SCANDAL Part II: To Catch a Star
Sinopsis:
Bagi dunia, Galasky Ardayana (35 tahun) adalah definisi kesempurnaan. Aktor papan atas yang telah merajai layar kaca selama 12 tahun, pewaris tunggal Ardayana Group yang membangkang, dan pria lajang yang paling diinginkan se-Indonesia. Namun, di balik lampu spotlight, Gala adalah pria yang "mati rasa". Pengkhianatan di masa kuliah membuatnya menutup pintu hati rapat-rapat, lebih memilih hidup sebagai "perjaka tua" daripada harus terluka lagi.
Namun, ketenangannya hancur saat Airaya Greline Pradipta (19 tahun)—putri dari sahabat karibnya sendiri, Elang Adytama—muncul kembali sebagai gadis dewasa yang luar biasa cantik... dan sangat berani.
Yaya tidak main-main. Dia tidak peduli dengan perbedaan usia 16 tahun. Dia juga tidak peduli kalau Gala adalah orang yang sering menggendongnya saat ia masih bayi. Bagi Yaya, Gala adalah satu-satunya pria yang harus ia taklukkan.
"Om Gala, jangan sok jual mahal. Daripada diledekin perjaka tua terus sama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
...
..
Deru mesin mobil sport putih milik Gala perlahan mati saat memasuki pelataran sebuah vila pribadi tersembunyi di kawasan Lembang, Bandung Barat. Vila mewah bergaya modern tropis itu terletak di dataran tinggi yang dikelilingi oleh pepohonan pinus lebat. Udara dingin ekstrem khas Lembang langsung menusuk kulit begitu pintu mobil dibuka, membawa kabut tipis fajar yang perlahan turun menyelimuti halaman.
Bagi Gala, tempat ini adalah surga dunia yang sesungguhnya. Tidak ada manajer yang cerewet, tidak ada kru film yang kepo, dan yang paling penting: tidak ada ulet keket seperti Jesica atau Viona yang mengacaukan poros hidupnya. Di tempat terpencil ini, Galasky Ardayana bebas menanggalkan topeng aktor papan atas miliknya untuk menjadi seorang pria dewasa yang sedang mabuk kepayang oleh cinta.
"Dingin banget, Om..." rintih Aira saat mereka sudah berada di dalam ruang keluarga vila yang luas. Tubuh mungilnya gemetaran di balik hoodie oversize tebalnya.
Gala tidak membalas dengan kata-kata. Pria 35 tahun itu menyalakan perapian modern di sudut ruangan, lalu berjalan mendekati Aira. Dengan gerakan yang pelan, Gala menarik tubuh ramping Yaya ke dalam dekapannya, membungkus tubuh gadis itu dengan selembar selimut wol tebal berukuran raksasa sampai mereka berdua menyatu di atas sofa bed empuk menghadap ke jendela kaca besar.
Malam itu, mereka menghabiskan waktu dengan intim. Aira sibuk menyandarkan kepalanya di dada bidang Gala, matanya fokus menatap layar TV raksasa yang sedang memutar Drama China romantis kesukaannya. Sementara Gala? Pemenang Piala Citra itu sama sekali tidak tertarik pada alur cerita dracin di depan matanya. Fokus Gala murni tertuju pada wajah polos Yaya. Tangan besarnya yang hangat tidak berhenti bergerak, memeluk pinggang ramping Yaya dari belakang, mengecup bahu polos gadis itu, dan menghirup dalam-dalam aroma stroberi yang menguar dari lehernya.
Keesokan paginya, matahari Lembang terbit dengan hangat. Gala memenuhi janjinya untuk membawa sang Tuan Putri keluar menikmati alam. Bukan ke mall mewah Jakarta, melainkan berjalan kaki santai membelah hamparan luas perkebunan teh yang hijau membentang bagaikan karpet alam.
Aira melangkah dengan riang di antara undakan tanaman teh, sesekali merentangkan kedua tangannya menikmati terpaan angin gunung yang sejuk. Rambutnya yang sengaja digerai berantakan bergoyang cantik, membuat Gala yang berjalan di belakangnya berkali-kali terpaku memuja keindahan wanitanya.
"Om Gala! Sini deh, liat! Bagus banget pemandangannya!" teriak Aira riang, berbalik sambil memamerkan cengiran manis andalannya.
Gala melangkah lebar, memangkas jarak di antara mereka di tengah sunyinya kebun teh yang sepi pengunjung pagi itu. Tanpa aba-aba, Gala merangkul pinggang Yaya dari belakang, menenggelamkan wajah tegasnya di ceruk leher Yaya hingga gadis itu memekik geli karena sensasi geli dari napas berat Gala.
"Kamu jauh lebih indah dari pemandangan mana pun di dunia ini, Yaya," bisik Gala dengan suara baritonnya yang rendah dan berat, sukses membuat pipi Aira langsung memerah padam mengalahkan warna fajar.
Puas menghirup segarnya udara pegunungan, mereka kembali ke vila saat hari sudah beranjak siang. Tubuh mereka yang sedikit berkeringat dan terpapar angin dingin Lembang butuh kehangatan yang sesungguhnya.
Tanpa perlu banyak perdebatan, Gala menuntun Yaya masuk ke dalam kamar mandi utama yang dilengkapi dengan bathtub marmer berukuran besar. Air hangat yang mengepulkan asap tipis sudah terisi penuh, dicampur dengan minyak aromaterapi yang menenangkan.
"Om... mandi bareng beneran?" tanya Aira dengan suara yang mendadak cicit, sisa-sisa keberanian amatirnya langsung menciut saat melihat Gala dengan santai melepas kemeja kasualnya di depan mata kepala sendiri, menampilkan dada bidang berotot dan perut sixpack atletisnya yang sempurna.
Gala tersenyum miring—sebuah seringai predator matang yang sangat berbahaya bagi kesehatan jantung Yaya. "Kenapa? Kemarin di apartemen nantangin dibakar api, sekarang malah malu-malu, hm?" ledek Gala rendah.
Gala mengangkat tubuh lemas Yaya ke dalam gendongan bridal style, membawanya masuk ke dalam bathtub hangat bersama-sama. Di dalam sana, ritual mandi bersama berubah menjadi momen yang sangat erotis sekaligus penuh kasih sayang. Gala membantu membersihkan tubuh Yaya dengan sangat lembut, jemari besarnya bergerak telaten menyusuri setiap lekuk kulit mulus Yaya yang kontras di bawah air hangat. Tidak ada ketergesaan, yang ada hanyalah lumatan-lumatan kecil penuh perasaan di bibir merah Yaya yang membuat pertahanan gadis itu lumpuh total.
Selesai mandi, kejutan sesungguhnya baru dimulai di atas ranjang kingsize kamar utama vila. Begitu tubuh mereka terbungkus jubah mandi tebal yang hangat, Gala tidak memberikan kesempatan bagi Yaya untuk melarikan diri ke mana pun.
Gala mengunci tubuh ramping Yaya di bawah kungkungan tubuh kekarnya. Suasana kamar yang sejuk berganti drastis menjadi sangat panas membara saat jubah mandi mereka terlepas asal ke lantai. Selama sisa hari-hari tinggal di vila Lembang, waktu mereka seolah berhenti berputar. Tidak ada waktu yang terbuang tanpa bermesraan.
Setiap sudut vila—mulai dari sofa bed depan perapian, bathtub marmer, hingga seprai kasur mewah yang kini sudah kusut berantakan—menjadi saksi bisu kebrutalan hasrat pria dewasa Gala yang resmi meledak tanpa sensor.
"Om... ahh... ampun, udah lemes banget kaki Yaya..." rintih Aira menangis manja di bawah kendali Gala, memeluk erat leher pria itu saat gelombang kenikmatan yang intens kembali menghantam tubuhnya berturut-turut.
"Tahan sebentar lagi, Sayang... Nikmati saja seutuhnya, Yaya," bisik Gala berat tepat di telinga Aira, suaranya yang berat dan seksi terasa begitu memabukkan di tengah deru napas mereka yang berantakan saling memburu. Gala menghujani wajah, kening, dan leher Yaya dengan kecupan. mengunci takdir mereka berdua semakin dalam di bawah dinginnya kabut Lembang.
langsung di kurung yeeee
🤣🤣🤣🤣🤣🤣om om mateng satu ini emang beda
di sini kesannya gala jadi tersangka yang paling jahat ya ?!
semngat beb , aku selalu menanti karya2 mu love you😘😘😘😘😘