Warning
Lima tahun menikah, sikap Elang pada Rindu tetap sama. pria itu jarang menyentuh istrinya, padahal Rindu memiliki hasrat yang tinggi.
Rindu yang merupakan anak yatim piatu dengan perangai santun dan lembut, memberikan pesona pada wanita paruh baya yang tak lain adalah Bella, Ibu kandung Elang. Lalu, mereka pun dijodohkan.
Siapa sangka, ternyata sikap dingin Elang menutupi sebuah rahasia yang tidak diketahui Rindu. Dan saat rahasia itu terungkap, Rindu pun memiliki rahasia yang sama.
Rahasia apa yang tersimpan dalam rumah tangga yang selalu Rindu pertahankan mati - matian hingga akhirnya ia memilih menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Molly Marco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Demi Balas Budi
Demi hutang budi
Tap
Tap
Tap
Elang melangkahkan kakinya cepat, usai memarkirkan mobil menuju gedung mewah dan tinggi itu. Baru saja, ia membuka pintu lobi, dirinya sudah dihalang oleh seseorang yang berdiri tepat di dalam lobi.
“Maaf, Pak. Ada yang bisa saya bantu?”
Elang mengedarkan pandangan. Gedung ini tampak sepi. Tidak ada penghuni, mengingat hari ini hari sabtu dan semua karyawan dibebaskan dari tugas. Terlebih, waktu saat ini menunjukkan pukul sebelas malam.
“Saya mencari istri saya.”
Dahi petugas itu pun mengernyit. Pasalnya ia tidak cukup mengenal istri pria yang berdiri di depannya ini, karena Elang memang hampir tidak pernah masuk ke dalam ketika mengantarkan atau menjemput istrinya.
“Maaf! Maksud saya, Rindu. Saya mencari Rindu, istri saya.” Akhirnya, Elang menegaskan pada orang luar bahwa Rindu adalah istrinya.
Petugas itu pun langsung tersenyum. “Oh, Ibu Rindu. Ya, tadi Bu Rindu ke sini.”
“Saya ingin menjemputnya. Bisa kamu mengantarkan saya ke ruangannya?”
Petugas itu pun mengangguk. “Tentu saja. Mari ikut saya!”
Elang mengangguk dan mengikuti langkah kaki itu. Ia diajak menaiki lift menuju lantai enam, lantai tempat ruangan para pemimpin perusahaan ini. Yang masih Elang tahu bahwa atasan Rindu adalah Dirga. Padahal sudah hampir dua minggu, Dirga tergantikan oleh Rayen.
“Silakan, Pak! Ini ruangan Ibu Rindu.”
Kedua kaki pria itu berhenti tepat di depan sebuah pintu ruangan. Petugas itu menunjuk ke arah pintu yang tertutup, kemudian Elang mengangguk tanpa mengucapkan terima kasih.
Setelah petugas itu pergi meninggalkannya, Elang pun membuka pintu.
Ceklek
Ia melihat Rindu duduk di meja kerjanya, tangannya sedang mengetik tuts papan ketik pada komputer jinjingnya.
“Rin.”
“Eh, Lang.” Rindu menampakkan wajah terkejut.
Sejak Elang memarkirkan mobil dan berjalan menuju lobi, salah satu petugas di sana sudah memberitahukan keberadaannya kepada atasannya yang berada di lantai enam. Rayen pun meminta Rindu menghapus air matanya dan kembali ke ruangannya sendiri. Sebelum itu, Rindu tak lupa meratakan bedak di wajah agar tak terlihat baru saja menangis. Ia juga kembali merias bibirnya dengan lipstik merah jambu seperti kebiasaan sebelumnya.
Kini wajah Rindu tampak tenang seolah tak ada masalah. Ia bersikap seperti saat belum mengetahui kelakuan buruk suaminya.
“Jarang‑jarang kamu ke sini. Ada apa?”
Pertanyaan itu seketika membuat Elang terdiam. Pasalnya, sudah sekian lama baru kali ini ia datang ke kantor tanpa disuruh‑suruh atau diminta istrinya.
“Aku khawatir.”
Rindu tertawa pelan. “Semakin aneh saja. Biasanya malah tak peduli. Ada apa denganmu?”
Elang menatap istrinya yang cantik. Entah mengapa selama ini ia hanya menjadikan istri cantiknya sekadar pajangan. Setelah mendengar ucapan teman‑temannya, Elang seketika menatap kembali wajah itu. Ternyata, wajah Rindu yang sedang tertawa memancarkan cahaya keindahan yang memikat.
“Ck. Memang selalu saja laki‑laki yang disalahkan. Kalau tidak perhatian, dituduh berselingkuh. Kalau mulai perhatian, dikatakan jarang‑jarang,” ucap Elang seolah‑olah tidak pernah mengkhianati istrinya.
Rindu pun memelotot. “Ya, selama ini memang kamu tidak pernah perhatian kepadaku. Itulah sebabnya aku bilang jarang‑jarang baru sekarang kamu peduli. Lagian, bukannya selama ini kamu memang berselingkuh?”
Kalimat terakhir yang keluar dari mulut Rindu seketika membuat Elang ternganga tak percaya.
“Apa maksudmu?”
Rindu kembali tertawa melihat wajah tegang Elang saat bertanya demikian
“Kenapa tegang begitu, Lang? Kan memang, selama ini kamu selingkuhin aku sama pekerjaanmu. Yang ada di kepalamu itu cuma kerja, kerja terus. Sampai lupa aku.”
Elang pun lega. Ia pikir, Rindu telah mengetahui perselingkuhannya dengan Miskha dan beberapa wanita sebelumnya, tapi ternyata maksud sang istri berbeda dengan apa yang ia takutkan.
Elang tertawa menutupi kegugupannya. “Ya, kamu tahu kan kalau aku memang suka bekerja.”
Mata Rindu mendelik ke sembarang arah. Untung saja, Elang tak melihatnya. Sungguh, ia ingin sekali muntah.
“Baiklah. Untuk saat ini dan seterusnya, aku akan perhatian.”
“Sudah tidak perlu. Lagi pula, aku juga sudah mengerti,” jawab Rindu yang tak lagi menginginkan hal itu. Justru, mulai saat ini Rindu ingin menjaga jarak pada pria ini.
Seperti Elang dulu memberi jarak padanya.
“Ternyata, kerja memang mengasyikkan.” Rindu menambahkan kalimatnya sembari meneruskan pekerjaan.
Pekerjaan yang seharusnya ia kerjakan nanti, saat hari kerja dan beraktivitas seperti biasa lagi.
Sementara, Elang hanya mampu menatap Rindu yang tak lagi seperti dulu. Rindu terlihat menikmati pekerjaannya meski hari sedang libur dan malam yang semakin larut.
“Meski hari ini hari libur?” tanya Elang.
“Kamu juga sering kerja walau hari libur. Iya kan?”
Lagi‑lagi, Rindu memberikan pertanyaan yang tak bisa pria itu jawab.
“Tapi tidak sampai selarut ini juga kan?” sanggah pria yang pandai bersandiwara itu.
“Kamu tidak takut sendirian. Diluar tidak ada…”
orang loh.”
Elang mengingatkan Rindu akan sifatnya yang penakut. Dahulu, Elang sering terpaksa mengantar Rindu yang takut ke dapur seorang diri di tengah malam, apalagi ketika malam Jumat.
“Di gedung sebesar ini, kamu sendirian. Lebih baik pulang dan bawa pekerjaannya ke rumah.” Pria itu tampak merayu.
Namun, Rindu tetap acuh tak acuh. Ia tetap bertopang dagu sembari menatap layar komputernya.
“Rin, pulang yuk!”
Rindu pun melirik. “Kamu pulang saja. Pekerjaanku masih belum selesai. Lagian, sampai rumah pun nanti kamu masuk ke ruang kerja.”
“Tidak enak sama Mama, Rin. Mama menunggu kita di rumah.”
“Pekerjaan bisa dikerjakan lagi besok,” ucap Elang lagi. Padahal kalimat ini yang sering Rindu gunakan sebelumnya untuk membujuk Elang.
Rindu menatap Elang, dan Elang pun menatap istrinya. Tatapan Rindu menyiratkan makna tersembunyi, namun Elang tidak memahaminya. Ia masih yakin sepenuhnya bahwa istrinya belum mengetahui kelakuannya yang buruk selama ini.
“Baiklah.”
Rindu pun menurut. Sekali lagi ia mengalah demi Bella; ia merasa memiliki banyak utang budi pada ibu mertuanya itu.
Bella adalah penyumbang tetap di panti asuhan tempat Rindu dibesarkan. Rindu tidak pernah mengenal orang tuanya sendiri, sejak kecil ia sudah tinggal di sana.
Sejak pertama kali diperkenalkan pada Bella, wanita paruh baya itu sangat menyukainya. Bahkan Bella membiayai seluruh pendidikannya hingga jenjang sarjana. Oleh sebab itu, Rindu merasa sangat berhutang budi pada ibu mertuanya.
Dan sekarang, ia mempertahankan pernikahannya hanya demi Bella, semata‑mata untuk menjaga perasaan wanita yang sudah dianggapnya seperti ibu kandung sendiri. Rindu sempat berpikir bahwa anak wanita yang lembut, baik, dan berhati mulia itu pasti memiliki sifat yang serupa. Namun pepatah “buah jatuh tak jauh dari pohonnya” ternyata tidak berlaku bagi Bella dan Elang.
“Om, terima kasih untuk hari ini. Maaf Rindu pulang tanpa singgah ke ruangan Om dulu.”
Rindu mengetik pesan untuk Rayen sembari berjalan menuju pintu keluar.
“Rin, ayo!” seru Elang menunggu Rindu yang berjalan sangat lambat karena sibuk mengirim pesan.
Rindu mengangkat kepalanya, kembali berjalan lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia pun menghampiri suaminya yang sudah berdiri di pintu lobi.
Elang sebenarnya ingin memprotes, karena sepanjang
perjalanan mereka dari lantai enam ke lobi, Rindu terus memainkan ponselnya.
“Mana kuncinya?” Elang menadahkan tangannya di depan Rindu.
“Kunci apa?”
“Kunci mobilku lah. Kamu ke sini bawa mobilku kan?”
Deg
Rindu mematung sejenak. Ia lupa meminta kunci mobilnya pada Rayen, karena pria itu yang menyuruh orang suruhannya untuk membawa mobil itu dari klub ke gedung ini. Sementara, ia tidak diizinkan untuk membawa mobil sendiri tadi.
“Kamu parkir di mana mobilku? Kita pakai mobilku saja untuk pulang. Biar mobilmu di sini.”
Rindu semakin bingung. Kepalanya mencoba berpikir untuk mencari alasan agar ia bisa ke ruangan Rayen.
“Lang, aku meninggalkan cap di ruangan. Sedangkan, cap itu penting.”
Elang mengernyitkan dahi. “Memang tidak ada berkas digitalnya? Zaman begini masih saja pakai cap manual.”
Rindu tak menjawab. Ia tetap hendak meninggalkan Elang.
“Kalau kamu tidak sabar menunggu, pulang saja lebih dulu,” ucapnya dengan sedikit meninggikan suara. Sementara, Elang hanya bisa menatap kepergian Rindu.
Wanita itu terlihat semakin acuh tak acuh. Sikapnya benar‑benar tidak lagi seperti Rindu yang dulu.
Rindu bergegas menaiki lift untuk menuju ke lantai enam lagi. Di sana, ia tidak ke ruangannya melainkan ke ruangan atasannya.
“Om.”
“Ini!”
Rayen langsung memberikan kunci mobil itu kepada Rindu. Sebelum sampai di lantai ini, Rindu sudah mengirim pesan pada Rayen mengenai kunci mobilnya yang belum diserahkan.
“Terima kasih, Om.” Rindu tersenyum.
Pria itu bagaikan pahlawan baginya.
“Sama‑sama. Aku juga punya anak perempuan, jadi aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan. Hati seorang ayah pasti akan sedih jika putrinya disakiti.”
Kata‑kata Rayen semakin membuat bibir Rindu tersenyum.
“Sekali lagi, terima kasih.”
Rayen membalas senyum itu dan mengangguk. “Kamu tidak sendirian, Rin. Aku bisa jadi teman tempatmu bercerita.”
Rindu kembali tersenyum dan mengangguk. Lalu, hendak kembali keluar dari ruangan itu. Namun, sebelum menutup pintu ruangan itu usai keluar, Rindu membukanya lagi.
“Om.”
“Ya.” Rayen menoleh.
“Maaf, tadi aku mencium Om. Itu karena aku harus menghindari …”
“Ya. Aku tahu.” Rayen memotong perkataan Rindu karena ia tahu apa yang selanjutnya akan dikatakan wanita itu.
Rindu lega. Ia tidak ingin Rayen berpikir macam‑macam, meski entah mengapa ciuman tadi sempat membuat dadanya berdegup kencang dan nalurinya mengajak untuk mengikuti permainan lidah itu.
Dengan langkah cepat, Rindu kembali keluar dari ruangan Rayen.
“Pak Dirga ada di ruangannya?” tiba‑tiba suara berat itu terdengar tepat di hadapannya.
Rindu terkejut mendapati Elang yang berdiri tepat di depannya.