Tan Keira bukan orang bodoh. Dia tahu dirinya bukan cucu kandung Engkong Budiman -- hasil tes DNA di tangannya sudah membuktikan itu. Dia juga tahu bahwa suatu hari, cucu asli keluarga Tan akan muncul dan merebut segalanya: rumah, warisan, nama keluarga, bahkan kasih sayang satu-satunya orang yang pernah mencintainya.
Tapi Keira tidak akan duduk diam menunggu kehancuran.
Di sebuah lounge mewah di SCBD Jakarta, dia mengeksekusi rencana pertamanya: menjebak Lim Renata -- mantan jenderal, CEO Lim Group, sahabat mendiang papanya, dan satu-satunya pria yang cukup berkuasa untuk melindunginya dari badai yang akan datang.
Renata dingin. Renata menakutkan. Seluruh Jakarta tunduk padanya.
Tapi di depan Keira yang gemetar (pura-pura) dan bermata basah (juga pura-pura), pria itu... lembek.
"Om, saya takut."
Satu kalimat itu mengubah segalanya.
Yang Keira tidak tahu: Renata bukan pria yang bisa dijebak. Dia pria yang *memilih* untuk masuk ke jebakan. Dan alasannya... jauh lebih dalam dari yang Keira bayangkan.
Saat cucu asli keluarga Tan akhirnya muncul, saat kebohongan Keira mulai terbongkar satu per satu, saat seluruh dunianya runtuh -- hanya ada satu pertanyaan yang tersisa:
*Apakah Renata akan tetap memilihnya, setelah tahu semuanya palsu?*
Jawabannya ada di dua kata yang akan menghancurkan dan menyembuhkan Keira sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Keira tahu tubuh manusia punya batas, dan batas itu bisa dihitung.
Malam setelah Pak Dharma mulai memberi tugas yang "lebih rapi", ia berdiri di kamar mandi Rumah Tan dengan shower menyala dingin. Air jatuh ke rambut, bahu, punggung, lalu mengalir ke lantai marmer. Pukul sebelas malam, AC kamar sudah ia turunkan sejak satu jam lalu. Jendela sedikit terbuka, membiarkan angin hujan masuk.
Ini bukan tindakan bodoh.
Ini investasi.
Selama dua minggu magang, Pak Dharma makin halus menyudutkannya. File sampah berubah menjadi rapat mendadak, lalu revisi laporan yang dikirim pukul sembilan malam. Keira bisa melawannya sendiri. Ia bahkan sudah menyimpan bukti. Namun ia membutuhkan sesuatu yang lain dari Richard.
Bukan sekadar perlindungan formal.
Kebiasaan.
Ia perlu membuat Richard terbiasa datang ketika ia memanggil.
Keesokan paginya, tenggorokan Keira terbakar. Kepalanya berat, tubuhnya menggigil, dan suhu di termometer digital menunjukkan 38,6. Pak Hasan panik begitu melihatnya di ruang makan.
"Non Kei, ya Allah. Kok bisa panas begini?"
"Cuma masuk angin, Pak."
"Masuk angin tidak sampai begini. Saya panggil dokter."
"Jangan." Keira menahan tangan Pak Hasan. Suaranya serak, dan kali ini sebagian besar asli. "Nanti Engkong khawatir."
Engkong sedang bersiap berangkat kontrol ke dokter. Kalau ia tahu Keira sakit, seluruh jadwal rumah akan berubah. Keira tidak butuh keributan itu.
Ia butuh satu orang.
Saat Pak Hasan keluar mengambil bubur, Keira membuka ponsel. Kontak Om Lim masih berada di daftar atas.
Ia menelepon.
Panggilan tersambung pada dering ketiga.
"Keira?"
Di belakang suara Richard terdengar pengumuman bandara. Keira ingat dari Jason, Richard seharusnya berangkat ke Surabaya pagi ini untuk meninjau proyek pelabuhan.
"Om..." Keira membiarkan napasnya terdengar patah. "Maaf. Saya cuma..."
"Kamu sakit?"
"Tidak apa-apa. Saya cuma rindu Om."
Di seberang sana, tidak ada suara selama beberapa detik.
Keira menutup mata. Kalimat itu terlalu berani untuk Keira yang sopan. Tapi suara serak bisa membuat keberanian terdengar seperti demam.
"Suhu badanmu berapa?"
"Tidak tinggi."
"Angka."
Keira tersenyum lemah. "Tiga puluh delapan koma enam."
Richard berkata sesuatu pada orang di dekatnya. Suaranya menjauh, lalu kembali. "Saya tidak jadi berangkat."
Keira membuka mata.
Bahkan ia sendiri terkejut.
"Om, jangan. Itu perjalanan bisnis."
"Diam di kamar. Saya panggil Dokter Handoko."
"Om..."
"Jangan turun tangga sendiri."
Panggilan terputus.
Keira menatap layar ponsel. Tangannya panas, tetapi ujung jarinya dingin. Ia tahu Richard akan peduli. Ia tidak menyangka pria itu membatalkan perjalanan secepat itu.
Pak Hasan kembali membawa bubur. "Non Kei kenapa senyum?"
"Tidak apa-apa, Pak."
"Orang demam tidak senyum begitu."
Keira menutup mulut dengan selimut. "Mungkin karena panas."
Richard tiba di Rumah Tan menjelang siang bersama Dokter Handoko. Engkong sudah berangkat kontrol sehingga rumah lebih sunyi. Pak Hasan membukakan pintu dengan wajah lega seperti baru melihat bala bantuan.
"Pak Lim, terima kasih sudah datang."
Richard hanya mengangguk, lalu naik ke kamar Keira.
Keira berbaring dengan rambut tersebar di bantal. Wajahnya pucat, bibirnya kering, mata sedikit merah. Kali ini, ia tidak perlu banyak berakting. Tubuhnya benar-benar payah.
Richard berdiri di sisi tempat tidur. "Kamu mandi air dingin?"
Keira hampir tersedak batuk.
Dokter Handoko yang sedang membuka tas medis menoleh.
"Saya..." Keira mengalihkan wajah. "Semalam gerah."
Richard menatapnya beberapa detik. Ia tidak membongkar kebohongan itu. Belum. Ia hanya mengambil termometer dari dokter dan menunggu hasilnya.
39,1.
Wajah Pak Hasan langsung cemas.
Dokter Handoko memeriksa cepat. "Flu berat, kurang istirahat, kemungkinan kena hujan atau suhu dingin. Saya beri obat penurun panas dan antibiotik jika perlu setelah cek lanjutan. Hari ini harus banyak minum."
"Dia tinggal di kamar," kata Richard.
Keira membuka mata. "Om, saya masih ada laporan..."
"Laporan bisa menunggu."
"Pak Dharma..."
"Saya yang bicara."
Kalimat itu sederhana, tetapi membuat Pak Hasan menunduk lega.
Richard keluar sebentar ke koridor dan menelepon Jason. Suaranya rendah, tetapi Keira masih menangkap beberapa kata.
"Surabaya ditunda. Kirim Arief menggantikan saya. Semua dokumen masuk ke email."
Jeda.
"Dan minta Pak Dharma mengirim daftar tugas Keira tiga hari terakhir."
Keira menutup mata.
Ia ingin Richard datang. Ia ingin Richard melihat. Tetapi ketika pria itu benar-benar mengubah jadwalnya, rasa bersalah yang tidak ia pesan ikut datang bersama demam.
Pak Hasan masuk membawa baskom kecil berisi air hangat. "Pak Lim membatalkan perjalanan?"
Keira tidak menjawab.
"Non Kei," suara Pak Hasan melembut, "kalau seseorang datang karena sayang, jangan selalu dihitung sebagai utang."
Keira membuka mata, tetapi tidak mampu membalas.
Sore sampai malam, Richard tidak pergi.
Ia duduk di kursi dekat jendela kamar Keira, laptop terbuka di pangkuan, rapat dipindahkan menjadi panggilan video tanpa kamera. Suaranya tetap dingin saat membahas angka proyek, tetapi setiap lima belas menit ia berdiri untuk mengecek suhu Keira atau memastikan gelas air di meja tidak kosong.
Keira tidur dan bangun beberapa kali. Di antara kantuk dan demam, ia melihat siluet Richard di dekat jendela.
Ini harusnya kemenangan.
Namun saat tengah malam ia terbangun dan menemukan Richard masih di sana, kepala bersandar sebentar di kursi, wajahnya lelah, dada Keira justru terasa sesak.
"Om," panggilnya lirih.
Richard langsung membuka mata. "Apa yang sakit?"
Keira menatapnya.
Yang sakit bukan bagian yang bisa diperiksa Dokter Handoko.
"Tidak. Saya cuma mau memastikan Om masih di sini."
Richard menatapnya lama, lalu mengambil gelas air dan membantunya duduk.
"Aku di sini."
Pukul empat pagi, Pak Hasan masuk untuk mengganti kompres. Ia berhenti di ambang pintu saat melihat Richard masih duduk di sana, satu tangan menahan ponsel, satu tangan lain memegang termometer.
Pak Hasan tidak berkata apa-apa.
Namun ketika keluar, ia menutup pintu lebih pelan dari biasanya.
Menjelang subuh, ponsel Richard bergetar lagi. Jason mengirim ringkasan tugas Keira dari Pak Dharma. Tiga belas email setelah jam kerja, empat revisi tanpa arahan, dan dua permintaan lembur tanpa surat tugas.
Richard membaca semuanya dengan wajah tanpa ekspresi.
Keira yang setengah terjaga melihat cahaya layar di matanya.
"Om marah?"
"Tidur."
"Berarti iya."
Richard mematikan layar ponsel. "Aku tidak suka orang menyentuh milikku."
Keira memejamkan mata, tetapi kalimat itu tetap tinggal di telinganya lebih lama dari demam.
Milikku.
Kata itu seharusnya membuatnya takut.
Yang terjadi justru sebaliknya.
Ia merasa dipilih, meski tahu pilihan itu ia pancing sendiri dengan sengaja sejak awal, tanpa rasa malu.
Ia duduk di samping tempat tidur Keira sampai subuh.