Aku menyelamatkannya dari kubangan lumpur, tapi dia justru menenggelamkanku ke dalam derita."
Anita hidup dalam kesempurnaan. Dia memiliki kehormatan, kekayaan, dan Randy suami tercinta yang telah ia temani berjuang dari nol hingga sukses menjadi pengusaha properti kaya raya.
Namun, menara kebahagiaan itu runtuh seketika saat takdir mempertemukannya kembali dengan Valeria, sahabat masa kecilnya yang telah terpisah selama 15 tahun.
Iba melihat nasib Valeria yang miskin dan terjerumus menjadi wanita malam, Anita dengan tulus mengulurkan tangan. Dia membawa Valeria masuk ke dalam kehidupannya dan memberikannya pekerjaan terhormat sebagai karyawan di kantor Randy.
Anita tidak pernah tahu bahwa malam pertama Valeria terjun ke dunia malam, pelanggan pertamanya adalah Randy. Dan sejak malam terkutuk itu, keduanya telah bermain api di belakangnya.
Valeria yang digerogoti rasa iri mendalam atas kemewahan Anita, mulai melancarkan aksi liciknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BI STORY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Umpan dan Jerat
Pagi-pagi sekali, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Randy saat pria itu baru saja selesai memakai dasinya di depan cermin kamar.
“Mas, kalau hari ini kamu nggak nemuin aku di rumahku, aku bakal dateng ke rumah kamu dan ceritain semuanya ke Anita. Aku bener-bener ketakutan setelah kejadian semalam, Mas. Aku butuh kamu sekarang.”
Randy meneguk ludah, buru-buru menghapus pesan dari Valeria itu dengan tangan sedikit gemetar. Sifat paranoid Valeria mulai membuatnya pusing, tapi dia tidak punya pilihan selain menuruti kemauan pelakor itu demi menjaga rahasianya tetap aman.
Begitu Randy melangkah turun ke meja makan, Anita sudah berdiri di sana sembari merapikan beberapa lembar dokumen. Wajahnya tampak begitu segar dan penuh senyum.
"Pagi, Mas. Ini, buru-buru ditandatangani dulu sebelum kamu berangkat kantor," ucap Anita manis, menyodorkan sebuah map kulit berwarna hitam beserta sebatang pulpen.
"Surat apa ini, Nit?" tanya Randy, mengernyitkan dahi sembari melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
"Itu surat pengalihan aset ruko yang di Jakarta Selatan, Mas. Kan bulan lalu kamu sendiri yang janji mau balik nama ruko itu atas nama Vano buat jaminan investasi masa depannya," bohong Anita dengan nada manja yang sangat meyakinkan.
Padahal, ruko itu adalah salah satu aset dengan nilai jual tertinggi milik Randy.
Kepala Randy yang terlanjur pening memikirkan ancaman Valeria, ditambah rasa bersalahnya pada Anita karena urusan semalam, membuat pria itu kehilangan ketelitiannya. Tanpa membaca lembar demi lembar berkas itu dengan saksama, Randy langsung membubuhkan tanda tangannya di atas meterai.
"Udah kan? Yaudah, Mas berangkat kantor dulu ya, Nit," pamit Randy tergesa-gesa, mengecup kening Anita sekilas sebelum menyambar tas kerjanya dan melangkah keluar rumah.
Anita menatap kepergian suaminya dengan senyum miring yang sarat akan kemenangan. Jemarinya mengelus lembaran tanda tangan Randy.
"Satu aset berharga kamu lepas hari ini, Mas. Dan kamu bahkan nggak sadar," batin Anita dingin.
Siang harinya, Anita melakukan pertemuan profesional di sebuah ruangan privat sebuah kafe tersembunyi bersama Trian. Pria itu tampak gagah mengenakan kemeja formal dengan lengan yang digulung hingga siku.
"Ini berkas rukonya, Trian. Randy udah tanda tangan tanpa curiga sedikit pun," ujar Anita, menyodorkan map hitam tadi ke atas meja.
Trian mengambil berkas tersebut, memeriksanya sejenak, lalu tersenyum puas hingga lesung pipitnya menyembul.
"Bagus. Tim hukum gue bakal langsung proses ini ke BPN siang ini juga. Secara legal, ruko itu sudah resmi terputus dari harta Randy dan mutlak jadi hak milik anak lo."
"Makasih banyak, Trian. Tanpa bantuan koneksi lo, prosesnya nggak bakal bisa secepat ini," ucap Anita tulus.
Trian meletakkan dokumen itu, lalu memajukan tubuhnya, menatap Anita dengan raut serius.
"Nit, intelijen swasta gue baru aja kasih laporan. Randy nggak ada di kantornya siang ini. Dia baru aja ngelakuin penarikan tunai dalam jumlah besar di bank, dan sekarang mobilnya terpantau menuju ke arah rumah sewa Valeria."
Anita mengangguk pelan, sama sekali tidak terkejut.
"Valeria pasti lagi ketakutan setengah mati setelah insiden restoran semalam. Dia pasti mendesak Randy buat dateng."
"Lo mau gue kirim orang buat pantau mereka?" tawar Trian.
"Nggak perlu, Trian. Biarin aja mereka bersenang-senang dulu di atas penderitaan orang lain. Makin tinggi mereka terbang, makin hancur mereka waktu kita hempaskan nanti," desis Anita dengan tatapan mata yang sangat tajam.
Sementara itu, di dalam rumah sewa mewah milik Valeria, suasana tampak begitu intim namun penuh kepalsuan.
Randy baru saja meletakkan tujuh gepok uang tunai di atas meja kaca untuk menenangkan selingkuhannya yang sejak tadi menangis sesenggukan. Valeria yang mengenakan gaun tidur tipis langsung menghambur ke dalam pelukan Randy, mengalungkan tangannya erat-erat di leher pria itu.
"Mas... aku takut banget. Aku ngerasa posisi aku terancam banget sekarang," isak Valeria manja, sengaja menggesekkan tubuhnya ke dada Randy demi memancing gairah pria itu.
"Kamu aman sama aku, Val. Uang itu cukup buat kamu belanja dan tenangin diri beberapa minggu ke depan," ujar Randy, mulai terbuai oleh aroma parfum Valeria yang memabukkan.
Valeria mendongak, menatap Randy dengan tatapan mata yang penuh kabut obsesi gila. Sembari membalas kecupan Randy yang mulai menuntut, pikiran Valeria melayang pada pil KB yang sudah dia buang habis kemarin.
“Gue nggak butuh uang receh ini, Randy. Yang gue butuhin adalah benih lo di dalam rahim gue. Gue harus hamil anak lo minggu ini juga, biar Anita yang songong itu mati kutu dan lo nggak akan pernah bisa lepasin gue!” batin Valeria penuh obsesi gila, sebelum akhirnya menyeret Randy kembali ke dalam pusaran dosa yang semakin dalam.
Tiga hari kemudian, suasana di kediaman mewah Randy dan Anita tampak sangat sibuk. Ruang keluarga dipenuhi dengan beberapa tumpuk contoh souvenir premium, buku katalog dekorasi, dan kue-kue kecil dari vendor katering papan atas Jakarta.
Anita duduk di sofa sembari mencatat daftar tamu undangan lewat gawai tabletnya. Pekan depan adalah hari ulang tahun Vano yang keenam, dan Anita bertekad untuk mengadakan sebuah pesta perayaan yang sangat megah dan meriah di sebuah hotel bintang lima.
"Mas, ini konsep dekorasinya aku pilih yang tema luar angkasa ya, sesuai kesukaan Vano. Kamu setuju, kan?" tanya Anita saat Randy baru saja melangkah turun dari tangga dengan wajah yang tampak letih efek dari tekanan batin dan fisik yang terus dikuras oleh Valeria beberapa hari terakhir.
Randy memaksakan senyum, duduk di sebelah Anita dan melirik sekilas ke arah layar tablet istrinya.
"Iya, Nit. Apa saja yang terbaik buat Vano. Anggarannya pakai rekening bersama kita aja, ya."
"Tentu dong, Mas. Ini kan momen penting anak kita," sahut Anita dengan senyuman paling manis, padahal di dalam hatinya, dia sengaja memilih vendor-vendor paling mahal demi menguras sisa saldo di rekening bersama mereka sebelum dia melayangkan gugatan cerai.
Anita menatap suaminya yang tampak linglung, lalu melanjutkan kalimatnya dengan nada yang teramat santai.
"Oh iya, Mas. Aku juga berniat buat ngundang rekan-rekan dekat kita. Termasuk... Valeria. Kasihan dia, beberapa hari ini pasti stres banget karena gosip insiden restoran kemarin. Gimana kalau kita undang dia juga biar dia bisa sekalian refreshing?"
Pertanyaan Anita sontak membuat Randy tersedak ludahnya sendiri. Jantungnya berdegup kencang menahan rasa panik yang mendadak menyerang.
"Uhuk! Val-Valeria? Kamu mau ngundang dia juga, Nit?"
"Iya, kenapa emangnya, Mas? Dia kan sekretaris kamu yang paling rajin, dan dia juga udah aku anggap kayak keluarga sendiri," jawab Anita dengan mata bulatnya yang tampak begitu polos.
Melihat reaksi Randy yang langsung berkeringat dingin, Anita tahu bahwa umpannya kembali memakan korban. Pesta ulang tahun Vano minggu depan bukan sekadar perayaan untuk sang anak, melainkan sebuah panggung sandiwara baru yang sengaja Anita siapkan untuk membuat Randy dan Valeria semakin tersiksa dalam kepungan rasa bersalah dan ketakutan yang luar biasa.
Bersambung