"Meja bundar.. apa itu??"
"Meja yang jadi mitos kelam warga sini. Katanya, kalau sampai ada pendatang yang masuk ke sini dan hilang, udah pasti nggak akan balik, mereka semua pasti mati."
"Siapa kakek sebenarnya??"
"Kakek bukan orang biasa, dia.."
Kara, seorang gadis berusia tujuh belas tahun, terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya dan pindah ke desa terpencil bersama ayahnya. Desa itu sunyi, tertutup, dan dipenuhi tatapan curiga dari warga yang enggan berbicara tentang masa lalu. Di rumah peninggalan kakeknya, Kara menemukan sebuah meja bundar tua yang tergeletak di ruang bawah tanah berukuran pas untuk delapan orang, dengan ukiran aneh di setiap sisinya yang seolah menyimpan rahasia terpendam.
Bisakah Kara mengungkap apa sebenar nya meja bundar itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS. 26. Penyelidikan.
Kara menceritakan POV nya sendiri, dia menceritakan dari awal hilang nya kedua teman nya yaitu Caca dan Usi dan juga menceritakan upaya nya untuk meminta bantuan dari warga setempat terutama ki Brojo yang merupakan sesepuh di desa itu..
"Aku yakin aku narik tangan Usi dan Usi gandeng tangan Caca semalam, tapi setelah masuk kedalam kamar.. aku malah dengar suara Caca ada di luar dan yang masuk kedalamm kamar aku itu bukan Caca." Ucap Kara, dia menceritakan sudut pandang nya.
"Jadi yang kamu bawa masuk kedalam kamar kamu, siapa?" Tanya petugas perempuan, Kara menggeleng..
"Muka nya Rata.." Ucap Kara jujur, mendengar itu.. semua petugas pun kembali saling pandang.
Dan jelas sudut pandang Caca dan Usi berbeda dengan yang Kara alami, mang Jupri dan Putri bahkan menjadi saksi yang membenarkan semua yang di ceritakan oleh Kara.. dan juga, mereka sampai mendatangkan tetua desa itu yaitu ki Brojo juga untuk mendapatkan kesaksian dari nya tentang apa yang Kara ucapkan.
Dan ya, ki Brojo menceritakan apa yang memang terjadi.. Bukan nya ki Brojo mau membela atau melindungi Kara, tapi pantang untuk nya yang merupakan tetua desa itu untuk menceritakan kebohongan..
"Saya hidup sudah hampir sembilan puluh tahun, pak. Neng Kara ini baru datang beberapa hari yang lalu dan dia datang menemui saya dan meminta bantuan untuk menemukan kesua teman nya yang hilang." Ucap ki Brojo, dia memberikan kesaksian nya.
"Bapak dan ibu.. apa percaya dengan keberadaan hantu?" Ucap Kara, para petugas terlihat terdiam.
"Kalo menurut kalian begitu.. nanti kami selidiki. Kami harus menyelidiki dulu kebenaran nya, apalagi cerita kalian berbeda." Ucap salah satu petugas, Kara terlihat mengangguk.
Ketiga petugas itu keluar dari rumah kakek nya Kara dan kini berdiri di luar rumah menatap phon besar yang menjadi TKP dimana Caca di temukan menggantung. Mereka bertiga mengamati baik - baik pohon itu, lalu berbalik menatap ke arah rumah kakek nya Kara.
"Saya rasa.. pemilik rumah ini dulu nya pengoleksi binatang, pengoleksi binatang yang tinggal di desa yang terkenal sama mitos kelam.." Ucap salah satu petugas.
"Anda percaya ada hantu di dunia ini yang bisa menyakiti manusia, bu?" Tanya salah satu petugas laki - laki pada petugas perempuan yang sedang berdiri mengamati satu jendela di lantai dua.
Mata petugas perempuan itu menyipit saat menatap ke atas ke arah jendela di lantai dua.. dimana petugas itu melihat ada seorang perempuan yang berdiri sambil mengintip ke arah mereka yang berdiri di bawah..
"Bu!"
"HHhh!!" Petugas perempuan itu terkejut karena pundak nya di tepuk.
"Ada berapa penghuni rumah ini, tadi?" Tanya petugas perempuan itu.
"Ada lima termasuk korban, tapi penjaga rumah nya tidak ada di TKP waktu kejadian, mereka baru datang setelah korban hilang." Jawab rekannya, mendengar itu petugas perempuan itu akhir nya diam dan menenggak air putih.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Petugas melakukan penyelidikan dengan mengecek ruangan - ruangan yang di maksudkan oleh Kara dan Usi, tapi ketika mereka masuk ke bawah ruang bawah tanah itu.. isinya adalah ruangan yang tampak usang dan penuh debu, ruangan itu terlihat sama sekali tidak pernah di gunakan apalagi saat mengingat pengakuan Kara dan Usi yang melihat ada beberapa pria yang sedang memutilasi perempuan.
Jika memang kejadian nya baru semalam.. tentu akan ada banyak darah segar yang tertinggal, tapi di sana tidak ada darah segar sama sekali meski memang bau ruangan nya sangat tidak enak.
"Ini ruangan apa?" Tanya petugas pada Kara, tentu saja Kara hanya bisa menggeleng.
"Saya baru pindah kemari semingguan yang lalu, pak.." Jawab Kara..
Petugas menyebar, dan mereka tampak curiga dengan ada nya panci - panci besar berikut dengan banyak nya senjata tajam yang ada di ruangan itu. Tapi.. petugas juga mengesampingkan itu mengingat bahwa kakek Kara dulunya adalah salah satu juragan jagal ternak.
"Dimana kamu menemukan kedua temanmu?" Tanya petugas perempuan pada Kara.
Kara menoleh ke arah sebuah pintu yang ternyata pintu nya saja bahkan terkunci, melihat itu.. petugas pun kemudian menatap Kara dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Di kunci.." Gumam Kara, dan juga.. gembok kunci nya merupakan gembok baru.
"Gembok nya baru, apa ada yang masuk ke dalam sini sebelum nya?" Tanya petugas perempuan.
"Seharus nya nggak ada, bangunan ini teh sebelum nya selalu terkunci." Kali ini Putri yang menjawab.
Tapi Kara malah teringat sesuatu, yaitu.. ayah nya. Kara melirik ke arah cangkul yang ada di sudut, cangkul itu seperti baru di pakai saat Kara melihat nya, dan satu - satunya yang Kara ingat cangkul itu di gunakan ayah nya saat menanam pohon.
"Buka saja." Ucap Kara, dia penasaran.
Akhir nya setelah di putuskan gembok itu pun akhir nya di rusak paksa, setelah gembok itu akhir nya terbuka.. Barulah pintu nya terbuka.
Petugas masuk ke dalam dan memeriksa, sementara Kara.. Dia mematung melihat apa yang ada di dalam ruangan itu.
"Mobil?" Gumam Putri yang berdiri di samping Kara.
"Mobil ayah.." Gumam Kara.
Ya, mobil ayah nya. Mobil sedan hitam yang dia pakai sepanjang perjalanan dari kota ke desa itu bersama ayah nya, yang ayah nya bilang mobil itu di bawa montir karena rusak.. Ternyata ada di dalam ruangan itu. Tapi sebelum Kara sempat memikirkan kembali semua nya, petugas sudah lebih dulu kembali bertanya..
"Ini garasi bawah tanah?" Tanya petugas.
"Ah, iya.. Tuas nya ada di sini." Ucap mang Jupri, dia menekan sebuah tuas dan akhir nya mobil itu dan para petugas tadi akhir nya terangkat naik ke atas sementara Kara, Putri dan Usi tertinggal di ruang bawah tanah tadi.
Dan yang lebih mengejutkan lagi, begitu ruangan itu naik ke atas, otomatis di ruang bawah itu menyisakan ruang kosong. Dan di depan ruang kosong itulah Kara, Usi dan Putri di terpa oleh udara yang menguarkan bau yang sangat memualkan perut.
Bukan bau bangkai, atau bau busuk.. bau nya tidak bisa di jabarkan antara anyir, lembab yang membuat mereka bertiga serempak menutup hidung dan mulut mereka. Dan setelah di perhatikan baik - baik.. di dalam nya tampak ada bekas darah yang membentuk tepakan tangan memanjang seolah di dalam sana dulu nya pernah terjadi sesuatu yang keji.
"Ini ruangan apa?" Gumam Kara.
"Kara, Putri dan Usi, kalian naik ke atas." Teriak petugas yang memang ada di atas.
"I- iya." Jawab Kara dan Usi bersamaan.
Mereka bertiga kemudian naik ke atas lewat tangga dan kemudian kembali berkumpul di garasi mobil tempat dimana ada mobil ayah nya Kara di sana.
"Ini mobil siapa, Kara?" Tanya petugas.. dengan jujur Kara pun menjawab.
"Ayah. Aku datang kesini sama ayah pakai mobil ini, pak." Jawab Kara jujur, Kara juga masih kebingungan mengapa ayah nya mengatakan mobil nya di bawa montir padahal ada di rumah.
'Tapi ban nya nggak pecah, kenapa ayah bohong?'
BERSAMBUNG!
di aku g ada notif lho kk