Seorang ojol yang masih muda. mengidamkan hidup di tahun 90an karena cerita kakeknya. siapa sangka keinginannya itu malah membuatnya terjebak dalam lintasan waktu.
Warning: cerita ini alur sangat lambat. dan buat yang punya masalah psikotis lebih baik tak baca cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Seminggu berlalu. Benar saja, setiap Selasa dan Kamis pagi, nama yang sama hampir selalu muncul di layar ponsel Zain: **Prof. Surya**.
Awalnya Zain mengira itu sekadar kebetulan. Namun setelah empat kali berturut-turut mengantar orang yang sama, ia mulai hafal kebiasaan sang profesor. Profesor Surya selalu sudah siap berdiri di depan pagar sebelum Zain tiba, selalu membawa koper aluminium yang sama, dan selalu mengenakan jam tangan analog tua bertali kulit cokelat.
Satu hal yang paling unik: profesor tidak pernah memainkan ponselnya sepanjang perjalanan. Ia lebih suka memperhatikan jalanan, seolah sedang mencari sesuatu.
"Pak, kok selalu merhatiin jalanan terus?" tanya Zain suatu pagi.
"Hm?"
"Iya, biasanya penumpang zaman sekarang lebih suka main HP."
Profesor tersenyum. "Saya sedang melihat perubahan."
"Perubahan?"
"Setiap tahun kota ini berubah," jawabnya seraya menunjuk sebuah ruko yang baru selesai dibangun. "Dulu di situ bioskop."
Tak lama kemudian, ia menunjuk sebuah taman kecil. "Dulu itu terminal."
Beberapa ratus meter setelahnya, ia menunjuk lagi. "Nah, kalau itu dulu bengkel langganan saya."
Zain melirik dari kaca spion. "Ingatan Bapak kuat banget, ya."
"Bukan kuat," Profesor menggeleng pelan. "Cuma... terlalu banyak kenangan."
Mereka terhenti di lampu merah. Seorang pengamen naik ke trotoar, menyanyikan lagu lama dengan gitar yang sudah kusam. Profesor Surya mendengarkan sejenak, lalu tanpa sadar ikut bersenandung pelan.
Zain tidak mengenali lagunya. "Pak, lagu apa itu?"
"Lagu lama. Zaman saya masih mahasiswa."
"Oh..."
"Bagus, kan?"
Profesor hanya tersenyum. "Kalau suatu hari kamu hidup cukup lama, kamu juga akan punya lagu yang tiba-tiba membawamu kembali ke masa muda."
Zain tertawa kecil. "Masa muda saya isinya cuma narik ojol, Pak."
"Bisa jadi," sahut profesor terkekeh. "Siapa tahu dua puluh tahun lagi kamu mendengar suara notifikasi aplikasi..." Ia menirukan bunyinya, *"Ting!"* "...lalu kamu malah kangen."
Zain spontan tertawa keras. "Mana mungkin, Pak!"
Profesor ikut tertawa. "Tidak ada yang tahu."
Sesampainya di kampus, Zain membantu menurunkan koper aluminium dari jok.
"Berat juga ya, Pak."
"Agak."
"Isinya apa sih, Pak?"
Profesor terdiam beberapa detik, lalu menjawab singkat, "Proyek."
"Proyek apa?"
"Belum saatnya diceritakan."
Jawaban itu justru membuat rasa penasaran Zain makin membuncah. Namun ia tahu batasan; jika seseorang belum mau bercerita, tak ada gunanya dipaksa.
"Ya sudah, Pak. Semoga proyeknya lancar."
"Terima kasih."
Profesor berjalan menuju gedung riset. Baru beberapa langkah, ia menghentikan pijakannya dan menoleh. "Zain."
"Iya, Pak?"
"Kamu masih sering mendengar cerita kakekmu?"
"Iya, masih."
"Masih ingin hidup di tahun delapan puluhan?"
Zain tersenyum lebar. "Masih, Pak."
Profesor mengangguk pelan. "Lain kali... ceritakan lebih banyak."
Tanpa menunggu balasan, ia melanjutkan langkahnya masuk ke dalam gedung. Zain berdiri termangu memperhatikan punggungnya yang berangsur menghilang.
"Kenapa ya... Bapak itu penasaran banget sama tahun delapan puluhan?"
Ia menggeleng heran, lalu kembali menyalakan mesin motor. lalu ia pulang.
Suara jangkrik mulai terdengar bersahutan dari kebun kosong di ujung gang. Zain duduk santai di teras rumah bersama kakeknya, menemani dua gelas teh hangat dan sepiring pisang goreng di atas meja kecil.
Listrik tiba-tiba padam selama beberapa menit, membuat gang seketika menjadi gelap gulita. Hanya ada pendar cahaya bulan dan remang lampu darurat dari beberapa rumah tetangga.
"Enak ya kalau mati lampu begini," gumam Kakek.
Zain menoleh heran. "Enak?"
"Iya. Kakek malah jadi ingat dulu."
Zain terkekeh pelan. "Lagi-lagi zaman dulu."
Kakeknya ikut tertawa. "Lha, memang yang Kakek punya tinggal kenangan."
Mereka terdiam sejenak. Angin malam bertiup sepoi-sepoi, membawa suara samar anak-anak yang masih asyik bermain petak umpet di kejauhan.
"Kalau malam begini," lanjut Kakek, "dulu orang-orang pada keluar rumah."
"Duduk-duduk di teras?"
"Iya, ngobrol sampai larut. Mau pinjam gula tinggal ke tetangga. Terus kalau ada hajatan, satu kampung ikut bantu."
Zain mendengarkan sambil menyeruput teh hangatnya. "Kalau sekarang?"
"Ya... semua sibuk sama urusannya masing-masing."
Zain mengangguk pelan. Memang benar, di gang tempat tinggalnya saja banyak rumah yang pagarnya selalu tertutup rapat. Tetangga saling kenal, tetapi jarang sekali benar-benar bertegur sapa dengan akrab.
"Kek."
"Hm?"
"Dulu nyari kerja memang segampang itu?"
Kakeknya berpikir sejenak. "Kalau dibilang gampang... ya enggak juga. Tetap harus ada usaha. Tetap ada yang nganggur, tetap ada yang gagal."
Zain sedikit terkejut. "Tapi Kakek sering bilang gampang."
"Maksudnya gampang dibanding sekarang." Kakek menghela napas. "Kakek dulu masuk pabrik cuma karena dikenalin teman, besoknya langsung disuruh mulai kerja. Kalau sekarang..." Kakek mengangkat bahu. "Daftar di internet, tes berkali-kali, wawancara berkali-kali, tapi belum tentu diterima."
Zain menarik napas dalam-dalam. "Itu yang aku rasain sekarang, Kek."
Kakek menepuk pelan bahu cucunya. "Makanya, jangan menyerah."
...
Malam makin larut. Setelah Kakek masuk ke kamar untuk tidur, Zain masih betah duduk sendirian di teras. Ia membuka ponselnya, melihat foto-foto lama yang pernah dipotretnya saat mengantar penumpang ke kawasan Kota Tua.
Karena iseng, ia mulai berselancar di internet menelusuri penampakan *Jakarta tahun 1988*.
Layar ponselnya menampilkan deretan foto jalanan yang dipenuhi mobil sedan berbentuk kotak, bus-bus tua, dan angkot berwarna mencolok. Pakaian orang-orang terlihat sederhana, sementara gedung tinggi belum sepadat sekarang.
Zain memperbesar salah satu foto. "Kayaknya memang adem ya..."
Ia membayangkan dirinya mengendarai motor di jalanan yang lengang—tanpa kemacetan, tanpa rentetan notifikasi aplikasi, dan tanpa perlu kejar-kejaran berebut orderan.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Bukan notifikasi dari aplikasi ojek, melainkan pesan singkat dari nomor yang belum ia simpan:
[Besok pagi, kalau tidak ada kesibukan, mampirlah ke laboratorium setelah mengantar saya. Ada sesuatu yang ingin saya tunjukkan.]
— Surya
Zain mengernyitkan dahi. "Laboratorium?"
Ia membaca ulang pesan itu. Tidak ada penjelasan lain, hanya sebuah ajakan singkat. Zain menatap layar ponselnya cukup lama, lalu tersenyum kecil.
"Ya sudah. Paling disuruh lihat mesin aneh lagi."
Ia sama sekali tidak menyangka bahwa keesokan harinya, ia akan melihat sisi lain dari Profesor Surya. Bukan lagi sebagai penumpang berlangganan.