Seorang driver ojol tampan tapi bernasib sial mendapatkan sistem aplikasi "Godjek" misterius, di mana setiap orderan absurd dari pelanggan cantik memberinya hadiah kekuatan aneh yang bikin geleng-geleng kepala.
Bertahun-tahun lalu, sebelum jadi ojol, Raka memiliki seorang adik perempuan yang sangat dia sayangi. Suatu hari, adiknya memesan ojek online malam-malam untuk pulang. Raka yang saat itu sibuk, tidak bisa menjemputnya sendiri.
Malam itu, ojol yang ditumpangi adiknya mengalami kecelakaan fatal.
Kata-kata terakhir adiknya di telepon sebelum kecelakaan adalah: "Mas, aku udah jalan ya, ojolnya baik banget." Raka tidak pernah memaafkan dirinya sendiri. Dia menjadi ojol yang baik untuk "menebus Dosa" dan penyesalan di dasar hatinya setelah adiknya pergi untuk selama-lamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lihazel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suara yang Tidak Bisa Dibungkam
Pagi keempat sejak surat gugatan tanah itu tiba, mentari yang biasanya lembut menyapa atap seng Tambora kini terasa seperti hitungan mundur yang menyakitkan. Tiga hari lagi. Arya berdiri di depan cermin lemari pakaiannya yang kacanya sudah buram, menatap bayangan dirinya sendiri dengan mata yang sedikit sembab akibat kurang tidur semalam.
"Pak Hadi palsu, notaris yang menghilang, sekarang siapa lagi yang bakal muncul?" batinnya, mengencangkan jaket premium hijau-peraknya dengan gerakan yang lebih tegas dari biasanya. "Ini bukan cuma soal tanah lagi. Ini soal siapa yang bakal jatuh duluan—kita, atau orang-orang di baliknya."
Ia melangkah keluar teras, mendapati Pak Surya sudah duduk dengan koran bekas di pangkuannya—bukan untuk dibaca, melainkan sekadar dilipat-lipat menjadi kipas kecil untuk mengusir gerah pagi. Burung perkutut di sangkarnya berkicau pelan, seolah ikut merasakan ketegangan yang menyelimuti rumah kecil itu.
"Le," panggil Pak Surya tanpa menoleh. "Bapak semalem mikir. Kalau memang orang-orang Pratama ini udah berani nyamar jadi aparat kelurahan, itu artinya mereka nggak cuma modal duit doang. Mereka punya orang dalam di birokrasi. Bapak takut, Le, kalau kita cuma ngandelin pengacara sama girik tua doang, kita bakal kalah di jalur yang nggak keliatan."
Arya duduk di samping ayahnya, mencerna kekhawatiran yang sama sudah menghantuinya sejak semalam. "Iya, Pak. Prof Hartono juga bilang gitu kemarin. Makanya, katanya kita butuh tekanan publik. Bukan cuma jalur hukum doang."
Pak Surya mengangguk pelan, matanya yang mulai rabun menerawang ke arah gang yang mulai ramai oleh anak-anak berangkat sekolah. "Tekanan publik itu maksudnya gimana, Le? Bapak orang kampung, nggak ngerti istilah-istilah begitu."
"Maksudnya, Pak," Arya mencoba menjelaskan sesederhana mungkin, "kita bikin orang-orang tau soal apa yang lagi terjadi di sini. Kalau semua orang tau, perusahaan sebesar Pratama bakal mikir dua kali buat maksa gusur kita, karena reputasi mereka bisa hancur di depan publik."
Siang harinya, shelter kaca pangkalan "PODOMORO" kembali dipenuhi orang, namun kali ini bukan tim legal yang mendominasi ruangan—melainkan warga Tambora sendiri, berkumpul dalam sebuah pertemuan darurat yang diinisiasi oleh Bang Jay setelah mendengar kabar tentang Pak Hadi palsu.
Puluhan kepala keluarga duduk berjejal di kursi plastik dan bangku kayu, sementara beberapa anak muda berdiri di pinggir ruangan, wajah mereka dipenuhi campuran rasa takut dan penasaran. Mbak Sri sibuk membagikan gelas-gelas teh hangat, meski tangannya sedikit gemetar—ia tahu betul pertemuan ini bukan sekadar arisan biasa.
Arya berdiri di depan, menatap wajah-wajah yang sudah ia kenal sejak kecil—wajah-wajah yang selama ini menjadi bagian dari dunianya yang sederhana, kini dipenuhi kecemasan yang sama.
"Bapak-Ibu sekalian," Arya memulai, suaranya berusaha setenang mungkin meski dadanya berdegup kencang. "Saya tau kita semua lagi ketakutan. Ada yang udah didatengin, ditawarin uang. Ada yang mungkin masih mikir-mikir. Tapi saya mau kasih tau, apa yang mereka lakuin ini bukan cara yang sah. Mereka nyoba mecah belah kita satu-satu, karena mereka tau, kalau kita bersatu, mereka nggak bisa apa-apain kita."
Seorang ibu di barisan tengah mengangkat tangan, suaranya bergetar. "Tapi Arya, kalau kita nolak semua, terus taunya kita kalah di pengadilan gimana? Kita bisa aja diusir paksa tanpa dapet apa-apa. Bu Marni sama Pak Karto kan dikasih tawaran gede. Kalau kita sama-sama nolak, terus akhirnya rugi bareng-bareng, siapa yang tanggung jawab?"
Pertanyaan itu menghantam ruangan dengan keheningan yang berat. Arya menatap ibu itu lama, memahami bahwa ketakutan itu wajar, bukan sesuatu yang bisa ia bantah dengan semangat kosong.
"Saya nggak bisa janji kita pasti menang, Bu," jawab Arya jujur, memilih untuk tidak menjanjikan sesuatu yang tidak pasti. "Tapi saya bisa janji satu hal—tim pengacara yang lagi bantu kita adalah yang terbaik di Jakarta, dan mereka udah nemuin bukti kuat kalau sertifikat Pratama itu ada kejanggalan serius, kemungkinan besar dipalsukan. Kalau kita bertahan bareng-bareng sampai bukti itu selesai diverifikasi, peluang kita menang jauh lebih besar daripada kalau kita jual hak kita satu-satu diam-diam."
Pak Karto, yang duduk di barisan depan dengan wajah yang masih menyimpan keraguan, akhirnya berdiri. Suaranya serak, namun kali ini penuh keteguhan yang berbeda dari malam sebelumnya.
"Bapak-Ibu," ujarnya, menatap sekeliling ruangan. "Kemarin bapak hampir aja nerima duit yang mereka tawarin. Bapak takut, sama kayak kalian semua. Tapi tadi malem, Arya sama Bang Jay dateng ke rumah bapak, cerita soal gimana mereka udah nyamar jadi orang kelurahan, gimana mereka udah bocorin notaris yang lenyap duluan sebelum diperiksa. Ini bukan orang baik-baik, Bapak-Ibu. Ini orang yang licik, yang mau ngerampas apa yang udah kita bangun turun-temurun. Bapak udah tua, gerobak bapak reyot, tapi bapak masih punya harga diri. Bapak nolak tawaran mereka."
Ruangan itu mendadak riuh oleh gumaman kagum dan tepuk tangan pelan. Arya menatap Pak Karto dengan rasa terima kasih yang mendalam, menyadari bahwa keberanian satu orang bisa menular ke yang lain, sama seperti ketakutan yang menular sebelumnya.
Namun sebelum euforia itu sempat mereda, sebuah suara familiar terdengar dari arah pintu shelter kaca.
"Permisi, boleh saya ikut bergabung?"
Semua kepala menoleh. Citra Kirana berdiri di ambang pintu, kali ini tidak mengenakan blazer korporatnya yang biasa, melainkan kemeja putih sederhana dan celana kain—penampilan yang jauh lebih membumi, seolah sengaja disesuaikan untuk tidak menciptakan jarak dengan warga yang sedang berkumpul.
"Nona Citra?" Arya sedikit terkejut. "Kok bisa dateng langsung ke sini?"
"Aku dapat laporan dari Pak Bimo soal insiden 'Pak Hadi' kemarin," Citra melangkah masuk, menatap sekeliling ruangan dengan sorot mata yang penuh perhatian, bukan lagi sorot dingin seorang CEO yang biasa mengintimidasi ruang rapat. "Aku pikir, sudah waktunya aku hadir langsung, bukan cuma mengirim tim. Bapak-Ibu sekalian berhak tahu siapa yang berdiri di belakang perjuangan ini."
Citra berdiri di samping Arya, menghadap warga yang menatapnya dengan campuran rasa hormat dan penasaran. "Saya Citra Kirana, CEO Grand Indonesia Group. Saya di sini bukan sebagai investor atau pebisnis. Saya di sini karena saya percaya, tanah yang sudah dihuni tiga generasi tidak bisa direbut hanya dengan selembar kertas yang diproses belakangan dengan tanggal mundur. Tim legal saya akan terus mendampingi Bapak-Ibu sampai kasus ini selesai, tanpa biaya sepeser pun."
Gumaman kagum kembali terdengar di ruangan itu, namun Citra melanjutkan dengan nada yang lebih serius. "Tapi saya juga setuju dengan apa yang mungkin sudah disampaikan tim hukum—kita butuh lebih dari sekadar jalur pengadilan. Kita butuh publik tahu."
Sore harinya, setelah pertemuan warga bubar dengan semangat yang jauh lebih solid dari sebelumnya, Arya duduk di teras rumahnya bersama Citra yang memilih untuk tetap tinggal sebentar, menunggu Bimo yang sedang menyiapkan draf pernyataan pers.
"Nona Citra," Arya membuka percakapan, suaranya penuh rasa penasaran yang sejak tadi ia tahan. "Boleh saya tanya sesuatu?"
"Silakan," jawab Citra, menyesap teh hangat yang disuguhkan Bu Aminah dengan sopan.
"Kenapa Nona sampai repot-repot dateng langsung? Nona kan bisa aja cuma kirim tim, kayak biasanya."
Citra terdiam sejenak, menatap cangkir tehnya dengan pandangan yang jauh lebih lembut dari biasanya. "Karena aku sadar sesuatu, Arya. Selama ini, aku selalu menyelesaikan masalah dengan uang, dengan kekuasaan, dengan jarak yang aman. Tapi kamu... kamu selalu turun langsung, berdiri di depan, bahkan waktu risikonya jauh lebih besar untuk dirimu sendiri daripada untukku. Aku pikir, kalau aku benar-benar peduli, aku juga harus berani turun ke lapangan, bukan cuma mengirim orang lain untuk berkorban atas namaku."
Kalimat itu menggantung di udara sore Tambora, membawa kehangatan yang tidak Arya duga akan ia rasakan di tengah ketegangan yang sedang mereka hadapi. Namun sebelum ia sempat merespons, God-Phone di sakunya bergetar pelan, memancarkan cahaya kuning pudar yang jarang muncul.
TING-TONG!
[NOTIFIKASI SISTEM: POLA KEBOCORAN INFORMASI TERDETEKSI SEBAGIAN.]
[Analisis: Sistem berhasil mengumpulkan fragmen pola komunikasi mencurigakan di sekitar radius pangkalan dalam 48 jam terakhir. Satu perangkat elektronik di dalam komunitas Tambora terdeteksi melakukan panggilan berulang ke nomor yang sebelumnya teridentifikasi terkait jaringan Pratama Land Development—bukan dari tim legal, bukan dari keluarga Driver. Sistem tidak dapat mengonfirmasi identitas pasti karena keterbatasan akses jaringan komunikasi pribadi warga.]
[Peringatan: Kemungkinan ada pihak di dalam lingkaran terdekat komunitas yang, sadar atau tidak sadar, telah membocorkan informasi strategi kepada pihak lawan. Sistem menyarankan kewaspadaan tanpa menuduh sembarangan—verifikasi lebih dulu sebelum bertindak.]
Arya membaca notifikasi itu dengan dada yang mendadak sesak. "Orang dalam komunitas kita sendiri? Siapa? Bang Jay? Dedi? Mbak Sri? Nggak mungkin salah satu dari mereka..."
Ia menatap Citra yang sedang sibuk membalas pesan di ponselnya, ragu apakah harus membagikan kecurigaan ini atau tidak. Ia tahu, menuduh tanpa bukti bisa menghancurkan kepercayaan yang susah payah dibangun di antara warga yang baru saja mulai bersatu kembali.
"Ada apa, Arya?" tanya Citra, menyadari perubahan raut wajah Arya yang tiba-tiba tegang.
"Nggak apa-apa, Nona," Arya buru-buru menggelengkan kepala, memilih untuk menyimpan kecurigaan itu untuk sementara. "Cuma mikirin gimana caranya bikin pernyataan pers yang efektif."
Malam harinya, Arya berjalan menyusuri gang untuk memeriksa keadaan setelah pertemuan warga, memastikan tidak ada lagi "Pak Hadi" lain yang menyusup. Di persimpangan gang menuju pasar, langkahnya tiba-tiba terhenti mendengar suara bisik-bisik dari balik tembok sebuah rumah petak yang gelap—rumah milik Pak Slamet, tetangga yang selama ini dikenal sebagai satu-satunya warga yang jarang ikut kumpul-kumpul komunitas, lebih memilih menyendiri sejak istrinya meninggal dua tahun lalu.
Arya berhenti, mendengarkan dengan waspada, jantungnya berdegup kencang. Suara bisikan itu terlalu pelan untuk didengar jelas, namun ada satu kata yang berhasil menembus keheningan malam—kata yang membuat bulu kuduk Arya berdiri seketika.
"...aku udah kasih tau semuanya, sesuai perjanjian. Tapi kalian juga harus bayar sesuai janji..."
Arya membeku di tempatnya, tangannya mengepal erat. Ia tidak sempat mendengar lebih jauh, karena suara langkah kaki dari dalam rumah itu mulai mendekat ke arah pintu, memaksa Arya buru-buru bersembunyi di balik tumpukan drum bekas di sudut gang.
Pintu rumah Pak Slamet terbuka pelan, dan sesosok bayangan melangkah keluar dengan tergesa-gesa, menuju sebuah motor yang terparkir jauh di ujung gang—motor yang, meski gelap, Arya bisa mengenali logo kecil di bodinya sebagai kendaraan operasional yang sering ia lihat dipakai oleh anak buah Reynald Pratama.
God-Phone di saku Arya bergetar hebat, memancarkan cahaya merah pekat yang membuat matanya menyipit menahan silau.
TING-TONG!
[PERINGATAN DARURAT SISTEM: SUMBER KEBOCORAN TERKONFIRMASI SEBAGIAN!]
[Analisis: Perangkat elektronik yang terdeteksi sebelumnya kini teridentifikasi berada di lokasi kediaman warga bernama Slamet Riyadi. Sistem mendeteksi kontak langsung antara individu tersebut dengan kendaraan operasional yang terhubung ke jaringan Pratama Land Development, terjadi tepat malam ini.]
[Catatan Sistem: Motif di balik tindakan ini masih belum sepenuhnya jelas. Bisa jadi tekanan finansial, bisa jadi dendam pribadi, atau ancaman yang tidak diketahui pihak lain. Sistem menyarankan Driver untuk mendekati situasi ini dengan kepala dingin, bukan kemarahan—karena pengkhianatan yang lahir dari keputusasaan berbeda dengan pengkhianatan yang lahir dari niat jahat murni.]
Arya berdiri terpaku di balik drum bekas, menyaksikan motor itu melesat pergi meninggalkan gang yang kembali sunyi. Dadanya dipenuhi campuran perasaan yang teramat rumit—kemarahan karena merasa dikhianati, namun juga kebingungan dan sedikit rasa iba, mengingat betapa kesepian dan terpuruknya Pak Slamet sejak kematian istrinya.
"Kenapa, Pak Slamet?" batin Arya, menatap kepergian motor itu dengan hati yang berat. "Apa yang bikin Bapak sampai mau jual informasi warga sendiri ke orang-orang yang mau ngancurin kampung ini?"
Ia tahu, malam ini ia harus mengambil keputusan yang jauh lebih sulit daripada menghadapi ancaman dari luar—bagaimana caranya menghadapi pengkhianatan dari dalam, tanpa menghancurkan sisa-sisa kepercayaan yang baru saja mulai tumbuh kembali di antara warga Tambora yang lelah namun bertekad untuk tetap berdiri bersama.
Arya melangkah pelan menjauh dari persembunyiannya, memutuskan untuk tidak langsung mengonfrontasi Pak Slamet malam ini. Ia butuh waktu untuk berpikir jernih, untuk memastikan bahwa langkah apa pun yang akan ia ambil tidak akan membuat retakan di dalam komunitas ini semakin melebar—karena musuh yang sesungguhnya, ia sadari sepenuhnya sekarang, bukan hanya Hendarto Pratama dan jaringannya yang licik, melainkan juga ketakutan dan keputusasaan yang bisa membuat siapa pun, bahkan tetangga yang paling dikenal sekalipun, berbalik arah demi bertahan hidup.