"Bayu Prasetyo kehilangan segalanya dalam satu hari.
Dipecat dari kantor karena posisinya diberikan kepada anak bos. Diputus pertunangan karena ""belum mapan."" Dan keris pusaka titipan sahabatnya tertipu terjual Rp 2 juta — padahal nilainya miliaran.
Di titik terendah hidupnya, Bayu Prasetyo menerima Mata Dewa dari kakek misterius — mata yang menembus batu, membaca nilai, dan membongkar kepalsuan. Dari judi batu ke meja lelang, dari pemuda miskin Pacitan ke puncak daftar orang terkaya — sampai ia menatap musuh terakhirnya: sindikat pemalsu pusaka yang dilindungi nama paling dihormati di Indonesia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10: Keris yang Kembali
Keesokan paginya, Keris nomor 17 dibawa ke atas panggung.
Lampu menyapu bilah yang telah dibersihkan secukupnya. Warangkanya tetap penuh goresan. Retak tipis di dekat pendok belum diperbaiki. Bagi orang lain, kerusakan itu mengurangi keindahan.
Bagi Bayu, setiap bekas adalah tanda pengenal.
Ia duduk di baris ketiga dengan nomor peserta 038. Rachmat dan Riani berada dua kursi di depannya. Intan duduk di sisi lain lorong. Hendra memilih berdiri di belakang karena, menurutnya, duduk di kursi empuk membuat tangan mudah mengangkat nomor tanpa sadar.
"Lot tujuh belas," ujar pelelang. "Keris Pusaka bergaya Nagasasra, diperkirakan dari periode Majapahit akhir. Provenance pribadi. Harga pembukaan lima ratus juta rupiah. Sesuai ketentuan sesi, angka penawaran adalah harga all-in yang telah mencakup buyer's premium."
Tiga nomor langsung terangkat.
"Lima ratus lima puluh. Enam ratus. Enam ratus lima puluh."
Bayu belum bergerak.
Ia memusatkan pandangan pada bilah. Lapisan baja dan nikel alami membentuk pamor yang menembus seluruh struktur. Tidak ada pola etsa dangkal. Lekuknya, gandik berbentuk naga, dan bekas tempa menunjukkan tangan empu dari tradisi istana.
Keris ini juga memikul nama keluarga Rizal.
Ia adalah Keris Nagasasra yang jauh lebih bernilai daripada perkiraan katalog.
"Delapan ratus juta."
Nomor Rachmat terangkat.
Dua penawar mundur. Seorang kolektor di baris depan melanjutkan menjadi sembilan ratus juta. Bayu mengangkat nomor 038.
"Satu miliar."
Ruangan berdesir. Beberapa orang mengenalinya dari sesi potong batu semalam. Yang lain melihat polo sederhana dan bertanya-tanya mengapa pemuda itu berani menaruh satu miliar pada Keris dengan provenance yang tidak diumumkan.
"Satu miliar seratus," kata kolektor depan.
Rachmat mengangkat nomor. "Satu miliar dua ratus."
Bayu melihatnya. Rachmat juga seorang kolektor serius. Ia tidak sekadar menaikkan harga untuk bermain.
Pelelang menunggu.
Bayu mengangkat nomor. "Satu miliar lima ratus."
Lompatan tiga ratus juta membuat seluruh ruangan senyap.
Hendra menelan ludah di belakang. Intan menoleh cepat. Riani memandang Bayu, lalu ayahnya.
Rachmat tidak langsung menurunkan nomor. Ia mengamati wajah Bayu. Tidak ada kerakusan seorang pemburu barang mahal di sana. Yang ada hanya keputusan seseorang yang telah menemukan barang milik keluarganya.
Rachmat menurunkan tangan dan mengangguk kecil.
Kolektor depan tidak melanjutkan.
"Satu miliar lima ratus juta untuk nomor 038. Pertama. Kedua."
Palu jatuh.
"Terjual."
Suara kayu itu menutup hutang yang membebani Bayu sejak hari pertama.
Setelah sesi berakhir, Rachmat menghampirinya di ruang serah terima.
"Kamu tahu nilai Keris itu?"
"Saya tahu cukup untuk tidak membiarkannya jatuh ke tangan lain."
"Jelaskan."
Bayu meminta izin agar Keris diletakkan di atas kain. Ia menunjukkan lapisan tempa pada sisi bilah, pola pamor yang tidak terputus, bentuk gandik, proporsi luk, dan ciri pengerjaan pesi. Ia membandingkannya dengan dokumentasi beberapa Keris Nagasasra dari tradisi empu Majapahit akhir.
"Warangkanya sudah diganti dan provenance-nya belum bersih," katanya. "Itu menekan harga lelang. Tapi bilahnya sendiri mungkin bernilai lebih dari sepuluh miliar. Setelah Pak Wiryo memeriksa, angkanya bisa berubah."
Rachmat mengusap dagu. "Saya mundur karena melihat cara kamu menatapnya. Waktu itu saya belum tahu semua ini."
"Terima kasih, Pak Haji. Saya mencatat bantuan itu."
"Tiga hari lagi, datang ke rumah kami di Bandung. Saya ingin kamu melihat beberapa benda koleksi. Riani akan mengirim undangan."
Riani tersenyum. "Mas Bayu jangan memilih semua benda paling mahal lalu membuat Papa tidak bisa tidur."
"Saya hanya akan mengatakan apa yang saya lihat."
Bayu menyelesaikan pembayaran Rp1,5 miliar dari rekeningnya. Petugas mencocokkan identitas, nomor peserta, dokumen penjualan, dan tanda terima. Kepemilikan fisik diserahkan setelah sistem bank mengonfirmasi dana.
Petugas kepatuhan menjelaskan bahwa status cagar budaya Keris itu belum ditetapkan. Jika pemeriksaan Pak Wiryo menguatkan usia dan tingkat kepentingannya, pemilik wajib melaporkan temuan kepada dinas kebudayaan untuk pencatatan dan tidak boleh membawa benda ke luar negeri tanpa izin.
"Keris ini akan kembali kepada keluarga pemiliknya," kata Bayu. "Saya akan mengurus pencatatan bersama mereka setelah hasil ahli keluar."
Ia menandatangani pernyataan penerimaan kondisi. Setiap goresan difoto ulang di meja serah terima. Dengan begitu, pihak lelang tidak bisa mengatakan kerusakan terjadi setelah benda keluar, dan Bayu tidak bisa mengajukan klaim palsu atas cacat lama.
Saat berkas dibalik, Bayu melihat satu lembar instruksi pembayaran penjual yang tertinggal di bawah formulir. Hanya sepersekian detik sebelum petugas menyadarinya dan menutup map.
Nama rekening itu tersimpan utuh dalam pikirannya.
CV Pusaka Abadi.
Bayu bertanya, "Saya ingin mengetahui identitas penitip untuk kebutuhan riwayat kepemilikan."
Petugas menggeleng. "Maaf, Pak. Perjanjian kami melindungi identitas penitip. Permintaan resmi harus melalui proses hukum atau persetujuan penjual."
"Baik. Saya tidak akan memaksa."
Ia menerima dokumen yang memang menjadi hak pembeli: faktur, kondisi benda, katalog, dan berita serah terima. Nama yang terlihat tadi belum merupakan bukti kejahatan. Namun itu adalah arah pertama yang nyata.
Di kos-kosan, meja plastik Bayu terlalu sempit untuk benda bernilai miliaran. Ia membersihkannya, membentangkan kain putih, lalu meletakkan Keris di tengah.
Hendra berdiri dengan tangan di pinggang. "Satu setengah miliar di atas meja dua ratus ribu. Kalau meja ini patah, sejarah akan menertawakan kita."
Bayu mengeluarkan ponsel dan menelepon Rizal.
Sambungan tersambung setelah beberapa nada.
"Bro?" Suara mesin terdengar di belakang Rizal. "Ada apa?"
Bayu memandang retak pada warangka. "Keris Mbah kamu... aku sudah dapat balik."
Di seberang, suara mesin tetap meraung. Rizal tidak menjawab.
"Rizal?"
Terdengar tarikan napas yang patah.
"Jangan bercanda soal itu, Bayu."
"Aku tidak bercanda. Aku kirim foto sekarang. Ciri retaknya sama. Bilahnya sudah aku periksa."
Bayu mengirim tiga foto. Beberapa detik kemudian, Rizal mengeluarkan suara yang berusaha menjadi tawa tetapi berubah menjadi isak pendek.
"Mbah menitipkan itu ke Bapak. Bapak menitipkannya ke aku." Suaranya serak. "Aku pikir aku orang terakhir yang menghilangkannya."
"Yang menghilangkannya aku. Jadi aku yang harus membawa pulang."
"Berapa kamu bayar?"
Bayu diam sesaat.
"Bayu."
"Satu setengah miliar."
"Kamu gila!"
Hendra mengangguk keras dari samping, seolah akhirnya ada orang waras yang mendukung pendapatnya.
"Aku tidak sedang membeli Keris," kata Bayu. "Aku sedang membayar kesalahanku. Pulanglah kalau pekerjaanmu selesai. Barang ini menunggu pemiliknya."
Rizal tidak bisa menjawab selama beberapa detik. Akhirnya ia berkata, "Aku pulang. Dan setelah itu, aku bantu kamu cari orang yang menjualnya."
Telepon berakhir.
Bayu menatap Keris Nagasasra di atas meja. Dari lapak Pak Karto ke hotel bintang lima, nilainya melonjak ratusan kali hanya dalam empat hari. Perpindahan itu melewati penadah, perusahaan kedok, dan rumah lelang.
CV Pusaka Abadi.
Bayu mengingat nama itu tanpa perlu menulisnya.
Orang yang mengambil pusaka sahabatnya sudah meninggalkan jejak. Sekarang, Bayu akan mengikuti jejak itu sampai ujung.