NovelToon NovelToon
PARIS NOIR

PARIS NOIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan alternatif / Komedi
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: Yossi anugrah

Katanya Paris adalah kota paling romantis di dunia.

Entahlah.

Aku belum pernah punya waktu untuk jatuh cinta.

Namaku Maël. Enam belas tahun. Pagi menjual koran, siang berlari dari polisi, malam mencari tempat tidur yang tidak terlalu dingin. Kadang hidup memaksaku mencopet, tapi percayalah, itu bukan bagian yang paling berbahaya dari kota ini.

Kalau kalian ingin melihat Paris dari balik jendela hotel, kalian salah memilih buku.

Tapi kalau kalian berani menyusuri lorong-lorong sempit, stasiun métro yang penuh sesak, dan jalanan tempat orang-orang seperti kami belajar bertahan hidup...

Bienvenue à Paris.

Aku akan menjadi pemandu kalian.

Oh, dan satu lagi...

Jaga dompet kalian. Aku mungkin sudah berubah. Teman-temanku belum. 😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yossi anugrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 Burung Layang-Layang yang Berbohong

Angin malam berembus pelan di puncak Montmartre.

Suara akordeon dari alun-alun masih terdengar sayup.

Paris tetap terlihat cantik.

Seolah tidak ada yang sedang mengejarku.

Aku masih memegang foto yang hangus di kedua sisinya.

Kalimat di belakangnya terus memenuhi kepalaku.

"Jangan pernah percaya siapa pun yang membawa lambang burung layang-layang."

Aku menatap pin yang terselip di saku jaketku.

Lalu menatap Henri.

Kemudian Marcel.

"Jelaskan."

kataku pelan.

Tidak ada yang menjawab.

Aku mengulanginya.

Kali ini lebih keras.

"Jelaskan!"

Henri menghela napas panjang.

"Maël..."

"Bukan."

Aku memotongnya.

"Jangan panggil namaku kalau jawabannya tetap 'nanti'."

Suasana mendadak hening.

Léo yang biasanya paling cerewet pun memilih diam.

Aku berdiri.

Menggenggam pin itu.

"Lima belas tahun."

kataku.

"Aku hidup di jalanan."

"Aku tidak tahu siapa ayahku."

"Aku tidak tahu siapa ibuku."

"Aku tidak tahu nama belakangku."

"Sekarang setiap orang bilang mereka ingin melindungiku."

"Tapi..."

Aku menunjuk surat dan foto itu.

"...bahkan surat dari keluargaku sendiri bilang aku tidak boleh percaya pada lambang ini."

"Jadi..."

Aku menatap Henri.

"Kalian siapa sebenarnya?"

── Maël kepada kalian ──

Kalau kalian pernah merasa dibohongi...

Coba bayangkan hidupku.

Semua orang mengenal masa laluku.

Kecuali aku.

Rasanya seperti menjadi tokoh utama...

Di buku yang bahkan belum pernah kubaca.

── Kembali ke cerita ──

Henri duduk perlahan di bangku batu.

Untuk pertama kalinya...

Bahu pria tua itu tampak sangat berat.

"Burung layang-layang..."

katanya lirih.

"...dulu bukan organisasi."

Aku mengernyit.

"Lalu?"

"Itu adalah janji."

Aku mengangkat alis.

"Janji?"

Henri mengangguk.

"Tiga puluh tahun lalu..."

"...ada sekelompok orang yang melindungi anak-anak terlantar di Paris."

"Bukan polisi."

"Bukan pemerintah."

"Hanya orang-orang biasa."

"Guru."

"Dokter."

"Seniman."

"Bahkan mantan pencuri."

Marcel tersenyum kecil.

"Aku yang terakhir."

Aku langsung menoleh.

"Jadi kau memang pencuri?"

"Sudah pensiun."

"Berarti benar?"

"Fokus dulu."

Aku mendengus.

"Baik."

Henri melanjutkan.

"Simbol mereka adalah burung layang-layang."

"Karena burung itu..."

"...selalu pulang."

Aku memandangi pin di tanganku.

"Lalu kenapa sekarang ada orang yang membunuh memakai lambang yang sama?"

Henri menutup mata.

"Karena..."

"...seseorang mencuri nama mereka."

Aku mengernyit.

"Hah?"

"Lambang yang sama."

"Nama yang sama."

"Tapi tujuan yang berbeda."

Madame Odette ikut berbicara.

"Dulu..."

"...burung layang-layang berarti harapan."

"Sekarang..."

"...itu berarti ketakutan."

Aku memutar pin itu di jemariku.

Sekarang aku baru sadar.

Di bagian belakangnya...

Ada ukiran yang belum pernah kulihat.

Huruf kecil.

V.D.

"Apa ini?"

tanyaku.

Henri melihat pin itu.

Wajahnya berubah.

"Mustahil..."

"Apa?"

"Itu bukan pin biasa."

"Ya memang bukan."

jawabku.

"Kalau biasa, kita tidak bakal dikejar setengah kota."

Henri sampai terkekeh.

"Leluconmu..."

"...kadang muncul di waktu yang aneh."

"Itu bakat."

Léo langsung menyela.

"Menurutku itu penyakit."

Aku menyikut lengannya.

"Pengkhianat."

Henri mengambil pin itu perlahan.

Ia membaliknya beberapa kali.

Lalu menekan salah satu sisinya.

Klik.

Aku melongo.

"Pinnya bisa dibuka?!"

Bagian tengah pin itu terbuka seperti jam saku mini.

Di dalamnya...

Terselip secarik kertas yang digulung sangat kecil.

Henri menariknya dengan hati-hati.

Madame Odette mengambil kacamata.

"Astaga..."

bisiknya.

"Kertas ini..."

"...masih utuh."

Aku langsung mendekat.

"Isinya apa?"

Henri membuka gulungan itu.

Hanya ada satu alamat.

Rue des Martyrs No. 27

Dan sebuah tanggal.

17 Oktober 2014.

Aku mengernyit.

"Itu..."

"...tanggal apa?"

Henri tidak menjawab.

Justru Marcel yang terlihat membeku.

"Tidak..."

gumamnya.

"Tidak mungkin."

Aku menatapnya.

"Marcel?"

Ia perlahan duduk.

Tangannya mulai gemetar.

"Itu hari..."

"...hari ketika aku menemukanmu."

Jantungku seperti berhenti berdetak.

"Apa maksudmu?"

Marcel menatap lurus ke arahku.

"Hari itu..."

"...aku tidak menemukanmu secara kebetulan."

Aku membelalak.

"Apa?"

"Aku..."

Ia menundukkan kepala.

"...disuruh menjemputmu."

Sunyi.

Tidak ada suara.

Aku bahkan bisa mendengar napasku sendiri.

"Kau..."

kataku lirih.

"...berbohong selama ini?"

"Bukan."

jawab Marcel cepat.

"Aku hanya..."

"...tidak pernah menceritakan semuanya."

Aku tertawa kecil.

Tawa yang hambar.

"Menurutku..."

"...itu definisi bohong."

── Maël kepada kalian ──

Lucu ya.

Dulu aku sering mencuri dompet orang.

Sekarang...

Orang-orang justru mencuri masa laluku.

Dan entah kenapa...

Rasanya jauh lebih menyakitkan.

── Kembali ke cerita ──

Léo mendekat.

Ia menepuk bahuku pelan.

"Maël."

"Hm?"

"Aku tidak tahu siapa keluargamu."

"Tapi..."

"...aku tahu satu hal."

"Apa?"

"Kau marah karena kau peduli."

Aku menatapnya.

"Kalau kau tidak peduli..."

"...kau pasti sudah pergi dari tadi."

Aku menghela napas panjang.

Benar juga.

Kalau aku benar-benar tidak peduli...

Aku pasti sudah kabur.

Tapi aku tetap di sini.

Karena untuk pertama kalinya...

Aku merasa ada kemungkinan menemukan jawaban.

Henri menggulung kembali kertas kecil itu.

"Besok pagi."

katanya.

"Kita ke Rue des Martyrs."

"Ada apa di sana?"

Henri menatapku.

"Tempat semuanya dimulai."

"Tapi hati-hati."

"Kenapa?"

"Karena..."

Ia menunjuk langit Paris.

"Mereka pasti juga tahu alamat itu."

Kami memutuskan bermalam di rumah persembunyian kecil milik Madame Odette.

Léo sudah tertidur lebih dulu di sofa tua.

Marcel duduk di dekat jendela sambil merokok.

Henri membaca surat yang belum dibuka.

Aku?

Aku keluar ke balkon kecil.

Paris terlihat tenang.

Lampu-lampu kota memantul di Sungai Seine.

Turis masih tertawa.

Musisi masih memainkan lagu.

Kota ini seolah berkata...

"Semua baik-baik saja."

Padahal tidak.

Aku menggenggam pin burung layang-layang itu erat.

"Lalu siapa sebenarnya aku..."

gumamku.

Tiba-tiba...

Dari gedung di seberang jalan...

Seseorang mengangkat teropong.

Kilatan lensa memantulkan cahaya bulan.

Aku refleks menoleh.

Namun sosok itu sudah menghilang.

Yang tersisa...

Hanya sebuah kartu remi yang melayang tertiup angin dan jatuh tepat di balkon tempatku berdiri.

Aku mengambilnya.

Itu bukan kartu biasa.

Di bagian belakangnya terdapat gambar seekor rubah berwarna hitam.

Dan tulisan kecil berbahasa Prancis.

"La chasse commence."

"Perburuan dimulai."

Aku menelan ludah.

Firasatku mengatakan...

Orang-orang yang mengejar kami...

Baru saja mengirimkan salam.

1
aytysz
Semangat yaa kak! kalau kakaknya ada waktu luang, boleh dong berkunjung ke profil ku 🤍 di sana ada cerita sederhana yang mungkin kakaknya suka 💙
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!