Haruto Kazehara hanyalah remaja biasa yang tak pernah bermimpi menjadi seseorang yang istimewa—sampai takdir mengubah segalanya secara tiba-tiba lewat sebuah kecelakaan. Saat ia membuka mata kembali, ia mendapati dirinya terbangun di dunia yang tak pernah ia bayangkan: sebuah negeri yang dipenuhi cahaya sihir, hutan berbahaya, monster purba, naga yang menguasai langit, dan kerajaan kuno yang menyimpan ribuan rahasia.
Penuh harap ia menyambut kekuatan baru sebagai pahlawan yang legendaris. Namun kenyataan berbalik mengecewakan: sihir yang ia miliki justru berjenis aneh, tak terduga, dan seringkali gagal total di saat-saat paling krusial. Alih-alih tampil gagah dan memukau, Haruto malah kerap menjadi bahan tertawaan teman-temannya—belum lagi tingkah laku slime rakus bernama Pochi yang selalu mengikutinya ke mana saja dan tak segan membuat kekacauan di mana pun mereka berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 – Sesi Latihan Terakhir
Sudah beberapa hari berlalu sejak Haruto berhasil menaklukkan jurus dasar sihir air pertamanya. Rutinitasnya kini berjalan dengan teratur, tanpa tergesa-gesa seperti masa-masa awal belajar. Setiap pagi, saat kabut masih menyelimuti permukaan danau, ia sudah berdiri di tepi air bersama Mizuna, menyerap setiap petunjuk yang diberikan gurunya. Setiap siang, saat matahari bersinar terik, ia mengulang latihan sendirian hingga keringat membasahi seluruh tubuhnya. Dan setiap malam, saat suasana hening sepi, ia duduk bermeditasi menenangkan aliran mana di dalam dirinya, memastikan tak ada satu pun bagian yang bergejolak tak menentu.
Kini, membentuk Water Ball bukan lagi hal yang sulit atau membutuhkan perjuangan berat. Tanpa perlu mengucapkan mantra panjang atau mengerahkan seluruh tenaga, cukup dengan satu gerakan tangan pelan, bola air sebening kristal sudah melayang di hadapannya. Bahkan kini ia mampu menciptakan tiga bola sekaligus, dan mengendalikan ketiganya berputar mengelilingi tubuhnya dengan irama yang serasi dan stabil.
"Pyoo! Pyoo!"
Pochi melompat-lompat riang, mengejar ketiga bola air itu seolah sedang bermain tangkap. Sesekali ia mencoba menyentuhnya dengan ujung tubuhnya yang kenyal, membuat bola air itu sedikit beriak namun tak hancur.
"Hei, jangan dimakan! Itu bukan permen!" seru Haruto sambil tertawa lebar, mencoba mengendalikan kembali bola air yang nyaris digapai slime setianya itu.
Dari kejauhan, Daichi berdiri bersandar pada batang pohon besar sambil menggelengkan kepala, senyum tak lepas dari wajahnya.
"Aku benar-benar takjub," ucapnya pelan pada Mizuna yang berdiri di sampingnya. "Dalam waktu sesingkat ini, perkembangannya sudah sejauh ini. Banyak penyihir yang butuh berbulan-bulan hanya untuk mencapai tahap ini."
Mizuna menatap pemandangan di hadapannya dengan pandangan lembut namun tajam, memantau setiap gerakan tangan Haruto dan aliran mana yang terpancar.
"Sudah waktunya," gumamnya pelan.
Haruto yang kebetulan menoleh mendengarnya, segera menghentikan gerakannya. Ketiga bola air itu perlahan menyatu kembali ke danau tanpa memercik sedikit pun.
"Waktunya apa, Mizuna?" tanyanya dengan antusias.
Mizuna mengangguk pelan, lalu berdiri tegak sambil mengangkat tongkat kristal biru yang selalu ia bawa.
"Waktunya mempelajari pelajaran berikutnya. Sihir tingkat dasar kedua bagi penyihir air."
Mata Haruto seketika berbinar. Rasa penasaran dan semangat kembali membara di dadanya.
"Apa nama jurus itu? Apa yang harus kulakukan?"
Tanpa menjawab langsung, Mizuna mengangkat telapak tangannya ke udara. Sebuah bola air murni sebesar kepala manusia terbentuk dengan sendirinya. Perlahan, di bawah kendali mananya, bola itu mulai berubah wujud. Memanjang ke samping, sisi-sisinya menipis perlahan, dan bagian luarnya terasa mengeras seolah tersentuh dingin yang menusuk. Hanya dalam hitungan detik, bola air itu telah berubah menjadi sebilah pedang panjang berwarna biru jernih, berkilau indah terkena pantulan sinar matahari.
Haruto terpaku takjub. Mulutnya sedikit terbuka melihat keajaiban itu.
"Pedang... dari air?"
"Ini disebut Water Weapon," jelas Mizuna tenang sambil membiarkan pedang air itu melayang di telapak tangannya. "Inti dari teknik ini bukan sekadar mengubah air menjadi bentuk senjata. Melainkan mempertahankan bentuk itu agar tetap kokoh dan padat menggunakan kendali mana yang stabil. Semakin matang dan tenang kendali manamu, semakin kuat dan tajam senjata yang terbentuk."
Haruto mengepalkan kedua tangannya, rasa ingin mencoba meluap-luap di hatinya.
"Aku ingin segera mencobanya!"
"Silakan," izin Mizuna sambil memberi isyarat tangan.
Haruto menarik napas panjang, memejamkan mata sejenak untuk mengumpulkan fokus. Perlahan ia merasakan aliran mana di dalam tubuhnya bergerak menuju telapak tangan kanannya. Sebuah bola air terbentuk, melayang diam di hadapannya.
Jangan dipaksa. Biarkan air mengikuti kehendakmu, terngiang kembali pesan Mizuna di benaknya.
Ia mencoba mengarahkan aliran mananya agar bola air itu memanjang perlahan. Namun baru saja bentuknya mulai sedikit berubah...
Plup!
Bunyi lembut terdengar, dan air itu kembali menjadi bulatan sempurna.
Daichi tertawa menahan geli dari kejauhan.
"Itu pedang atau ikan lele yang baru melompat dari air?"
Wajah Haruto seketika masam.
"Pak Daichi jangan menggoda terus!"
Belum selesai protesnya, Pochi yang sedari tadi diam tiba-tiba mengeluarkan gumpalan air dari tubuhnya. Dalam sekejap, slime itu berhasil membentuk pedang air yang jauh lebih rapi dan tajam, bahkan gagangnya pun terlihat jelas bentuknya.
"Pyoo," ucapnya bangga seolah sedang memamerkan hasil karyanya.
"Hei! Itu curang! Kamu pasti sudah pernah belajar sebelumnya!" seru Haruto tak terima.
Mizuna tersenyum tipis melihat tingkah mereka berdua.
"Jangan membandingkan dirimu dengan Pochi," ucapnya lembut namun tegas. "Makhluk sejenisnya sudah terlahir dengan naluri mengendalikan elemen air. Mereka tak perlu belajar seperti manusia, hanya perlu mengingat apa yang sudah ada di dalam darah mereka."
Haruto mengangguk paham. Ia kembali menenangkan diri, membuang rasa kesal dan ingin segera berhasil.
"Baiklah. Aku akan mencoba lagi."
Kali ini ia benar-benar fokus. Matanya terpejam, seluruh perhatiannya terpusat pada aliran mana yang mengalir lembut dan teratur. Tanpa terburu-buru, ia membiarkan air itu bergerak mengikuti irama yang ia berikan. Memanjang perlahan, menyempit, membentuk gagang yang nyaman digenggam, bilah yang rata, hingga ke ujung yang runcing tajam.
Sedikit demi sedikit, bentuk itu semakin jelas dan nyata.
Perlahan...
Sebuah pedang air sepanjang satu meter akhirnya terbentuk sempurna di telapak tangannya. Meski masih terlihat sedikit beriak di permukaannya, bentuknya sudah sangat mirip dengan pedang sungguhan.
Haruto perlahan membuka mata. Jantungnya berdegup kencang karena takjub.
"Aku... berhasil," bisiknya tak percaya.
"Peganglah," perintah Mizuna lembut.
Dengan ragu namun mantap, Haruto mengulurkan jari-jarinya dan menggenggam bagian gagang pedang itu. Anehnya, benda yang terbuat dari air itu terasa kokoh dan padat, seolah terbuat dari baja yang ringan namun kuat.
Ia mengayunkannya perlahan ke samping.
Wussh!
Suara sayupan udara terdengar jelas, seolah ia sedang mengayunkan senjata logam yang nyata.
Mata Haruto berbinar lebar.
"Hebat sekali... ternyata benar-benar bisa digunakan!"
Tanpa sadar Daichi melemparkan sepotong kayu besar ke udara.
"Coba tebas kayu itu sekarang!"
Haruto menarik napas dalam-dalam, memusatkan seluruh fokusnya pada bilah pedang air yang ia pegang. Saat kayu itu turun tepat di hadapannya, ia mengayunkan tangannya dengan mantap.
Sret!
Suara sayupan tajam terdengar, dan kayu itu terbelah dua dengan sangat raPi sebelum jatuh ke permukaan tanah.
Haruto terpaku di tempatnya. Ia menatap bilah pedang air di tangannya, lalu menatap potongan kayu yang terbelah itu berulang kali. Ia nyaris tak percaya bahwa tangannya sendiri yang melakukannya.
"Aku benar-benar bisa melukai benda padat dengan air..."
Pochi melompat ke udara sambil bersorak riang.
"Pyoo! Pyoo! Hebat Tuan!"
Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung beberapa detik saja. Perlahan bilah pedang yang ia genggam mulai bergetar tak beraturan. Retakan-retakan halus muncul di permukaannya, seolah kaca yang siap pecah.
Plass!
Dalam sekejap, pedang itu kembali menjadi air cair yang membasahi seluruh tubuh Haruto dari ujung rambut hingga ke kaki.
Daichi kembali tertawa terbahak-bahak hingga memegangi perutnya.
"Hahaha! Pedangnya ternyata kehabisan tenaga duluan!"
Haruto menghela napas panjang sambil meremas ujung bajunya yang basah kuyup, meneteskan air dari rambutnya.
"Kenapa selalu berakhir seperti ini setiap kali aku merasa sudah berhasil?"
Mizuna berjalan perlahan mendekatinya, wajahnya tidak lagi menggoda melainkan penuh rasa bangga.
"Itu terjadi karena kendali manamu belum cukup kuat untuk mempertahankan bentuk padat itu dalam waktu lama," jelasnya sabar. "Namun..."
Ia menepuk bahu Haruto pelan.
"Kau sudah berhasil melewati tahap yang paling sulit. Banyak penyihir yang butuh berbulan-bulan hanya untuk bisa membentuknya sekilas saja. Mulai hari ini, kau resmi telah menguasai dasar pembentukan senjata air."
Wajah Haruto seketika berseri kembali. Rasa lelah dan kekecewaan tadi hilang seketika berganti rasa syukur dan bahagia.
"Terima kasih banyak, Mizuna. Terima kasih atas semua kesabaranmu mengajariku."
Mizuna tersenyum tulus, senyum yang jarang sekali ia tunjukkan pada orang lain.
"Besok pagi-pagi sekali," ucapnya dengan nada tegas namun hangat, "kita akan berangkat kembali ke Kota Lumin, menuju Guild Petualang. Sudah saatnya kau menunjukkan pada mereka hasil dari semua latihan keras ini. Sudah saatnya kau membuktikan bahwa penolakan dulu adalah kesalahan mereka."
Haruto mengepalkan kedua tangannya erat di sisi tubuhnya, semangat yang tak pernah ia rasakan sebelumnya membara di dadanya.
"Baik! Aku pasti akan membuktikan bahwa aku pantas berdiri di sana!"
Angin sore mulai berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan bunga liar di tepi danau. Namun di balik rimbunnya pepohonan di kejauhan, sepasang mata yang tersembunyi di balik kerudung jubah hitam diam-diam mengawasi setiap gerak-gerik mereka dari tadi. Sosok itu berdiri diam tanpa suara, tak sedikit pun menampakkan wujudnya.
Sosok itu tersenyum tipis, senyum yang entah bermaksud baik atau justru menyimpan rencana jahat.
"Anak itu..." bisiknya pada diri sendiri, suaranya tenggelam dalam desir angin. "Perkembangannya jauh lebih cepat daripada perkiraan siapa pun. Bahkan melampaui dugaan kami."
Tanpa menimbulkan suara sedikit pun, sosok berjubah hitam itu perlahan lenyap menyatu dengan kegelapan di balik pepohonan rimbun.
Sementara itu, Haruto masih sibuk bersorak bersama Daichi dan Pochi, bersiap menghadapi hari esok yang menentukan. Ia sama sekali belum menyadari satu hal penting: semakin besar kekuatan yang ia miliki, semakin banyak pula mata yang mulai mengincarnya, dan semakin dekat pula ia dengan bahaya yang tak terduga.