Demi membiayai operasi ayahnya, Natalie nekat menjual keperawanannya pada seorang pria yang tidak ia kenal. Namun pria yang datang ternyata seorang dokter berhati baik yang justru ingin menyelamatkannya dari jalan buntu itu.
Setelah melewati malam yang penuh gairah, Drake malah kecanduan dengan tubuh Natalie, padahal dia tahu kalau wanita itu hanya mengejar uang.
Saat rahasia tergelap mereka terbongkar, mampukah hubungan rapuh dan terlarang ini tetap bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Hari bergulir begitu cepat, seolah waktu sengaja mempercepat detik-detiknya untuk menyiksa Drake. Pagi yang cerah itu tiba dengan kejam, membawa serta hari yang paling tidak diinginkannya: hari pernikahan dengan Sela.
Gereja katedral megah di pusat kota telah dipenuhi ratusan tamu undangan dari kalangan atas. Lampu kristal raksasa menyinari langit-langit tinggi yang dihiasi ukiran emas, bangku-bangku kayu mahoni mengkilap, dan karpet merah tebal membentang dari pintu masuk hingga altar.
Aroma bunga lily putih dan mawar merah memenuhi seluruh ruangan, bercampur dengan parfum mahal para tamu. Musik organ klasik mengalun lembut, menciptakan suasana sakral yang megah.
Para keluarga besar dari kedua belah pihak telah hadir lengkap, para pria berjas tuxedo hitam, para wanita mengenakan gaun malam mewah dengan perhiasan berlian yang berkilauan di bawah cahaya.
Nenek Drake duduk di baris paling depan dengan wajah penuh kebanggaan dan kemenangan. Matanya yang tajam menyapu seluruh ruangan, seolah memastikan tidak ada yang berani menentang keputusannya. Di sampingnya, keluarga Sela tersenyum lebar, saling berbisik penuh kepuasan atas persatuan dua dinasti besar ini.
Di pintu masuk gereja, Sela berdiri anggun dalam gaun pengantin impiannya. Gaun putih gading dengan ekor panjang yang mengalir indah, bordir mutiara dan kristal Swarovski yang berkilau setiap kali ia bergerak. Kerudung tipis menutupi wajahnya yang cantik, tapi tidak mampu menyembunyikan senyum puas dan penuh kemenangan di bibirnya. Ia benar-benar terlihat seperti ratu hari ini.
Drake berdiri di sisinya, tampan dan tegap dalam tuksedo hitam yang sempurna. Rambutnya disisir rapi, rahang tegasnya terlihat semakin kaku. Tapi matanya yang biasanya tajam dan penuh wibawa, kini tampak kosong dan dingin.
Ia berjalan seperti robot, tanpa senyum, tanpa kebahagiaan. Setiap langkah menuju altar terasa seperti menuju tiang gantungan.
Sela menyusupkan tangannya ke lengan Drake dengan posesif, jari-jarinya menggenggam erat seolah takut pria itu akan melarikan diri.
"Hari ini akhirnya tiba, Sayang," bisiknya lembut di telinga Drake, suaranya manis tapi penuh kemenangan. "Kita akan menjadi suami istri di hadapan semua orang."
Drake tidak menjawab. Ia hanya melangkah maju secara mekanis, mengikuti irama musik pernikahan yang semakin menggema. Pandangannya lurus ke depan, tapi pikirannya melayang jauh. Ke mana Nathalie sekarang? Sudah berapa hari wanita itu menghilang tanpa kabar? Nomor ponselnya masih tidak aktif. Pesan-pesannya tak dibalas.
Setiap malam Drake mondar-mandir di kamar, memikirkan wajah pucat Nathalie, pelukannya yang hangat, dan bisikannya yang penuh pengorbanan.
"Maafkan aku, Nathalie" batin Drake, dada terasa sesak. Ini bukan yang aku inginkan.
Mereka berdua berjalan perlahan menyusuri karpet merah. Tamu-tamu undangan berdiri, menoleh dengan senyum dan bisik-bisik kagum. Flash kamera dari para fotografer profesional menyilaukan mata. Semua orang melihat ini sebagai pernikahan impian, dua orang dari kalangan elite yang sempurna.
Tapi bagi Drake, ini adalah mimpi buruk yang nyata.
Sela melambai kecil ke arah tamu dengan anggun, sesekali menoleh ke Drake dan tersenyum manis, seolah mereka adalah pasangan paling bahagia di dunia. Tapi Drake tetap diam. Rahangnya mengeras, urat di lehernya menonjol menahan gejolak emosi yang membara di dalam dada. Ia ingin berbalik, ingin lari dari altar ini, ingin mencari Nathalie dan memeluknya erat. Tapi bayangan neneknya, ancaman keluarga, dan tekanan bisnis membuat kakinya terus melangkah maju.
Di depan altar, pendeta sudah berdiri menunggu dengan Alkitab di tangan. Lilin-lilin besar menyala terang, menciptakan suasana hangat yang kontras dengan dinginnya hati Drake.
Saat mereka tiba di depan altar, Sela menoleh dan meremas lengan Drake lebih erat. "Lihat, Drake. Semua orang datang untuk kita. Ini adalah awal dari segalanya," bisiknya penuh kebahagiaan.
Drake hanya menatap lurus ke depan, matanya kosong. Di benaknya, ia membayangkan Nathalie berdiri di sana, dengan gaun sederhana, senyum tulus, dan cinta yang murni. Bukan kemewahan ini. Bukan kepalsuan ini.
Musik berhenti. Pendeta mulai berbicara, suaranya menggema di seluruh gereja.
"Hari ini, kita menyaksikan penyatuan dua jiwa..."
Drake mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Hari yang seharusnya bahagia ini terasa seperti akhir dari segalanya.
Sementara Sela berdiri di sampingnya dengan senyum sempurna, hati Drake telah hancur berkeping-keping, tertinggal bersama seorang perawat biasa yang kini entah berada di mana.
Gereja megah itu penuh sorak sorai dan tepuk tangan saat pendeta melanjutkan upacara. Tapi di tengah kemewahan dan kebahagiaan palsu itu, Drake merasa ia telah kehilangan segalanya.
Pintu gereja besar terbuka lebar dengan suara keras yang menggema, memecah kesakralan upacara.
Nathalie melangkah masuk ke dalam gereja katedral yang megah itu dengan napas tersengal. Gaun sederhana berwarna krem yang dikenakannya sudah kusut, rambutnya agak acak-acakan karena berlari, tapi matanya penuh tekad meski air mata terus berderai deras di pipinya.
"TUNGGU!"
Suara Nathalie yang lantang dan penuh emosi menggema hingga ke seluruh penjuru gereja. Musik organ berhenti mendadak. Semua kepala langsung menoleh ke arah pintu masuk. Ratusan pasang mata tamu undangan dari kalangan elit itu membelalak kaget, bisik-bisik mulai terdengar seperti gemuruh lebah yang marah.
Nathalie tidak peduli. Dengan langkah tegas meski kakinya gemetar, ia melangkahkan kakinya menyusuri karpet merah panjang menuju altar. Air matanya berderai tanpa henti, membasahi pipinya yang pucat. Setiap langkah terasa berat, tapi cinta dan keputusasaan mendorongnya maju.
Drake yang berdiri di depan altar langsung membeku. Wajahnya yang tadinya dingin dan kosong kini berubah drastis, matanya melebar, rahangnya terjatuh, dan tubuh tegapnya menegang hebat.
Sela di sampingnya memucat seketika, tangannya yang menggenggam lengan Drake langsung mencengkeram lebih kuat hingga kuku-kukunya menancap.
"DRAKE!" seru Nathalie lagi, suaranya pecah di tengah tangis. "Kamu tidak bisa melanjutkan pernikahan ini!"
Ia berhenti beberapa meter di depan altar, napasnya memburu. Seluruh gereja kini sunyi senyap, hanya terdengar isak tangis Nathalie dan detak jantung ratusan orang yang terkejut.
Nenek Drake berdiri dari kursinya dengan wajah merah padam karena amarah. Para pelayan dan pengawal keluarga Vandergaard bergerak gelisah, tapi tak ada yang berani maju tanpa perintah.
Sela berbalik menghadap Nathalie dengan ekspresi marah bercampur panik. "Kau?! Berani sekali kau datang ke sini, wanita rendahan! Ini hari pernikahanku!" bentaknya dengan suara tinggi, wajah cantiknya kini mengeras penuh kebencian.
Tapi Nathalie tidak menoleh ke arah Sela. Matanya hanya tertuju pada Drake. Air matanya terus mengalir, tangannya memegangi perutnya dengan lembut dan protektif.
"Aku hamil Drake" ucap Nathalie dengan suara yang bergetar, tapi cukup keras hingga terdengar oleh semua orang di gereja.
JEDDEER...