kebiasaannya yang tak mungkin dipelajari orang lain.
Dan ia akan melakukan apapun untuk tidak kehilangan Ning — untuk kedua kalinya.
Pernikahan kilat. Identitas yang tersembunyi. Seorang anak yang diam-diam memanggil "Mama" saat mengira ia tidur. Dan satu keluarga yang bersekongkol menjaga rahasia terbesar mereka — bahwa ibu tiri baru Kian... bukan ibu tiri biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24: Bunga untuk Semua Kecuali Satu

Maison Fevre selesai kerja pukul lima.

Kalimat itu berputar di kepala Jovi sepanjang malam, tetapi bagi Kevin, keputusan itu sesederhana memindahkan sebuah gelas dari ujung meja ke dekat tangan Ning.

Keesokan paginya, Bentley hitam berhenti di depan Maison Fevre pukul delapan kurang sepuluh.

Ning baru akan membuka pintu mobil ketika pergelangan tangannya ditahan.

"Kevin?"

Kevin menatap sudut bibirnya.

"Kemarin kamu tidak cerita."

Ning mengerti maksudnya. Ia menunduk sedikit, jari-jarinya menyentuh tali tas. "Sudah beres. Remo membantu. Aku tidak mau kamu khawatir."

"Aku suamimu."

Tiga kata itu pendek, tetapi membuat telinga Ning panas.

"Aku tahu."

"Kalau ada laki-laki menyentuhmu lagi, beri tahu aku."

"Aku juga bisa melindungi diri."

"Aku tahu." Kevin mendekat. Suaranya turun. "Tapi aku tetap ingin menjadi orang pertama yang kamu panggil."

Ning belum sempat menjawab.

Bibir Kevin sudah menyentuh sudut bibirnya.

Hanya sebentar.

Ringan seperti tanda tangan di atas kertas, tetapi panasnya langsung naik sampai ke wajah Ning.

Ia menutup mulut dengan punggung tangan. "Ini di depan kantor."

"Kamu istriku."

"Itu bukan jawaban."

"Itu alasan."

Ning ingin marah, tetapi matanya malah berair karena malu. Ia buru-buru turun dari mobil sebelum Kevin melihat wajahnya makin merah.

Di balik kaca gelap, Kevin menatapnya masuk sampai pintu Maison Fevre tertutup. Baru setelah itu ia berkata pada Jovi yang duduk di depan, "Pastikan orang itu tidak mendekat lagi."

"Sudah diproses, Pak."

Saat Ning masuk ke studio, ia langsung merasa ada yang berbeda.

Meja Dimas kosong.

Kursinya terselip rapi di bawah meja. Mug hitam yang biasa ia pakai sudah tidak ada. Rak sampel miliknya juga bersih, seolah sejak awal tidak pernah ditempati siapa pun.

Jia mendekat dengan langkah kecil. "Kamu sudah tahu?"

"Tahu apa?"

"Dimas diberhentikan pagi ini."

Ning berhenti melepas cardigan. "Secepat itu?"

"Boss Fendi dipanggil ke ruang meeting sebelum kantor buka. Katanya ada laporan pelecehan, ada bukti saksi dari De Ming, ada rekaman CCTV. Dimas sempat ngamuk, tapi ada orang Semesta Group yang datang."

Ning menatap meja kosong itu.

Seharusnya ia lega. Namun rasa dingin dari cengkeraman kemarin kembali merayap di lengannya.

"Dia pergi begitu saja?"

Jia menggeleng. "Tidak begitu saja. Katanya dia diajak melihat divisi compliance Semesta. Aku gak tahu maksudnya apa, tapi wajahnya pucat banget."

Sebelum Ning bisa bertanya lagi, pintu depan Maison Fevre terbuka.

Tiga kurir masuk membawa rangkaian bunga.

Bukan satu.

Bukan dua.

Dalam sepuluh menit, studio yang biasanya penuh kain berubah seperti toko bunga. Ada mawar merah muda di meja resepsionis, tulip kuning di meja pola, hydrangea biru di ruang fitting, bahkan Boss Fendi mendapat anggrek putih besar yang membuatnya berdiri kaku di depan ruangannya.

Di setiap buket, ada kartu kecil.

Untuk rekan kerja Ning. Terima kasih sudah menjaga istri saya.

Tidak ada nama Kevin di situ.

Tetapi mobil Semesta yang berhenti di luar, staf berjas yang mengatur pengiriman, dan cara Boss Fendi mendadak meluruskan punggung sudah cukup menjawab semuanya.

Jia memegang buket peony merah muda miliknya, lalu menatap meja Ning yang kosong.

"Tunggu. Semua dapat bunga?"

Ning melihat sekeliling. Bahkan pantry mendapat vas kecil isi baby breath.

"Sepertinya iya."

"Kamu?"

Ning mengangkat bahu.

Jia menatapnya seperti melihat korban ketidakadilan besar. "Ini apa-apaan? Suamimu ngasih bunga ke seluruh kantor kecuali istrinya sendiri?"

Beberapa staf yang mendengar ikut menoleh.

Ning menekan senyum. "Mungkin dia lupa."

"Tidak mungkin. Tipe laki-laki seperti itu tidak lupa. Dia cuma aneh."

Ning hampir tertawa.

Kevin memang aneh. Ia bisa mengubah jam kerja kantor pusat karena jam pulang istrinya, tetapi tidak akan menulis puisi di kartu bunga. Ia bisa menakut-nakuti satu laki-laki dewasa sampai pucat, tetapi mencium sudut bibirnya hanya sebentar lalu bersikap seolah itu hal paling wajar.

Paling istimewa biasanya tidak ia letakkan di tempat yang bisa dilihat semua orang.

Namun sepanjang pagi, Jia tetap kesal mewakilinya.

"Kalau siang nanti gak ada apa-apa, aku resmi kecewa sama Pak Kevin."

"Jia."

"Apa? Aku berada di pihakmu."

Menjelang jam makan siang, seorang pria berjas abu-abu datang ke studio. Kali ini bukan kurir. Ia langsung menuju Boss Fendi, menyerahkan kartu nama, lalu meminta izin menemui Ning.

Boss Fendi memanggilnya dengan suara lebih hati-hati dari biasa.

"Ning, ada utusan dari Semesta."

Pria itu membungkuk sopan. "Bu Ning, Pak Kevin meminta saya menyerahkan ini secara langsung."

Studio kembali sunyi.

Bu Ning.

Jia menutup mulut dengan buket peony.

Ning menerima kotak beludru kecil berwarna hitam. Ukurannya tidak lebih besar dari telapak tangan. Tidak ada pita. Tidak ada kartu panjang. Hanya satu kertas putih di atasnya.

Untuk yang tidak bisa dibandingkan dengan bunga.

Ning membuka kotak itu.

Cahaya lampu studio pecah di dalamnya.

Tiga butir berlian lepas tersusun di atas bantalan hitam. Jernih, dingin, dan begitu terang sampai beberapa orang refleks menarik napas.

Jia berbisik, "Aku cabut kecewaku."

Boss Fendi terbatuk kecil, tetapi matanya masih melekat pada kotak itu.

Ning menutup kotak dengan tangan sedikit gemetar. Ia tidak tahu harus tertawa, menangis, atau menelepon Kevin untuk memarahinya karena terlalu mencolok.

Ponselnya bergetar.

Kevin: Bunga layu.

Ning menatap pesan itu lama, lalu membalas.

Berlian juga tidak bisa dimakan.

Balasan Kevin datang hampir seketika.

Malam ini aku jemput makan.

Ning menggigit bibir bawah agar senyumnya tidak terlalu terlihat.

Di ujung ruangan, Jia masih berbisik pada staf lain, "Fix. Ini bukan suami. Ini bencana finansial berjalan."

Sore itu, perhatian semua orang tertuju pada bunga dan kotak berlian. Tidak ada yang melihat seorang laki-laki di luar gedung menatap lantai dua Maison Fevre dari balik helm ojek online.

Dimas sudah tidak memakai kemeja kantor.

Ia berdiri di dekat gang samping, wajahnya pucat, rahangnya keras. Di kantong jaketnya, jari-jarinya menggenggam gagang pisau lipat yang tadi ia beli dari toko kecil dekat jalan utama.

Mereka menertawakannya.

Mereka mengusirnya.

Laki-laki kaya itu bahkan mengirim bunga untuk seluruh kantor, seolah Dimas hanyalah noda yang sudah disapu dari lantai.

Pukul lima kurang lima, Ning merapikan tablet dan sampel kain JEIS. Jia sudah turun lebih dulu untuk mengambil pesanan kopi di lobby.

Ning masuk ke ruang ganti kecil untuk mengambil blazer.

Begitu ia berada di dalam, pintu di belakangnya tertutup.

Klik.

Ning berbalik.

Lampu padam.

Gelap menelan ruangan sempit itu.

Dari sudut dekat rak sepatu, suara Dimas terdengar rendah.

"Karena dia mengusirku, aku bawa kamu sekalian."

1
Siti Hawa
ceritanya bagus, ku kasih Bintang 5 thoor..
Siti Hawa
lanjut thoor.. mawar untuk mu
Anbu Hasna
sementang aku juga punya pr essay Bahasa, aku disuru tunggu juga. sama kayak Kian... 🤣🤣🤣
neng ade
sukaa banget dengan interaksi keluarga kecil ini .. ❤️
neng ade
akhirnya Ning menemukan kebahagiaan nya bersama anak dan suami nya ❤️
neng ade
😭😭 selamatkan Ning
neng ade
nyesek ..🥹
neng ade
sedikit demi sedikit mulai ada titik terang
neng ade
syukurlah mereka semua nya baik-baik aja
neng ade
semoga Ning bisa selalu dekat dengan Kian dan Kevin ❤️
neng ade
semoga suatu saat nanti Kian bisa menerima kehadiran Ning
Anbu Hasna
hal yang sama yg aku ucapin tiap Mama ketemu bestinya... "setengah bulan lagi kujemput, aku mau tidur". 🤣🤣
dan sekarang kata-kata itu dipakai si Abang kalau antar aku ketemu bestieku... buah jatoh sepohon-pohonnya
Anbu Hasna
Kian mulai ogah punya bapak kulkas
End Shara
sukaa ceritanya,beda dr yg lain...semangat k up yg banyak
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!