NovelToon NovelToon
Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Status: sedang berlangsung
Genre:Supernatural / Perubahan Hidup / Peradaban Antar Bintang
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Fajar

Planet 3212—planet sampah paling melarat.

Tri, bocah tujuh tahun, bertahan dari rongsokan—tapi ia menyimpan ingatan insinyur mecha dewa dari kehidupan sebelumnya. Kesalahan pendaftaran melemparkannya ke jurusan tempur paling brutal. Semua meremehkan bocah sampah ini—sampai ia menghancurkan lawan, rancangan "jelek"nya mengguncang forum maestro, dan kekuatan 3S-Agung yang terpendam mulai terkuak.

Diburu Kabut Hitam, dilindungi rival terkuatnya, Tri harus pilih: tunduk—atau bangkit menelan takhta bintang. Dari tumpukan sampah menuju singgasana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 5 — Salah Jurusan

Tri berbalik sebelum rekaman di layar raksasa diputar untuk kedua kali.

Ia tidak menutupi wajah.

Tidak ada gunanya. Anak di layar terlalu kotor untuk dikenali orang kota setelah dibersihkan, dan para pemulung yang mengenalnya sudah tahu ia memang meminum barang buangan.

Rasa malu tidak akan mengisi perut.

Namun suara orang-orang tetap mengikuti punggungnya.

“Kurus sekali.”

“Anak dari luar pagar memang hidup begitu?”

“Vitalis bilang produknya cuma tidak sesuai unsur. Kenapa harus dibuang diam-diam?”

Pertanyaan terakhir membuat langkah Tri melambat.

Berarti orang lain juga mencium ada yang salah.

Ia menyentuh kartu saldo di saku. Bukti paling jelas berada di sebelas kotak yang disembunyikannya. Kalau barang itu ternyata beracun, ia butuh tahu sebelum seluruh persediaan masuk ke tubuhnya.

Untuk mencari informasi, ia membutuhkan Kom.

Untuk keluar dari tempat sampah, ia membutuhkan sekolah.

Tri mempercepat langkah menuju pusat barang bekas.

Kendaraan hitam Hendra meluncur dari samping dan berhenti tepat di depannya.

Pintu terbuka.

“Masuk,” kata Hendra.

“Sepeda yang lo beli rusak?”

“Belum.”

“Servis sebelum rusak bayar.”

“Gue baru lihat muka lo sebesar gedung!” Hendra menunjuk layar jauh di belakang. “Lo benar-benar minum cairan yang dibuang itu?”

Tri naik ke kendaraan dan duduk berhadapan dengannya. “Kalau enggak minum, gue mungkin sudah mati.”

Hendra membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Ia mengambil satu paket makanan dari kompartemen samping dan melemparkannya. “Nih.”

Tri menangkapnya. “Gratis?”

“Anggap bonus karena harga sepeda lo terlalu mahal.”

“Kalau begitu bukan gratis.”

“Makan saja, bangsat.”

Tri membuka paket tersebut. Roti sintetisnya hambar, tetapi ia tetap melipat bungkus dengan rapi dan menyimpannya setelah selesai.

Hendra memperhatikan. “Lo memang semiskin itu?”

“Sekarang gue punya 5.500 kredit.”

“Itu masih miskin.”

“Empat hari lalu saldo gue nol. Pertumbuhan gue tak terbatas.”

Hendra menahan tawa, lalu menyuruh pengemudi menuju pasar elektronik.

Toko Kom bekas memenuhi satu lorong sempit. Model-model lama digantung di balik kaca: tebal, berat, beberapa layarnya retak. Di seberang jalan, toko resmi memamerkan Kom baru dengan pelindung lokasi dan cip cepat seharga puluhan ribu kredit.

Tri masuk ke toko bekas.

Penjual memandang bajunya, lalu menunjuk rak paling bawah tanpa ditanya. “Yang murah di situ. Tidak ada cicilan untuk anak tanpa penjamin.”

“Saya bayar penuh.”

Tatapan penjual berubah sedikit.

Tri menguji lima unit. Dua memiliki sel daya menggelembung. Satu antenanya pernah terbakar. Satu lagi murah tetapi nomor perangkatnya sudah diblokir dari jaringan Federasi.

Unit terakhir tebal dua kali Kom Hendra, dengan goresan melintang di layar. Cipnya lambat, tetapi papan utama bersih dan baterainya masih menyimpan delapan puluh dua persen daya.

“Tiga ribu,” kata penjual.

“Dua ribu.”

“Dua ribu delapan ratus.”

Tri membuka penutup belakang memakai kuku dan menunjukkan satu sambungan yang menghitam. “Modul pengisi dayanya pernah korslet.”

“Masih hidup.”

“Karena pemilik lama mengganti sekering dengan kawat. Dua ribu tiga ratus.”

Penjual mendecak. “Dua ribu lima ratus. Harga mati.”

Tri menghitung biaya modul pengganti di kepala. Ia bisa membuatnya dari sisa pengatur daya sepeda.

“Sepakat.”

Angka pada kartu saldonya turun.

5.500 menjadi 3.000 kredit.

Tri memasang Kom tebal itu pada lengan kiri. Saat diminta membuat identitas jaringan, ia mengetik satu nama.

NgemisDiamDiam.

Hendra membaca dari belakang bahunya. “Ngemis diam-diam? Nama macam apa itu?”

“Nama orang yang baru kehilangan dua ribu lima ratus kredit.”

“Lo membeli alat. Bukan kehilangan uang.”

“Uangnya sudah enggak ada di kartu gue. Berarti hilang.”

Mereka keluar dari toko sambil berdebat.

Dengan Kom, Tri mencari sekolah yang menerima anak tanpa marga dan tanpa penjamin keluarga. Hasilnya sedikit. Sebagian hanya menawarkan kelas pengolahan sampah, operator gudang, atau teknisi saluran.

Sekolah 3212 muncul di urutan terakhir.

Program persiapan Mecha. Pendaftaran terbuka. Anak tanpa wali dapat mendaftar melalui jalur mandiri selama menandatangani pernyataan risiko.

Tri menekan tautan biaya.

Empu Mecha, kelas dasar: 5.000 kredit per masa ajar. Bahan praktik dibeli sendiri.

Ia membaca ulang dua kali.

Lima ribu hanya untuk masuk kelas. Belum bahan. Belum alat. Belum makan.

Di bawahnya ada pilihan lain.

Prajurit Mecha, kelas persiapan B: 1.000 kredit. Mecha latihan disediakan sekolah.

Tri berhenti pada kalimat terakhir.

Mecha latihan disediakan.

Empu Mecha kelas dasar menyuruh murid membeli bahan sendiri, sedangkan kelas B memberi akses ke mesin sekolah dengan seperlima biaya. Baginya, pilihan itu terlalu mudah.

Ia belum memahami pembagian profesi di dunia ini. Dalam ingatan lamanya, orang yang merancang mesin wajib tahu cara mengoperasikannya. Kelas termurah dengan akses langsung ke Mecha terdengar seperti jalur praktik dasar sebelum memilih keahlian.

“Sekolah 3212,” kata Tri. “Antar gue ke sana.”

Hendra membaca layar dari samping. “Lo mau masuk kelas Mecha?”

“Yang paling murah.”

“Gue tahu orang miskin suka diskon. Baru kali ini gue lihat orang memilih masa depan karena diskon.”

“Selama masa depannya menyediakan Mecha, gue ambil.”

Gedung Sekolah 3212 berada di pinggir kota, jauh dari menara utama. Cat pada dindingnya mengelupas. Lapangan latihan dipenuhi bekas hantaman, dan satu lengan Mecha tua terlihat dari balik hanggar.

Tri menatap lengan itu sampai Hendra menarik bajunya.

“Jalan. Lo kelihatan kayak mau mencurinya.”

“Gue cuma lihat sambungan sikunya.”

“Itu kalimat yang akan diucapkan pencuri.”

Ruang pendaftaran hampir kosong. Seorang guru perempuan duduk di balik meja dengan tumpukan formulir. Ia melihat Tri, lalu Hendra dan pengawal yang menunggu dekat pintu.

“Nama?”

“Tri.”

Jarinya menunggu di atas layar. “Nama keluarga?”

“Tidak ada, Bu.”

Guru itu mengangkat mata.

Tri sudah mengenal tatapan tersebut. Orang-orang biasanya berhenti sepersekian detik ketika mendengar seseorang tidak punya marga. Seolah satu nama saja belum cukup untuk disebut manusia lengkap.

Kali ini ia menatap balik sampai guru itu melanjutkan.

“Wali?”

“Sudah meninggal.”

“Jalur mandiri berarti semua risiko ditanggung sendiri. Kau paham?”

“Saya paham.”

“Pilih program.”

Tri membuka daftar dan menunjuk pilihan termurah. “Kelas persiapan B. Yang Mecha latihannya disediakan.”

Guru itu menatap jari kurusnya, lalu tubuh yang bahkan belum pulih penuh dari demam.

“Kau yakin?”

“Biayanya seribu kredit, kan?”

“Benar.”

“Kalau begitu saya yakin.”

Guru itu tampak ingin mengatakan sesuatu. Pada akhirnya, ia hanya memutar layar pernyataan risiko.

Tri membaca cepat: benturan, patah tulang, kerusakan saraf, kecelakaan latihan. Semua kelas teknik punya risiko, pikirnya. Mesin besar tidak pernah ramah kepada tangan ceroboh.

Ia menekan persetujuan.

Saldo berkurang lagi.

3.000 menjadi 2.000 kredit.

Mesin cetak mengeluarkan selembar tanda penerimaan.

SEKOLAH 3212

PROGRAM PERSIAPAN PRAJURIT MECHA — KELAS B

Tri melihat huruf B yang besar, biaya yang sudah lunas, dan tanggal masuk. Ia melipat kertas itu dengan hati-hati.

“Selesai.”

Hendra memandang tulisan PRAJURIT, lalu wajah Tri. “Lo ternyata mau jadi petarung.”

“Gue mau pegang Mecha.”

“Sama saja, kan?”

Mereka berdua berjalan keluar dengan kepuasan orang yang sama-sama belum memahami betapa salahnya kalimat itu.

Di dalam ruang pendaftaran, guru perempuan tadi mengambil formulir Tri sekali lagi.

Tujuh tahun. Tanpa wali. Berat badan di bawah batas. Jalur mandiri.

Ia menatap pintu yang baru tertutup, lalu menghela napas.

“Satu lagi anak yang tidak tahu apa yang ia pilih,” gumamnya. “Semoga kelas B tahun ini tidak perlu menggotong keluar terlalu banyak orang.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!