Baca dulu "CALLIE SI BOCAH GENIUS"
Pergerakannya tidak bisa ditebak. Tingkahnya sangat random seperti remaja lainnya. Namun otaknya hampir 24 jam bekerja untuk membuat senjata dan sistem, meretas, dan melakukan eksperimen. Dunia bawah dan laboratorium khusus yang diwariskan padanya dari sang Opa, membuat gadis remaja itu tumbuh menjadi sosok yang cerdik. Dia adalah Callie Noura Eleanor.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mika
"Darimana kamu jam segini baru pulang, Mika? Suamimu sebentar lagi pulang, seharusnya disambut bukan malah kelayapan sama anak pungut itu." seru seorang wanita paruh baya bernama Mayang dengan tatapan tajamnya.
"Dia bukan anak pungut, Ma. Dia anakku," seru Mika yang kepalang kesal dengan mertuanya itu.
Siapa anak pungut, Ma?
Mika langsung melihat ke arah Kai yang menatapnya begitu polos. Hati Mika mencelos melihat tatapan kebingungan dari Kai. Awal menikah dengan Axel, semua terasa bahagia. Apalagi Ayah mertuanya begitu baik. Namun semua berubah setelah Ibu kandung Axel kembali dan meminta mereka tinggal bersamanya. Awalnya Axel tidak mau karena tabiat dari Mamanya yang menyebalkan hingga bercerai dengan sang Papa. Namun Mayang meyakinkan kalau dia sudah berubah.
Dua tahun menikah, Mika selalu ditekan oleh Mayang tentang keturunan yang belum kunjung hadir. Puncaknya adalah Mika dan Axel memutuskan untuk mengadopsi seorang bayi laki-laki yang diberi nama Kai. Axel sendiri selalu membela istri dan anaknya hingga akan pindah rumah jika Mayang masih terus berbuat tak baik pada mereka. Namun Mayang selalu mengancam akan berbuat nekat jika Axel sampai jauh darinya.
"Anak kucing yang dipungut sama Oma," ucap Mika sambil tersenyum paksa ke arah Kai.
"Dih... Aku bukan Omanya dia. Bawa dia dari hadapanku sekarang, bikin mual aja lihatnya."
"Mending kamu tuh segera kasih Mama itu cucu asli," lanjutnya menekan Mika.
"Kalau tidak bisa, lepaskan Axel. Biar dia cari istri lain yang bisa..."
Mama...
Seruan seorang laki-laki dari arah pintu utama membuat semua orang mengalihkan pandangannya. Kai pun langsung menyembunyikan wajahnya pada kaki Mika. Jika bersama seperti ini, pasti ada saja kejadian yang membuatnya ketakutan. Teriakan, bentakan, dan umpatan terdengar membuat otak kecil Kai merekamnya. Bahkan beberapa kali Kai sampai bermimpi buruk karena melihat pertengkaran orangtua dengan Omanya itu. Hanya rumah Callie lah yang selama ini menjadi pelariannya saat Axel bekerja dan Mika entah pergi kemana.
"Kali ini Mama sudah keterlaluan. Axel selama ini diam dan mencoba melapangkan hati Mika, tapi faktanya Mama tidak pernah berubah. Axel di sini karena masih menghormati Mama agar bisa menghabiskan usia tua bersama anak dan cucu, malah kaya gini. Axel harus menuruti ego Mama hingga menyakiti istriku sendiri. Sekarang terserah Mama kalau mau berbuat nekat, Axel tidak peduli." sentak Axel membuat suasana di rumah itu begitu panas. Mika pun sedari tadi sudah menutup kedua telinga Kai agar tidak mendengar ucapan buruk dari Axel dan Mayang.
"Rahim itu urusan Tuhan, Ma. Jangan pernah menekan Mika untuk segera hamil. Mungkin Mika belum hamil karena calon anak kami tidak siap mempunyai Oma yang jahat seperti Mama. Bisa stress dia kalau sampai dengar umpatan Mama setiap hari," lanjutnya. Air mata terus mengalir pada kedua pipi Mika. Bukan karena takut pada Mayang, tapi lebih pada merasa tak berguna dan bersalah pada Axel. Ini lah yang membuatnya lebih sering pergi sendiri dan menangis.
"Kamu tega ngomong kaya gitu sama Mama, Axel? Kamu lebih memilih membela perempuan man..."
Stop...
"Diam, semuanya." teriak Mika yang tak ingin mendengar kalimat menyakitkan dari Mayang.
Mama...
Huaaaa...
"Sayang, pergi ke kamar dan bereskan pakaian kalian. Hari ini kita pindah," ucap Axel saat melihat Kai menangis karena ketakutan.
"Mama itu seorang perempuan, berempati lah sedikit." ucap Mika sebelum dia menggendong Kai dan pergi dari hadapan Mayang.
Sudah berulangkali Mayang melontarkan kalimat yang menyakitkan baginya. Dia hanya diam dan menahan semua rasa sakitnya itu demi Axel agar bisa berkumpul bersama Mayang. Beberapa cara sudah dirinya lakukan untuk bisa segera hamil, tapi memang belum rejekinya. Walaupun kini sudah ada Kai, Mika dan Axel pun masih berusaha. Ini lah kebodohan Axel dan Mika yang membuat Kai tampak trauma dengan berbagai kejadian di rumah.
"Ternyata ucapan Papa benar adanya, Mama tidak akan pernah berubah. Lebih baik Mama tidak perlu kembali pada Axel kalau akhirnya malah menghancurkan rumah tangga Axel," ucap Axel dengan peringatan kerasnya pada Mayang.
"Silahkan hidup sendiri sampai tua. Tidak ada yang mau menemani Mama saat tua nanti kalau sikap Mama terus begini," lanjutnya yang kemudian pergi dari hadapan Mayang untuk menyusul Mika dan Kai.
Axel...
Axel...
Dengarkan Mama dulu,
Sial...
Perempuan dan anak pungut itu emang sialan,
***
"Maafkan aku, Sayang."
"Maafkan aku..." ucap Axel yang kini bersujud di bawah kaki Mika.
Rasa bersalah pada istrinya saat ini sangat besar. Axel tidak menyangka kalau Mamanya akan sekejam ini. Pantas saja jika Papanya tidak betah menjalani rumah tangga bersama Mayang. Ternyata memang ucapan Mayang itu sudah seperti racun. Kata-katanya sangat menyakiti Mika dan anaknya. Bahkan tega menyuruhnya untuk mencari wanita lain hanya demi keturunan. Padahal dia sendiri tidak pernah menuntut Mika untuk segera memberikan keturunan. Mika sudah menyerahkan hidupnya pada dia, tapi malah keluarganya menyakitinya. Bahkan Mika rela tidak bekerja hanya demi berbakti pada Axel dan keluarganya.
"Jangan begini, Mas. Ini bukan sepenuhnya salah kamu," Mika langsung menarik tangan Axel untuk membantunya berdiri.
"Tetap salah aku, Sayang. Seharusnya kita tetap tinggal di rumah Papa atau mengontrak saja kalau perlu. Ini malah tinggal sama ular berbisa," ucap Axel dengan raut wajah bersalahnya.
"Bagiku yang penting kamu tetap membelaku di saat seperti ini," ucap Mika menenangkan suaminya.
"Papa, Oma kok jahat sekali sih sama Mama? Gala-gala ada Kai ya di sini telus Oma malah?" tanya Kai tiba-tiba dengan wajah sendunya. Bahkan matanya masih merah karena sehabis menangis.
"Nggak kok, Oma darah tingginya lagi kumat makanya marah-marah terus. Pokoknya Kai nggak usah dengarkan itu kata-kata Oma. Anggap saja Oma lagi kentut terus bau, jadi lebih baik Kai menjauh dulu. Nanti kalau Oma udah stabil, baru deh kita mendekat." ucap Axel yang kemudian membawa Kai dalam gendongannya.
Mika menatap Axel setelah mendengar semua itu. Namun Axel langsung memberikan kedipan sebelah matanya untuk memberi kode pada Mika bahwa itu untuk menenangkan Kai saja. Axel takkan pernah membawa Mika masuk mendekat dengan Mayang lagi. Mika pun segera memeluk suaminya yang selalu menyayangi dia. Walaupun Mika tahu kalau Axel selalu ditekan oleh Mayang karena dirinya belum juga hamil.
"Terimakasih tetap ada di sampingku walaupun punya mertua yang otaknya nggak jelas itu," ucap Axel sambil tersenyum.
"Maafkan aku yang tidak bisa memberikan semua gajiku pada kamu karena Mama memintanya. Tapi setelah ini semua gajiku yang mungil itu akan masuk ke kantongmu," lanjutnya mengingat betapa dia jahat pada istrinya. Bahkan beberapa kali Mika harus menggunakan uang pribadinya untuk memenuhi kebutuhan.
Jangan pikir...
Mama dan Papa ndak ada uang? Kai punya uang satu juta dali Onty Callie. Pakai saja buat beli belas,
Deg...