NovelToon NovelToon
Sang Konglomerat Berlutut di Hadapannya

Sang Konglomerat Berlutut di Hadapannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Enam bulan menjadi "burung kenari" konglomerat paling berkuasa di Jakarta, Keira Salim menyelesaikan misinya -- membalas dendam untuk kakaknya yang koma akibat perundungan -- lalu pergi tanpa jejak.
Rayhan Hartono terbangun di apartemen kosong. Cincin berlian merah yang dipesan khusus dari Jerman masih di sakunya. Surat perpisahan Keira hanya berisi satu kalimat: *"Terima kasih. Kita impas."*
Baru saat kehilangan, sang pewaris Hartono Group menyadari -- dia bukan yang menyelamatkan Keira malam itu. Keira-lah yang merancang segalanya sejak awal.
Dan sekarang, pria yang tidak pernah berlutut di hadapan siapa pun... bersedia merangkak ke ujung dunia demi membawanya pulang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12: Delapan Tahun Menunggu

Wajah Keira muncul di internet hanya selama tiga detik.

Tiga detik saat live streaming HEALER menangkapnya berdiri di sisi panggung, wajah setengah menoleh, tahi lalat merah di ujung mata tampak jelas. Cukup untuk membuat netizen memberi nama baru: si cantik misterius.

Pagi berikutnya, foto itu menghilang dari hampir semua platform.

Rayhan Hartono bergerak lebih cepat daripada gosip. Tim PR membersihkan potongan video, menghapus unggahan ulang, menekan akun gosip, dan memaksa beberapa portal hiburan mengganti thumbnail. Bahkan potongan yang sudah masuk akun TikTok besar ikut turun dengan alasan hak cipta.

Di apartemen Keira, Rayhan membaca laporan sambil duduk di sofa. Kopinya tidak tersentuh. Sejak pagi, wajahnya dingin seperti orang yang baru kalah perang padahal seluruh internet sudah ia paksa diam.

"Aku tidak suka mereka melihatmu," katanya.

Keira menuang air. "Aku muncul di acara publik."

"Tiga detik terlalu lama."

"Kamu terdengar seperti orang yang ingin menutup jendela dengan tembok."

Rayhan mengangkat mata. "Kalau bisa, iya."

"Kalau kamu benar-benar menutup semua jendela, orang di dalamnya bisa kehabisan napas."

Rayhan terdiam. Kalimat itu tidak keras, tetapi masuk tepat ke tempat yang ia coba abaikan. Ia menatap Keira lebih lama, seolah ingin berkata bahwa selama ia ada, Keira tidak akan kekurangan apa pun. Namun ia tahu jawaban itu tidak cukup.

Ponsel Keira bergetar.

Kevin.

Aku ingin bertemu dia.

Keira membaca pesan itu lama. Di seberang ruangan, Rayhan langsung melihat perubahan kecil pada wajahnya. Bukan lembut. Bukan marah. Lebih seperti pintu besi yang dibuka sedikit dari dalam.

"Siapa?" tanya Rayhan.

"Urusan lama."

"Dengan Kevin?"

"Dengan Safira."

Nama itu menghentikan Rayhan. Ia belum tahu banyak tentang Safira, tetapi ia tahu satu hal: setiap kali nama itu muncul, Keira menjadi seseorang yang tidak bisa ia sentuh.

Keira mengetik alamat rumah perawatan swasta di Jakarta.

Datang jam empat. Jangan bawa siapa pun.

Sebelum sore, ingatan lama sudah membuka diri.

Panti Asuhan Kasih Sayang di Semarang tidak besar. Cat dindingnya sering mengelupas saat musim hujan, halaman belakangnya penuh tanaman liar, dan dapurnya selalu berbau nasi hangat serta bawang goreng. Di sana, Keira kecil belajar bahwa keluarga tidak selalu lahir dari darah.

Safira Surya, yang waktu itu masih dipanggil Fira oleh semua anak, tiga tahun lebih tua dan selalu berdiri di depan Keira.

Saat anak lain mengejek tahi lalat merah di ujung mata Keira, Fira berkata, "Itu tanda cantik. Jangan iri."

Saat Keira demam, Fira menyelinap ke dapur untuk mengambil air hangat. Saat Keira menangis karena tahu dirinya tidak pernah dijemput siapa pun, Fira duduk di samping ranjang dan berkata, "Kalau tidak ada yang datang, kita pulang ke diri sendiri dulu."

Keira kecil tidak mengerti kalimat itu.

Ia hanya tahu tangan Fira hangat.

Ada satu kotak biskuit bekas di bawah ranjang Fira. Di dalamnya, Fira menyimpan benda-benda kecil milik mereka: jepit rambut patah, kertas origami, kancing seragam, dan foto buram saat acara tujuh belasan di panti. Di belakang foto itu, Fira menulis dengan pensil: Keira harus tumbuh lebih galak dari dunia.

Keira menyimpan foto itu sampai sekarang.

Beberapa tahun kemudian, keluarga Surya mengadopsi Fira dan membawanya ke Jakarta. Bu Surya memegang tangan Fira dengan lembut. Pak Surya membawa map dokumen dan tersenyum seperti pria yang akhirnya pulang membawa anak. Fira memakai seragam sekolah baru, sepatu baru, dan senyum yang berusaha tidak membuat Keira merasa ditinggal.

"Aku akan sering kirim surat," kata Fira.

Keira mengangguk. Ia tidak menangis di depan Fira.

Surat-surat itu datang selama beberapa bulan. Cerita tentang sekolah baru, rumah di Jakarta, Bu Surya yang suka membuat sup jagung, Pak Surya yang membaca koran terlalu serius, dan seorang senior bernama Kevin yang sering menunggu di gerbang sambil pura-pura membaca buku. Di satu surat, Fira menulis: Dia baik. Kalau aku bilang ini ke Keira, Keira pasti bilang aku bodoh.

Keira waktu itu menertawakan surat itu diam-diam, lalu membalas dengan tulisan besar: Jangan terlalu percaya laki-laki yang pura-pura baca buku.

Fira membalas: Dia benar-benar baca, tapi halaman yang sama selama setengah jam.

Lalu surat-surat itu berubah.

Lebih pendek. Lebih jarang. Tinta di beberapa bagian kabur seperti terkena air. Fira mulai menulis kalimat yang tidak selesai. Ia bilang sekolah baru ramai. Ia bilang beberapa teman bercanda terlalu kasar. Ia bilang Keira tidak perlu khawatir.

Fira tidak pernah menulis bahwa Vanessa Tanujaya menertawakannya karena berasal dari keluarga angkat. Tidak menulis bahwa Jessica Liem menyebarkan foto jeleknya. Tidak menulis bahwa Brandon Oei merekamnya saat disiram air di toilet. Tidak menulis bahwa Denny Kurniawan memaksa anak-anak lain menyebutnya anak panti yang tidak tahu diri.

Keira mengetahui semuanya terlalu lambat.

Setahun perundungan itu berakhir di lantai enam gedung sekolah.

Koridor putih. Sore yang panas. Vanessa berdiri paling depan dengan wajah cantik yang tidak berubah. Jessica tertawa gugup. Brandon memegang ponsel. Denny menutup pintu tangga darurat.

"Kamu pikir ada yang percaya anak seperti kamu?" tanya Vanessa.

Fira mundur sampai punggungnya menyentuh pagar.

Kevin tidak ada di sana. Keira tidak ada di sana.

Itulah bagian yang paling sering kembali dalam mimpi.

Keira tidak ada di sana.

Tubuh Fira jatuh dari lantai enam. Ia tidak meninggal. Kadang, hukuman hidup lebih kejam dari kematian. Fira bernapas, jantungnya berdetak, tetapi kesadarannya tidak kembali.

Bu Surya, ibu angkat Fira, hancur pelan-pelan hingga akhirnya meninggal karena duka yang tidak pernah benar-benar diberi nama. Pak Surya menghilang dari dunia, sempat menjadi biksu, lalu kembali dengan mata yang sudah terlalu tua. Ia tetap membayar rumah perawatan, tetap mengganti bunga di meja kecil, tetap berbicara pada putrinya setiap pagi meski tidak pernah mendapat jawaban.

Delapan tahun berlalu.

Keira tumbuh, belajar, menang penghargaan, masuk HEALER, dan menghitung satu per satu nama orang yang membuat Fira tertidur.

Sore itu, Kevin berdiri di depan pintu ruang perawatan.

Rumah perawatan swasta itu bersih dan sunyi. Bau antiseptik bercampur pewangi linen membuat langkah orang otomatis melambat. Di ujung lorong, seorang perawat mengenali Keira dan membungkuk sopan. Keira menandatangani buku kunjungan dengan tangan stabil.

Kevin tidak stabil.

Ia berdiri di depan kaca seperti seseorang yang menemukan kuburan tanpa tanah.

Di balik kaca, Safira terbaring di ranjang putih. Tubuhnya dewasa, tetapi wajahnya menyimpan sisa lembut gadis yang dulu menulis surat dari Jakarta. Selang, monitor, dan suara mesin membuat ruangan itu terasa seperti waktu yang dipaksa diam.

Kevin tidak masuk selama hampir satu menit.

Keira berdiri di sampingnya. "Kalau tidak sanggup, pergi."

Kevin menggeleng.

Ia masuk, langkahnya pelan. Di sisi ranjang, ia berhenti dan memegang pagar besi, bukan tangan Safira, seolah takut sentuhannya terlalu terlambat untuk diterima.

"Fira," bisiknya.

Tidak ada jawaban.

Monitor berbunyi stabil.

Kevin menunduk. Bahunya bergetar. Tidak ada tangisan keras. Hanya air mata yang jatuh ke lantai, satu per satu, membuat Keira memalingkan wajah.

"Dia dulu suka berry liar," kata Keira pelan. "Di belakang panti. Warnanya merah kecil. Rasanya asam."

Kevin tertawa patah. "Dia pernah bawa satu kantong ke sekolah. Katanya untuk adik kecil di panti yang suka pura-pura kuat."

Keira menutup mata sebentar.

Kevin akhirnya menyentuh ujung jari Safira. Sentuhan itu sangat ringan, hampir tidak ada. "Maaf," bisiknya. "Aku terlambat delapan tahun."

Keira tidak menghibur. Beberapa luka tidak pantas diberi kata manis.

Ketika mereka keluar dari ruang perawatan, Kevin berhenti di lorong. "Vanessa, Jessica, Brandon, Denny."

"Ya."

"Mereka semua?"

"Ya."

Kevin mengangkat kepala. Matanya merah, tetapi suaranya berubah. Lebih tenang. Lebih dingin. "Kalau kamu butuh akses medis, hukum, atau data, bilang padaku."

"Aku tidak butuh belas kasihan."

"Ini bukan belas kasihan." Kevin menatap pintu ruang Safira. "Ini utang."

Malamnya, Keira bermimpi lagi.

Koridor lantai enam. Suara sepatu. Tawa Jessica. Ponsel Brandon. Tangan Vanessa yang terangkat. Tubuh Fira yang jatuh.

Keira terbangun dengan napas terputus.

Rayhan, yang tidur di sampingnya, langsung bangun. "Kei?"

Keira duduk, keringat dingin di punggung. Matanya terbuka, tetapi beberapa detik ia tidak melihat kamar. Ia masih melihat pagar putih itu.

Rayhan tidak bertanya banyak. Ia hanya menariknya perlahan ke pelukan.

"Aku di sini."

Keira menggenggam kain kausnya tanpa sadar.

Rayhan merasakan itu dan menahan napas, takut gerakan sedikit saja membuat Keira sadar lalu menjauh. Ia menepuk punggungnya pelan, kaku, tidak ahli, tetapi sungguh-sungguh. Untuk pria yang biasa merampas ruang dengan uang dan perintah, malam itu ia belajar diam.

Pagi berikutnya, ia mengajak Keira ke sebuah gala mewah.

Di depan cermin, saat Keira memakai anting, Rayhan berdiri di belakangnya dan berbisik, "Kamu terlalu cantik. Aku ingin mengurungmu dan hanya aku yang boleh melihatmu."

Keira menatap pantulan mereka. Mata Rayhan gelap. Suaranya rendah, antara canda dan bahaya. Ia tidak menjawab dengan senyum. Ia hanya memasang anting kedua, lalu berkata, "Kalau kamu mengurungku, kamu tidak akan pernah tahu aku tinggal karena ingin atau karena tidak punya pilihan."

Rayhan diam.

Di gala itu, Brandon Oei dan Denny Kurniawan akan hadir.

Dan Keira sudah lama menunggu giliran mereka.

1
kitty ❤
lanjut Thor 😍🔥
kitty ❤
Semangat Thor 😍🔥
kitty ❤
lanjut Thor 🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!