NovelToon NovelToon
SISTEM HEWAN KONTRAK TERKUAT

SISTEM HEWAN KONTRAK TERKUAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Balas Dendam / Summon
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Saat ujian SMA, Rio menjadi bahan tertawaan satu sekolah karena mengontrak seekor monyet kurus dekil tingkat Warrior (Trash-Rank). Semua orang menganggap masa depannya hancur, namun sebuah panel gaib tiba-tiba muncul di hadapannya:

[Ding! Sistem Push Rank Immortal Aktif!][Target: Monyet Lumpur (Identitas Asli: Sun Wukong - Segel Dewa)][Status Pengguna: SSS-Rank Hidden Power]

Di saat murid lain sibuk pamer kekuatan di sekolah, Rio memilih "mabar" di Dungeon terlarang bersama lima hewan mitologi miliknya: Sun Wukong, Serigala Kegelapan, Qilin, Phoenix, dan Ratu Laba-laba. Ketika gerbang bencana dunia jebol, Rio melangkah maju membawa squad top globalnya yang sudah berada di tier MYTHICAL IMMORTAL!

Siapa bilang dia salah kontrak?

#System #SunWukong #Overpowered #HiddenPower #Evolution #Mythology

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Raymond

Mereka tiba di gang kecil tanpa nama pukul dua belas lewat tujuh menit.

Perjalanan turun dari lembah lebih cepat dari perjalanan naik — tiga belas tahun Adrian tidak bergerak jauh ternyata tidak menghapus ingatan tubuhnya tentang cara menuruni medan yang tidak rata, dan Rio yang sudah dua kali melewati jalur ini dalam dua puluh empat jam terakhir berjalan dengan ritme yang sudah hafal di mana tanah licin dan di mana akar pohon menyembul.

Mereka tidak banyak bicara di perjalanan turun.

Bukan karena tidak ada yang perlu dibicarakan — ada sangat banyak yang perlu dibicarakan, terlalu banyak untuk dimulai di tengah jalan setapak yang menuntut sebagian perhatian untuk dijaga agar tidak tersandung. Jadi mereka berjalan dalam keheningan yang sudah terasa berbeda dari keheningan semalam di ruangan batu — lebih ringan, lebih bergerak, lebih seperti jeda antara dua bagian percakapan yang panjang daripada keheningan yang berdiri sendiri.

---

Dari ujung gang, Rio melihatnya pertama.

Seseorang berdiri di depan pagar kayu miring rumah Pak Darmawan — kemeja putih bersih yang sudah dikenal Rio dari tiga kali pertemuan sebelumnya, dengan satu tangan di saku dan tangan lain memegang cangkir kopi yang dari cara uapnya sudah tidak ada jelas sudah lama dingin.

Raymond Pratama.

Yang tidak Rio perkirakan adalah bahwa Raymond sudah di sana — bukan baru tiba, bukan sedang berjalan mendekat. Sudah di sana, dengan postur seseorang yang sudah berdiri di titik itu cukup lama untuk menemukan posisi yang paling nyaman dan berhenti mencari posisi yang lebih nyaman lagi.

Menunggu.

Rio menoleh ke Adrian di sampingnya.

Adrian sudah melihat Raymond dari jarak yang sama.

Dan berhenti berjalan.

---

Tiga detik.

Lima.

Sepuluh.

Dua orang yang berdiri di ujung-ujung gang kecil tanpa nama yang lebarnya tidak cukup untuk dua truk berpapasan, dipisahkan oleh mungkin tiga puluh meter jarak dan tiga belas tahun waktu, tidak bergerak dan tidak berbicara selama hampir satu menit penuh.

Rio berdiri di antara mereka — satu langkah di depan Adrian, satu langkah di belakang jarak yang terasa perlu dijaga untuk membiarkan momen ini menjadi milik dua orang yang memang punya klaim lebih tua atas momen ini daripadanya.

Wukong di pundaknya tidak mencicit.

Serigala di sisinya tidak bergerak.

Bahkan Abyssal Goddess Weaver di lekukan bahu kirinya tidak berdenyut.

Semua menunggu.

---

Raymond yang bergerak pertama.

Bukan langkah besar. Bukan berjalan cepat. Hanya menurunkan cangkir kopinya yang sudah dingin ke atas pagar kayu yang miring di sampingnya, melepaskan pegangannya pada benda itu, dan berdiri dengan kedua tangan kosong di sisi tubuhnya.

Gestur yang sangat kecil.

Yang dalam bahasa tubuh seseorang yang sudah dua puluh dua tahun terlatih untuk selalu punya sesuatu di tangan — alat, senjata, tablet, cangkir, apapun — berarti sesuatu yang jauh lebih besar dari yang terlihat.

Adrian melihat gestur itu.

Dan mulai berjalan.

Langkahnya pertama pelan. Kemudian tidak pelan. Bukan berlari — terlalu tua untuk berlari dengan lutut seperti ini dan terlalu bangga untuk melakukannya bahkan kalau lututnya baik-baik saja — tapi berjalan dengan kecepatan seseorang yang sudah tidak punya kesabaran untuk jarak tiga puluh meter terasa lebih lama dari yang seharusnya.

Raymond juga mulai berjalan.

---

Mereka bertemu di tengah gang.

Tidak ada pelukan yang dramatis. Tidak ada kata-kata pembuka yang sudah disiapkan. Raymond mengangkat tangannya — tangan kanan, terbuka — dan Adrian menerimanya, dan keduanya berdiri di tengah gang sempit itu dengan tangan yang saling menggenggam dengan cara yang menahan terlalu banyak untuk bisa disebut jabat tangan biasa tapi tidak berubah menjadi hal lain karena keduanya adalah orang yang sudah terlalu lama terlatih untuk tidak berubah menjadi hal lain di tempat yang bisa dilihat orang.

Kemudian Raymond berbicara.

Satu kalimat.

Sangat pelan, sangat tidak dramatis, dengan nada yang persis sama dengan nada seseorang yang menyapa tetangga di pagi hari.

"Kamu kurus sekali."

---

Adrian tertawa.

Bukan tawa panjang. Hanya satu suara pendek yang keluar sebelum bisa ditahan, dengan cara tawa yang muncul bukan karena sesuatu lucu melainkan karena ada ketegangan yang sangat besar yang tiba-tiba menemukan satu-satunya jalan keluarnya yang tersedia dan mengambil jalan itu sebelum ada yang bisa mencegahnya.

Raymond tidak tertawa tapi sudut bibirnya bergerak dengan cara yang berarti hal yang sama.

"Tiga belas tahun," kata Adrian setelah tawa singkat itu selesai. "Dan komentar pertamamu tentang berat badan."

"Komentar pertama saya adalah fakta," kata Raymond. "Sisanya nanti."

---

Rio berdiri di belakang mereka berdua, menatap punggung dua orang yang usianya masing-masing sudah di atas empat puluh, berdiri di tengah gang sempit di kota kecil yang namanya tidak muncul di rekomendasi pertama aplikasi peta manapun, berbicara tentang berat badan setelah tiga belas tahun tidak bertemu.

Ada sesuatu yang hampir lucu tentang itu.

Tapi lebih banyak sesuatu yang tidak lucu sama sekali — lebih banyak sesuatu yang beratnya tidak bisa diukur dan tidak perlu diukur karena beberapa hal memang lebih baik dibiarkan punya beratnya sendiri tanpa seseorang mencoba mengkategorikannya.

Wukong mencicit sangat pelan di dekat telinga Rio.

"Iya," bisik Rio. "Gue juga lega."

---

Pintu rumah Pak Darmawan terbuka.

Adik Pak Darmawan muncul di teras dengan celemek yang masih sama — noda tepung di sisi kanan yang mungkin berbeda dari kemarin tapi Rio tidak bisa memastikan — menatap tiga orang yang berdiri di gang depan rumahnya dengan ekspresi seseorang yang sudah diberitahu cukup oleh kakaknya untuk tidak terkejut oleh apapun yang terjadi hari ini tapi tetap perlu satu detik untuk menyesuaikan diri dengan kenyataan bahwa hal yang diberitahu itu ternyata benar-benar terjadi.

"Makan siang sudah siap," katanya. Kemudian menatap Adrian khusus. "Bapak pasti lapar."

Adrian menatap perempuan yang tidak ia kenal itu, kemudian ke Rio.

"Adiknya Darmawan," Rio menjelaskan singkat. "Masak nasinya enak."

Adrian menoleh kembali ke perempuan itu. "Terima kasih sudah menjaga kakak saya."

Perempuan itu — yang mungkin tidak pernah dipanggil *menjaga* oleh siapapun untuk hal yang sudah ia lakukan selama berminggu-minggu terakhir menyimpan rahasia kakaknya tanpa bertanya terlalu banyak — mengangguk sekali dengan cara seseorang yang menerima pengakuan itu dan menyimpannya di tempat yang benar sebelum kembali ke urusan yang lebih konkret.

"Masuk. Nasi keburu dingin."

---

Makan siang berlangsung di meja kecil ruang makan yang kursinya tidak cukup untuk semua orang sehingga Rio mengambil posisi di lantai dengan piring di pangkuan — pilihan yang ia buat sebelum ada yang menawarkan apapun karena lantai tidak membutuhkan negosiasi.

Pak Darmawan duduk di ujung meja, lebih ringan dari kemarin dalam cara yang tidak bisa dijelaskan secara fisik tapi sangat terasa — seperti seseorang yang sudah lama membawa sesuatu dan baru saja meletakkannya.

Adrian dan Raymond duduk bersebelahan dengan cara dua orang yang sudah sangat lama tidak duduk bersebelahan dan tubuh mereka perlu sedikit waktu untuk mengingat kembali jarak yang nyaman.

Makan berlangsung dengan percakapan yang ringan — tentang makanan, tentang cuaca di kota kecil ini, tentang berapa lama perjalanan kembali ke kota. Tidak ada yang menyebut Hana. Tidak ada yang membahas rencana. Tidak ada yang mengangkat hal-hal berat yang sudah menunggu di luar pintu rumah sederhana ini.

Karena ada waktu untuk semua itu.

Dan waktu makan siang bukan waktunya.

---

Setelah makan, saat adik Pak Darmawan sudah kembali ke dapur dan Pak Darmawan sudah mengantuk di kursi rotannya, Raymond menarik Rio ke teras.

Berdiri di samping pot tanaman yang terlalu rimbun, berbicara pelan.

"Bagaimana kondisinya?" tanya Raymond. Tidak perlu disebutkan siapa yang dimaksud.

"Lututnya tidak bagus," jawab Rio sama pelannya. "Tapi pikirannya tajam. Mungkin lebih tajam dari sebelumnya."

Raymond mengangguk. "Hana sudah mulai bergerak lebih aktif seminggu terakhir. Tim intelijen saya mendeteksi peningkatan aktivitas sensor nasional di radius yang mengarah ke daerah ini."

"Berapa lama kita punya waktu?"

Raymond menatap ke arah pintu rumah yang tertutup — ke arah ruang makan di mana Adrian sedang berbicara pelan dengan Pak Darmawan tentang sesuatu yang tidak bisa didengar dari teras.

"Cukup untuk kembali ke kota sebelum mereka mempersempit radius." Raymond menatap Rio. "Tidak cukup untuk berlambat-lambat."

Rio menatap kota kecil di luar gang — jalan utama yang lebarnya tidak cukup untuk dua truk, deretan toko yang separuhnya sudah tutup, udara yang lebih berat dan lebih harum tanah dari kota.

"Besok pagi kita berangkat," kata Rio.

Raymond mengangguk.

"Dan sesampainya di kota—" Rio berhenti sebentar. "Kita mulai."

Raymond tidak bertanya mulai apa.

Keduanya sudah tahu.

---

Di dalam rumah, melalui jendela yang terbuka setengah, suara Adrian dan Pak Darmawan berbicara mengalir keluar ke teras — terlalu pelan untuk didengar kata-katanya, tapi cukup untuk didengar nadanya.

Dua orang tua yang sudah sangat lama tidak berbicara, menemukan kembali ritme percakapan yang rupanya tidak pernah benar-benar hilang — hanya menunggu di tempat yang sama dengan tempat semua hal yang tidak hilang menunggu.

Rio menyandarkan punggungnya ke dinding teras, menatap langit sore yang sudah mulai kehilangan warna birunya.

Besok mereka kembali ke kota.

Besok perang yang sesungguhnya dimulai.

Tapi sore ini, di teras rumah sederhana di gang kecil tanpa nama di kota kecil yang tidak ada di rekomendasi pertama peta manapun, Rio membiarkan sore ini menjadi sore ini saja.

Wukong mencicit pelan dari pundaknya.

"Iya," kata Rio. "Besok."

Perjalanan kembali ke kota. Di dalam bus, Adrian melihat dunia yang sudah tiga belas tahun berubah tanpa ia di dalamnya. Dan Kevin Aditya Pratama, di rumahnya yang besar dan nyaman, menerima pesan dari ayahnya yang isinya membuat ia duduk sangat diam di tepi ranjangnya selama hampir sepuluh menit.*

1
SANG
Lanjut cek....
SANG
Iklan untukmu brooooo👍💪💪💪👍👍👍👍
SANG
Hadiah bunga untukmu thor👍💪👍💪/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG
Semangat ya💪💪💪💪💪
SANG
Aku datang sebagai tamu baru👍👍👍👍
,
lanjut
the misterius author 🐐: nanti malam kita lanjut kan ua bg
total 1 replies
Benni Yong
mantab
Jacky Hong
jadi gk sabar pengen liat si MC jadi kuat thor
semangat upnya thor
Benni Yong: dah tak kasih vote hari ini thor
akun baru soalnya yang akun Jacky kena hapus😁
total 2 replies
Jacky Hong
gas trus up thor
semangat dah tak krim kopinya👍
the misterius author 🐐: setiap hari minggu update 3 bab bg kalau hari biasa update 2 bab bg nanti kan jadwal nya ya bg jangan lupa ajak teman teman abg baca juga
total 1 replies
SANG
Beken deh, sip deh, tenar deh, mantap deh, keren deh, pokonya top mar ko top deh. Bintang sepuluh untukmu Thor.
SANG
Namanya mulai beken💪👍
the misterius author 🐐: udah mulai tenar kah bg 🤣
total 1 replies
SANG
Namamu pasti ku ingat💪👍
the misterius author 🐐: jangan di ingat thor 🤣
total 2 replies
SANG
Semangat. Lanjut💪👍
the misterius author 🐐: parah parah emang wkwk
total 9 replies
SANG
Bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/Sembilan belas
SANG: Haha🤣🤣🤣👍👍👍
total 2 replies
SANG
Mantap banget💪👍
SANG
Pokonya keren deh💪👍
SANG
Keren deh💪👍
the misterius author 🐐: ok thor😍
total 3 replies
SANG
Wah novel baru lagi ya Thor💪👍
the misterius author 🐐: pokok nya fresh trus thor
total 6 replies
Jacky Hong
buat chpter 6 tak kasi kopi biar semungut upnya Thor
klo bsa up besok 2 chpter🤣
the misterius author 🐐: novel kita ogah main tingal bg
total 4 replies
Jacky Hong
lanjut up thor👍
the misterius author 🐐: sudah up bg 🤣
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!