NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Beda Usia
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Kamu tidak bisa melangkah keluar dari pintu itu sebelum kamu bertanggung jawab untuk apa yang sudah kamu lakukan padaku."

"Tanggung jawab? Harusnya kamu bersyukur Tuan, dapat ciuman gratis dari gadis secantik aku malam ini. Bye!"

....

Demi kabur dari kejaran pengawal papanya, Zevanya Anneliza Sanjaya (21) nekat menerobos ruang VIP sebuah bar eksklusif dan membungkam pria asing di dalamnya dengan ciuman panas. Dia mengira urusan mereka selesai malam itu juga.
Namun, takdir bercanda. Seminggu kemudian, Anya dipaksa bertunangan dengan Calvin Fernandez (25), pria kaku yang super membosankan. Syoknya lagi, pria asing yang dia cium di bar malam itu ternyata adalah Bara Fernandez (35) sang paman tunangannya yang berkuasa. Di depan keluarga, Bara tampil berwibawa bak malaikat, tapi di depan Zevanya, dia menjelma menjadi pria nakal yang siap menjeratnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 #Siapa Melati

​Anya menatap nanar ke arah garasi besar rumahnya dengan jantung yang berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. Sial. Mobil mewah milik sang papa, Tito Sanjaya, sudah terparkir dengan sangat rapi di sana. Itu artinya, pria paruh baya yang memiliki pembawaan tegas dan disiplin itu sudah berada di dalam rumah sebelum Anya sempat menyelinap masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri.

​Sebelum melangkah keluar dari mobil sedan merahnya, Anya buru-buru memandang pantulan dirinya pada kamera depan ponselnya. Dia menghela napas berat, merutuki nasib sialnya sore ini. Merapikan penampilan? Rasanya itu adalah hal yang mustahil untuk dilakukan sekarang. Blouse berwarna soft pink yang dikenakannya sudah terlihat begitu kusut, dan kehilangan bentuknya akibat digulung dan ditarik secara paksa oleh tangan kekar Bara di dalam penthouse tadi.

​Tak hanya itu, celana panjang putihnya pun terlihat mengenaskan dengan bercak-bercak basah yang cukup luas akibat terkena cipratan air saat dia dipaksa mencuci kemeja Bara di wastafel. Bau harum yang menguar dari tubuhnya pun bukan lagi wangi parfum mahalnya, melainkan bau menyengat dari sabun cuci baju yang melekat kuat di kain pakaiannya. Anya melirik jemarinya yang gemetar. Kuku di jari manisnya patah, menyisakan rasa perih yang samar akibat dia mengucek kemeja Bara terlalu kuat hingga kemeja pria itu berujung sobek.

​Namun, dari semua kekacauan fisik itu, ada satu hal yang paling krusial dan membuat Anya merinding ketakutan. Dengan jemari gemetar, dia menurunkan sedikit kerah blouse-nya untuk memeriksa area lehernya di depan kamera ponsel. Di sana, sebuah tanda kemerahan samar, jejak kepemilikan yang ditinggalkan oleh bibir panas Bara tercetak.

​Anya buru-buru menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan hatinya yang bergemuruh. Dia mulai menyusun skenario kebohongan di dalam kepalanya demi menyelamatkan diri dari interogasi sang papa. Untuk masalah baju yang basah dan bau sabun, dia akan beralasan bahwa di kampus tadi ada anak-anak tingkat bawah yang sedang iseng bermain semprotan sabun untuk merayakan sesuatu dan tidak sengaja mengenai dirinya. Sementara untuk blouse-nya yang kusut masai, Anya akan beralasan bahwa dia harus berdesak-desakan di koridor kampus saat menuju parkiran mobilnya. Setelah memastikan letak rambut panjangnya terurai sempurna demi menutupi tanda merah di lehernya, Anya melangkah turun dari mobilnya dengan kaki yang terasa lemas.

Anya melangkah memasuki rumah besarnya lewat pintu samping.

​"Anya pulang, Pa," sapa Anya dengan suara yang diusahakan setenang mungkin saat melangkah masuk ke dalam ruang tengah.

​Tito Sanjaya yang sedang membaca beberapa dokumen bisnis di atas sofa langsung mendongak. Sepasang mata tegasnya meneliti penampilan putri tunggalnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Alisnya sempat bertaut melihat kekacauan pada pakaian Anya, namun sebelum sang papa sempat melontarkan pertanyaan tajam, Anya dengan cepat mengeluarkan seluruh alasan yang sudah diputarnya di dalam taksi tadi dengan nada mengeluh yang natural.

​Tito hanya menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan mendengarnya. "Lain kali hati-hati, Anya. Kamu itu calon istri dari seorang Calvin Fernandez, jaga caramu berpenampilan di luar rumah."

​Anya hanya bisa mengangguk pasrah, berpura-pura patuh demi menyembunyikan rasa bersalah yang membakar dadanya. Namun, kalimat berikutnya yang keluar dari mulut Tito justru membuat Anya membeku di tempat.

​"Duduk dulu, Anya. Ada hal penting dari keluarga Fernandez yang harus Papa sampaikan padamu," ujar Tito sembari meletakkan dokumennya di atas meja.

​Anya menelan ludahnya dengan susah payah, lalu mendudukkan diri di sofa yang berseberangan dengan sang papa, memastikan jarak mereka cukup jauh agar bau sabun cuci di bajunya tidak tercium. "Ada apa, Pa?"

​"Tadi Papa bertemu om Tomi dan Tante Isyana. Kita berbincang santai, akhir pekan ini, keluarga kita sepakat mengadakan liburan bersama di villa utama milik keluarga Fernandez yang berada di dekat pantai," jelas Tito dengan gurat wajah yang tampak puas dengan rencana tersebut. "Papa pikir ini adalah kesempatan yang sangat bagus untuk mempererat hubungan antar keluarga, terutama untukmu dan Calvin."

​Bagaikan disengat listrik, mata Anya melebar seketika. Mengingat apa yang baru saja terjadi di penthouse Bara beberapa jam lalu, liburan bersama keluarga besar Fernandez adalah hal terakhir yang ingin Anya lakukan di dunia ini. Itu bukan liburan, melainkan jalur cepat menuju neraka terlarang yang dipersiapkan Bara untuknya.

​"Tapi, Pa... Anya sepertinya gak bisa ikut," potong Anya dengan cepat, suaranya sedikit meninggi karena panik. "Skripsi Anya saja masih menumpuk dan belum selesai. Kepala Anya rasanya mau pecah karena pusing memikirkan revisi dosen, kok malah diajak liburan akhir pekan?"

​Tito Sanjaya terkekeh pelan, melambaikan tangannya seolah keberatan Anya adalah hal yang sepele. "Hanya dua hari, Anya. Liburan singkat di akhir pekan tidak akan membuat skripsimu hancur. Justru di sana nanti, Kamu bisa banyak konsultasi dengan Calvin. Calvin itu pria yang cerdas dan berwawasan luas, dia pasti bisa membimbingmu agar skripsimu cepat selesai setelah liburan nanti. Jadi, tidak ada alasan untuk menolak. Keputusan Papa sudah bulat, kita akan pergi akhir pekan ini."

​Anya mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja hingga kuku manisnya yang patah kembali berdenyut perih. Dia tidak punya pilihan selain menerima perintah mutlak sang papa dengan hati yang diselimuti kecemasan luar biasa.

.

.

​Sementara itu, di kediaman utama keluarga Fernandez, atmosfer yang tak kalah tegang justru sedang menyelimuti Calvin Fernandez. Pria muda bertubuh jangkung itu baru saja dipanggil oleh sang papa, Tomi Fernandez, ke ruang kerja pribadi untuk diberitahu mengenai rencana liburan akhir pekan bersama keluarga Sanjaya.

​Calvin hanya bisa menganggukkan kepalanya secara formal, mengiyakan rencana liburan tersebut demi menjaga nama baik dan kepatuhannya pada orang tua. Namun, di balik wajahnya yang datar dan tenang bagai air di permukaan, pikiran Calvin justru terasa sangat berat dan berkecamuk.

​Sebenarnya, akhir minggu ini Calvin sudah memiliki janji yang sangat penting bagi hatinya. Dia sudah berjanji pada Melati, wanita yang selama ini menjadi pemilik takhta rahasia di hatinya, untuk menemaninya pergi membeli beberapa furniture dan peralatan baru untuk restoran Jasmine Food and Bakery milik Melati yang baru saja akan dikembangkan. Calvin tahu betapa Melati sangat mengharapkan kehadirannya di hari itu, dan membatalkannya secara sepihak terasa seperti sebuah tusukan di dadanya sendiri.

​Setelah pembicaraan dengan Tomi Fernandez selesai, Calvin segera melangkah keluar dari ruangan kerja sang papa. Dia berjalan menuju ke arah balkon luar yang sepi di lantai dua, menjauh dari jangkauan indra pendengaran sang papa demi mendapatkan privasi. Dengan gerakan tergesa, Calvin merogoh saku celananya, mengambil ponselnya dan langsung mendial nomor kontak milik Melati.

​Hanya butuh dua kali nada sambung sebelum suara lembut dan menenangkan khas milik Melati terdengar di seberang telepon.

​"Halo, Vin?" sapa Melati di seberang sana, suaranya terdengar begitu ceria, membuat rasa bersalah di dada Calvin semakin menumpuk tinggi.

​Calvin menghela napas pendek, mencoba mengatur nada suaranya agar tidak terdengar terlalu frustrasi. "Mbak Melati... maafkan aku. Sepertinya untuk akhir minggu ini, aku mendadak ada acara keluarga yang sangat penting dan mendesak. Aku tidak bisa menemanimu pergi ke toko furniture untuk keperluan restoranmu."

​Keheningan sempat tercipta selama beberapa detik di seberang telepon, membuat jantung Calvin berdegup cemas. Namun, Melati yang memang memiliki kepribadian yang teramat lemah lembut, pengertian, dan selalu tahu diri akan posisinya yang bukan siapa-siapa di mata keluarga Fernandez, segera menjawab dengan nada suara yang dipaksakan tetap ceria.

​"Oh, begitu ya, Vin? Iya, tidak apa-apa kok. Acara keluarga itu jauh lebih penting, kamu tidak perlu merasa bersalah padaku. Aku bisa pergi sendiri atau meminta bantuan karyawanku nanti. Kamu fokus saja pada acaramu, ya," sahut Melati dengan kebaikan hati yang justru membuat hati Calvin semakin teriris.

​"Maafkan aku, Nanti setelah urusanku selesai, aku akan langsung menemuimu," bisik Calvin dengan nada penuh penyesalan yang mendalam.

​"Iya, Vin. Jaga kesehatanmu di sana, ya. Sampai jumpa."

​Pip.

​Sambungan telepon diputus sepihak oleh Melati. Calvin menurunkan ponselnya dari telinga dengan sela jari yang mencengkeram erat gawai pintar tersebut. Dia memejamkan matanya sejenak, merutuki nasibnya yang harus terjebak dalam perjodohan formalitas dengan Anya, sementara hatinya tertinggal sepenuhnya pada sosok wanita sederhana seperti Melati.

​Namun, saat Calvin baru saja membalikkan tubuhnya hendak kembali masuk ke dalam rumah, seluruh pasokan udara di paru-parunya seolah tersedot habis seketika. Jantungnya berdetak liar dengan sensasi dingin yang menjalar ke seluruh tubuh.

​Tepat di belakangnya, berdiri sosok Tomi Fernandez. Sang papa rupanya telah melangkah keluar ke balkon tanpa menimbulkan suara sedikit pun, berdiri tegap dengan sepasang mata tua yang menatap tajam, menyelidik, dan mengintimidasi lurus ke arah Calvin. Pria paruh baya itu rupanya telah mendengar seluruh percakapan rahasia sang putra di telepon sejak awal.

​Suasana di balkon seketika berubah menjadi mencekam, hanya menyisakan deru angin malam yang dingin.

​Tomi Fernandez memicingkan matanya, melangkah satu kali lebih dekat ke arah Calvin sebelum melontarkan pertanyaan dengan nada suara rendah yang sarat akan ancaman berbahaya.

​"Melati? Siapa wanita bernama Melati itu, Calvin?"

1
Yohana Pandie
lnjut thor.ceritanya keren bnget
Novaa: Halo, terimakasih sudah mampir. pantengin terus ya karena om Bara bakal semakin memBara 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!