NovelToon NovelToon
BATAS KESABARAN RENATA

BATAS KESABARAN RENATA

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eys Resa

Bagi Renata, pernikahan adalah ruang tunggu berisi siksaan yang ia jalani demi Dio, putra semata wayangnya. Menikah dengan Aris menuntutnya menjadi wanita yang tak boleh punya rasa lelah. Di rumah itu, dia diperlakukan bak pelayan tanpa gaji, menghadapi ibu mertua yang kejam dan manipulatif, serta menerima hinaan tiada henti dari Siska, adik iparnya yang bermulut tajam.

​Sementara Renata bersimbah peluh dan air mata, Aris justru menjadi suami yang abai. Pria itu selalu menutup mata, lebih mementingkan keluarganya, dan bersikap pelit luar biasa pada anak-istri sendiri.
​Demi Dio, Renata mencoba melapangkan dada dan bertahan dalam diam. Namun, benteng kesabarannya runtuh berkeping-keping saat ia mengetahui bahwa Aris memiliki wanita lain. Lebih menyakitkan lagi, keluarga mertuanya justru membela kebusukan Aris dan menyalahkan dirinya.

Apakah Renata akan bertahan di keluarga toxic itu? atau dia berani mengambil keputusan untuk melawan mereka yang sudah menyakitinya selama ini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

​Pulang kerja dari rumah Ririn, Rena tidak langsung kembali ke rumah. Dia membelokkan sepeda ontelnya menuju sebuah toko perlengkapan sekolah yang cukup besar di dekat pasar. Di dalam tasnya, uang dua ratus ribu dari Aris bersanding dengan sisa uang dari Ibu Lastri. Rena melangkah masuk dengan mantap, menuntun Dio yang matanya langsung berbinar-binar melihat deretan tas punggung yang berwarna-warni.

​Rena membelikan semua peralatan sekolah yang diperlukan untuk Dio, seperti tas baru bermotif robot, sepasang sepatu hitam untuk, kaos kaki, buku tulis, dan sekotak alat tulis lengkap. Melihat barang-barang baru itu kini berada di dalam pelukannya, Dio merasa sangat senang bukan main. Senyum lebar tak lepas dari wajah mungilnya, membuat segala rasa lelah di pundak Rena menguap begitu saja.

​Apalagi, sebelum pulang ke rumah, Rena sengaja memanjakan putranya terlebih dahulu. Dia mengajak Dio mampir ke sebuah warung tenda di pinggir jalan untuk membeli bakso untuk mereka berdua. Mereka makan dengan lahap, menikmati momen kebersamaan yang sederhana namun terasa begitu mewah setelah sekian lama hidup dalam tekanan. Karena agenda belanja dan makan bersama itu, Rena pulang jauh lebih terlambat dari kemarin. Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua lewat ketika sepedanya memasuki halaman rumah.

​Dan benar saja, hal yang sama kembali didapat Renata saat melangkah masuk ke dalam rumah. Ibu mertuanya yang sudah menunggu di ruang tengah langsung mengoceh tiada henti, suaranya melengking memenuhi ruangan.

​"Bagus ya! Jam segini baru pulang! Istri macam apa kamu ini, kelayapan sampai hampir sore begini?!" semprot Bu Broto, matanya langsung tertuju pada kantong plastik besar yang ditenteng Rena. "Apalagi itu yang kamu bawa? Wah, belanja banyak ya kamu! Kamu sengaja menghambur-hamburkan uang Aris, kan?! Suami kerja banting tulang, kamunya malah foya-foya!"

​Tuduhan tak berdasar itu membuat Rena benar-benar muak. Rasa lelah fisik ditambah polusi suara dari mertuanya membuat kesabaran Rena menipis. Bahkan, saat Rena dan Dio mau masuk ke dalam kamar mereka untuk menaruh barang-barang, langkah mereka langsung dihalangi oleh Bu Broto yang berdiri tegak di depan pintu kamar sambil berkacak pinggang dengan wajah merah padam.

​"Mau lari ke mana kamu? Jawab dulu pertanyaan Ibu! Dari mana kamu dapat uang buat beli barang-barang itu?!" bentak Bu Broto menghalangi jalan.

​Rena menatap ibu mertuanya dengan pandangan mata yang sangat dingin, tanpa ada sebersit pun rasa takut. "Kita bicarakan ini nanti malam dengan Mas Aris, Bu. Aku lelah dan mau istirahat sekarang."

​"Tidak bisa! Kamu harus jelaskan sekarang juga—"

​Tanpa menunggu Bu Broto menyelesaikan kalimatnya, dengan sedikit kasar Rena menerobos masuk ke dalam kamar, menyenggol lengan ibu mertuanya hingga wanita tua itu terkesiap mundur selangkah. Rena langsung menarik Dio masuk, menutup pintu kayu itu dengan bantingan pelan, dan mengunci pintu dari dalam. Dia sama sekali tidak menghiraukan kemarahan ibu mertuanya yang berteriak-teriak sambil menggedor pintu dari luar.

​Malam harinya, suasana rumah terasa sangat berat. Saat Aris pulang kerja, lagi-lagi Bu Broto langsung menyambut anak kesayangannya itu di depan pintu dan mengadu kepada anaknya tentang kelakuan Rena yang menurutnya sudah di luar kendali dan sangat kurang ajar.

​"Aris! Kamu harus tegas jadi suami! Istrimu itu sudah keterlaluan, sudah di luar kendali!" adu Bu Broto dengan berapi-api. "Tadi dia pulang jam dua siang bawa belanjaan banyak sekali! Waktu Ibu tanya, dia malah berani menyenggol Ibu dan mengunci diri di kamar! Dia pasti pakai uangmu diam-diam!"

​Aris hanya diam mendengar aduan itu. Pria itu memijat pelipisnya yang terasa pening, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Berbeda dengan hari-hari biasanya di mana dia akan langsung ikut menyalahkan istrinya, kali ini Aris tidak bisa berkutik. Dia sudah tahu betul apa yang dilakukan Rena selama dua hari ini karena peringatan keras dari Rena malam sebelumnya masih terngiang jelas di telinganya. Dia tahu Rena pergi bekerja, dan dia tahu dirinyalah yang tidak bisa mencukupi kebutuhan sekolah anaknya.

​Setelah makan malam yang dilalui dengan keheningan yang dingin, mereka semua akhirnya berkumpul di ruang tengah. Bu Broto yang duduk di sofa bersama Siska sengaja menciptakan sidang keluarga untuk membicarakan apa yang menjadi ganjalan di hatinya selama dua hari ini. Aris duduk di sofa tunggal, sementara Rena duduk di kursi kayu seberang mereka dengan ekspresi wajah yang sangat tenang.

​"Nah, sekarang jelaskan di depan Aris! Kamu dapat uang dari mana untuk beli barang-barang itu, Rena? Jangan-jangan kamu mencuri uang simpanan anakku?!" tuduh Bu Broto membuka persidangan dengan sengit.

​Rena tidak langsung menjawab mertuanya. Dia memalingkan wajahnya, menatap suaminya yang sejak tadi hanya menunduk.

​"Mas Aris," panggil Rena dengan suara tegas. "Tolong jawab pertanyaan ibumu ini. Berapa banyak uang yang kamu berikan kepadaku semalam untuk membeli keperluan sekolah Dio?"

​Aris berdeham pelan, merasa tidak nyaman karena menjadi pusat perhatian. Dengan suara pelan, dia menjawab, "Hanya dua ratus ribu, Ibu."

​Mendengar itu, Bu Broto langsung tersenyum kemenangan. "Nah, dengar kan! Aris cuma kasih dua ratus ribu! Tapi lihat apa yang kamu bawa pulang tadi sore!"

​Rena tersenyum sinis. Dia kemudian meletakkan sebuah tas belanjaan besar di atas meja kaca di ruang tengah tersebut. Satu per satu, Rena mengeluarkan belanjaannya tadi dan menatanya dengan rapi di sana. Ada tumpukan buku tulis bergambar, tas punggung baru yang tebal, sepasang sepatu hitam, kaos kaki, hingga kotak pensil yang diperlukan Dio untuk sekolah.

​Tidak berhenti sampai di situ, gerakan terakhir Rena membuat semua orang di ruangan itu terdiam. Rena mengeluarkan selembar kertas putih kecil dari dalam dompetnya dan meletakkannya tepat di bagian paling atas tumpukan barang tersebut.

​"Ini adalah kertas bukti pembayaran atau nota dari toko tadi," ucap Rena, menunjuk kertas tersebut dengan jarinya. "Di sana tertera dengan sangat jelas, total semua belanjaan untuk keperluan sekolah anakmu, Mas, adalah tiga ratus ribu rupiah."

​Rena menatap Aris, lalu beralih menatap Bu Broto dan Siska yang mendadak melongo.

​"Uang yang diberikan Mas Aris hanya dua ratus ribu rupiah. Sedangkan total kebutuhan dasar Dio saja sudah mencapai tiga ratus ribu rupiah," lanjut Rena dengan nada menyindir yang sangat kental. "Sekarang aku mau tanya pada Ibu dan Siska yang sejak sore menuduhku menghambur-hamburkan uang Mas Aris untuk berfoya-foya... dari mana logikanya aku bisa foya-foya, kalau uang dari anakmu saja bahkan tidak cukup untuk membeli sepasang sepatu dan tas sekolah anaknya sendiri?"

​Ruang tengah itu seketika menjadi sunyi senyap seperti kuburan. Nota belanjaan senilai tiga ratus ribu rupiah itu kini tergeletak di atas meja, menjadi bukti nyata yang menampar wajah mereka semua, meruntuhkan semua tuduhan palsu yang mereka lontarkan sejak sore tadi.

1
vania larasati
lanjut
Mefiani
kuat rena...sabar dulu suatu saat kebahagian akan datang kepadamu..💪💪
vania larasati
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!