NovelToon NovelToon
Mama yang Terlupakan

Mama yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Anak Genius
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Genki Harto, pewaris tunggal konglomerat terkaya se-Asia, baru berusia tiga tahun. Tapi setiap malam, dia mengemas baju-baju kecilnya ke dalam buntalan kain usang dan berjalan keluar gerbang mansion.
"Genki mau cari Mama."
Tidak ada yang bisa menghentikannya — bukan pengawal, bukan pengasuh, bukan ayahnya sendiri, Rayhan Harto, CEO yang membuat seluruh dunia bisnis tunduk. Satu-satunya hal yang bisa membuat Genki berhenti menangis... adalah seorang perempuan biasa bernama Keira.
Keira Yanto. Anak angkat yang selalu dianggap rendah oleh keluarganya sendiri. Desainer muda yang terbiasa menelan kepahitan dalam diam. Perempuan yang tidak ingat apa yang terjadi padanya empat tahun lalu — satu tahun penuh yang lenyap dari ingatannya.
Tapi Genki tahu. Entah bagaimana, anak kecil itu tahu.
Dia menolak semua orang, kecuali Keira. Dia memeluk Keira seperti sudah mengenalnya seumur hidup. Dan saat Rayhan mulai menyelidiki masa lalu Keira yang hilang, kebenaran yang muncul jauh lebih mengerikan dari yang ia bayangkan:
Keira bukan siapa yang ia kira.
Genki bukan anak siapa yang semua orang sangka.
Dan orang-orang yang selama ini tersenyum di hadapan Keira... adalah dalang di balik segalanya.
"Kamu bilang aku cuma anak angkat? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya berdiri di depanmu."
Saat identitas asli Keira terungkap, dunia mereka semua akan terbalik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22: Yang Paling Butuh Diperhatikan

Untuk satu detik, kehangatan ruangan itu membuat kemarahan di dada Rayhan terasa makin tajam.

Namun ketika Genki menoleh sambil mengangkat buku cerita, Rayhan menurunkan matanya dari ponsel.

"Papa ikut baca?"

"Kamu sudah punya Kak Kei."

"Papa duduk saja. Jangan ganggu."

Keira tertawa pelan. "Genki, jangan begitu sama Papa."

"Papa suka ganggu."

Rayhan menutup ponsel dan memasukkannya ke saku. Urusan klinik harus menunggu beberapa menit. Di depannya, Keira masih duduk dengan rambut yang baru kering, Genki bersandar di lututnya, dan buku cerita terbuka di halaman anak kecil yang akhirnya berani mendengar petir.

Untuk hal seperti ini, Rayhan rela menunggu.

Hujan tidak berhenti sampai makan malam. Keira beberapa kali ingin pulang, tetapi Genki selalu punya alasan baru.

"Jalanan banjir."

"Genki belum makan."

"Kak Kei belum lihat sendok baru Genki."

"Kak Kei belum bilang selamat malam ke bantal."

Alasan terakhir membuat Keira menyerah dan duduk di ruang makan Vila Biru.

Di tengah meja sudah tersaji sup ayam hangat, nasi, tumis sayur, dan ikan kukus. Keira kira itu disiapkan staf rumah seperti biasa, sampai Aiden masuk dengan dua kantong dessert mahal dan wajah sangat menderita.

"Aku mau protes," katanya bahkan sebelum duduk. "Kenapa tiap Ko Ray jatuh cinta, dompetku yang berdarah?"

Keira hampir menjatuhkan sendok.

"Aiden," suara Rayhan datar.

"Apa? Aku disuruh beli dessert favorit Keira, bayar dulu pakai kartuku, lalu katanya nanti diganti. Kata nanti dari keluarga Harto itu kadang artinya kiamat dulu baru cair."

Genki langsung tertarik. "Dessert buat Genki?"

"Buat Keira," jawab Aiden.

Genki cemberut. "Kenapa bukan buat Genki?"

"Karena yang sedang didekati Ko Ray bukan kamu."

Keira menutup wajah dengan tangan.

Rayhan mengambil gelas air. "Kamu bisa makan di luar."

"Nggak. Aku sudah bayar mahal, aku ikut makan."

Pengasuh menahan senyum saat menambah piring. Gio yang baru masuk membawa dokumen berhenti di ambang pintu, lalu tampak menyesal datang pada waktu yang salah.

"Pak, dokumen..."

"Setelah makan," kata Rayhan.

Aiden melirik Gio. "Lihat, semua orang jadi korban cinta."

Gio menunduk. "Saya tidak berkomentar."

Keira mencoba tetap tenang, tetapi tawa kecilnya tetap keluar. "Maaf, Aiden. Aku tidak tahu kamu yang beli."

"Tidak apa-apa. Yang penting kamu tahu pengorbananku."

Rayhan menatapnya.

"Maksudku, selamat menikmati."

Makan malam menjadi lebih ramai daripada biasanya. Genki menceritakan ulang kegiatan sekolah dengan versi yang membuat dirinya selalu menjadi tokoh paling hebat. Aiden menyela sesekali, lalu dimarahi Genki karena "Om Aiden bukan murid TK". Rayhan lebih banyak diam, tetapi setiap kali Keira hendak mengambil makanan, piring kecilnya sudah lebih dulu bergeser ke dekatnya.

Keira menyadari hal itu.

Ia juga menyadari Rayhan tidak pernah membuat gerakannya terlihat seperti pelayanan besar. Ia hanya memperhatikan, lalu melakukan.

Setelah makan malam, Aiden akhirnya berhasil mencuri satu potong dessert dan kabur ke ruang TV. Gio menyerahkan dokumen singkat kepada Rayhan, lalu mundur lagi. Genki menarik Keira ke kamarnya dengan semangat penuh.

"Cerita sebelum tidur."

"Satu cerita."

"Dua."

"Satu."

"Satu panjang."

"Baik, satu panjang."

Rayhan mengikuti sampai pintu kamar. "Genki, setelah cerita langsung tidur."

"Papa jangan ikut."

"Ini kamar kamu, bukan ruang rahasia."

"Rahasia Genki sama Kak Kei."

Keira duduk di tepi ranjang, membuka buku pilihan Genki. Anak itu naik ke kasur, menarik selimut sampai dada, lalu menepuk sisi ranjang. "Kak Kei di sini."

Rayhan berdiri di sisi lain, menatap pemandangan itu.

"Aku di mana?"

Genki menunjuk kursi dekat meja belajar. "Di sana."

"Jauh sekali."

"Papa besar."

"Karena besar harus jauh?"

"Iya."

Keira menggigit bibir menahan tawa.

Cerita malam itu tentang kapal kertas yang tersesat di selokan dan akhirnya menemukan sungai. Genki mendengarkan dengan mata yang makin lama makin berat, tetapi setiap kali Keira berhenti, ia langsung protes.

"Belum selesai."

"Kapalnya sudah sampai sungai."

"Belum sampai laut."

Rayhan yang duduk di kursi tiba-tiba mengangkat tangan kanan dan menggerakkannya pelan. "Tanganku agak sakit."

Keira menoleh cepat. "Sakit?"

Genki membuka mata.

Rayhan menatap Keira dengan wajah sangat tenang. "Mungkin karena terlalu lama bekerja."

Keira hampir bangkit. "Mau dikompres?"

Genki duduk tiba-tiba. "Papa bohong."

Rayhan menatap putranya. "Kenapa?"

"Tadi Papa pakai tangan itu ambil ikan banyak."

Aiden yang entah sejak kapan mengintip dari pintu langsung tertawa.

Rayhan menoleh. "Kamu belum pulang?"

"Aku mencium drama."

Genki menunjuk Rayhan dengan serius. "Papa mau Kak Kei pegang tangan Papa."

Keira membeku.

Rayhan tidak berkedip.

Aiden memegang kusen pintu agar tidak jatuh karena menahan tawa.

"Genki," kata Rayhan datar, "tidur."

"Papa ketahuan."

Keira menunduk, wajahnya panas. Namun di balik malu itu, ada rasa hangat yang sulit ia sembunyikan. Rayhan Harto, pria yang membuat banyak orang takut salah bicara, ternyata bisa tertangkap basah oleh anak tiga tahun karena ingin diperhatikan.

"Kalau sakit sungguhan, bilang," kata Keira pelan.

Rayhan menatapnya. "Kalau ingin diperhatikan juga boleh bilang?"

Keira tidak menjawab, tetapi senyumnya cukup menjadi jawaban.

Genki menarik selimut sampai hidung. "Papa jangan genit. Genki mau tidur."

Aiden kalah. Ia tertawa keras di lorong.

Malam itu, Genki akhirnya tertidur sebelum kapal kertas sampai laut. Keira berdiri perlahan, merapikan selimutnya. Rayhan menunggu di dekat pintu, tidak lagi berpura-pura sakit.

Ketika mereka keluar, Keira berhenti di koridor.

"Tangannya," katanya.

Rayhan menoleh. "Sudah sembuh."

"Tadi katanya sakit."

"Tadi juga katanya ketahuan."

Keira mengulurkan tangan. "Tetap lihat."

Rayhan diam sesaat, lalu menyerahkan tangan kanannya. Keira memeriksanya dengan serius, menekan perlahan di sekitar pergelangan. Tidak ada bengkak, tidak ada tanda merah. Hanya telapak tangan hangat yang terlalu mudah membuat fokusnya pecah.

"Tidak apa-apa," katanya.

"Aku sudah bilang."

"Lain kali kalau ingin diperhatikan, jangan pura-pura sakit di depan Genki. Dia terlalu pintar untuk itu."

Rayhan menatap jari Keira yang masih menyentuh tangannya. "Kalau langsung bilang?"

Keira menunduk, tetapi tidak melepas tangannya cepat-cepat. "Tergantung."

"Pada apa?"

"Pada apakah Genki sedang mengawasi."

Rayhan tersenyum sangat tipis.

Di ujung lorong, Aiden yang baru muncul membawa gelas air langsung memutar badan. "Aku tidak melihat apa-apa."

Keira cepat-cepat melepas tangan Rayhan.

"Aku antar pulang," katanya.

"Hujannya sudah reda?"

"Sedikit."

Di koridor, sebelum mereka turun, Rayhan menerima pesan dari Gio.

Pertemuan dengan mantan staf klinik dijadwalkan besok malam. Lokasi diminta netral. Dia takut nama Yanto masih mengawasi.

Rayhan membaca pesan itu sekali, lalu menghapus notifikasi dari layar.

Keira berjalan di sampingnya tanpa curiga, masih tersenyum karena ulah Genki.

Rayhan menggenggam tangannya pelan.

Di balik jari yang hangat, ia menyimpan satu keputusan dingin: siapa pun yang membuat Keira takut pada masa lalunya, akan ia temukan.

1
Diana Silaen
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!