NovelToon NovelToon
SANG UTUSAN

SANG UTUSAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:986
Nilai: 5
Nama Author: Alenda

Selepas Kematian kedua orangnya, kehidupan yang lebih kejam harus dihadapinya. Namun tanpa disangka, Wira yang tak memiliki ilmu kanuragan sedikitpun, nyatanya dipilih oleh Dewata untuk melawan bangsa Iblis yang hendak menguasai Bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tipuan

Begitu banyak penonton yang berteriak memberi semangat ketika Raden Sanjaya berjalan menuju panggung. Begitu pula dengan penonton wanita yang didominasi gadis-gadis muda beranjak dewasa. Meski tidak setampan Wira, Ketampanan yang dimiliki Raden Sanjaya bisa dibilang cukup untuk menjadi magnet yang menarik perhatian para gadis.

Mendapat dukungan dari begitu banyak penonton membuat Raden Sanjaya semakin sombong. Dia berjalan sambil mengangkat dagunya dan dadanya membusung ke depan.

Sesampainya di pinggir panggung, Raden Sanjaya melompat dengan ringan dan mendarat tepat di depan Pangeran Sudaraksa.

"Raden..." Pangeran Sudaraksa menyapa dengan sopan.

Raden Sanjaya membalas sapaan Pangeran Sudaraksa dengan tatapan angkuh.

"Nasibmu tidak beruntung harus bertemu denganku di babak pertama. Seharusnya kau sadar diri, kemampuanmu itu tidak layak untuk menjadi Senopati agung kerajaan Sanggawana."

Pangeran Sudaraksa tidak menanggapi cemoohan itu dengan emosi. Dia malah menyunggingkan senyum hangatnya kepada Raden Sanjaya

"Tidak ada salahnya aku mencoba peruntungan, Raden. Dan setahuku, turnamen ini terbuka untuk umum."

Senyuman Pangeran Sudaraksa ditanggapi lain oleh Raden Sanjaya. Lelaki berumur 25 tahunan itu menganggap senyuman Pangeran Sudaraksa itu sebagai hinaan.

"Aku pastikan senyumanmu itu akan membuatmu keluar dari panggung ini dengan terluka parah!"

Raden Sanjaya langsung memasang kuda-kudanya dengan kokoh. Kedua tangannya mengepal dengan keras bersiap untuk melakukan serangan.

Melihat lawannya sudah bersiap untuk menyerangnya, Pangeran Sudaraksa juga langsung memasang kuda-kudanya. Dia tidak langsung menyerang, tapi menunggu serangan yang akan di lancarkan Raden Sanjaya.

Di dua panggung lainnya, empat orang peserta juga sudah melakukan pertarungan dengan sengit. Sama seperti para peserta lainnya, keempat peserta itu juga begitu bersemangat untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka.

Jurus-jurus yang mereka miliki, tanpa ragu mereka keluarkan. Harapan mereka sama, ingin menjadi pemenang dan bisa melaju ke babak berikutnya.

Sementara itu di panggung 4, pembawa acara sudah berada di atas dengan raut muka begitu bersemangat. Dengan lantang dia kemudian memanggil nama peserta yang akan melakukan pertandingan berikutnya.

"Bima Danureksa dari perguruan Macan Putih melawan Wira Dewandaru dari desa Sendang Rejo."

Selepas berbicara, pembawa acara langsung turun dari panggung.

Riuh suara anggota perguruan Macan Putih yang turut hadir untuk memberi semangat kepada Bima Danureksa, begitu kompak dan membuat suasana di tempat tersebut semakin hidup.

Apalagi disaat lelaki berumur 30 tahun itu berjalan menuju panggung. Tubuhnya yang tinggi besar dan urat bermunculan sangat sesuai dengan namanya, Bima. Tokoh pewayangan yang digambarkan memliki tubuh tinggi besar dan kekuatan fisik yang menakutkan.

"Bima..! Bima...!" teriak pendukungnya dengan penuh semangat.

Teriakan yang keras itu seketika berganti dengan tawa, setelah Wira berjalan santai menuju panggung. Meski memiliki fisik tubuh yang cukup kekar, namun ketampanan yang dimikinya membuat pendukung Bima Danureksa mencemoohnya.

"Mundur saja kau, Bocah cantik! Kau lebih pantas memasak di dapur dari pada di atas panggung!" teriak seorang pendukung Bima yang disambut tawa teman-temannya.

Wira memandang pendukung Bima dan memberi mereka senyuman tipis. Dia tidak sedikitpun emosi meski direndahkan sebegitu rupa. "Jadi seperti ini sensasi ketika bertanding di sebuah turnamen. Bukan hanya harus bertarung, tapi juga menata mental untuk melawan cemoohan pendukung lawan," ucap Wira dalam hati.

Setelah berada di atas panggung, Wira yang awalnya tidak memiliki seorang pun pendukung, tiba-tiba dikejutkan dengan teriakan beberapa gadis yang memangil-manggil namanya dengan histeris.

Para gadis itu dibuat terbius dengan ketampanan yang dimiliki Wira. Mereka tidak menyangka jika ada peserta yang memiliki wajah begitu rupawan.

"Dia bukan manusia... pemuda itu pasti utusan Dewata yang diturunkan ke bumi!" kata seorang gadis menyatakan kekagumannya.

Teriakan histeris beberapa orang gadis itu memantik perhatian ratusan penonton lainnya. Tidak sedikit para gadis yang awalnya menyemut di sekitar panggung tempat Raden Sanjaya, beralih tempat menuju panggung 4 tempat Wira bertanding.

Mereka juga seperti tertarik oleh magnet kuat yang dipancarkan pemuda tampan tersebut.

Tiba-tiba saja mendapat dukungan tentu saja membuat Wira harus menolehkan kepalanya. Dia memandang sekumpulan gadis yang tidak henti memanggil-manggil namanya.

Apalagi ketika pemuda itu menyunggingkan senyum manisnya kepada mereka, semakin membuat mereka histeris.

"Wira... Aku padamu!"

"Wira... Aku rela dimadu asal bisa bersamamu!"

Teriakan dukungan yang tadinya begitu keras terdengar dari pendukung Bima Danureksa, akhirnya tenggelam dan kalah kencang. Bagaimanapun juga, sekeras-kerasnya suara lelaki, itu tidak akan ada artinya jika wanita mengeluarkan suara terkuatnya yang melengking tinggi.

Teriakan histeris puluhan gadis yang berkumpul di sekitar panggung 4 itu juga menarik perhatian Lesmana. Lelaki setengah baya itu kemudian berdiri untuk melihatnya.

Rasa lega terpancar kuat di hatinya ketika melihat Wira yang dijagokannya untuk menjadi Senopati agung berikutnya, sudah berada di atas panggung.

"Lihatlah para pendukungmu itu, Bocah...! Kau tidak pantas berada di atas panggung ini dan melawanku. Kalau kau tidak ingin wajah cantikmu terluka, menyerahlah! Turunlah dari panggung ini segera!" Nada ancaman terdengar keluar dari mulut Bima Danureksa.

"Sepertinya kau harus membuktikan ucapanmu terlebih dahulu, Kisanak!" jawab Wira datar.

"Aku sudah memberimu peringatan, Bocah. Jangan salahkan aku jika wajahmu itu akan rusak nantinya!" teriak Bima dengan begitu keras. Setelah itu dia menghentakkan kaki kanannya ke atas panggung dengan kuat. Dia memasang kuda-kudanya dan bersiap maju menyerang.

Lantai panggung yang terbuat dari papan kayu itu bergetar cukup kuat. Namun hal itu tidak membuat Wira takut. Bahkan pemuda itu menunjukkan senyumannya yang terkesan menghina di mata Bima.

"Tahan seranganku!" Bima melesat maju menyerang Wira dengan pukulannya yang bertenaga. Meski memiliki tubuh yang besar, namun kecepatan yang dimiliki Bima cukup tinggi. Itu terlihat dari desiran angin yang muncul saat pukulan itu melesat ke arah tubuh lawannya.

Melihat lawannya tidak bereaksi dengan serangannya, lelaki bertubuh tinggi besar itu yakin akan bisa menang dengan mudah. Bahkan karena saking yakinnya, dia semakin menambah kecepatannya untuk mempermudah kemenangannya.

Namun keyakinannya langsung berubah seketika. Sebelum pukulannya itu sampai sasaran, Wira menarik tubuhnya ke samping satu langkah dengan cepat. Setelah berhasil menghindar, Dengan cepat pemuda tampan itu kemudian melakukan sesuatu yang tidak dibayangkan oleh siapapun. Dia menyilangkan kaki kanannya hingga membuat Bima terjegal.

Tubuh tinggi besar itu tanpa ampun terjatuh menghantam telak lantai panggung dengan bagian wajah terlebih dahulu.

Braaak!

Tulang hidungnya yang patah dan mengucurkan darah segar, membuat wajah Bima semakin terlihat mengerikan.

"Sebaiknya hati-hati kalau berlari, Kisanak! Buka kedua matamu lebar-lebar biar tidak tersandung lagi."

"Bangsat!" Wajah Bima yang berlumuran darah, terlihat merah padam. Selain kemarahannya yang memuncak, dia juga merasakan malu yang amat sangat.

Para penonton pria dibuat terpana dan kaget dengan apa yang baru saja mereka lihat. Betapa tidak, hanya dengan sedikit gerakan kecil, pemuda tampan yang awalnya terlihat tidak meyakinkan dan juga tidak mereka jagokan, bisa menjatuhkan lawannya dengan mudah.

Pendukung Bima pun tak percaya dengan penglihatan mereka. Seketika, teriakan dukungan yang kerap kali mereka lontarkan , langsung tidak terdengar lagi.

Bima Danureksa bangkit berdiri dengan tatapan penuh dendam. Dia lalu menyeka darah yang keluar dari hidungnya dengan punggung tangannya.

Dalam satu tarikan nafas berikutnya, Bima kembali melakukan serangan. Namun kali ini dia melakukannya penuh perhitungan dan tidak sesembrono tadi. Dia tidak ingin tertipu lagi oleh gerakan yang dilakukan lawannya.

1
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Gas🚬🗿
Vina Manis: belum🤣
total 3 replies
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Bagus lagi kalau namanya BAHLILudin 👍🏻☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!