Sinopsis
Putri viona Isabella berangkat menuju Kerajaan Timur untuk menikahi putra mahkota sesuai perjodohan antar kerajaan. Namun, di tengah perjalanan rombongannya diserang perampok hingga seluruh pengawal tewas.
Dengan tubuh penuh luka, viona melarikan diri ke dalam hutan dan diselamatkan oleh Derek Henrick, pria misterius yang memilih hidup mengasingkan diri. Seiring waktu, cinta tumbuh di antara mereka.
Saat identitas Fiona akhirnya terungkap, ia harus memilih antara memenuhi takdirnya sebagai seorang putri atau mempertahankan cinta yang telah menyelamatkan hidupnya. Namun, Derek ternyata menyimpan rahasia besar yang dapat mengubah nasib kedua kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Menyusun Perbekalan untuk Perjalanan Panjang
Hari keempat itu dimulai dengan langit yang masih gelap. Viona sudah bangun sejak subuh, tetapi Derek sudah lebih dulu terjaga. Ia tidak sedang duduk di dekat perapian seperti biasanya. Kali ini, ia sedang sibuk membongkar seluruh isi lemari kayu di sudut kabin—mengeluarkan botol-botol kecil, kantong kain, dan gulungan tali ke atas meja.
Viona yang baru saja selesai merapikan rambutnya berjalan mendekat. "Apa yang sedang kau lakukan?"
"Kita akan berangkat hari ini," jawab Derek tanpa menoleh. "Tapi sebelum itu, aku harus memastikan perbekalan kita cukup untuk dua minggu di pegunungan. Tidak ada toko di tengah hutan, dan tidak ada warung di puncak gunung."
Viona duduk di kursi di seberang meja, memperhatikan Derek dengan saksama. Pria itu mengambil selembar kain kanvas besar, lalu mulai membentangkannya di atas meja. Di atas kain itu, ia mulai mengelompokkan barang-barang satu per satu. Tangannya bergerak cepat dan teratur, seolah sudah ribuan kali ia melakukan hal ini.
"Kita punya dua kuda," ucap Derek memulai penjelasannya. "Satu untukku, satu untukmu. Kuda-kuda ini bisa membawa beban masing-masing sekitar empat puluh kilogram. Kita tidak bisa membawa terlalu banyak barang, karena perjalanan melewati pegunungan akan membuat kuda cepat lelah."
Viona mengangguk. "Jadi, apa yang harus kita bawa?"
Derek menunjuk ke tumpukan barang pertama. "Makanan. Ini yang paling penting." Ia mengambil beberapa bungkusan kain. "Aku sudah mengasap daging rusa dan kelinci selama beberapa hari terakhir. Ada sekitar sepuluh potong daging asap. Cukup untuk kita berdua selama kurang lebih sepuluh hari jika kita makan dengan porsi hemat. Selain itu, ada roti kering dari tepung gandum—tiga bungkus besar. Dan aku juga membawa madu liar dan beberapa buah kering. Itu untuk gula dan energi."
Viona menatap tumpukan makanan itu. "Bagaimana jika perjalanan lebih dari dua minggu?"
"Kita akan berburu di sepanjang jalan." Derek menunjuk ke busur dan beberapa anak panah yang sudah disiapkan. "Pegunungan ini banyak rusa dan kelinci. Asalkan kita tidak membuat terlalu banyak suara, kita bisa mendapatkan daging segar. Tapi itu cadangan. Kita tidak bisa hanya mengandalkan buruan."
Derek lalu memindahkan perhatiannya ke tumpukan kedua. "Perlengkapan darurat dan obat-obatan." Ia mengambil beberapa botol kecil berwarna gelap. "Ini minyak kayu putih untuk meredakan nyeri otot. Ini salep dari kulit pohon kina untuk mengobati demam. Dan yang ini—" Derek mengangkat sebuah botol kecil berisi cairan kuning. "—racun bisa ular. Jika ada ular berbisa yang menggigitmu, ini bisa menetralkan racun."
Viona mengangkat alisnya. "Kau punya obat penawar racun ular? Di hutan ini banyak ular berbisa?"
"Pegunungan utara adalah sarang ular berbisa. Terutama saat musim panas seperti sekarang." Derek menatap Viona serius. "Kau harus selalu memakai sepatu bot tebal, dan jangan sekali-kali menginjak rerumputan tinggi tanpa memeriksa."
"Baik," jawab Viona, mencatat semua saran Derek dalam benaknya.
Tumpukan ketiga adalah peralatan bertahan hidup. Derek mengeluarkan sebilah kapak kecil, satu set batu api dan baja untuk membuat api, sebuah kompas tua, dan selembar peta besar yang sudah usang di pinggirannya.
"Peta ini sangat penting," kata Derek, membentangkan peta itu di atas meja. "Kau lihat ini? Kabin kita ada di titik ini." Ia menunjuk sebuah tanda silang kecil di sudut barat peta. "Dan Kerajaan Timur ada di sini." Jarinya berpindah ke ujung timur peta.
Viona mencondongkan tubuhnya untuk melihat lebih jelas. Di antara kabin dan Kerajaan Timur, terbentang garis berliku yang melewati tiga gunung besar dan dua sungai.
"Jalur ini tidak ada di peta mana pun," kata Derek melanjutkan. "Aku sendiri yang membuatnya selama bertahun-tahun berburu di daerah ini. Jalan utama kerajaan memang lebih cepat, tetapi penuh pos jaga musuh. Jalur ini lebih terjal dan memakan waktu dua minggu, tetapi aman dari mata-mata."
"Kenapa kau membuat peta ini?" tanya Viona, rasa penasarannya muncul kembali.
Derek diam sejenak. "Karena suatu hari, seseorang mungkin membutuhkannya." Ucapannya singkat, dan ia segera mengalihkan pembicaraan. "Barang selanjutnya: uang."
Viona terkejut saat Derek mengeluarkan sekantong kecil koin emas dan perak. "Kau membawa uang?"
"Untuk berjaga-jaga. Jalur pegunungan ini memang sepi, tetapi di kaki gunung ada beberapa desa kecil. Jika kuda kita pincang atau kita kehabisan makanan, kita bisa membeli bahan makanan di desa-desa itu. Tapi kita harus sangat berhati-hati—desa-desa itu sering dikunjungi oleh pedagang yang juga bisa menjadi mata-mata musuh."
Viona menghela napas. "Ini jauh lebih rumit dari yang aku bayangkan. Di istana, semua sudah disiapkan oleh pelayan."
Derek tersenyum tipis. "Dunia di luar istana sangat berbeda, Putri. Tidak ada pelayan yang akan menyediakan makanan untukmu, dan tidak ada tukang kuda yang akan memastikan kudamu sehat. Kamu harus melakukannya sendiri."
Viona mengangguk dengan tekad. "Aku akan belajar."
Derek memandang Viona sebentar. Ada sedikit keraguan di matanya, tetapi ia tidak mengucapkannya. Lalu ia melanjutkan menunjukkan barang-barang lainnya: tali tambang, gulungan kain kasa tambahan, sebuah cangkir logam untuk memasak air, dan dua buah kantong kulit untuk menyimpan air minum.
"Air minum adalah masalah utama," ucap Derek. "Di pegunungan, ada banyak sungai, tetapi airnya harus direbus dulu sebelum diminum. Jangan pernah minum air mentah dari sungai—kecuali kau ingin diare dan kehabisan tenaga di tengah jalan."
"Dimengerti," jawab Viona.
Derek lalu menunjuk ke tumpukan terakhir—barang-barang pribadi. Ada dua selimut tebal, sebuah tenda kecil yang bisa dilipat, dan sepasang sarung tangan kulit.
"Ini untukmu," kata Derek, melempar sepasang sarung tangan kulit ke arah Viona. "Tanganmu masih terluka dan jahitan di lenganku belum sepenuhnya kering. Sarung tangan ini akan melindunginya saat kau memegang tali kekang kuda. Dan kau harus memakai selimut tebal ini saat malam hari—pegunungan bisa sangat dingin meskipun di musim panas."
Viona menerima sarung tangan itu dan memakainya. Kulitnya tebal dan lembut, terbuat dari rusa yang sudah diolah dengan baik. "Terima kasih, Derek. Ini sangat membantu."
"Jangan berterima kasih dulu." Derek menggeleng. "Perjalanan belum dimulai. Kami masih harus membagi semua barang ini ke dalam dua kantong pelana."
Selama dua jam berikutnya, Derek dan Viona bekerja sama memasukkan semua perbekalan ke dalam dua tas besar yang digantung di sisi pelana kuda. Viona membantu mengikat tali, memastikan semua barang tertata rapi agar tidak bergeser saat kuda berlari. Derek mengajarinya cara mengikat simpul yang kuat—simpul yang tidak mudah lepas meskipun ditarik oleh beban berat.
Saat matahari mulai naik, akhirnya semua barang siap.
Derek berdiri di depan kabinnya, menatap bangunan kayu kecil itu untuk terakhir kalinya. "Aku tidak akan kembali ke sini untuk beberapa bulan. Semoga cuaca tetap baik."
"Kau sedih meninggalkan tempat ini?" tanya Viona.
Derek menghela napas. "Kabin ini lebih aman daripada istana mana pun. Tapi kau benar—kita tidak punya banyak waktu. Mari berangkat."
Keduanya menaiki kuda masing-masing. Viona masih sedikit kaku, tetapi ia sudah bisa mengendalikan kuda dengan lebih baik daripada hari pertamanya. Derek melangkah pelan, melewati kabin yang kini mulai tertutup kabut pagi.
"Ke mana kita pertama kali?" tanya Viona.
"Menuju utara. Kita akan mengikuti aliran sungai yang membentang di kaki gunung pertama. Jalannya datar, tapi cukup jauh." Derek memacu kudanya perlahan. "Kita akan istirahat di sebuah gua kecil sebelum malam tiba. Di sana, kita bisa membangun api unggun dan memasak makanan hangat."
Viona mengikuti dari belakang. Angin pagi menerpa wajahnya, tetapi kali ini, ia tidak merasa kedinginan. Tubuhnya sudah pulih, perbekalan sudah lengkap, dan di depannya ada seorang pria yang rela mempertaruhkan nyawa untuk mengantarnya.
Namun, di balik semua persiapan itu, Viona bertanya-tanya: Apa yang sebenarnya dilakukan Derek selama bertahun-tahun di hutan ini? Dan mengapa ia begitu ahli dalam merencanakan perjalanan seperti ini? Seolah, Derek Henrick bukan hanya sedang mengantarnya ke Kerajaan Timur—ia seolah sedang memenuhi misi yang sudah ia rencanakan sejak lama.
Mereka terus melaju, dan kabin kayu itu hilang ditelan kabut.