Aldara, wanita yang hatinya baru saja remuk redam ditinggalkan kekasih demi wanita lain, berusaha menyembunyikan kesedihannya di balik senyum tenang agar tidak dikasihani orang lain. Ketika dipanggil oleh kenalannya, Siska, untuk bertemu di kafe langganan, ia tidak menyangka bahwa kunjungannya kali ini akan menjadi titik balik hidupnya. Di sana ia diperkenalkan kepada Aries—seorang pemuda pendiam namun memiliki pesona tersendiri. Pertemuan yang awalnya terasa biasa saja perlahan membuka jalan bagi sebuah kisah baru yang akan menyembuhkan luka lama dan mengajarkan Aldara arti cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 007: Tegasnya Hati Seorang Wanita
Hari-hari terus berlalu begitu cepat, tak terasa hubungan Aldara dan Aries sudah berjalan selama satu minggu. Kebersamaan yang hangat dan penuh perhatian itu membuat hati Aldara perlahan pulih dari luka masa lalu.
Namun hari ini, Aries berpamitan kepadanya karena mendapat tugas dinas ke luar kota selama tiga hari ke depan. Ia menjelaskan bahwa di tempat tugas nanti jaringan komunikasi cukup sulit, sehingga mungkin tidak bisa sering menghubungi Aldara. Wanita itu pun mengerti dan hanya mengangguk sambil tersenyum tenang, melepaskan kepergian kekasihnya dengan doa dan harapan semoga tugasnya berjalan lancar.
Setelah kepergian Aries, Aldara memutuskan berjalan-jalan santai sekadar mengusir rasa sepi. Di tengah jalan, ia tak sengaja berpapasan dengan Dede Arda.
“Arda, dari mana saja dan mau ke mana?” tanya Aldara ramah menyapa.
“Kak Aldara! Kenapa berjalan sendirian? Mana Bang Aries, tidak menemanimu?” balas Arda sambil menoleh ke kanan dan kiri mencari sosok pemuda itu.
Aldara tersenyum lembut. “Aries pergi tugas ke luar kota, baru saja berangkat tadi pagi.”
Arda mengangguk paham, lalu mengajak, “Kalau begitu, kita jalan-jalan saja atau sekadar mampir ke tempat Abang Chepot? Lebih asyik kalau ada teman.”
Aldara terdiam sejenak memikirkannya, lalu mengangguk. Namun sebelum mereka melangkah lebih jauh, ponsel Aldara berdering. Hanya sebentar ia mengangkat dan mendengarkan suara panik dari Abang Pargoy, yang kemudian disambungkan ke Abang Chepot. Mendengar penjelasan singkat dari Abang Pargoy, raut wajah Aldara langsung berubah tegang.
“Ikut aku cepat!” serunya sambil menarik tangan Arda dengan langkah tergesa.
“Kak, ini kita ke mana? Tempatnya makin sepi dan jauh dari keramaian,” gumam Arda dengan nada sedikit takut, melihat jalan yang semakin sunyi dan jarang dilalui kendaraan.
“Diam saja dan ikut saja, nanti juga tahu,” jawab Aldara singkat, langkah kakinya makin cepat.
Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah rumah tua sederhana yang menjadi tempat mereka berkumpul, terletak agak jauh dari pusat kota. Begitu sampai di halaman, suara bentakan keras terdengar dari dalam.
“Dasar cewek murahan, rendahan! Apa urusan Lo datang ke sini? Mau jual diri pada laki-laki yang ada di sini?!” teriak suara laki-laki dengan nada penuh kemarahan.
Di hadapannya, terlihat Sheina yang hanya bisa menangis terisak-isak, wajahnya pucat menahan rasa malu dan sakit hati.
“Jawab Lo! Jangan cuma bisa menangis! Ingat, Lo pacar gue, tidak pantas berkeliaran di tempat sembarangan!” bentak laki-laki itu lagi dengan suara yang makin keras.
“Pelankan nada bicaramu dengan sahabatku, Mondol!”
Suara tegas Aldara memecah suasana, membuat semua orang menoleh. Di sudut ruangan, Abang Chepot dan Pargoy langsung menghela napas lega. Mereka tahu, hanya Aldara yang bisa menenangkan dan meluruskan situasi tanpa harus terjadi kekerasan fisik.
Melihat kedatangan Aldara, Mondol malah semakin meluap emosinya. “Lo juga tidak beda murahannya dengan dia!” sergahnya sambil menunjuk Sheina yang masih terisak.
Tanpa takut sedikit pun, Aldara melangkah mendekat, lalu memegang bahu Sheina dan menyeka air mata di pipi sahabatnya dengan lembut, lalu menatap tajam ke arah Mandol.
“Benarkah begitu? Coba tanya pada dirimu sendiri, pernahkah kamu melihat aku berbuat hal kotor seperti tuduhanmu itu? Atau pernahkah aku berbuat tak senonoh di depan laki-laki mana pun?” tanya Aldara dengan nada santai namun menusuk. “Ingat satu hal, Mondol. Wanita yang kau hina ini adalah sesama wanita. Dan tahukah kamu? Kamu juga lahir, dibesarkan, dan diberi nyawa oleh rahim seorang wanita. Menghina wanita sama saja dengan menghina ibumu sendiri.”
Suasana menjadi hening. Arda yang melihat dari samping terpaku; selama ini ia mengenal Aldara sebagai wanita lembut, tapi kali ini ketegasannya terasa luar biasa.
“Dasar kalian semua sampah!” makian Mondol lagi sambil meludah ke lantai.
“Kalau begitu, kamu adalah sampah yang paling rendah di antara sampah itu,” balas Aldara tak kalah pedas. “Cukup sampai di sini, tinggalkan tempat ini! Kamu tidak lagi diterima di lingkungan kami.”
Dengan wajah merah padam karena marah dan malu, Mondol melangkah pergi sambil berteriak mengancam, “Tunggu saja, Aldara! Aku akan membalas semua ini suatu saat nanti!”
,
“Silakan saja, aku tidak takut sedikit pun!” jawab Aldara tegas.
Setelah kepergian Mondol, Aldara menatap tajam ke arah Chepot, Pargoy, dan Anha yang hanya diam saja. “Kenapa kalian hanya berdiri diam saja? Kalian banyak jumlahnya, tapi kenapa membiarkan Sheina dihina seperti itu?” bentaknya.
“Bukan maksud kami diam saja, Dede,” jawab Pargoy mencoba menjelaskan. “Kalau kami meladeninya, yang ada hanya akan terjadi perkelahian dan masalah makin runyam. Itu sebabnya kami memanggilmu, karena dia tidak akan berani main tangan dengan seorang wanita.”
Belum sempat Aldara menjawab, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sangat dikenalnya. Ia tersenyum samar membacanya, lalu berkata, “Sudahlah, masalah ini sudah selesai. Aku harus pergi dulu.”
PARGOY adakah sahabat Aldara seperti dengan Chepot. Karena seringnya Pargoy Keluar kota membuat hubungan Aldara sedikit renggang tidak seperti dulu. Umur Pargoy 30 tahun.
MONDOL adalah kekasih Sheina yang Arogan dan pemarah. Umurnya 30 tahun.