Ethan, seorang Assassin paling mematikan di Neo-Veridia, memilih akhir tak terduga di hidupnya. Tanpa dia sadari, takdir membawanya ke sebuah tempat yang jauh berbeda dari sebelumnya. petualangan yang seru dan menegangkan pun tak bisa dia hindari untuk menemukan jawaban bagaimana dirinya bisa terseret ke tempat misterius ini. Apa yang sebenarnya yang terjadi pada Ethan? Bisakah dia menemukan jawaban dari semua ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arus Bawah dan Tamu Tak Diundang
"Jika... jika situasi menjadi terlalu berbahaya, Anda tidak perlu mengorbankan diri demi kami. Anda bisa pergi menggunakan peta yang Anda miliki. Keluarga Mu tidak ingin menjadi beban yang menahan langkah Anda."
Mendengar kata-kata Mu Rong, ada sesuatu yang bergetar di dalam dada Ethan. Di masa lalunya, semua orang memanfaatkannya hingga tetes darah terakhir. Chloe meninggalkannya ketika dia miskin, dan sindikat The Eclipse hanya memandangnya sebagai alat pembunuh yang efisien. Namun di sini, di dunia yang asing ini, seorang gadis yang baru ia kenal beberapa hari justru memikirkan keselamatannya di atas keselamatan klannya sendiri.
Ethan menatap Mu Rong. Sebuah senyuman tipis—hampir tak terlihat namun memancarkan pesona yang luar biasa keren—muncul di sudut bibirnya.
"Aku sudah mengatakannya semalam, Mu Rong," ucap Ethan pelan, namun setiap katanya terdengar sangat mengikat. "Kau adalah kontrak tertinggiku. Seorang Assassin dari duniaku tidak akan pernah membatalkan kontraknya hanya karena target barunya sedikit lebih besar."
Pipi Mu Rong seketika merona merah mendengar penegasan itu. Rasa hangat dan aman yang membuncah di hatinya membuat ketakutan akan Sekte Pedang Awan mendadak sirna.
"Kumpulkan seluruh batu spiritual yang dimiliki Keluarga Mu," perintah Ethan tiba-tiba, beralih menatap Mu Tianbah. "Baik yang berenergi rendah maupun menengah. Aku butuh semuanya diletakkan di aula utama malam ini."
"Baik! Segala sumber daya Keluarga Mu kini berada di bawah perintahmu, Tuan!" Mu Tianbah menjawab tanpa ragu sedikit pun.
Malam itu, Aula Utama Keluarga Mu diubah menjadi sebuah laboratorium siber-spiritual darurat. Ratusan batu spiritual berwarna hijau dan putih berkilauan, ditumpuk di atas lantai batu, memancarkan energi Qi alami yang sangat padat hingga membuat udara di dalam ruangan terasa tebal.
Ethan berdiri di tengah-tengah tumpukan batu tersebut. Armor hitamnya sepenuhnya aktif. Visor birunya memancarkan garis-garis pemindai horizontal yang menyapu seluruh ruangan.
[ Mendeteksi Sumber Energi Eksternal: 450 Batu Spiritual Rendah, 32 Batu Spiritual Menengah. ]
[ Total Konversi Energi yang Tersedia: 12.000 Unit Daya / 4.000 Poin Energi Sistem. ]
"Sistem, buka Toko Sistem Tingkat 2," perintah Ethan.
Sebuah antarmuka holografik baru yang jauh lebih kompleks terbuka di depan matanya. Barang-barang yang ditampilkan di Tingkat 2 ini tidak lagi sekadar senjata api ringan atau pil dasar, melainkan teknologi perang taktis berskala menengah dan teknik kultivasi tingkat lanjut.
Sistem Pertahanan Perimeter Elektromagnetik (Shield Generator V2) — 800 Poin.
Modul Upgrade Pisau Frekuensi Tinggi (Bilah Plasma Termal) — 500 Poin.
Pil Cairan Roh Murni (Peningkat Basis Kultivasi Instan) — 1.000 Poin.
Cetak Biru Komponen Ranjau Prosedural Siber — 400 Poin.
"Konversikan seluruh batu spiritual ini menjadi Poin Sistem," ucap Ethan.
[ Proses Konversi Dimulai... ]
Cakram hitam di dada Ethan mulai berputar cepat, memancarkan gelombang hisap elektromagnetik yang kuat. Ratusan batu spiritual di sekelilingnya secara perlahan mulai meredup, kehilangan kilau energinya karena diserap secara paksa oleh teknologi Sistem. Debu-debu giok yang hancur bertebaran di lantai aula.
[ Konversi Selesai. Mendapatkan: 4.200 Poin Sistem. Total Poin Saat Ini: 4.250 Poin. ]
Dengan jumlah poin yang melimpah ini, kecerdasan strategis Ethan langsung menyusun rencana pertahanan mutlak. Ia tidak hanya ingin bertahan hidup; ia ingin menghancurkan siapapun yang berani menantang otoritasnya di kota ini.
"Beli Pil Cairan Roh Murni, Sistem Pertahanan Perimeter, dan Upgrade Bilah Plasma Termal," eksekusi Ethan tanpa ragu.
[ Pembelian Berhasil. Mengonsumsi Pil Cairan Roh Murni... ]
BOOM!
Sebuah ledakan energi yang luar biasa besar terjadi di dalam dantian Ethan. Energi Qi cair murni mengalir seperti air bah melalui meridiannya yang telah dibersihkan sebelumnya. Rasa sakitnya kali ini jauh lebih intens, membuat urat-urat di leher tampannya menonjol, namun Ethan menahannya dengan gigitan rahang yang kuat tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
[ Proses Terobosan Dimulai... Pengumpulkan Qi Tingkat 7... Tingkat 8... Tingkat 9... ]
[ Peringatan: Energi mencapai batas Ranah Pengumpulan Qi. Memulai Proses Pemurnian... Sukses! ]
[ Selamat! Basis Kultivasi Anda telah menembus batas fana: Ranah Pemurnian Qi - Tingkat 2! ]
Ethan membuka matanya. Sepasang pupil matanya kini memancarkan kilatan listrik biru yang samar sebelum akhirnya meredup kembali menjadi warna hitam yang dalam. Tekanan aura yang dipancarkannya saat ini tidak lagi kalah dari mendiang Gu Jue. Ditambah dengan Exo-Suit-nya yang kini mendapatkan peningkatan sistem, kekuatan tempur sejatinya telah melompat ke tingkat yang mengerikan.
Klek. Sring!
Ethan memicu pisau di pergelangan tangan kanannya. Bilah logam titanium yang biasa kini telah dilapisi oleh api plasma biru super panas yang berdesis konstan, mampu melelehkan besi pusaka kultivasi bahkan sebelum bilah itu menyentuhnya.
"Sekarang," Ethan menatap ke luar pintu aula yang terbuka, di mana Mu Rong sedang berdiri menunggunya dengan cemas di balik pilar. "Mari kita pasang beberapa jebakan teknologi di sekitar kota ini."
---
Dua hari berlalu dengan cepat dalam ketenangan yang menipu. Selama dua hari itu, Ethan tidak pernah terlihat melepas baju besi siber-nya, memicu desas-desus di antara para murid Keluarga Mu bahwa pakaian tersebut adalah bagian dari tubuhnya atau artefak kutukan yang menyatu dengan jiwa.
Namun, tidak ada satu pun yang berani meremehkannya lagi. Setiap kali Ethan berjalan melewati koridor kediaman, para murid akan membungkuk dalam dengan rasa hormat yang dipenuhi ketakutan. Mu Rong menghabiskan banyak waktu bersamanya, menemani Ethan di Paviliun Buku atau sekadar berjalan di taman malam.
Meskipun Ethan adalah pria yang tidak banyak bicara dan selalu bersikap dingin, Mu Rong mulai memahami bahasa tubuh pemuda itu. Di balik topeng besinya, Ethan adalah sosok yang sangat pintar, tidak pernah mengambil keputusan impulsif, dan selalu melindungi orang-orang yang berada di bawah kendalinya dengan cara yang keren.
Namun, ketenangan itu pecah pada malam ketiga.
Sesosok bayangan putih melesat melewati atap-atap bangunan Kota Angin Puyuh dengan kecepatan yang luar biasa. Gerakannya begitu halus, hampir menyatu dengan cahaya rembulan. Bayangan itu mendarat di tembok pembatas kediaman Keluarga Mu tanpa memicu alarm batin para penjaga kultivator.
Namun, tepat ketika kaki sosok itu menyentuh tanah taman, sebuah lingkaran cahaya biru neon tipis muncul di bawah kakinya.
Bzzzt!
[ Peringatan: Penyusup Terdeteksi. Mengaktifkan Medan Elektromagnetik Pengunci. ]
Sebuah kubah energi transparan setinggi dua meter mendadak muncul, mengurung sosok bayangan putih tersebut di dalamnya. Sosok itu terkejut, mencoba menebas kubah tersebut menggunakan pedang panjangnya yang memancarkan Qi hijau pekat, namun pedangnya justru terpental kembali oleh aliran listrik bertegangan tinggi.
Dari balik kegelapan pohon magnolia, Ethan berjalan keluar. Topeng visor birunya menyala redup, mengunci target di dalam kubah. Di sampingnya, Mu Rong berjalan dengan belati yang sudah terhunus.
"Siapa kau?" suara mekanis Ethan menggema dingin. "Melarikan diri dari sistem pemindai perimeterku adalah hal yang mustahil."
Sosok di dalam kubah itu perlahan menurunkan tudung jubah putihnya, menampilkan wajah seorang wanita dewasa yang sangat cantik dengan rambut perak yang panjang dan sepasang mata berwarna hijau zamrud. Di dahinya, terdapat tanda lahir berbentuk kelopak bunga teratai kecil—lambang dari organisasi legendaris di Langit Pertama.
"Aku tidak datang untuk bertarung, Pemuda Misterius," ucap wanita itu, suaranya terdengar merdu namun penuh dengan wibawa seorang ahli. "Aku adalah Shen Qingxuan, Penatua dari Paviliun Anggrek Langit. Aku datang untuk memberikan peringatan... dan mungkin, sebuah penawaran."
Ethan tidak menurunkan kewaspadaannya. Pisau plasma di pergelangan tangannya tetap berada dalam posisi siap lepas. "Peringatan tentang apa?"
Shen Qingxuan menatap baju zhirah siber Ethan dengan pandangan yang dipenuhi rasa penasaran yang mendalam, sebelum akhirnya beralih ke mata Ethan. "Feng Wuhen, Master Sekte Pedang Awan, tidak datang sendirian. Dia telah mengundang sekte aliansinya dari wilayah tengah. Besok pagi, tiga ahli Ranah Pondasi Spiritual akan tiba untuk meratakan kota ini. Kekuatanmu memang aneh dan kuat, Anak Muda... namun di hadapan tiga monster Pondasi Spiritual, kau dan Keluarga Mu ini hanyalah debu yang akan disapu angin."
Suasana taman seketika menjadi dingin mencekam. Mu Rong menatap Ethan dengan wajah pucat, sementara Ethan sendiri hanya menyipitkan matanya di balik topeng. Tantangan terbesar dalam hidup barunya telah tiba, dan kali ini, taruhannya adalah seluruh kota.