NovelToon NovelToon
Supir Ketos Nona Manja

Supir Ketos Nona Manja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Kenalkan, namaku Arkan Jaya. Aku bekerja sebagai supir di salah satu rumah orang kaya yang ada di daerahku.

Kebetulan, putri dari orang kaya tempat saya bekerja adalah orang yang sering saya hukum di sekolah dulu karena suka membuat onar.

Awalnya aku ragu untuk bekerja di rumah anak ini. Namun, karena aku terlahir miskin, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerimanya.

Orang tuanya bernama Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia.
Pria itu adalah Pak Frans Sanjaya. Di sampingnya, pintu mobil lain terbuka dan muncul sosok wanita anggun yang tak lain adalah Bu Sofia, ibunya. Hari itu adalah kali pertama aku melihat langsung kedua orang tua Clara secara jarak dekat. Aku yang saat itu hanya seorang Ketua OSIS dari keluarga biasa, tentu tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia-lah yang akan membayar gajiku sebagai supir pribadi putri manja mereka ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Preman, Pahlawan, dan Tatapan Mata Merah

Senin pagi kembali menyapa. Aku menjalankan rutinitasku seperti biasa sebagai Ketua OSIS yang disiplin dan tegas. Berdiri tegak di depan gerbang utama, mataku mengawasi setiap siswa yang mulai berdatangan.

Namun, fokusku mendadak teralih oleh sebuah pemandangan di persimpangan jalan tak jauh dari gerbang. Tampak seorang preman lokal bertubuh gempal sedang memojokkan seorang siswi sekolah kami. Tangan preman itu memaksa meminta uang.

Pak Sumanto, sekuriti sekolah yang juga sahabat almarhum bapakku, saat itu sedang patroli mengecek area belakang gedung.

Melihat siswi berseragam sama denganku dipalak secara terang-terangan, naluriku langsung bergerak. Aku melangkah cepat menghampiri mereka.

"Bro, kamu apain teman saya?" tanyaku santai tapi menekan.

Tentu saja, pertanyaanku tidak disambut ramah. Mana ada

preman yang senang aksinya diganggu?

"Heh, bocah! Mending kamu enggak usah ikut campur. Masuk sana, sekolah yang benar!" gertak preman itu dengan nada tinggi, mencoba mengintimidasiku.

"Wah, tidak bisa begitu, Kawan," balasku penuh percaya diri.

"Dia teman sekolahku. Lagipula, tindakanmu ini jelas salah."

Merasa dilecehkan oleh anak sekolah yang sok jadi pahlawan kepagian, emosi si preman mendadak puncak. Dia melayangkan satu pukulan keras mengarah tepat ke wajahku. Namun, gerakan kasarnya terlalu mudah dibaca.

Sret!

Dengan sigap aku mengelak, memukul tangannya, lalu memutar lengan otot itu ke belakang hingga mengunci pergerakannya sepenuhnya. Sekali dorongan tegas, aku membuatnya berlutut tak berdaya di atas aspal.

"Eits, enggak kena!" ledekku.

Aku merogoh saku jaketnya, mengambil kembali uang tunai milik siswi tadi, lalu mengembalikannya pada siswi yang ketakutan itu.

"Nih, uangmu. Langsung masuk ke dalam ya," bisikku pada siswi tersebut, yang langsung berlari cepat ke dalam sekolah.

Aku beralih menatap tajam ke arah preman yang masih teringkus. "Hei, Bodoh. Dengarkan baik-baik. Jangan pernah muncul lagi di sekitar area sekolah ini. Kalau sampai aku lihat kamu memalak lagi di depan mataku, tanggung sendiri akibatnya. Pergi kamu!"

Aku melepaskan cengkeramanku dan menendang pelan pantatnya. Preman itu terbirit-birit lari sambil mengumpat tak jelas.

Tak lama setelah itu, langkah terburu-buru Pak Sumanto terdengar mendekat.

"Dek Arkan! Ada apa, Dek? Ada yang terluka?" tanya Pak Sumanto dengan napas terengah-engah, wajahnya cemas. Beliau adalah sosok paman bagiku, sahabat karib almarhum Bapak semasa hidup dulu yang selalu memperhatikanku di sekolah.

"Aman, Pak Sumanto. Cuma preman lokal tadi, sudah Arkan suruh pergi," jawabku sambil tersenyum menenangkan.

"Aduh, kamu ini nekat betul, Dek... Tapi bagus, yang penting kamu selamat," puji Pak Sumanto sambil menepuk pundakku penuh rasa bangga.

Saat aku hendak berjalan kembali ke gerbang utama bersama Pak Sumanto, langkahku mendadak terhenti. Di sudut gerbang, berdiri dua gadis cantik yang menatapku tajam.

Bukan tatapan kagum karena melihat aksi pahlawanku barusan, melainkan tatapan penuh dendam. Clara dan Diana berdiri di sana, mata mereka memelotot tajam bak mata

Sharingan tanpa tomoe. Aura kebencian memancar kuat dari wajah manis keduanya.

Aku tahu betul alasan di balik tatapan 'berdarah' itu. Kejadian kemarin Minggu. Sebenarnya itu bukan salahku, melainkan murni karena kebodohan mereka sendiri yang lupa kalender.

Dua gadis itu berjalan melangkah cepat menghampiriku dengan wajah bersungut-sungut.

"Kak Arkan!" pekik Clara dengan nada melengking penuh kekesalan. "Apa maksud Kakak kemarin enggak kasih tahu kalau kemarin itu hari Minggu?! Dan kenapa malah setuju pas kami bilang mau datang pagi-pagi?!"

Diana ikut menimpalinya dengan wajah tak kalah cemberut.

"Iya! Pasti Kak Arkan sengaja mau mengerjain kami, kan? Kakak itu memang Ketua OSIS paling jahat dan tidak berperikemanusiaan!"

Aku hanya bisa menyilangkan dada dan menghela napas panjang melihat tingkah absurd dua anak kaya ini.

"Hei, dua gadis bodoh," panggilku datar. "Yang salah itu kalian, kenapa malah menyalahkan aku? Aku enggak pernah memaksa kalian datang kemarin. Kalian sendiri yang heboh buat janji. Aku cuma bilang 'aku pegang janji kalian'. Mana aku tahu kalau kalian ternyata lupa hari?"

Mendengar kalimat pembelaan dari bibirku—yang memang kenyataannya logis dan tak bisa dibantah—wajah Clara dan Diana langsung memerah padam. Mereka kehabisan kata-kata.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, keduanya berbalik badan dan melangkah pergi meninggalkanku. Namun, sebelum benar-benar jauh, tangan kanan mereka berdua terangkat ke udara, melayangkan acungan jari tengah secara bersamaan ke arahku.

Aku hanya bisa mengocok perut menyaksikan tingkah konyol mereka.

"Dasar anak manja bodoh..." gumamku dalam hati sambil menggelengkan kepala.

Teng... teng... teng...

Lonceng tanda masuk sekolah berbunyi nyaring. Hari baru di sekolah resmi dimulai, dan aku melangkah masuk ke kelas dengan senyuman puas.

1
Alissia
hai thor🤭🤭🤭🤭
Markario Putra: malas nih,kok cerita aku nggak ada yang mau baca sih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!