"Tak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat orang yang kau cintai,
ragu memilihmu demi seseorang yang paling kau benci.
Dan di antara amarah yang membakar serta air mata yang bengkak,
dua jiwa yang terluka dipaksa melangkah di jalan yang sama...
tanpa sadar, bahaya sebenarnya justru sedang mengintai dari jarak paling dekat"
Bagi Lulu, menjadi sosok culun dan tak kasat mata di kantor adalah hal biasa. Namun, di balik penampilannya yang sederhana, senyum hangat dan ketulusannya justru menjadi "racun" paling mematikan bagi dua pria kelas atas.
Angga, manajer berdingin hati yang membenci kesalahan, mendadak kehilangan fokus tiap kali Lulu berada di dekatnya.
Sementara Riko, CEO angkuh yang awalnya
memandang Lulu sebelah mata, malah terjatuh paling dalam akibat sebuah insiden tak terduga. Ketika dua pria berkuasa ini saling berhadapan demi merebut satu perhatian...
siapakah yang akhirnya memenangkan hati Lulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myz Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 : PERSIMPANGAN TAKDIR
Ketegangan di meja makan itu akhirnya mengendur saat Anna melepaskan pertahanan terakhirnya. Sebuah senyuman lembut bercampur raut wajah memohon yang penuh belas kasih.
"Riko, tolong mengerti... Malam ini ada beberapa pasien darurat yang harus aku tangani secara langsung. Nyawa mereka tanggung jawabku," bujuk Anna dengan nada suara yang dirancang sedemikian rupa agar terdengar bersungguh-sungguh.
Riko menatap lekat manik mata Anna, mencari-cari celah kebohongan. Awalnya anak Mahenra itu bersikeras dan enggan melepaskan Anna begitu saja setelah usaha kerasnya memancing sang dokter ke restoran ini. Namun, melihat sorot matanya yang seolah penuh dedikasi dan permohonan tulus, Riko akhirnya mengalah.
"Baiklah...." bisik Riko rendah, merapikan jasnya sembari menatap Anna intens.
"Tapi janji padaku, besok kita harus bertemu lagi kalau kamu tidak sibuk. Dan aku tidak menerima penolakan kedua kali."
Anna mengangguk pelan, menyanggupi ajakan itu sebelum akhirnya berbalik dan melangkah cepat keluar dari restoran mewah tersebut.
Saat kakinya melangkah menembus dinginnya udara malam menuju rumah sakit, rasa sesak mendadak mengimpit dada Anna. Perasaannya berkecamuk hebat menjadi sebuah adonan yang rumit antara rasa kesal karena telah dijebak, namun di sisi lain... ada kehangatan yang tak bisa ia pungkiri bahwa ia memang menginginkan Riko.
Mumpung dirinya belum berhadapan langsung dengan Angga sejak kepulangannya ke Indonesia, Anna memutuskan untuk memanfaatkan momen ini. Ia membiarkan Riko hadir mengisi celah kekosongannya untuk sementara waktu.
"Aku ini munafik sekali..." Batin Anna pada dirinya sendiri, diiringi senyum ketir penuh penyesalan yang samar.
Hatinya benar-benar bertolak belakang. Anna sadar betul, ia tidak sanggup menolak pesona, ketampanan dan kemewahan Riko. Namun di saat yang sama, ia juga tak mampu melenyapkan rasa cintanya yang begitu dalam pada kehangatan Angga.
Anna berada di persimpangan yang kelam. Jika boleh bersikap serakah, hatinya berbisik jujur... andai saja takdir mengizinkan, ia ingin memiliki keduanya sekaligus. Angga untuk memenuhi dahaga jiwanya akan kasih sayang yang tulus dan Riko untuk memuaskan gengsi serta keinginan hatinya akan pesona yang memikat.
Dengan benak yang dipenuhi pergolakan moral dan kepalsuan sikapnya sendiri, Anna melangkah memasuki pelataran rumah sakit. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa beberapa saat yang lalu, mobil Angga baru saja melintas pelan di trotoar yang sama membawa pria yang ia cintai pergi bersama bayangan wanita lain.
Langkah Anna membelah koridor rumah sakit yang beraroma antiseptik dan mulai sepi. Benaknya yang riuh oleh benturan konflik antara Riko dan Angga perlahan coba ia netralkan. Namun, baru beberapa meter melangkah, netranya menangkap sosok seorang gadis bersahaja yang berjalan pelan beberapa meter di depannya.
"Itu Lulu, kan?" Batin anna.
Dari arah belakang, Anna mengamati Lulu yang tampak agak kewalahan membawa dua kantong belanjaan besar penuh berisi roti gandum, buah-buahan segar dan susu.
Sebuah dorongan inisiatif mendadak terlintas di kepala Anna. Selain rasa kemanusiaannya sebagai seorang dokter untuk membantu, ada bisikan lain di hatinya keinginan untuk berbincang santai.
Anna tahu betul bahwa Lulu adalah bawahan Angga di kantor. Siapa tahu, lewat obrolan ringan malam ini, ia bisa menggali informasi lebih dalam tentang kabar, pekerjaan dan kehidupan pria yang sangat ia cintai itu selama ia tinggalkan.
Dengan langkah anggun, Anna mempercepat jalannya mendekati Lulu.
"Permisi... Ada yang bisa saya bantu?" sapa Anna dari arah belakang suaranya terdengar begitu lembut dan menenangkan.
"Eh?!" Lulu tersentak kaget. Ia refleks menghentikan langkahnya dan berbalik cepat. Begitu matanya menangkap sosok wanita cantik berjas dokter di hadapannya dengan paras yang begitu anggun dan wibawa yang memikat membuat Lulu bergegas membungkukkan sedikit badannya sebagai bentuk rasa hormat.
"E-eh, Dokter... Terima kasih banyak...tidak apa-apa....saya bisa bawa sendiri kok," sahut Lulu sedikit canggung dan malu mencoba merapikan pegangan kantong belanjaannya.
Anna tersenyum manis, senyuman hangat yang sanggup meluruhkan rasa canggung siapapun. Tanpa menunggu persetujuan kedua kali, Anna mengulurkan tangannya dan dengan lembut mengambil alih salah satu kantong belanjaan yang paling berat dari jemari Lulu.
"Tidak apa-apa, mari saya bantu... Kelihatannya ini berat sekali" Tutur Anna seraya menyelaraskan langkah kakinya di samping Lulu.
"Kamu mau menuju ke ruang rawat inap mana?"
"Ke ruang rawat sahabat saya, Dokter... Terima kasih banyak ya... jadi merepotkan" Jawab Lulu polos, merasa sangat bersyukur sekaligus takjub dengan keramahan dokter cantik di sebelahnya.
"Sama-sama... Oh ya....sepertinya belanjaannya banyak sekali. Kamu beli sendiri malam-malam begini?"
Tanya Anna memancing pembicaraan dengan nada santai, sembari matanya melirik sekilas ke arah roti gandum berkualitas tinggi dan buah-buahan yang tersusun rapi di dalam kantong tersebut pilihan yang terasa sangat familiar di matanya.
" Oh, I ... ini... tadi ada rekan kerja saya yang bantu memilihkan dan membelikannya, Dokter" Sahut Lulu agak terbata mencoba tersenyum senatural mungkin.
Entah mengapa lidah Lulu terasa sangat berat untuk menyebutkan kata "Manajer" atau "Pak Angga". Di dalam benaknya, rasa gugup dan ketakutan kembali meluap.
Lulu sangat khawatir jika ia terus terang, informasi itu bisa tersebar atau memicu gosip yang tak berdasar di kantornya nanti. Memikirkan rumitnya kabar burung di dunia kerja saja sudah cukup membuat kepalanya terasa berdenyut pusing.
Anna mengangguk-angguk pelan sembari menyusuri koridor di samping Lulu. Senyum manis masih terpatri di wajah sang dokter, namun manik matanya memancarkan rasa ingin tahu yang lebih dalam.
"Wah, perhatian sekali ya rekan kerjamu itu" puji Anna halus, suaranya terdengar kasual seolah hanya percakapan biasa antar wanita.
"Bahkan pilihan buah dan roti gandumnya sangat bagus untuk menjaga stamina saat menjaga orang sakit"
"I-iya, Dokter... dia memang baik" Jawab Lulu canggung, pandangannya lurus menatap lantai koridor.
Anna melirik sekilas ekspresi wajah Lulu yang merona tipis dan tampak salah tingkah. Sebagai wanita, Anna bisa merasakan ada kedalaman emosi di balik nada suara Lulu setiap kali membicarakan "rekan kerja" tersebut.
Tanpa menyadari bahwa pria baik yang sedang mereka bicarakan adalah Angga sosok yang sama-sama mengisi relung hati mereka. Anna terus melangkah berdampingan dengan Lulu menuju ruang rawat inap.
Obrolan hangat itu mengalir pelan di antara keheningan koridor rumah sakit, membawa dua wanita yang tak saling tahu takdir rumit mereka bergerak semakin dekat ke arah ruangan Lastri.
Sebelum pijakan kaki mereka sampai di depan pintu ruangan tempat sahabatnya dirawat, Lulu memberanikan diri menoleh dan bertanya pelan.
"Dokter Anna sendiri... apakah malam ini masih ada tugas jaga dan tetap bertahan di rumah sakit?"
"Kebetulan malam ini pasien di UGD tidak terlalu ramai" Ucap Anna dengan tersenyum tipis dan nada suara yang tenang.
"Saya sudah bertukar sif dengan rekan sejawat saya untuk berjaga malam ini. Jadi setelah ini saya bisa langsung pulang ke rumah untuk istirahat lalu kembali lagi besok pagi" Ucap Anna kemudian balik menatap Lulu, memperhatikan raut lelah namun tulus di wajah gadis berkacamata itu.
"Kalau kamu sendiri bagaiamana, Lulu? Apakah kamu berniat untuk bermalam di sini menemani sahabatmu?"
"Iya, Dokter" Angguk Lulu mantap tanpa ragu.
"Malam ini saya memang berniat bermalam di rumah sakit untuk menemani dan menjaga Lastri"
Mendengar hal tersebut, Anna mengangguk paham penuh empati. Ketulusan Lulu untuk hadir demi sahabatnya membuat Anna mengagumi kepribadian gadis di sampingnya ini. Langkah mereka pun akhirnya terhenti tepat di depan pintu kamar rawat inap yang dituju.
Begitu berdiri di depan pintu kamar rawat inap Lastri, Lulu mengambil alih kantong belanjaan yang tadi dibawakan oleh Anna.
"Dokter Anna, terima kasih banyak ya sudah merepotkan diri membantu membawakan belanjaan saya... padahal sebenarnya tidak begitu berat " tutur Lulu tulus mengulas senyum hangat seraya kembali membungkukkan badannya sedikit sebagai tanda hormat.
Anna tertawa kecil, melambaikan tangannya pelan.
"Sama-sama... Lulu. Sama sekali tidak merepotkan, kok. Senang bisa mengobrol denganmu" Ucap Anna menepuk pelan bahu Lulu sebelum berbalik.
"Kalau begitu, saya pamit pulang dulu ya. Salam untuk sahabatmu, semoga cepat sembuh... dan kamu jangan lupa istirahat juga"
"Iya, Dokter. Hati-hati di jalan!" sahut Lulu melepas kepergian sang dokter.
Dengan lambaian tangan singkat, Anna membalikkan badan dan melangkah anggun menelusuri kembali koridor rumah sakit. Anna memutuskan untuk tidak langsung pulang. Ia berbelok arah menuju ruang khusus dokter jaga yang berada di lantai tersebut.
Ia mengambil laptop miliknya yang tersimpan di atas meja, memastikan perangkat kerja itu masuk ke dalam tas jinjingnya dengan aman. Setelah itu, matanya beralih ke sudut ruangan tempat beberapa helai baju dinas medisnya yang sudah kotor tergantung di gantungan pakaian.
Setelah semua barang bawaannya beres, Anna kembali menyampirkan tasnya di bahu, siap untuk meninggalkan rumah sakit dan beristirahat di rumah setelah malam yang cukup melelahkan ini.
Sementara itu, Lulu menarik napas dalam-dalam mencoba menenangkan sisa-sisa debaran dadanya dari rentetan kejadian malam ini, sebelum akhirnya memutar gagang pintu dan masuk ke dalam ruangan untuk menemani Lastri.
Tanpa keduanya sadari, takdir baru saja mempertemukan dua wanita yang kini hidupnya terpaut pada satu nama pria yang sama.
(Terima kasih sudah membaca sampai bab ini! Bagaimana menurut kalian alur yang baru ini? Jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya, dukungan kalian sangat berarti buat aku) 🥹🥹❤️
semangat thor
jadi penasaran nih lanjut baca..