NovelToon NovelToon
Diceraikan Dunia, Dicintai Empat Pewaris

Diceraikan Dunia, Dicintai Empat Pewaris

Status: tamat
Genre:Asmara / CEO / Anak Genius / Pengasuh / Tamat
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Keira Lo bukan siapa-siapa.
Yatim piatu, lulusan SMA, hidup dari upah serabutan di desa kecil Jawa Tengah. Satu-satunya alasan dia masih bertahan: Kiara — kembaran-nya yang mengalami kerusakan otak setelah diserang tiga tahun lalu. Keira butuh uang. Banyak. Dan satu-satunya jalan adalah menjadi pengasuh bayi di kediaman keluarga Ciu — konglomerat terkaya di Jakarta yang terkenal kejam.
Dia datang dengan koper lusuh dan tangan penuh luka. Mereka menatapnya seperti debu yang tersasar ke istana marmer.
Tapi ketika bayi keluarga Ciu nyaris meninggal di tangan pengasuh berpengalaman — dan Keira yang menyelamatkannya dengan tangan gemetar — segalanya berubah.
Empat pewaris. Empat hati yang berbeda. Semua jatuh pada gadis yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35: Pion yang Tidak Mau Bergerak

Tangan Keira pada nampan nyaris terlepas.

Ia menahan napas, menstabilkan pergelangan tangan, dan membiarkan dasar nampan kembali rata. Teh di dalam cangkir hanya bergetar sedikit. Tidak tumpah.

Di aula utama, semua orang menunggu lanjutan kalimat Melissa.

Melissa seolah tidak menyadari udara yang berubah. Senyumnya tetap lembut, bahkan terlalu lembut untuk hal yang akan ia ucapkan.

"Aku dengar Ko Ethan belakangan ini sering memanggil seorang pengasuh ke lantai tiga."

Tidak ada suara pecahan gelas.

Tidak ada teriakan.

Namun Keira merasa seluruh ruangan baru saja menoleh ke arahnya, bahkan sebelum mata mereka benar-benar bergerak.

Beberapa perempuan menahan napas pendek. Seorang tante yang tadi paling banyak bicara langsung menutup mulut dengan ujung jari. Celeste akhirnya berhenti mengaduk teh.

Vivienne tidak memandang Keira.

Itu justru membuat tekanan terasa lebih berat.

Nyonya Besar hanya mengangkat cangkirnya, meminumnya seteguk, lalu menaruhnya kembali dengan gerakan anggun.

"Melissa," katanya lembut, "kamu terlalu mudah percaya pada gosip."

"Aku juga berharap begitu." Melissa menunduk sedikit. "Tapi orang rumah suka bicara. Aku cuma khawatir kalau sampai orang luar dengar, nanti reputasi cabang besar jadi bahan cerita."

Kata cabang besar jatuh tepat di meja Vivienne.

Keira berdiri diam di belakang barisan kursi, memegang nampan dengan kedua tangan. Punggungnya lurus. Matanya menunduk. Ia tidak boleh terlihat tersinggung. Tidak boleh terlihat takut. Tidak boleh terlihat membela siapa pun.

Dalam cerita Melissa, ia bukan manusia.

Ia alat.

Alat untuk menusuk posisi Vivienne.

Vivienne tersenyum.

"Terima kasih sudah khawatir. Tapi keluarga kami tahu apa itu batas."

Kalimat itu memotong dua arah.

Ke arah Melissa: jangan memakai Ethan untuk menyerangku.

Ke arah Keira: ingat tempatmu.

Keira mendengarnya.

Semua orang juga.

Arisan berlanjut setelah itu, tetapi tidak ada yang benar-benar kembali ke topik kue atau butik. Percakapan menjadi tipis. Senyum-senyum dipasang ulang. Melissa sesekali tertawa pelan, Vivienne tetap anggun, Celeste kembali diam seperti semula.

Keira terus menuang teh.

Setiap kali cangkir Vivienne kosong, ia isi. Ketika Melissa membutuhkan teh, ia isi. Saat Celeste hanya mengangkat mata sedikit, Keira juga mendekat tanpa menunggu dipanggil.

Sama rata.

Tidak memilih.

Tidak bergerak ke kotak siapa pun.

Setelah para tamu mulai pulang, aula utama perlahan kosong. Bi Sari mengatur staf mengangkat piring dan gelas. Keira hendak membawa nampan ke pantry ketika suara Vivienne memanggilnya.

"Keira."

Keira berhenti.

"Ikut saya sebentar."

Vivienne tidak membawa Keira ke ruangan tertutup. Ia hanya berjalan ke sisi koridor yang menghadap taman dalam, cukup jauh dari staf lain, cukup terbuka agar tidak tampak seperti interogasi.

Itu juga cara keluarga Ciu bekerja.

Tekanan tidak selalu membutuhkan pintu tertutup.

Vivienne berdiri di dekat jendela tinggi. Cahaya sore menyentuh sisi wajahnya, membuat senyumnya tampak hampir keibuan.

"Kamu bekerja dengan baik akhir-akhir ini," katanya.

"Terima kasih, Nyonya Besar."

"Stephanie lebih stabil. Bayinya juga. Jayden mulai lebih teratur. Bahkan Bryan..." Vivienne berhenti sebentar, seolah nama itu jarang dipakai di mulutnya. "Saya dengar dia mulai lebih sering berada di perpustakaan."

Keira tidak tahu siapa yang melapor.

Di rumah ini, dinding kadang punya telinga lebih banyak daripada manusia.

"Saya hanya menjalankan tugas, Nyonya."

Vivienne menatapnya.

"Keira, kamu gadis yang pintar."

Kalimat itu terdengar seperti pujian sampai jeda berikutnya datang.

"Kamu tahu di mana tempatmu, kan?"

Tidak ada ancaman di wajah Vivienne. Tidak ada nada kasar. Justru karena itu, kalimatnya terasa lebih dingin.

Keira menunduk sedikit.

"Saya tahu, Nyonya Besar."

"Bagus." Vivienne menyentuh ringan lengan kursi di sampingnya. "Di rumah besar, orang yang terlalu cepat naik sering lupa pijakan. Saya tidak ingin kamu jatuh."

Keira tahu arti kalimat itu.

Jangan biarkan Ethan menjadi jalan naik.

Jangan membuat cabang besar malu.

Jangan percaya bahwa kebaikanmu memberi hak untuk berdiri sejajar.

"Saya akan menjaga sikap," jawab Keira.

Vivienne tersenyum.

"Saya percaya kamu bisa."

Percakapan selesai.

Keira baru berjalan kembali ke pantry ketika suara lain memanggilnya dari dekat lorong samping.

"Keira."

Melissa berdiri di sana, sendirian, tanpa rombongan kerabat yang tadi mengelilinginya. Senyumnya tidak lagi dipasang untuk satu ruangan penuh. Senyum itu kecil, pribadi, dan jauh lebih berbahaya.

"Nyonya Ketiga."

"Jangan tegang begitu. Aku cuma mau bicara."

Keira berhenti pada jarak aman.

Melissa melihatnya dari ujung rambut sampai seragam. "Kamu pintar. Itu terlihat."

"Nyonya Ketiga terlalu memuji."

"Aku serius. Tidak banyak pengasuh bisa membuat Jayden patuh, membuat Stephanie percaya, dan membuat Ko Ethan..." Melissa berhenti, lalu tertawa pelan. "Yah, setidaknya membuat dia mau memanggilmu ke lantai tiga."

Keira tidak menanggapi.

Melissa mendekat setengah langkah.

"Gajimu sekarang berapa?"

"Cukup, Nyonya."

"Cukup itu kata orang yang belum tahu bisa mendapat lebih." Melissa menyentuh gelang tipis di pergelangan tangannya. "Aku bisa bantu kamu naik posisi. Bukan sekadar pengasuh. Pendamping keluarga, mungkin. Gaji lebih tinggi. Kamar lebih baik. Jadwal lebih longgar."

Keira mendengarkan sampai akhir.

"Sebagai gantinya?"

Mata Melissa berbinar halus.

"Sesekali beri tahu aku hal-hal kecil dari cabang besar. Tidak perlu rahasia besar. Jadwal Ko Ethan, siapa yang datang ke lantai tiga, Nyonya Besar sedang mempersiapkan apa. Hal kecil saja."

Keira hampir ingin tertawa.

Hal kecil di rumah ini tidak pernah kecil.

"Nyonya Ketiga terlalu memandang tinggi saya," kata Keira dengan senyum sopan. "Saya cuma pengasuh. Yang saya tahu hanya susu bayi, jadwal tidur, dan apakah Adik Jay sudah mencuci tangan."

Melissa menatapnya beberapa detik.

Senyumnya tidak hilang, tetapi matanya menjadi lebih dingin.

"Orang pintar biasanya tahu kapan harus mengambil kesempatan."

"Saya masih belajar agar tidak mengambil sesuatu yang bukan milik saya, Nyonya."

Untuk pertama kalinya, Melissa tidak langsung menjawab.

Lalu ia tertawa kecil.

"Kamu menarik, Keira."

"Saya permisi."

Keira menunduk, lalu pergi sebelum percakapan itu diberi bentuk lain.

Malamnya, setelah semua pekerjaan selesai, Keira duduk di kamar pengasuh dengan punggung terasa kaku. Ia membuka buku catatan kecil, tetapi tidak menulis apa pun.

Vivienne ingin ia ingat tempat.

Melissa ingin ia menjadi mata.

Ethan memperingatkan ia terlalu baik.

Bryan menulis ia tidak perlu.

Kevin menghindar.

Darren bersembunyi di sayap barat.

Keira meletakkan pena.

Ia bukan keluarga. Bukan sekutu. Bukan musuh. Tetapi hari ini, semua orang mencoba menentukan ke mana ia harus bergerak.

Pion.

Hanya saja, pion juga bisa memilih untuk tidak maju ketika tangan yang memindahkannya bukan miliknya sendiri.

Angin malam masuk dari celah jendela.

Keira berdiri untuk menutup tirai. Dari kamar pengasuhnya, sebagian sisi timur rumah utama terlihat di antara pepohonan. Biasanya bagian itu gelap dan tertutup bayangan.

Malam itu, satu tirai tebal di koridor sayap timur tersingkap oleh angin.

Di baliknya, Keira melihat sebuah pintu kecil yang sebelumnya tidak pernah ia perhatikan.

Pintu itu setengah tertutup.

Dan dari celahnya, yang terlihat hanya gelap pekat.

1
!m_mah
maaf kk thor, kno JD "Lo gue" 🙄
sunaryati jarum
Langsung 200 bab dan end, langsung delete
sunaryati jarum
Ko Kevin sepertinya tertarik pada Keira Lo
sunaryati jarum
Suami istri ko seperti orang asing,pada sudah melahirkan
sunaryati jarum
Semoga kakakmu sembuh,Keira
sunaryati jarum
Ko Ethan kaku tapi teliti
sunaryati jarum
Baru mampir, penasaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!