NovelToon NovelToon
IBU MAFIA

IBU MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Single Mom
Popularitas:735
Nilai: 5
Nama Author: Princess Catalunya

Amara pernah memiliki keluarga yang ia cintai. Namun setelah bertahun-tahun mendukung suaminya dari nol, ia justru dikhianati.

Sebagai ibu tunggal dengan tiga anak, Amara berusaha bangkit dari luka dan kehancuran. Takdir kemudian mempertemukannya dengan seorang pria mafia yang memberinya sebuah kerajaan.

Kini, di mata dunia, Amara hanyalah seorang ibu sederhana yang bekerja sebagai careworker.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik sosok pendiam itu, tersembunyi seorang penguasa dunia bawah tanah.

Amara membangun kerajaan demi ketiga anaknya. Ia ingin mereka memiliki masa depan, tetapi tidak pernah ingin mereka tumbuh menjadi manusia yang bergantung pada kekayaan.

Karena seorang ibu akan melakukan apa pun untuk melindungi anak-anaknya.

Bahkan jika ia harus menjadi seorang mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princess Catalunya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan

Pesawat yang membawa Amara meninggalkan negara konflik tepat menjelang matahari terbit.

Dari balik jendela kecil di samping kursinya, ia memandangi kota yang perlahan mengecil. Asap tipis masih terlihat di beberapa sudut. Jalan-jalan yang beberapa minggu lalu dipenuhi suara ledakan kini mulai kembali dilewati kendaraan bantuan. Namun bekas perang tidak akan pernah benar-benar hilang. Ia akan tinggal di hati orang-orang yang berhasil selamat.

Amara mengembuskan napas panjang. Hampir satu bulan lebih ia berada di sana sebagai relawan kemanusiaan. Ia datang sebagai orang asing, dan pulang membawa begitu banyak kenangan. Tangisan anak-anak, wajah para lansia yang kehilangan keluarga, serta seorang pria bernama Leon Volkov yang hampir kehilangan nyawanya di antara reruntuhan bangunan.

Namun sesaat setelah pesawat mengudara, Amara memilih menutup semua kenangan itu rapat-rapat. Baginya, Leon hanyalah salah satu dari sekian banyak korban perang yang pernah ia bantu. Pertemuan mereka tidak perlu dipikirkan lagi. Mereka berasal dari dua dunia yang sama sekali berbeda.

Beberapa waktu kemudian, Amara akhirnya tiba di Indonesia. Udara jakarta memenuhi paru-parunya begitu keluar dari bandara. Ketiga anak berlari menghampirinya.

"Ma!"

Arsen, yang saat itu duduk di kelas dua SMP, memeluk ibunya lebih dulu. Tubuhnya sudah jauh lebih tinggi dibanding setahun sebelumnya, tetapi di hadapan Amara, ia tetap seorang anak yang merindukan ibunya.

Raka langsung memeluk pinggang Amara dari samping.

"Mama lama banget..."

Sementara Nayla menangis tanpa suara sambil memeluk tangan ibunya erat-erat.

Amara ikut menangis.

Ia memeluk ketiga anaknya bergantian.

"Maaf... Mama pulang."

Di belakang mereka, kedua orang tua Amara hanya tersenyum haru melihat keluarga kecil itu kembali utuh.

Malam itu rumah sederhana mereka terasa jauh lebih hangat. Amara memasak makanan kesukaan anak-anaknya. Mereka makan sambil saling bercerita. Arsen bercerita tentang sekolahnya. Raka sibuk menunjukkan nilai ulangan. Serta Nayla tidak berhenti bercerita tentang teman-temannya.

Amara hanya mendengarkan sambil tersenyum, dan sesekali memuji anak-anaknya. Dalam hati ia bersyukur. Masih diberi kesempatan pulang untuk memeluk anak-anaknya. Masih bisa melihat mereka tertawa, itu sudah lebih dari cukup.

Seminggu kemudian, kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Amara kembali merantau ke provinsi lain. Ia kembali bekerja melalui yayasan homecare tempatnya selama ini mengabdi. Pekerjaannya tidak berubah. Ia masih seorang caregiver yang merawat lansia. Sesekali membersihkan rumah dan memasak. Memandikan pasien dan menyuapi obat, dan menjadi pendengar ketika pasien merasa kesepian. Begitulah rutinitasnya setiap hari. Namun ia tidak pernah merasa pekerjaan itu rendah. Baginya, merawat seseorang adalah bentuk penghormatan terhadap kehidupan.

Pasien barunya adalah seorang lansia berkewarganegaraan asing. Pria itu merupakan pendiri sebuah perusahaan pelumas internasional yang memiliki cabang di berbagai negara. Usianya sudah lebih dari delapan puluh tahun dan mulai mengalami keterbatasan fisik.

Rumahnya besar dan bertingkat. Halamannya juga luas. Mobil-mobil mewah keluar masuk hampir setiap hari.

Beberapa tamu yang datang sering berdiskusi mengenai investasi, ekspansi perusahaan, hingga kerja sama internasional.

Amara sering mendengar percakapan mereka sambil menyajikan teh atau membersihkan ruang tamu. Namun setelah selesai bekerja, ia kembali ke kamar kecil khusus karyawan. Dunia bisnis terasa sangat jauh darinya.

"Itu dunia orang-orang besar," gumamnya suatu malam.

"Aku hanya caregiver."

Sesekali ia teringat kartu nama hitam yang pernah diberikan Leon. Kartu itu masih tersimpan rapi di dalam buku catatannya. Bukan karena ia ingin menghubunginya. Melainkan karena ia belum sempat membuangnya.

Hari-hari berganti menjadi minggu. Minggu berubah menjadi bulan. Tanpa terasa satu tahun berlalu. Hubungan Amara dan Leon benar-benar terputus. Tidak ada telepon ataupun pesan. Tidak ada kabar apapun. Leon seolah menghilang begitu saja. Dan Amara pun tidak pernah mencarinya. Ia terlalu sibuk bekerja. Setiap rupiah yang diperoleh selalu dikirim untuk biaya sekolah ketiga anaknya. Baginya, masa depan mereka jauh lebih penting daripada memikirkan seorang pria yang mungkin bahkan sudah melupakan dirinya.

Suatu sore, ketika Amara sedang menyiapkan makan malam untuk pasiennya, telepon genggamnya berdering. Nama ibunya muncul di layar. Entah mengapa, hati Amara tiba-tiba terasa tidak tenang.

"Halo, Ma."

Suara di seberang terdengar bergetar.

"Mara..."

"Iya, Ma?"

"Kamu jangan panik dulu."

Jantung Amara langsung berdegup lebih cepat.

"Kenapa?"

"Hari ini Raka sama Nayla dipukul di sekolah."

Amara membeku.

"Apa?"

"Mereka dibully sama anak-anak yang lebih besar."

Pisau yang sedang dipegang Amara terjatuh ke lantai.

"Terus... sekarang bagaimana?"

"Sudah dibawa pulang."

"Arsen?"

"Arsen sempat membela adik-adiknya. Tapi dia juga tidak bisa berbuat banyak."

Amara mulai menangis.

"Parah, Ma?"

"Nayla memar di lengannya. Raka bibirnya sempat berdarah."

Dunia Amara seperti berhenti berputar. Jarak ribuan kilometer mendadak terasa begitu menyiksa.

Sebagai seorang ibu, tidak ada yang lebih menyakitkan daripada mengetahui anak-anaknya terluka sementara dirinya tidak berada di sana. Malam itu Amara tidak bisa tidur. Ia terus menatap langit-langit kamarnya. Untuk pertama kalinya, ia merasa gagal.

Selama ini ia bekerja tanpa mengenal lelah. Merawat orang tua orang lain dan membantu kehidupan banyak orang. Namun ketika anak-anaknya membutuhkan perlindungan, ia justru berada sangat jauh.

Air mata kembali jatuh.

"Kalau aku punya kekuatan..."

Ia menghentikan kalimatnya sendiri. Kekuatan. Entah mengapa kata itu mengingatkannya pada seseorang. Leon Volkov.

Lalu ingatannya kembali pada percakapan mereka setahun yang lalu.

"Bisnis bukan milik orang kaya."

"Aku ingin mengajarimu menyelamatkan ribuan orang sekaligus."

"Kau hanya belum tahu siapa dirimu."

Amara membuka buku catatannya. Di sela-sela lipatan kertas yang mulai usang, kartu nama hitam itu masih ada.

Tulisan sederhana itu masih terlihat jelas. Leon Volkov dan nomor pribadi. Amara memandang kartu itu cukup lama. Selama setahun ia tidak pernah berniat menghubunginya.

Namun malam itu, untuk pertama kalinya, ia mulai bertanya pada dirinya sendiri. Bagaimana jika Leon benar? Bagaimana jika selama ini ia membatasi dirinya sendiri? Bagaimana jika belajar bukan berarti mengkhianati profesinya sebagai caregiver, melainkan membuka jalan agar ia bisa melindungi lebih banyak orang... termasuk anak-anaknya sendiri?

Amara menggenggam kartu itu erat. Keputusan yang akan diambilnya bukan demi mengejar kekayaan. Bukan pula karena ia terpesona pada Leon Volkov. Semua itu hanya karena satu alasan. Ia tidak ingin Arsen, Raka, dan Nayla tumbuh dalam dunia yang membuat mereka harus menunduk hanya karena ibunya tidak memiliki kekuatan untuk melindungi mereka.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah satu tahun berpisah, Amara menyalakan telepon genggamnya. Jarinyalah yang gemetar ketika membuka kartu nama itu sekali lagi. Ia belum menekan nomor tersebut. Namun di dalam hatinya, keputusan itu sebenarnya telah dibuat.

Dan tanpa Amara sadari, ribuan kilometer dari Indonesia, seorang pria bernama Leon Volkov masih menggunakan nomor telepon yang sama. Selama satu tahun, ia tidak pernah menggantinya.

Karena jauh di dalam hatinya, ia selalu percaya bahwa suatu hari nanti, perempuan itu akan menelepon.

Dan ketika hari itu tiba, Leon telah berjanji pada dirinya sendiri. Ia tidak hanya akan mengajari Amara tentang bisnis.

Ia akan mengajarinya bagaimana membangun kekuatan yang tidak bisa dirampas siapa pun, sehingga tak ada lagi yang berani menyakiti orang-orang yang paling dicintainya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!