"Aku bertahan bukan karena masih mencintaimu. Tapi, aku bertahan untuk memastikan kalian menyesal."
Alena selalu berusaha menjadi istri yang sempurna, setia, penurut dan, selalu percaya pada suaminya.
Namun, sejak setahun terakhir, Arsen selalu bersikap dingin padanya. Dia masih bisa berpikir positif, jika semua itu karena pekerjaan. Dan, dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dengan sepenuh hati.
Sampai, ia menemukan ponsel kedua milik Arsen dan mengetahui bahwa pria yang ia cintai selama ini ternyata telah mengkhianatinya.
Lucunya, semua orang tahu tentang perselingkuhan itu, kecuali dirinya.
Dan, sejak saat itu, Alena berubah. Ia menghapus air matanya, berhenti menjadi istri yang bodoh. Dan, mulai membangun hidupnya sendiri.
Dalam hati, ia bersumpah akan membalas suami dan selingkuhannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Hari Pertama Bekerja
Keesokan paginya, Arsen sudah siap dengan pakaian kerjanya. Ia meraih tas dan keluar dari kamar untuk bergabung dengan yang lain di ruang makan. Lebih tepatnya, ia ingin menemui Alena dan menegurnya.
Semalam saat pulang, lagi-lagi Alena tidak berada di kamar mereka. Ia bahkan sempat menggedor pintu kamar tamu, tempat Alena tidur beberapa hari terakhir, tetapi tidak mendapat jawaban.
Meski begitu, saat ia bangun pagi, semua keperluan kerjanya sudah tertata rapi seperti biasa.
Senyum tipis pun terukir di bibirnya. Setidaknya, teguran Mamanya kemarin sedikit menyadarkan Alena.
Namun, sesampainya di ruang makan, Arsen tidak melihat wanita itu. Ia mengerutkan kening lalu menoleh pada Santi yang sedang menata makanan di meja.
"Di mana Alena?" tanyanya.
Santi tampak ragu sejenak sebelum menjawab, "Nyonya sudah pergi sejak pagi, Tuan."
"Lagi?" Arsen mengembuskan napas panjang. "Sebenarnya dia pergi ke mana? Kenapa akhir-akhir ini selalu keluar pagi-pagi?"
"Itu..." Santi menggigit bibirnya. "Sepertinya Nyonya mulai bekerja hari ini, Tuan."
"Bekerja?" Arsen menatapnya tak percaya.
"Iya, Tuan. Nyonya memakai pakaian kerja dan mengatakan mulai hari ini beliau mungkin akan pulang lebih larut."
Arsen langsung mendengus kasar. "Bagus sekali, Alena. Jadi, kamu benar-benar ... " Ia tidak melanjutkan ucapannya. Lalu, pandangannya beralih ke meja makan. Tidak ada kopi hangat yang biasanya sudah tersedia untuknya.
Entah mengapa, hal kecil itu membuat perasaannya semakin tidak nyaman.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia meraih kunci mobil dan memilih berangkat ke kantor.
Sementara itu, Alena sudah berada di dalam bus menuju perusahaan besar dengan logo WIN Group.
Wajahnya tampak cerah dan penuh semangat seolah merasa memiliki harapan baru. Ia menatap pemandangan di luar jendela sambil tersenyum kecil.
"Semoga setelah hari ini, semuanya akan menjadi lebih baik," batinnya.
Tidak lama kemudian, bus berhenti di halte yang berada tidak jauh dari gedung perusahaan. Alena turun dan berjalan santai menuju gedung megah itu.
Dan, begitu kakinya melangkah masuk ke lobby, jantungnya kembali berdetak kencang. Ia mengembuskan napas pelan beberapa kali untuk menenangkan diri sebelum akhirnya menghampiri meja resepsionis.
"Permisi, saya Alena. Kemarin saya mengikuti wawancara di sini. Tadi malam, saya mendapat informasi bahwa saya diterima bekerja."
"Oh, baik. Sebentar, ya, Bu."
Resepsionis itu memeriksa data di komputernya, lalu tersenyum ramah.
"Alena Revi Ananta?"
"Iya, benar."
"Selamat bergabung dengan perusahaan kami, Bu Alena. Hari ini Anda akan bertemu dengan Manajer HRD untuk menandatangani kontrak kerja."
Senyum Alena semakin lebar. "Terima kasih."
"Sama-sama. Untuk saat ini, Anda bisa langsung menuju lantai empat. Nanti akan ada staf yang membantu proses administrasinya."
Alena mengangguk pelan. "Baik. Terima kasih banyak."
Setelah mengucapkan terima kasih sekali lagi, ia melangkah menuju lift. Tangannya tanpa sadar mengepal kecil, menahan rasa gugup sekaligus bahagia.
Hari pertamanya telah dimulai, dan ia bertekad tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Sesampainya di lantai empat, Alena di arahkan ke sebuah ruangan HRD. Ia melangkah masuk dan tersenyum sopan pada pria paruh baya yang duduk di balik meja.
"Selamat pagi, Pak."
"Selamat pagi, Nona Alena. Silakan duduk."
Alena segera duduk.
"Pertama-tama, selamat bergabung dengan WIN Group."
"Terima kasih, Pak."
Pria itu menyerahkan sebuah map kepadanya.
"Ini kontrak kerja Anda. Silakan dibaca terlebih dahulu. Jika tidak ada masalah, Anda bisa langsung menandatanganinya."
Alena menerima map itu dan membacanya sekilas. Setelah yakin tidak ada yang perlu ditanyakan, ia mengambil pena dan membubuhkan tanda tangannya.
"Sudah, Pak."
"Baik. Mulai hari ini, Anda resmi menjadi bagian dari WIN Group."
Senyum Alena mengembang. "Terima kasih atas kesempatannya, Pak. Saya akan bekerja dengan baik."
"Saya harap begitu." Pria itu lalu kembali membuka berkas di mejanya. "Oh, ya. Setelah ini, Anda diminta naik ke lantai dua puluh lima untuk menemui Tuan Doni."
Alena tampak bingung. "Tuan Doni?"
"Iya. Beliau sudah menunggu Anda."
"Apa ada masalah dengan berkas saya, Pak?"
"Tidak ada. Saya hanya menjalankan perintah."
"Baiklah."
Alena bangkit dari duduknya dan membungkuk sopan. "Kalau begitu, saya permisi."
"Silakan."
Alena mengikuti instruksi Manajer HRD untuk menemui Tuan Doni di lantai dua puluh lima.
Sepanjang perjalanan, berbagai pertanyaan memenuhi pikirannya.
Siapa sebenarnya Tuan Doni? Apa dia pemilik perusahaan ini? Atau... Apakah ini ada hubungannya dengan statusnya sebagai istri Arsen Bhaskara?
Meski dipenuhi rasa penasaran, hatinya tetap sedikit lebih tenang. Bagaimanapun, ia sudah resmi diterima bekerja di perusahaan ini.
Beberapa saat kemudian, Alena sampai di depan ruangan yang dimaksud. Ia mengangkat tangannya dan mengetuk pintu.
TOK! TOK! TOK!
"Masuk."
Alena membuka pintu perlahan dan melangkah ke dalam.
"Selamat pagi, Tu... Tuan Doni," sapanya pelan.
Ia menelan ludah ketika menyadari bahwa pria di hadapannya adalah orang yang mewawancarainya kemarin.
Doni tersenyum tipis. "Selamat pagi, Alena. Selamat bergabung di WIN Group."
"Terima kasih, Tuan."
"Kamu pasti penasaran kenapa aku memanggilmu ke sini, bukan?"
Alena mengangguk pelan.
"Begini." Doni menyatukan kedua tangannya di atas meja. "Setelah mempertimbangkan banyak hal, kami memutuskan untuk menerimamu bekerja di sini. Namun, kami juga tidak bisa mengabaikan fakta bahwa kamu adalah istri Tuan Arsen Bhaskara."
Alena langsung mengerti ke mana arah pembicaraan itu.
"Saya mengerti, Tuan. Tapi, saya bisa menjamin bahwa saya datang ke sini murni untuk bekerja dan, saya tidak memiliki maksud lain."
Doni mengangguk. "Aku harap begitu. Bagaimanapun juga, Tuan Arsen adalah salah satu rekan bisnis kami. Namun, dalam dunia bisnis, persaingan tidak bisa dihindari."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Jika suatu hari nanti perusahaan ini berhadapan dengan perusahaan suamimu, aku harap kamu tetap profesional dan berdiri di pihak perusahaan tempatmu bekerja."
Tatapan Alena berubah tegas. "Tentu, Tuan. Saya akan bekerja sebaik mungkin untuk perusahaan ini."
Ia menarik napas pelan. "Dan, jika suatu hari kepentingan perusahaan ini bertentangan dengan perusahaan suami saya, maka saya akan tetap menjalankan tanggung jawab saya sebagai karyawan WIN Group."
Doni sedikit terkejut mendengar jawaban setegas itu. Ia hanya menatap Alena beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum tipis. Lalu, Ia bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangan. "Kalau begitu, sekali lagi, selamat bergabung di WIN Group, Alena."
Alena segera berdiri dan membalas uluran tangan itu. "Terima kasih, Tuan."
klo istrinya bodoh diem damai hatimu..sekaramg istrimu sudah sadar dia pintar dan berguna bukan orng bodoh yg cima diam tak berdaya di perlakukan semena mena..tunggu langkah selanjutnya
makin seru thor, lanjut...