Demi rasa iba, Arhan menikahi Dira, seorang gadis yatim piatu yang baru kehilangan kedua orang tuanya. Dira mengira pernikahan itu adalah awal dari kehidupan yang penuh kasih sayang. Nyatanya, ia hanya dijadikan istri untuk mengurus rumah, melayani suami, dan merawat ibu mertuanya.
Lima tahun berlalu tanpa kehadiran buah hati. Dira terus menyalahkan dirinya karena dianggap mandul. Ia tak pernah tahu bahwa setiap hari Arhan memberinya pil KB yang dikemas sebagai obat penyubur agar ia tak pernah mengandung.
Ketika alasan "mandul" itu digunakan Arhan untuk menikahi wanita yang sejak dulu dicintainya, hati Dira hancur. Lebih menyakitkan lagi, ia tak sengaja mendengar percakapan yang mengungkap bahwa selama ini dirinya hanyalah seorang babu yang sengaja dipertahankan sampai wanita pujaan Arhan kembali.
Namun, semua kebohongan memiliki waktunya untuk terbongkar. Saat rahasia pil KB akhirnya terungkap, penyesalan mulai menghantui Arhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemenangan Ayu dan Penderitaan Dira
Dalam temaram cahaya lampu halte, Dira menyandarkan tubuhnya yang lemah pada tiang penyangga. Tubuhnya menggigil hebat, sementara pakaian yang dikenakannya telah basah kuyup diguyur hujan. Hampir tengah malam, tetapi ia masih belum menemukan tempat untuk berlindung.
Koper yang berdiri di sampingnya dibiarkan begitu saja. Dira sudah kehabisan tenaga. Bahkan, untuk sekadar menggerakkan tubuhnya sedikit saja terasa begitu berat. Tulang-tulangnya ngilu, sementara perut bagian bawahnya berdenyut nyeri hingga membuatnya sesekali meringis menahan sakit.
Hujan terus mengguyur jalanan kota tanpa ampun. Kilatan petir membelah langit malam, menyusul suara gemuruh yang saling bersahutan dan memekakkan telinga. Sesekali, cahaya petir yang menyilaukan menerangi sosok Dira yang tampak begitu rapuh dan sendirian di bawah halte yang dingin.
"Ya Allah aku memohon pertolongan darimu, aku sangat takut berdiam diri dalam keadaan seperti ini." dengan sisa kekuatan, Dira mengedarkan pandangannya pada jalanan yang sangat sepi. Kendaraan yang lewat mungkin hanya bisa dihitung dengan hitungan jari.
"Ya Allah aku mohon, berilah pertolongan bagi hambamu yang lemah ini." lirih nya, ia memeluk tubuhnya sendiri yang sedang menggigil hebat.
Sementara itu didalam kabin yang hangat, Arhan dan Ayu sedang bertukar peluh dalam suasana yang sangat panas. Ayu yang merasa penuh kemenangan karena telah berhasil membujuk Arhan untuk menceraikan istri pertamanya.
Atas permintaan Ayu kemenangannya ini ia ingin rayakan dengan liburan berdua bersama Arhan. Tanpa pengganggu hanya Arhan dan Ayu.
Dengan tersenyum sambil menekan kan kedua telapak tangannya pada kaca kabin yang beruap, Ayu sesekali mengeluarkan lenguhan yang menggema memenuhi setiap sudut kabin. Betapa menikmati permainan yang dilakukan oleh Arhan.
Arhan yang berdiri dibelakang Ayu menyapu pelan kulit bahu ayu dengan hidungnya yang Bangir, tubuhnya kulit nya saling beradu dan menciptakan rasa panas yang kian membara.
Sekarang aku sudah menjadi nyonya dirumah Arhan Arjuna. Tidak ada lagi status istri pertama dan kedua. Aku sudah memenangkan hati mas Arhan sepenuhnya. Bahkan akan ada saatnya mas Arhan akan mengantarkan nenek tua itu masuk kepanti jompo. Aku tidak mau mengurusnya. Menjijikan sekali.
Ayu mulai memejamkan matanya, menikmati setiap tarik dan ulur dibawah sana, membuat tubuhnya berkali-kali bergetar hebat.
Atmosfer dalam kabin itu makin terasa panas, lenguhan dan desahan dan dua bibir itu saling bersahutan, menikmati setiap sensasi yang main naik dan mengantarkan mereka pada suatu kenikmatan tanpa mempedulikan penderitaan yang mereka sengaja sakiti.
Tanpa mereka ketahui Bu Rena sudah terkapar tak berdaya didalam kamar, bibirnya pucat serta sudut bibirnya bengkok. Sebelah tubuhnya berhenti berfungsi, Bu Rena mengalami serangan setruk berat setelah beberapa jam Arhan dan Ayu pergi meninggalkannya.
Dira mulai memejamkan matanya, hujan ditengah malam semakin deras. Tubuhnya terkena pantulan hujan deras dari jalan aspal. Bibirnya semakin putih pucat, tubuhnya semakin menggigil hebat, hipotermia berat Dira harus segera mendapat pertolongan. Tapi setiap mobil yang lewat tidak juga memperdulikan keberadaan Dira yang mulai tak sadarkan diri sambil bersandar pada tiang halte.
Aku tidak kuat lagi.
Mata Dira terpejam sempurna, tubuhnya ambruk begitu saja pada lantai halte. kepalanya lagi-lagi terbentur keras, sampai dahinya mengeluarkan darah segar. Tubuhnya yang ringkih mulai terguyur oleh air hujan yang masih sangat deras.
*
"Mas, makasih ya. Kamu udah selalu mengabulkan apapun keinginanku." Ayu bergelayut manja pada lengan kokoh Arhan, ditangannya tangan kanannya menjinjing sebuah paper bag yang berisikan sepatu dan tas mewah milik brand terkenal.
"Sama-sama sayang, apapun untuk kamu akan mas usahakan." ujar Arhan ia mengecup kening Ayu. Senyum mengembang pada wajahnya, seolah kebahagian akan selalu berpihak padanya. Tanpa sadar akan suatu hal, bahwa dunia ini berputar. Statusnya sebagai direktur diperusahaan besar bisa saja berubah dalam hitungan detik.
"Kamu cinta banget ya mas sama aku?" tanya Dira wajahnya dibuat seimut mungkin agar terlihat menggemaskan Dimata Arhan.
"Iya dong, dari dulu malah." mereka berjalan dengan penuh kesombongan.
"Sayang, kita langsung pulang aja ya. Kasihan ibu sendirian dirumah. Mas khawatir terjadi sesuatu pada ibu." Arhan mulai melajukan pelan mobilnya.
Ayu menggelengkan kepalanya. "Engga mas, ibu pasti baik-baik saja. Tenang aja jangan parnoan gitu ah." sanggah Ayu.
"Yu tapikan ibu harus minum teratur obat dari dokter, dan ibu sering lupa kalau ga diingetin. Apalagi tiap malam ibu harus minum obat hipertensi." Arhan menekan pelan pedal gas, matanya terus tertuju pada Ayu yang duduk disebelahnya yang kini sedang merias wajahnya dengan makeup tebal.
"Mas udah deh, ibu gak akan lupa. Pokoknya aku mau nginep minimal dua malam lagi dihotel berbintang lima titik tidak ada sanggahan lagi."
Akhirnya Arhan harus kalah lagi dengan Ayu, ia kembali mengabulkan permintaan Ayu untuk menginap dihotel mewah, yang nantinya akan dijadikan ajang pamer kepada teman-temannya.
"Nah gitu dong mas, aku ini kan lagi hamil anak kamu. Jadi kamu harus memenuhi semua apa yang aku mau."
*
Sinar matahari semakin terik, Dira yang masih tergeletak dilantai halte masih belum juga ada orang yang berbaik hati untuk menolongnya. Pakaian yang tadinya basah kini perlahan mengering, hanya saja menyisakan noda kotor pada beberapa bagian baju yang dikenakan oleh Dira.
"Eh pak itu apa yang meringkuk disana?" seorang ibu mencoba itu menghentikan sopirnya.
Mobil mewah itu mulai mendekat kearah halte yang sepi, kumuh dan sudah tidak berfungsi. karena jalan itu sudah tidak aktif lagi.
"Wah sepertinya itu orang pingsan Bu."
Bu Mira mulai menyipitkan matanya, "Coba pak parkirkan dulu mobilnya, kasihan sekali gak ada yang bantu gitu."
Bu Sinta mulai turun dari mobil mewahnya, kemudian ia berjalan cepat kerah halte yang disusul oleh supirnya. Bu Sinta mulai membungkukkan badan, mencoba untuk menyingkap rambut yang terurai milik Dira.
"Astagfirullah...." lirih Bu Mira pelan, ia sangat mengenali wajah wanita yang tidak sadarkan diri itu. Air mata mulai menggenang dipelupuk matanya. Melihat wanita yang tergeletak pingsan ini mengingatkannya pada mendiang sahabatnya yang sudah tiada.
Aku sangat merasa bersalah sekali Lastri, aku baru menemukannya setelah engkau pergi lima tahun yang lalu. Maafkan sahabatmu ini Lastri.
Dira sayang, ini Tante. Maafkan keterlambatan Tante ya..
"Pak tolong angkat, kita bawa kerumah sakit sekarang juga."
Bersambung
Jangan lupa like ya readers 🤩