Sembilan belas tahun lalu, Ryuichi Soryu ditemukan tewas dengan cara yang mengguncang jagat dunia bisnis Indonesia.
Berita kematiannya menjadi tajuk utama di seluruh kanal media pada saat itu, memicu kepanikan massal hingga membuat saham-saham di bawah naungan Soryu Group terjun bebas ke titik terendah.
Polisi menutup kasus itu dengan dalil "perampokan biasa" sebuah narasi yang tak masuk akal bagi siapa pun yang mengenal konglomerat berdarah Jepang itu.
Yang membuat kasus pembunuhan itu semakin terlihat jangal adalah tak ada satupun barang berharga yang hilang, tak ada satu pun saksi mata dikejadian perkara, seolah nyawa sang konglomerat hilang begitu saja.
Bagi sang putra, kematian ayahnya itu bukan sekadar tragedi. Itu adalah luka yang membekas di hidupnya selamanya.
Sekarang dirinya sedang mencari sang pelaku dan menyeretnya menuju kehancuran yang setimpal dengan apa yang dia dan ayahnya rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
𖣂|Bab 9 Fakta Baru Seorang Wakadanna|
...|Legacy of Soryu|...
...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...
Ruang dosen itu berbau seperti perpaduan kertas usang yang lembap dan aroma kopi saset yang mulai mendingin.
Di sudut ruangan, Dr. Siti Nurhaliza, M.M., duduk di balik benteng tumpukan skripsi. Usianya sekitar lima puluh tahunan, dengan rambut pendek sebahu yang dipotong rapi, dan kacamata baca yang menggantung di dadanya dengan tali manik-manik. Dia adalah potret seorang akademisi yang sudah terlalu sering melihat keajaiban sistem pendidikan dan kini tidak lagi memiliki ekspektasi apa pun terhadapnya.
Tanpa mengetuk, Bara langsung melangkah masuk, diikuti oleh Davian yang tampak seperti orang yang gelisah.
Ibu Siti mengangkat wajahnya. Matanya yang tajam menembus lensa kacamata, menyapu kedua pria didepannya.
"Ini ruang dosen," suaranya parau namun tegas. "Bukan lobi hotel. Kalian ini siapa? Kalau mau konsultasi, jadwalnya ada di papan pengumuman. Dan setahu saya, tidak ada jadwal untuk pria dengan jas seharga satu semester ini."
Davian buru-buru maju, mencoba melunakkan suasana dengan senyum andalannya. "Selamat siang, Ibu. Mohon maaf atas kelancangan kami. Saya di sini untuk mengantar—"
"Saya tidak bertanya kepada Bapak," Ibu Siti memotong telak, lalu matanya mengunci sosok Bara. "Saya bertanya kepada kamu. Punya mulut untuk bicara sendiri, kan?"
Bara menatap dosen itu tanpa gentar. Tatapan yang biasanya membuat direktur bank berkeringat, namun bagi Ibu Siti, itu hanya tatapan mahasiswa yang mungkin kurang ajar.
"Nama saya Bara. Mahasiswa baru disini. Dekan meminta saya menemui Anda untuk pendaftaran kelas."
Ibu Siti menyipitkan mata. "Pendaftaran ditutup enam bulan lalu. Kuliah sudah jalan delapan minggu. Kenapa baru muncul sekarang? Kamu pikir universitas ini seperti halte bus yang bisa kamu datangi sesuka hati?"
Bara terdiam sejenak. Ia teringat skenario "ibu sakit" milik Davian, tapi harga dirinya menolak untuk menjual drama murahan.
"Ada sesuatu yang harus saya selesaikan secara personal. Dan baru sekarang waktunya tepat."
"Itu jawaban paling abstrak yang pernah saya dengar," cibir Ibu Siti. "Kamu tertinggal delapan pertemuan. Belum baca modul. Belum mengerjakan tugas kelompok. Dan kamu bilang mau masuk kelas saya?"
"Saya akan melahap semua materi dalam tiga hari," balas Bara. "Tugas yang tertunda akan ada di meja Anda dalam satu minggu. Saya tidak akan membuang waktu Anda dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh. Saya hanya butuh kursi di kelas Anda."
"Kamu sombong sekali, Nak," Ibu Siti meletakkan pulpennya. "Atau kamu terlalu naif untuk tahu betapa sulitnya kelas saya?"
"Saya hanya realistis."
"Ada bedanya?"
"Sangat tipis. Hanya dibatasi oleh hasil akhir yang menentukan apakah saya sombong atau realistis."
Suasana mendadak tegang. Davian, yang berdiri di belakang Bara, mulai merasa suhu ruangan turun beberapa derajat. Ia melihat urat di pelipis Ibu Siti berdenyut. Takut rencana besar ini hancur karena mulut pedas tuannya, Davian mendadak kehilangan akal sehatnya.
"Maaf, Ibu! Maaf sekali!" Davian tiba-tiba maju dan tanpa berpikir panjang, ia menjewer telinga Bara.
Bara tersentak. Kepalanya miring mengikuti tarikan tangan Davian. Matanya membelalak, tak menyangka dirinya akan dijewer oleh seorang Davian.
"Aduh, anak ini memang kalau bicara suka kelewat batas!" Davian mengomel sambil terus menarik telinga sang pewaris Soryu Group.
"Mulutnya ini perlu disekolahkan lagi supaya tahu cara bicara dengan dosen senior! Maaf ya, Prof Siti! Dia ini sebenarnya stres karena... karena kebanyakan baca buku filsafat!"
Bara mendesis, suaranya seperti belati yang diasah. "Davian... lepaskan tanganmu sekarang, atau kau tidak akan pernah punya tangan lagi untuk memegang tablet."
Davian seketika teringat siapa yang sedang ia jewer. Ia teringat bahwa pria ini bisa melenyapkan kariernya atau nyawanya hanya dengan satu panggilan telepon. Tangan Davian gemetar, lalu pelan-pelan ia melepaskan jewerannya sambil tersenyum pucat ke arah Ibu Siti.
Ibu Siti, yang menyaksikan adegan absurd itu, terdiam selama beberapa detik. Lalu, sebuah tawa pendek pecah dari hidungnya. Tawa yang tulus dan jarang terdengar.
"Sepuluh tahun saya mengajar, baru kali ini ada asisten atau ayah yang berani menjewer mahasiswa di depan saya," Ibu Siti menggeleng-gelengkan kepala. Ia mengambil sebuah berkas dari lacinya.
"Baiklah. Karena saya terhibur dengan komedi kalian, saya terima. Selasa depan, jam sepuluh. Duduk di baris paling belakang. Kalau dalam dua minggu nilaimu merah, jangan harap bisa melihat pintu kelas saya lagi."
"Setuju," jawab Bara, sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dengan ekspresi sangat dingin.
Ibu Siti menyerahkan daftar materi. "Jangan sampai hilang."
"Terima kasih."
Bara berbalik hendak pergi, namun suara Ibu Siti menahannya. "Bara."
Bara menoleh.
"Kamu lulus S1 di luar negeri, kan?" tanya Ibu Siti tiba-tiba, insting dosennya tidak bisa dibohongi. "Cara bicaramu bukan cara bicara orang yang baru mau belajar pemasaran."
Bara menatap dosen itu lama. "Saya hanya mencari sesuatu yang tidak ada di buku pelajaran."
Ibu Siti menatapnya dengan pandangan penuh selidik, seolah tahu ada rahasia besar di balik jas rapi itu.
"Semoga kamu menemukannya. Dan jangan biarkan 'ayahmu' itu menjewermu di rumah nanti."
Begitu keluar dari ruang dosen dan sampai di koridor yang sepi, Bara berhenti mendadak. Ia berbalik dan menatap Davian dengan tatapan yang sanggup membuat es di kutub mencair karena tekanannya.
Davian langsung mundur dua langkah, wajahnya berubah menjadi sepucat kertas.
"W-Wakadanna... tadi itu... tindakan darurat demi kelancaran misi..."
"Kau berani menjewerku, Davian?" suara Bara sangat rendah.
"Saya... saya akan mengundurkan diri sekarang sebelum Anda memecat saya," kata Davian sambil mulai berjalan mundur dengan cepat.
"Cepat kirim lokasi kelasnya," ujar Bara dingin, mengabaikan ketakutan Davian meski dalam hati ia mencatat bahwa ia berutang budi pada asistennya itu.
"Dan jangan pernah menyentuh telingaku lagi."
"Siap, Wakadanna! Terlaksana!" Davian lari tunggang langgang menuju parkiran, sementara Bara menatap kertas jadwal di tangannya dengan senyum yang sulit diartikan. Selasa jam sepuluh pagi akan menjadi sangat menarik.
...-Parkiran kampus-...
...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...
Mobil bergerak membelah kemacetan Jakarta dengan keheningan yang menyesakkan di dalam kabin. Davian duduk di kursi depan, punggungnya sudah merosot seolah seluruh energinya baru saja disedot oleh lubang hitam bernama kampus.
"Wakadanna," panggil Davian lirih, suaranya seperti orang yang baru saja selamat dari kecelakaan brutal.
"Hmm."
"Anda sadar apa yang baru saja kita lakukan? Kita menyuap dekan, mengarang drama medis tentang lupus yang demi Tuhan, saya baru ingat itu penyakit seribu wajah dan saya harus berakting menjadi ayah kandung Anda. Karier profesional saya sedang menangis di pojokan saat ini."
"Aku sadar," jawab Bara pendek, matanya menatap pantulan dirinya di jendela mobil yang gelap. "Setidaknya aktingmu lumayan. Meski bagian menjewer itu adalah kesalahan yang fatal."
Davian memutar tubuhnya, menatap Bara dengan tatapan memohon di balik kacamata bulatnya.
"Tolong. Untuk Selasa nanti, simpan aura predator Anda di bagasi. Berhentilah mendominasi ruangan seolah-olah kursi kuliah itu adalah kursi dewan komisaris. Jangan—"
"Aku hanya bersikap efisien, Davian."
"Efisiensi Anda terdengar seperti ancaman! Anda bilang ke Ibu Siti tidak akan bertanya hal yang tidak perlu. Itu bukan nada mahasiswa, itu nada bos yang ingin memecat karyawannya!"
"Aku hanya menyampaikan fakta. Aku bilang aku tidak akan tanya hal yang tidak perlu."
"FAKTA ITU BISA DISAMPAIKAN TANPA MEMBUAT ORANG MERASA SEDANG DITODONG PISTOL, WAKADANNA!"
Sopir di depan berdehem pelan, matanya fokus pada jalan didepanya, namun telinganya terbuka lebar—seolah menikmati hiburan gratis paling mahal di Jakarta.
Bara mengeluarkan kertas modul dari kantongnya. Matanya memindai daftar itu dengan tatapan menghina.
"Manajemen Operasi? Pemasaran Digital? SEO?" Bara mendengus sarkas. "Dunia kerja asli tidak bekerja dengan struktur serapi ini, Davian. Teori-teori ini hanya dongeng sebelum tidur bagi orang yang takut menghadapi kekacauan pasar yang sesungguhnya."
Davian memutar bola matanya. "Ya, ya, Tuan 'Realitas adalah Guru Terbaik'. Tapi untuk masuk ke dunia Nana, Anda harus pura-pura percaya pada dongeng itu."
Bara melipat kertas itu dengan kasar. Tiba-tiba matanya beralih ke Davian dengan sorot penuh selidik. "Ngomong-ngomong, Davian... kau sendiri lulusan apa?"
Davian berdehem, merapikan dasinya dengan bangga. "Teknik Informatika, Wakadanna. Lulusan terbaik di angkatan saya loh!"
Bara terdiam sejenak, lalu tawa pendek yang langka pecah dari bibirnya. "Lulusan IT?" Bara tertawa lebih keras kali ini.
"Bagaimana ceritanya seorang teknisi komputer bisa nyasar jadi asisten yang tugas utamanya adalah menjadwalkan potong rambut ku setiap tiga bulan sekali?"
Wajah Davian memerah. "Logika pemrograman itu universal, Wakadanna! Mengatur jadwal Anda itu hampir sama sulitnya dengan memperbaiki bug di sistem operasi yang sudah usang!"
"Kau adalah bug terbesar dalam sistem hidupku, Davian," sela Bara, masih dengan sisa tawa di bibirnya.
Davian mendengus, lalu tiba-tiba rasa ingin tahunya memuncak. "Bicara soal universitas... waktu Wakadanna kuliah di luar negeri dulu, apakah Anda punya pacar? Maksud saya, dengan wajah dan dompet seperti itu, mustahil tidak ada yang mengantre kan?"
Tawa Bara mereda, berganti dengan senyum masam yang penuh kenangan pahit. "Pacar? Boro-boro dekat dengan perempuan. Kau lupa siapa yang mengawasiku saat itu? Raiden."
Bara menyandarkan kepala, menatap langit-langit mobil. "Ayah dari Indra dan Ashura itu adalah penjaga gawang paling kejam dalam hidupku. Dia paling benci kalau aku dekat dengan perempuan. Dia bilang perempuan adalah gangguan konsentrasi bagi seorang pewaris Soryu."
"Sampai segitunya?"
"Sampai di kampus dulu aku dikatai gay oleh teman-teman angkatanku," Bara terkekeh pelan namun terdengar getir.
"Hanya karena aku tidak menerima satu pun pernyataan cinta atau ajakan kencan. Waktu itu, aku hanya takut jikalau Raiden akan muncul secara tiba-tiba seperti hantu jika aku terlihat mengobrol lebih dari lima menit dengan lawan jenis. Jadi, membayangkan aku akan 'bermain peran' mendekati Nana Selasa depan... ini adalah ironi terbesar dalam hidupku."
Davian tertegun. Ia baru sadar bahwa di balik kemewahan hidup Bara, ada rantai-rantai tak kasatmata yang membelenggunya sejak lama.
"Saya hanya ingin memastikan satu hal," suara Davian melembut, kali ini tanpa nada bercanda.
"Aku harap Anda akan berhati-hati disana nanti, Wakadanna. Walaupun target kita adalah gadis polos yang tersesat di pusat perbelanjaan."
"Aku baik-baik saja," gumam Bara akhirnya.
Komen pertama , like + bunga🌹 , semangat😉