Di hari ulang tahun suaminya, Nadia berjalan dengan hati penuh bunga. Dua garis merah di tangannya adalah hadiah terindah yang ingin ia persembahkan untuk Arkan–suaminya.
Namun, kejutan manis itu berubah menjadi mimpi buruk yang menghancurkan dunianya.
Di balik pintu sebuah restoran mewah, Nadia memergoki Arkan tengah memeluk mesra Ghea—kakak tirinya sendiri.
Bukan hanya dikhianati, Nadia juga harus menelan pil pahit saat mendengar kenyataan bahwa pernikahan mereka hanyalah kedok busuk Arkan untuk menguras habis seluruh harta warisan mendiang ayah Nadia.
Di ambang keputusasaan, di bawah guyuran hujan yang menyamarkan air matanya, Nadia hampir kehilangan nyawanya dan bayi di kandungannya. Tepat saat itu, sebuah tangan kekar menyelamatkannya.
Devan Alister. Pria berkuasa, sekaligus musuh bebuyutan suaminya di dunia bisnis, hadir dan menawarkan sebuah aliansi berbahaya.
"Ikut denganku, kita hancurkan mereka bersama. Sebagai gantinya, jadilah istri sandiwaraku selama satu tahun."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayamgoreng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 batas kesabaran
Braakk!
Suara pintu depan mansion yang megah itu terbuka paksa. Arkan menerobos masuk dengan langkah sempoyongan, napasnya memburu, berbau alkohol, dan matanya merah menyala penuh amarah. Beberapa petugas keamanan mansion tampak kewalahan menahannya karena Arkan mengamuk seperti orang gila.
"Nadia! Nadia, keluar kamu!" teriak Arkan, suaranya menggema di langit-langit lobi mansion yang luas. "Jangan sembunyi di balik punggung pria lain! Keluar!"
Nadia dan Devan yang mendengar keributan itu langsung berjalan dari arah halaman belakang. Melihat sosok Arkan yang berantakan dan bertingkah kasar di rumah Devan, kilat kemarahan seketika muncul di mata Nadia.
"Arkan? Mau apa lagi kamu ke sini?!" tanya Nadia dengan nada tinggi, menatap jijik pada mantan suaminya.
Arkan tertawa histeris melihat Nadia. Dia hendak melangkah maju, namun Devan dengan cepat menggeser tubuhnya, berdiri kokoh di depan Nadia bagai perisai yang tak tertembus.
"Devan Alister!" Arkan menunjuk wajah Devan dengan jari gemetar. "Kamu pikir kamu sudah menang? Kamu bangga bisa merebut wanita itu dariku? Dengar, kamu sudah ditipu! Nadia sedang hamil dua bulan, dan itu adalah anakku! Dia mengandung darah dagingku!"
Suasana lobi mendadak hening seketika. Para pengawal Devan menahan napas, menanti reaksi dari sang tuan besar.
Arkan menyeringai picik, mengira rahasia ini akan membuat Devan murka dan mencampakkan Nadia. "Kembalikan Nadia dan anakku sekarang, atau aku akan tuntut kamu ke jalur hukum karena merebut istri orang!"
Devan tidak menunjukkan ekspresi terkejut sama sekali. Dia justru menatap Arkan dengan pandangan yang begitu dingin, seolah sedang melihat makhluk menjijikkan yang mengotori lantainya.
"Sudah bicaranya?" suara bariton Devan terdengar sangat tenang, namun justru ketenangan itulah yang paling mematikan.
"Kamu—"
Sebelum Arkan sempat menyelesaikan kalimatnya, Devan bergerak dengan kecepatan yang luar biasa. Tangan kekar Devan mencengkeram kerah jas Arkan, lalu dengan satu sentakan kuat, Devan menarik pria mabuk itu dan mengempaskan nya ke dinding marmer lobi.
Bugh!
Satu pukulan mentah dari kepalan tangan Devan mendarat telak di rahang kiri Arkan. Suara hantaman itu terdengar begitu keras di dalam ruangan.
Arkan terjerembap ke lantai, memuntahkan darah dari sudut bibirnya yang langsung pecah. Rasa sakit yang teramat sangat seketika melenyapkan efek alkohol di otaknya. Dia menatap Devan dengan rasa takut yang mendalam saat menyadari tubuh tegap Devan kini menjulang di atasnya.
Belum sempat Arkan bangkit, Devan maju dan menginjak dada Arkan dengan sepatu pantofel mahalnya, menekan tubuh pria itu ke lantai hingga Arkan kesulitan bernapas.
"Arkan Jaya" bisik Devan, membungkuk sedikit agar suaranya terdengar jelas di telinga Arkan yang berdenging. "Kamu membuang Nadia saat dia tidak punya apa-apa. Sekarang, saat aku mengangkatnya menjadi ratu, kamu datang dan mengklaim anak di kandungannya?"
Devan memperdalam tekanan sepatunya di dada Arkan, membuat pria itu merintih kesakitan.
"Dengar baik-baik, Sampah" tekan Devan.
"Di dunia ini, apa pun yang sudah dibuang oleh orang sepertimu tidak berhak untuk kembali. dan jika sudah disentuh oleh tanganku, maka detik itu juga dia resmi menjadi milikku. Termasuk anak itu" jelas Devan dengan mata kelam yang memancarkan aura membunuh.
"Jika kamu berani menampakkan wajahmu lagi di depan Nadia, akan ku pastikan bukan cuma perusahaan mu yang hancur, tapi tangan yang ingin kamu gunakan untuk menyentuhnya juga akan ku patahkan."
Devan menarik kakinya, lalu berbalik menatap Leo. "Buang makhluk menjijikkan ini ke jalanan. Dan bersihkan lantai ini, baunya membuat calon istriku tidak nyaman."
Arkan diseret keluar dari mansion oleh para pengawal seperti karung beras, berteriak histeris seperti orang gila dan menangis menahan sakit karena kehancuran harga diri yang tak tersisa.
Nadia yang menyaksikan seluruh kejadian itu terpaku di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut pada Devan, melainkan karena rasa aman yang begitu luar biasa yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya.
★★★