Maryati meninggal di malam hujan, membeku di gang sempit, setelah ketiga anaknya menolak membuka pintu.
Seumur hidup dia mengabdi. Gaji suaminya — Hartono — dia yang kelola supaya cukup untuk makan sekeluarga. Menantu pertamanya, Watini, menampar dan memaki sesuka hati. Anak sulungnya, Darmanto, bungkam saja. Anak keduanya, Bagus, cuma datang kalau butuh uang. Satu-satunya yang sayang — Lestari, anak perempuannya — justru dibuang ke kampung terpencil dan mati muda.
Lalu Tuhan memberi kesempatan kedua.
Maryati membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke usia lima puluh tahun. Kali ini, dia bukan lagi ibu yang menunduk. Kali ini, dia melawan.
Hari pertama: dia menampar balik Watini dan merebut seluruh gaji keluarga. Hari kedua: dia mengusir siapa pun yang berani menginjak harga dirinya. Dan tujuan terbesarnya? Menyelamatkan Lestari sebelum terlambat — naik kereta sendirian ke kampung terpencil, menghadapi keluarga preman yang menyandera anaknya, dan membawa Lestari pulang dengan tangannya sendiri.
Tapi membebaskan anak perempuannya baru permulaan.
Maryati harus berhadapan dengan suami yang lebih memilih selingkuhan daripada istri, menantu yang licik di balik senyum manisnya, dan anak-anak yang menganggap pengorbanan ibu adalah hal yang wajar. Ketika cukup sudah — **dia menggugat cerai di usia lima puluh tahun, keluar dari rumah dengan satu tas kecil, dan membuktikan bahwa hidup seorang perempuan tidak berakhir setelah ditinggal suami.
Dari buruh pabrik tekstil biasa, Bu Yati naik menjadi ketua serikat pekerja wanita. Dia mendirikan asrama perlindungan untuk pekerja perempuan korban kekerasan. Dia menemukan kakak kandung yang terpisah sejak kecil. Dan satu per satu, perempuan-perempuan di sekitarnya — Wulandari si anak yang dikorbankan untuk adik laki-laki, Ayu yang dijual untuk dinikahkan, Ningsih yang tertipu laki-laki brengsek — bangun dari tidur panjang mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15: Janda Sri
Pak Tono tampak seperti orang yang ketahuan menyimpan api di balik sarung.
Sri berdiri terlalu dekat dengannya. Tidak sampai menyentuh, tetapi cukup dekat untuk membuat tetangga yang lewat memperlambat langkah. Jilbabnya rapi, batiknya baru, sandalnya bersih. Di tangannya, amplop cokelat itu dipegang seperti surat penting, bukan seperti alasan untuk datang.
Bu Yati turun dari angkot dengan tenang.
Tari ikut turun di belakangnya, masih membawa sisa bakso yang dibungkus plastik. Senyum karena hasil wawancara tadi langsung hilang saat melihat wajah ayahnya yang gugup.
"Sore, Sri," sapa Bu Yati.
Sri terkejut, lalu cepat memasang senyum lembut. "Eh, Bu Yati. Saya cuma lewat. Kebetulan ketemu Pak Tono."
"Lewat sambil bawa amplop?"
Pak Tono berdehem. "Bu'e, jangan langsung curiga. Sri ini mau tanya lowongan kerja."
Bu Yati hampir tertawa.
Sejak kartu gaji diambil, transfer untuk Sri putus. Sekarang perempuan itu tiba-tiba mencari kerja di depan rumah laki-laki yang biasa memberinya uang. Kalau ini sandiwara, panggungnya terlalu sempit.
"Bagus," kata Bu Yati tanpa menoleh, "bawa Tari masuk. Simpan barang."
Tari ragu. "Ma..."
"Masuk. Kamu sudah capek."
Namun Tari tidak menutup pintu rapat. Dari balik tirai, ia tetap bisa mendengar.
Bu Yati melipat tangan di depan dada. "Mau kerja apa, Sri?"
Sri menunduk, memainkan ujung amplop. "Apa saja, Bu. Saya ini janda, hidup sendiri. Anak-anak butuh makan. Saya malu sebenarnya datang ke Pak Tono, tapi..."
"Jangan malu kalau cari kerja. Yang perlu malu itu kalau cari uang suami orang."
Wajah Sri berubah sesaat, lalu kembali layu. "Bu Yati salah paham. Saya menghormati Pak Tono seperti saudara."
"Saudara yang tiap bulan ditransfer?"
Pak Tono langsung panik. "Bu'e!"
Tetangga di rumah sebelah pura-pura menyiram tanaman. Air dari selangnya sudah meluap ke jalan, tetapi matanya tidak pindah.
Bu Yati menunjuk kursi bambu di teras. "Duduk. Kalau benar cari kerja, aku bantu."
Sri tampak tidak ingin duduk, tetapi terlalu banyak mata sudah melihat. Ia akhirnya duduk dengan gerakan halus.
"Ada kerja bersih-bersih di rumah Bu Sari," kata Bu Yati. "Pagi dua jam, sore dua jam. Gajinya tidak besar, tapi pasti. Mau?"
Sri mengedip. "Bersih-bersih? Saya ini sering sakit pinggang, Bu."
"Kalau begitu jaga warung nasi punya Mbak Lilis. Mulai jam enam pagi sampai dua siang. Nanti dapat makan."
"Jam enam? Anak-anak saya belum sarapan."
"Anak-anakmu sudah SMP, bisa ambil nasi sendiri. Kalau tidak, kerja laundry kiloan. Duduk melipat baju."
Sri tersenyum kaku. "Laundry jauh, Bu. Ongkosnya habis."
"Di dekat pasar ada orang cari penjaga kios pulsa. Duduk saja, catat pembeli."
"Saya tidak pintar hitung-hitungan."
Bu Yati mengangguk pelan. "Cuci piring di warung bakso?"
"Tangan saya sensitif sabun."
"Bantu katering?"
"Angkat-angkat berat."
"Jadi pembantu harian?"
Mata Sri langsung tajam, lalu cepat menunduk lagi. "Saya bukan tidak mau, Bu. Tapi orang seperti saya kalau kerja di rumah orang nanti difitnah. Saya janda. Salah sedikit jadi omongan."
Bu Yati tertawa pendek. "Aneh. Kalau kerja halal takut omongan. Kalau berdiri dekat suami orang di depan rumah, tidak takut?"
Sri akhirnya tidak bisa menjaga wajahnya. "Bu Yati, saya datang baik-baik."
"Aku juga menjawab baik-baik. Dari tadi aku kasih kerja, kamu menolak semua."
Pak Tono berkeringat. "Sudahlah, Bu'e. Jangan permalukan orang. Sri sedang susah."
Bu Yati menoleh padanya. "Yang susah banyak. Bu Parmi susah, tapi masih bisa menuntut uang. Tari susah, tetap mau kerja. Bagus susah, mulai jualan. Kenapa susahnya Sri harus diselesaikan dengan dompetmu?"
Sri berdiri. "Saya tidak pernah minta macam-macam."
"Amplop itu apa?"
Sri menggenggam amplop lebih kuat. "Surat keterangan. Saya mau minta Pak Tono bantu cari rekomendasi."
"Buka."
Sri diam.
Bu Yati mengulurkan tangan. "Kalau surat kerja, tidak perlu takut dibuka."
Pak Tono mencoba berdiri di antara mereka. "Maryati, cukup."
Nama itu membuat udara di teras berubah.
Bu Yati menatap wajah suaminya lama. "Kamu berani membentakku demi perempuan yang bahkan tidak mau cuci piring untuk makan anaknya?"
Pak Tono kalah sebelum sempat menjawab.
Sri memasukkan amplop ke tasnya. "Saya pulang saja. Saya tahu diri. Saya cuma janda, tidak punya tempat mengadu."
"Janda itu status, bukan izin mengambil uang rumah tangga orang."
Beberapa perempuan tetangga yang mendengar kalimat itu saling pandang. Ada yang mengangguk pelan. Bu Yati sengaja mengucapkannya begitu. Ia tidak sedang menghina semua janda. Ia sedang menolak Sri memakai status itu sebagai tameng.
Sri menatapnya dengan mata basah yang kini lebih marah daripada sedih. "Ibu pikir hidup Ibu paling benar?"
"Tidak. Aku pernah sangat bodoh." Bu Yati maju satu langkah. "Bedanya, sekarang aku berhenti membayar kebodohan itu dengan uang beras anakku."
Sri menoleh pada Pak Tono, menunggu ia membela.
Pak Tono menunduk.
Pengkhianatan kecil itu membuat wajah Sri mengeras. Ia tidak menangis lagi. Topeng halusnya retak, memperlihatkan perempuan yang kesal karena pintu uangnya tertutup.
"Baik, Bu Yati. Semoga Ibu tidak pernah butuh bantuan orang."
"Aku butuh bantuan orang baik. Bukan orang yang datang tiap bulan saat tanggal gajian."
Sri pergi dengan langkah cepat. Motor ojol yang tadi menunggu di ujung gang langsung menyala. Sebelum naik, ia sempat menoleh sekali. Tatapannya bukan tatapan perempuan tersakiti. Itu tatapan orang yang merasa sumber uangnya dirampas.
Setelah motor itu hilang, Pak Tono masuk rumah tanpa menatap siapa pun.
Bu Yati mengikutinya.
Di ruang tengah, Tari berdiri sambil memegang plastik bakso. Guntur muncul dari kamar, Watini dari balik tirai, Anto dari halaman belakang. Semua orang tahu baru saja ada sesuatu yang lebih besar dari pertengkaran biasa.
Pak Tono duduk dan mengusap wajah. "Kamu puas mempermalukan aku?"
"Belum."
Ia mengangkat kepala.
Bu Yati membuka laci meja, mengambil buku catatan kecil yang beberapa hari lalu ia paksa Pak Tono tulis. Di dalamnya ada nama-nama laki-laki yang selama ini ikut memberi uang pada Sri, sebagian lewat transfer, sebagian lewat titipan tunai, sebagian atas nama bantuan anak yatim yang tidak pernah jelas.
Wajah Pak Tono langsung pucat.
"Kamu masih simpan itu?"
"Tentu. Kamu menulisnya dengan tanganmu sendiri."
"Bu'e, jangan macam-macam. Mereka orang kampung sendiri. Nanti jadi ribut."
"Ribut itu kalau istri mereka baru tahu nanti dari tetangga. Lebih baik tahu dari info penting."
Anto menelan ludah. Watini, yang biasanya senang melihat orang lain dipermalukan, kali ini tampak takut karena nama laki-laki di daftar itu mungkin dekat dengan keluarganya juga.
Tari mendekat pelan. "Ma, apa tidak berbahaya?"
Bu Yati melembutkan suara. "Bahaya itu kalau perempuan terus dibohongi supaya laki-laki bisa merasa baik."
Bagus yang sejak tadi berdiri di pintu akhirnya berkata, "Kalau mau disebar, jangan asal kirim. Bikin grup baru. Masukkan istri-istrinya, bukan satu RT penuh. Biar yang kena tepat sasaran."
Bu Yati menatapnya. "Otakmu kalau dipakai begini lumayan."
Bagus mengangkat bahu. "Aku belajar dari Ibu."
Pak Tono membanting telapak tangan ke meja. "Maryati!"
Bu Yati tidak tersentak. Ia justru mengambil ponselnya, membuka WhatsApp, dan mulai memilih kontak satu per satu. Bu Sari. Bu Lilis. Istri Pak Rukun. Istri mandor bengkel. Istri pedagang beras. Nama-nama perempuan yang selama ini mungkin merasakan uang belanja hilang tanpa tahu ke mana perginya.
Di kolom nama grup, ia mengetik perlahan.
Ibu-ibu RT 07 - Info Penting
Lalu ibu jarinya berhenti di atas tombol centang.
Malam itu, giliran para istri yang akan membuka mata.