NovelToon NovelToon
Gadis Jalanan Terobsesi Pada CEO

Gadis Jalanan Terobsesi Pada CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO
Popularitas:978
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Bagi Adrian, Dira hanyalah seorang gadis jalanan yang pernah ia selamatkan. Namun bagi Dira, Adrian adalah alasan ia bertahan hidup, bangkit dari kemiskinan, dan mengubah takdirnya.

Malam itu, ia bertekad mengubah dirinya bukan sebagai gadis jalanan lagi, melainkan wanita yang siap melakukan apa saja demi memiliki pria yang telah menguasai hatinya.

"Sekecil apapun kesempatan itu, akan ku manfaatkan sebaik mungkin!" (Dira)

#CintaRomantis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10

"Ini urusan keluarga. Jangan ikut campur!"

"Merampas uang anak sendiri bukan urusan keluarga." Tanpa banyak bicara, Beri merebut tas Dira dari tangan lelaki itu. Ketika ayah Dira mencoba melawan, Beri dengan sigap menarik dompet yang telah dimasukkan ke saku celananya. "Itu bukan milikmu."

Ayah Dira memaki-maki. "Mau jadi pahlawan, ya?"

"Aku hanya memastikan kamu tidak mengambil sesuatu yang bukan hakmu."

Melihat beberapa orang mulai memperhatikan keributan itu, ayah Dira akhirnya mundur. Dengan tatapan penuh kebencian, ia menunjuk Dira. "Dasar anak durhaka! Awas saja nanti, kau akan ku jual" Setelah mengumpat beberapa kali, lelaki itu akhirnya pergi sambil terus menggerutu.

Beri mengembuskan napas lega, lalu berjongkok di hadapan Dira yang masih terduduk di jalan. "Dira... kamu tidak apa-apa?"

Dira tidak langsung menjawab. Tangannya masih gemetar hebat.

Beri mengembalikan tas dan dompetnya. "Uangnya masih utuh. Coba periksa."

Namun Dira tidak melihat uang itu. Air matanya justru mengalir semakin deras. "Aku benci..." bisiknya lirih.

Beri terdiam.

"Aku benci hidupku yang dulu." Tangis Dira pecah. "Itu sebabnya aku belajar mati-matian. Aku bekerja sekeras mungkin. Aku melakukan semuanya demi mengubah hidupku." Ia mengepalkan kedua tangannya. "Aku tidak mau kembali ke tempat itu lagi." Suaranya bergetar penuh tekad. "Aku tidak mau kembali menjadi Dira yang dulu... gadis yang hidup dalam ketakutan dan tidak punya masa depan."

Beri menatap Dira dengan iba. Baru kali ini ia benar-benar memahami alasan di balik kerja keras gadis itu. Selama ini ia mengira Dira hanya ambisius. Ternyata, setiap langkah yang diambil Dira bukan untuk mengejar kekayaan semata. Melainkan untuk terus berlari sejauh mungkin dari masa lalu yang pernah hampir menghancurkan hidupnya. Tanpa berkata apa-apa, Beri membantu Dira berdiri. "Kamu tidak sendirian lagi, Dira."

Dira masih gemetar. Napasnya tidak beraturan, sementara air mata terus mengalir tanpa bisa dihentikan. Jemarinya mencengkeram erat tali tas yang baru saja dikembalikan Beri, seolah takut semua yang dimilikinya akan dirampas lagi.

Beri tidak langsung berbicara. Ia memberi Dira waktu untuk menenangkan diri..Beberapa saat kemudian, ia mengeluarkan sebotol air mineral dari mobilnya dan menyerahkannya. "Minumlah dulu."

Dengan tangan yang masih bergetar, Dira menerima botol itu. Ia mencoba meneguk sedikit air, meski tenggorokannya terasa tercekat.

Beri menatapnya dengan penuh simpati. "Dira... yang baru saja terjadi bukan salahmu."

Tangis Dira kembali pecah. "Aku sudah berusaha melupakan semuanya, Kak," ucapnya lirih. "Tapi setiap bertemu dia... aku seperti kembali menjadi gadis yang dulu."

Beri mengangguk pelan. "Itu namanya trauma. Luka seperti itu tidak hilang hanya karena waktu berlalu."

Dira menundukkan kepala. "Aku takut... suatu hari nanti dia akan datang lagi dan menghancurkan semua yang sudah kubangun."

Beri menggeleng tegas. "Dengarkan aku."

Dira perlahan mengangkat wajahnya.

"Hari ini membuktikan satu hal. Dulu kamu memang sendirian. Tapi sekarang tidak lagi." Beri menunjuk ke arah yayasan yang tak jauh dari sana. "Kamu punya Bu Emi. Kamu punya Bu Monik. Kamu juga punya orang-orang yang peduli padamu." Ia tersenyum tipis. "Dan kalau dia mengganggumu lagi, jangan hadapi sendirian. Hubungi kami."

Air mata Dira kembali jatuh. Bukan karena ketakutan. Melainkan karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa benar-benar memiliki tempat untuk berlindung.

Beri melanjutkan dengan suara tenang. "Jangan biarkan satu orang dari masa lalumu mencuri masa depan yang sudah kamu bangun dengan susah payah."

Dira menarik napas panjang. Perlahan, gemetar di tubuhnya mulai mereda. Ia mengusap air matanya, lalu menatap Beri dengan penuh rasa terima kasih. "Terima kasih, Kak."

Beri tersenyum. "Kalau begitu, ayo kita pulang. Besok masih banyak mimpi yang harus kamu kejar."

Mendengar kalimat itu, Dira mengangguk mantap. Ia tahu perjalanan mengubah nasibnya masih panjang. Namun kini ia tidak lagi merasa harus memikul semuanya seorang diri.

Di dalam mobil, suasana masih sunyi. Beri sengaja mengemudi dengan pelan agar Dira memiliki waktu untuk menenangkan dirinya. Sesekali ia melirik gadis itu yang masih memandang kosong ke luar jendela. Setelah beberapa menit, Beri akhirnya membuka pembicaraan. "Dira."

"Iya, Kak."

"Aku ingin mengusulkan sesuatu. Bagaimana kalau aku membuat janji dengan seorang psikolog?"

Dira terdiam.

"Kamu tidak perlu merasa malu. Setelah apa yang kamu alami tadi, aku yakin luka itu masih ada. Mungkin berbicara dengan tenaga profesional bisa membantumu menghadapi trauma itu."

Dira tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan. "Terima kasih, Kak. Tapi aku... tidak punya waktu."

Beri mengernyit. "Dira, kesehatanmu juga penting."

"Aku tahu."

"Lalu kenapa menolak?"

Dira memandang kedua tangannya. "Aku ingin belajar." Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan. "Aku juga ingin bekerja. Aku ingin mengembangkan usahaku." Tatapannya berubah penuh tekad. "Aku ingin sukses."

Beri tidak langsung menjawab.

Dira melanjutkan dengan suara pelan. "Kalau aku berhenti sekarang, aku takut kehilangan kesempatan. Aku sudah terlalu jauh melangkah untuk menyerah."

Beri mengangguk pelan. "Aku mengerti kenapa kamu berpikir begitu." Ia lalu tersenyum. "Tapi ingat satu hal, Dira. Mengejar kesuksesan dan menjaga kesehatan mental bukanlah dua hal yang harus saling mengalahkan. Kalau suatu hari nanti kamu merasa traumamu mulai mengganggu hidupmu atau membuatmu sulit belajar, bekerja, atau tidur, tidak ada salahnya mencari bantuan. Itu bukan tanda kelemahan."

Dira terdiam mendengar kata-kata itu.

"Aku tidak akan memaksamu," lanjut Beri. "Keputusan tetap ada di tanganmu. Yang penting, kamu tahu bahwa kamu tidak harus menghadapi semuanya sendirian."

Dira mengangguk perlahan. "Terima kasih, Kak. Untuk sekarang... izinkan aku terus berjalan dengan caraku."

Beri tersenyum tipis. "Baik. Tapi janjikan satu hal."

"Apa?"

"Kalau suatu hari beban itu terasa terlalu berat, kamu akan memberi tahu kami."

Dira menatap Beri beberapa saat, lalu mengangguk mantap. "Aku janji."

Mobil kembali melaju dalam keheningan. Namun kali ini, Dira tahu bahwa jika suatu saat ia membutuhkan pertolongan, ada orang-orang yang siap mengulurkan tangan tanpa dengan tulus.

***

Lulus dari berbagai pelajaran dasar bisnis yang diberikan Beri, Dira mulai berani mengambil langkah yang lebih besar. "Kak, aku ingin usahaku berkembang," katanya suatu sore.

Beri tersenyum. "Bagus. Tapi ingat, bisnis yang besar tidak dibangun dengan langkah yang besar. Semuanya dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten."

Atas arahan Beri, Dira mulai mengelola usahanya dengan lebih profesional. Ia membuat pencatatan keuangan yang rapi. Memisahkan uang pribadi dan uang usaha. Mengatur stok barang. Mencatat pelanggan tetap. Hingga mulai membangun identitas usahanya sendiri.

Meski begitu, produk yang dijualnya masih berasal dari salon milik Dokter Monik. Dira tidak terburu-buru menciptakan produk sendiri. Ia ingin memahami pasar terlebih dahulu.

1
Inde Hara
sepertinya Beri suka Dira🤭
Inde Hara
Ceritanya bagus
Fitria
Jangan lupa tinggalkan Like dan komen agar author semangat update. Terimakasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!