Asap kelabu dari sisa pembakaran minyak mesin siber menyelinap masuk melalui celah pilar obsidian Aula Gerhana, berputar-putar menciptakan bayangan kaku di atas lantai batu yang dingin. Di luar menara istana, langit Planet Akuma sedang memuntahkan badai hujan merkuri cair yang paling pekat sepanjang satu abad sejarah klan Shinto. Ketukan logam mendidih yang menghantam atap baja terdengar konstan, menciptakan simfoni bising yang meredam detak kehidupan normal. Dengan gaya tarik bumi yang bekerja seratus kali lipat lebih ekstrem, atmosfer di dalam bilik bersalin itu terasa begitu menjepit raga, memaksa setiap hela napas yang keluar dari tenggorokan terasa berat dan membakar sistem pernapasan seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Fajar Hari Pertunangan dan Dinginnya Kamar Rias Menara Kristal
Cahaya keemasan dari tiga matahari kembar perlahan-lahan menyembul di balik cakrawala langit Titan Prime, mengusir kegelapan malam yang dingin. Sinar fajar yang menyengat itu memantul di sepanjang dinding kaca Menara Kristal, menciptakan kilauan yang luar biasa megah sekaligus menyilaukan mata bagi siapa saja yang memandangnya. Hari yang dinantikan oleh seluruh lapisan petinggi klan Solari akhirnya tiba, membawa hawa ketegangan politik yang luar biasa berat dan mencekam. Hari ini adalah Hari Upacara Pertunangan Terbuka, sebuah panggung sandiwara politik yang sengaja dirancang oleh Gendo Solari untuk mengunci rahim putri tunggalnya bersama darah murni seorang budak kasta terbawah.
Di dalam kamar rias utama yang terletak di lantai tertinggi menara, atmosfer udara terasa begitu sunyi, kaku, dan membeku sedingin es. Ruangan mewah itu dipenuhi oleh hamparan cermin kristal yang besar, tumpukan perhiasan berlian untuk upacara, serta deretan gaun pengantin sutra emas yang memancarkan aroma wewangian bunga yang mahal. Namun, kemewahan yang melimpah ruah tersebut sama sekali tidak mampu membawa setitik pun rasa hangat atau kedamaian ke dalam batin Elena yang sedang dilanda kehancuran harga diri bangsawan seutuhnya.
Elena duduk diam mematung di depan meja rias kristal dengan posisi tubuh yang kaku, tanpa bergerak sedikit pun sejak fajar menyingsing. Empat orang pelayan wanita sedang sibuk bergerak di sekelilingnya, menyisir untaian rambut emas panjangnya yang sewarna logam mulia dan memasangkan mahkota bertandakan batu emas murni di atas kepalanya. Namun, wajah cantik Elena yang putih bersih terlihat sangat pucat pasi, tanpa ada seulas senyum kebahagiaan sedikit pun. Sepasang mata biru jernihnya menatap kosong ke arah pantulan dirinya sendiri di dalam cermin dengan sorot kemarahan dan rasa frustrasi mendalam yang melampaui batas nalar.
Isak tangis yang tertahan sejak malam kemarin kian menyesakkan dada, membuat kemben sutra ketat yang membalut tubuhnya terasa semakin linu. Gengsi kasta bangsawan tinggi dan dinding kesombongan absolut yang ia rawat dengan sangat angkuh sejak kecil kini dipaksa lebur menjadi abu, kalah ditelan kejamnya dinasti politik ayahnya sendiri. Bayangan bahwa beberapa jam lagi tubuh indahnya harus berdiri tegak di depan altar suci, berdampingan dengan Zephyr si budak kuli panggul yang tubuhnya penuh noda hitam pembakaran, membuat hatinya merasa sangat jijik, mual, dan terhina di depan semua orang.
"Kalian semua... keluar dari ruangan ini sekarang juga!" desis Elena dengan nada suara yang sangat ketus, dingin, dan tajam, memotong seluruh gerakan tangan para pelayan yang sedang merapikan lipatan gaun sutra emas mewahnya.
Mendengar perintah tegas yang keluar dari bibir ranum sang putri, keempat pelayan wanita itu langsung tersentak mundur satu langkah karena ketakutan. Mereka buru-buru meletakkan sisir kristal dan wadah bedak perak ke atas meja, lalu menundukkan kepala mereka sedalam mungkin sebelum akhirnya melangkah mundur keluar menerobos pintu geser titanium tanpa berani mengeluarkan satu patah kata bantahan pun, meninggalkan Elena sendirian di tengah ruangan yang sunyi mati.
Setelah pintu tertutup rapat seutuhnya, Elena langsung menjatuhkan kepalanya di atas permukaan meja rias kristal, membiarkan mahkota emasnya miring. Air mata frustrasinya kembali mengalir deras tanpa bisa ditahan lagi, membasahi pipinya yang mulus dan merusak sebagian sapuan bedak perak di wajah cantiknya. Isak tangisnya pecah berantakan dipenuhi rasa frustrasi yang luar biasa mendalam memenuhi kesunyian kamar rias, meratapi malapetaka yang mendadak menghancurkan seluruh kemegahan masa depannya dalam sekejap mata.
Namun, di tengah lingkaran rasa keputusasaan batinnya yang sedang mendidih, telinga Elena mendadak menangkap suara desas-desus bisikan yang bergaung samar-samar dari balik ventilasi luar ruangan. Dua orang pengawal berbaju besi menara atas terdengar sedang berbicara dengan nada suara yang terengah-engah penuh dengan kepanikan yang sangat nyata, mengabaikan sistem keamanan komando yang biasanya ketat tanpa ampun.
"Kau sudah mendengar kabar terbaru dari palung bawah stasiun Sektor Tiga semalam?" bisik salah satu pengawal, getaran suaranya yang berat terdengar aneh karena pengeras suara di leher zirahnya yang rusak. "Dua puluh pendekar elit kiriman Faksi Radikal Barat bersama Kapten Jaxon ditemukan tewas mengenaskan di dalam terowongan pipa pembuangan! Seluruh baju besi tebal seberat ratusan kilo milik Jaxon pecah berantakan menjadi rongsokan logam mati yang meleleh, murni akibat hantaman kekuatan remukan tangan kosong!"
"Gila! Bagaimana mungkin makhluk daging biasa bisa meretas sistem zirah baja tanpa bantuan persenjataan canggih luar angkasa?!" sahut pengawal lainnya dengan nada ketakutan yang mendalam. "Informasi dari dewan menyatakan bahwa budak kurus bernama Zephyr itulah yang berdiri sendirian di tengah terowongan semalam! Dialah yang menghancurkan seluruh komando tim pembunuh bayaran faksi barat murni menggunakan kekuatan otot tubuhnya yang aneh! Bocah itu bukan manusia biasa, dia itu monster sejati yang menolak mati ditelan peluru laser musuh!"
Mendengar laporan rahasia yang sangat sadis sekaligus aneh dari mulut para pengawal luar tersebut, isak tangis Elena mendadak berhenti total secara sepihak. Ia menegakkan kembali tubuh anggunnya secara perlahan di depan cermin kristal, membiarkan sepasang mata biru jernihnya terbelalak kaku menahan rasa terkejut, ngeri, dan takjub mendalam yang meremukkan seluruh tatanan logika berpikirnya. Seluruh badannya mendadak mendingin kaku menahan getaran asing yang merayap naik menembus lubuk sanubari terdalamnya.
Kabar mengenai kegilaan kekuatan fisik murni Zephyr yang baru saja meremukkan zirah berat Jaxon dengan tangan kosong semalam benar-benar menghantam batin manusianya sampai ke titik tertinggi. Elena teringat kembali bagaimana kemarin sore ia melangkah angkuh di lorong menara langit, memaki budak itu sebagai cacing tanah tidak berguna, dan bahkan meludahkan air kehinaannya tepat di atas bahu jubah karung goni compang-camping milik Zephyr murni karena keangkuhan kasta bangsawannya. Rasa bersalah yang asing, campur aduk dengan rasa takut mati dan rasa penasaran yang luar biasa tajam, kini mulai tumbuh subur di dalam pikirannya terhadap nama Zephyr.
Elena menggenggam erat ujung kain gaun sutra emas kotornya dengan jemari tangan yang gemetar keras menahan gejolak rasa gelisah, menyadari sepenuhnya bahwa sosok suami pilihan paksa ayahnya tersebut ternyata menyimpan sebaris kekuatan misterius tak terbatas yang belum pernah dipahami oleh klan mereka. Upacara pengikatan darah tradisional yang beberapa jam lagi akan dilaksanakan di Altar Emas kini tidak lagi terasa sekadar sebagai alat politik yang membosankan; hari pertunangan paksa ini telah resmi menjelma menjadi gerbang pembuka dari sebuah pertempuran paling menegangkan yang kelak di masa depan akan mengunci seluruh silsilah kehidupan dan aliran darah mereka berdua ke dalam satu lembaran takdir legendaris yang tak berujung seutuhnya.