Sebuah dunia masa depan, dimana patung-patung para dewa jatuh dari langit, dan hanya dengan mengucapkan nama dewa/kisah dewa seseorang akan memperoleh warisan para dewa, dan juga tentang kengerian semesta, dimana para jenius dari seluruh alam semesta akan memperebutkan Takhta Kaisar Agung!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rlll0411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Sasana Bela Diri.
Depan pintu Sasana Bela Diri, di bawah sorot cahaya lampu terdapat seorang wanita yang sedang gelisah, ia tidak terlalu tinggi, sekitar 1,7 meter, namun pandangan-nya tertuju ke bawah, melampaui ukuran 36D.
Wajah mungilnya terlihat sedikit marah, seperti sebuah apel kecil, dengan pipi yang montok, seolah-olah terlihat seperti seorang gadis kecil, padahal sebenarnya ia sudah dewasa.
Rambutnya dikepang dua yang terus berayun, dia mengenakan stoking putih di kakinya, dengan hiasan renda di paha, tangan yang lembut, kulitnya bak lemak yang membeku, merupakan tipe yang banyak di-idamkan oleh para pria.
"Hmph, Xiao Yu~, awas saja kalau sudah datang, bibi sudah menunggu berjam-jam disini."
Wanita tersebut terus menggerutu dengan kesal, sambil terus berjalan mondar-mandir.
Beberapa saat kemudian, Qian Yu dan Yun Xian'er terlihat dari kejauhan, yang berjalan mendekat kearah wanita tersebut.
Saat wanita imut itu menyadarinya, ekspresi wajahnya yang semula kesal menjadi ceria.
"Hey- Kak Xian'er, Xiao Yu~ kalian sudah datang!"
Wanita tersebut langsung berlari menghampiri Qian Yu dan Yun Xian'er, dan sosoknya yang hebat terayun keatas dan kebawah.
Qian Yu yang melihat hal tersebut tertegun, melihat kearah tengah dan kemudian kearah wajahnya yang imut, tapi pandangannya tertuju pada sesuatu yang terus berayun saat ia lari.
Setelah dekat, wanita tersebut langsung melompat ke dalam pelukan Qian Yu, yang membuat dirinya merasa luar biasa.
"Hehe, Xiao Yu, aku sudah lama menunggumu."
Wanita tersebut memeluk Qian Yu dengan erat, yang membuat Qian Yu merasa sesak nafas meskipun terasa enak dan empuk di bagian dadanya.
"Senior Chu, tolong jangan peluk terlalu erat, aku tidak bisa bernafas..."
Dalam ingatannya, Qian Yu mengetahui bahwa wanita berdada besar ini adalah salah satu dari empat senior wanitanya, senior ketiga Chu Qingcheng.
Saat ini ia bersekolah di Akademi Buyecheng dari Kota Tanpa Malam, yang merupakan salah satu dari sepuluh akademi terbaik di dunia.
Akademi Buyecheng dari Kota Tanpa Malam menempati nomor sembilan, meskipun berada di peringkat terbawah dari sepuluh akademi terbaik, itu sudah merupakan hal yang luar biasa.
Salah satu dari sepuluh akademi terbaik di dunia, berapa luar biasanya hal itu!
Banyak anak muda yang bermimpi ingin masuk ke dalamnya, tapi karna kualifikasi mereka kurang layak, akademi menolaknya dengan kejam.
Akademi Buyecheng hanya menerima jenius dari yang jenius, hanya satu dari seribu orang yang bisa masuk kedalamnya.
Dan kakak senior ketiganya berkuliah disana, saat ini ia adalah siswa dari tahun kedua di akademi tersebut, yang membuktikan bahwa ia jenius karna bisa masuk kedalam Akademi Buye.
Akademi dalam era saat ini tidak berisi pelajaran tentang sastra, sejarah, matematika dll, tapi tentang teknik kultivasi untuk menjadi kuat, karna di dunia ini kekuatan adalah segalanya!
Kemudian Chu Qingcheng sadar, dan ia melepaskan pelukannya, wajahnya yang semula ceria tiba-tiba berubah menjadi kesal, dan ia menghentakkan kakinya ke tanah.
"Hmph! Xiao Yu Xian'er jie, dari mana saja kalian berdua, aku sudah lama menunggu kalian disini tau."
Chu Qingcheng mengembungkan pipinya, dan berbicara dengan kedua mata yang melototi Qian Yu, yang terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
Qian Yu dan Yun Xian'er yang semula tersenyum, kini tiba-tiba berubah ekspresi menjadi sedih, setelah itu Yun Xian'er mengajak mereka untuk masuk kedalam sasana bela diri terlebih dahulu.
"Qingcheng, Xiao Yu, ayo kita masuk dulu, kemudian kakak akan mengerikannya kepada Qingcheng."
"Baiklah kak, ayo kita masuk kak Chu Chu."
Melihat ekspresi dan nada suara mereka berdua, Chu Qingcheng semakin bingung, dan terlihat penasaran, tapi ia tidak berkata apa-apa dan hanya bisa mengikuti.
Tapi sebelum berjalan, Chu Qingcheng tiba-tiba berkata:"Oh, ya~, Xiao Yu sebagai hukuman karna membuat bibiku menunggu lama, kamu harus menggendong bibi sampai masuk!"
Qian Yu hanya tersenyum pasrah, dan kemudian ia berjongkok, "Baiklah nona, silahkan naik."
Chu Qingcheng dengan semangat mengalungkan tangannya ke leher Qian Yu, setelah itu Qian Yu mulai berdiri.
Saat ini Qian Yu merasakan sensasi yang luar biasa, siapa yang akan menolak hal lembut sebesar itu yang menempel pada punggungnya?
Saat Qian Yu ingin memegang kedua paha Chu Qingcheng, ia menolaknya, "Xiao Yu, tidak usah dipegang, tetap saja seperti ini."
"Tapi kak, bagaimana kalau kamu jatuh?"
"Tidak mungkin, ayo jalan saja."
Chu Qingcheng menolaknya, dan ia terus mengayun-ayunkan kedua kakinya yang dibalut stoking putih, yang membuat Qian Yu gagal mendapatkan kesempatan baik.
'Sudahlah, kelembutan di punggung juga baik, meskipun tidak di tangan.'
Qian Yu hanya bisa pasrah, dan kemudian mereka terus berjalan masuk kedalam.