NovelToon NovelToon
Arkaholic

Arkaholic

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua / Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: siyunr

Satu sekolah tahu Lintang Gentariana adalah gadis paling gigih yang setiap hari memanggil nama Arka—atlet pencak silat kebanggaan sekolah yang sedingin es.

Dua tahun cintanya bertepuk sebelah tangan, sebuah wasiat tiba-tiba memaksa mereka menikah secara rahasia di bangku SMA.

Lintang mengira impiannya jadi nyata. Namun, ia keliru. Arka menikahinya tepat ketika dunia cowok itu di ambang runtuh.

Di sekolah Lintang adalah gadis yang selalu terlihat mengejar Arka, tapi di rumah, Lintang harus menghadapi kemarahan dan luka terdalam Arka.

Lantas, bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan rahasia mereka?

Sanggupkah Lintang bertahan, atau perpisahan justru menjadi jalan terbaik bagi keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyunr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Gengsi dan Roti Isi

Arka menoleh ke arah Leon dengan tatapan yang sangat dingin.

"Gue haus. Beliin gue minum di kantin sekarang," titip Arka datar. Suaranya terdengar tidak ingin dibantah.

Leon mengernyit bingung. "Lah? Katanya tadi mau langsung ke kelas, Ka?"

"Gak usah banyak tanya. Buruan sana," potong Arka ketus.

Melihat aura Arka yang sangat gelap, Leon langsung ciut. Dia tidak berani membantah dan memilih langsung putar balik menuju kantin.

Setelah memastikan Leon benar-benar pergi menjauh, Arka langsung membalikkan badannya. Kakinya melangkah lebar dan terburu-buru menuju ruang UKS. Di saat yang sama, dia sempat melihat Arjuna keluar dari sana untuk membeli makanan.

Arka langsung menyelinap masuk sebelum Arjuna kembali.

Suasana di dalam ruang UKS itu sangat sepi. Hanya ada Lintang dan dirinya sendiri di sana.

Arka melangkah lebih dalam ke UKS. Jaraknya dengan Lintang kini terasa semakin dekat. Langkah kakinya berhenti tepat di samping ranjang tempat Lintang berbaring dengan mata memejam lemas.

Arka menatapnya lamat-lamat, lalu membuka suara dengan nada dingin.

"Genit banget lu minta gendong cowok lain," sindir cowok itu tajam.

Lintang yang mendengar suara familiar itu langsung membuka matanya pelan. Bukannya takut, dia justru memutar bola matanya malas tanpa berniat memberikan jawaban sepatah kata pun.

Melihat respons acuh tersebut, emosi Arka makin tersulut.

"Murah banget jadi cewek. Sana-sini mau," sindir Arka lagi.

Kalimat itu sukses memancing kekesalan Lintang. Sambil menahan perih di lambungnya, dia langsung mendelik tajam ke arah cowok di sampingnya itu.

"Konyol banget lu dateng-dateng marah-marah nggak jelas begitu," sahut Lintang akhirnya, mengomel dengan nada jengkel.

"Gue lemes juga gara-gara kelaperan. Gara-gara liat lu mau makan di rumah tapi lauk tinggal seporsi, akhirnya gue kasih tuh nasi buat lu," lanjut Lintang beruntun, meluapkan semua kekesalannya.

Dia mendengus kasar, menatap Arka dengan pandangan gemas sekaligus sebal.

"Bukannya tahu diri atau minimal beliin sarapan, kek. Malah ngomel-ngomel perihal orang nolongin. Childish tau nggak!"

Mendengar rentetan omelan Lintang, mulut Arka seketika terkunci. Tatapan dinginnya goyah.

Arka terdiam beberapa saat, menatap wajah pucat Lintang yang sekarang kembali memejamkan mata karena lemas.

Tanpa sepatah kata pun, Arka tiba-tiba berbalik. Dia melangkah lebar meninggalkan ranjang UKS dan keluar begitu saja melalui pintu depan.

Lintang yang mendengar suara langkah kaki menjauh hanya mampu menghela napas pasrah. Dia berpikir Arka pergi karena marah didebat olehnya.

Namun, tidak sampai lima menit, pintu UKS kembali terbuka dengan sentakan pelan.

Lintang terpaksa membuka matanya lagi dengan malas. Dia mengira itu Arjuna yang datang membawa makanan. Namun, matanya langsung membulat kecil saat melihat sosok Arka yang kembali berdiri di samping ranjangnya.

Di tangan kanan cowok itu, sudah ada sebungkus roti isi dan sebotol susu kotak rasa cokelat kesukaan Lintang. Arka ternyata sengaja langsung membelinya secara kilat agar bisa mendahului Arjuna.

Dengan gerakan kasar untuk menutupi rasa malunya, Arka meletakkan makanan itu di atas nakas sebelah ranjang Lintang hingga menimbulkan bunyi tuk yang agak keras.

"Makan," titah Arka ketus, membuang muka ke arah lain. "Gak usah nungguin makanan dari cowok lain."

Lintang melirik roti dan susu di sampingnya, lalu beralih menatap wajah Arka yang tampak salah tingkah.

"Katanya gue genit?" sindir Lintang balik, memicingkan matanya.

Arka mendengus kasar, merogoh kantong celananya kembali. "Tinggal makan doang banyak omong. Buruan habisin sebelum cowok itu balik ke sini."

Lintang bangkit dan duduk perlahan di atas ranjang. Matanya memicing ke arah Arka.

"Tumben banget perhatian. Selama nikah, kayaknya belum pernah lu green flag ke gue," sindir Lintang.

Dia mengingat pernikahan mereka yang baru berjalan kurang lebih sepuluh hari. Selama ini Arka memang tidak pernah menunjukkan aksi nyata sebagai suami. Cowok itu malah bertingkah macam remaja yang baru terjun menjadi anak nakal.

"Daripada lu makan pemberian cowok lain," ujar Arka datar.

"Diiih, kenapa? Cemburu?" tanya Lintang menahan tawa.

"Nggak," kilah Arka.

"Masa? Kok kayak nggak suka gitu sama Arjuna? Takut kalah saing?" tanya Lintang, malah sengaja memanasi ego cowok itu.

Sret!

Arka meraih dagu Lintang dengan cepat. Wajahnya maju beberapa sentimeter, membuat udara di antara mereka menyempit seketika.

"Masih berani nanya, gue jejelin roti pake mulut gue," ancam Arka dengan suara rendah.

"Ih!" Lintang langsung mendorong bahu Arka. "Ngeselin banget, lu! Udah sana ke kelas. Jangan ganggu gue!"

Arka menarik mundur, lalu terkekeh sinis melihat reaksi istrinya yang mulai kelabakan.

Cklek.

Tiba-tiba pintu UKS terbuka lebar, menampakkan sosok Arjuna yang melangkah masuk sambil membawa semangkuk plastik berisi bubur hangat.

"Loh? Ada Arka," ujar Arjuna terkejut. Langkah kakinya sempat tertahan, namun tetap berlanjut mendekati ranjang Lintang.

Mata Arjuna mendadak tertuju pada nakas. "Itu roti dari mana?" tanya Arjuna heran.

"Tuh, dia yang bawa," tunjuk Lintang ke arah Arka menggunakan dagunya.

Arjuna langsung menoleh, menatap Arka dengan pandangan bertanya-tanya.

"Disuruh guru kesiswaan tadi pas papasan," ujar Arka berbohong, nadanya terdengar sangat datar dan meyakinkan.

Lintang mendengus pelan mendengar alasan konyol itu. Dia tahu betul itu hanya alibi, namun memilih diam setelah menerima lirikan tajam dari Arka yang seolah memberi isyarat padanya untuk menutup mulut.

"Ohh... Gitu," sahut Arjuna manggut-manggut. "Ini gue udah beliin bubur, Lin. Nasi goreng lumayan ngantri banget tadi. Nggak heran lu langsung lemas pas nungguin antrean."

Arjuna meletakkan mangkuk bubur itu di atas nakas, tepat di sebelah roti pemberian Arka.

"Makasih ya, Jun. Sorry banget udah ngerepotin lu," ujar Lintang dengan senyum tulus.

"Nggak ngerepotin kok. Santai aja," balas Arjuna ramah.

Brak!

Tak lama kemudian, pintu UKS kembali terbuka dengan sentakan kasar. Sosok Zahiya muncul dengan napas terengah-engah dan wajah panik.

"Woy, Lintang!" teriak Zahiya heboh seraya berlari cepat menuju ranjang.

"Lintang! Lu kenapa, asu? Kata si Wila lu pingsan di kantin?!" tanyanya beruntun dengan suara melengking.

"Ssst! Gue gak apa-apa, Zah. Nggak usah heboh gitu deh, malu," bisik Lintang, berusaha menenangkan sahabatnya yang super berisik itu.

"Astaga..." Zahiya menepuk jidatnya sendiri, merasa lega.

Sedetik kemudian, pandangan Zahiya beralih pada Arjuna yang berdiri di sisi ranjang. Matanya langsung melotot lebar. Dia segera mencondongkan tubuhnya, berbisik super pelan di telinga Lintang.

"Lu... beneran digendong Arjuna tadi?" bisik Zahiya kepo setengah mati.

Lintang hanya meresponsnya dengan anggukan kecil.

Mendengar konfirmasi itu, Zahiya reflek melirik ke arah Arka yang sejak tadi hanya diam menyimak dengan aura dingin. "Lu kenapa di sini, Ka? Khawatir sama fans fanatik lu ya?" tembak Zahiya frontal.

Arka hanya mendengus kasar. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk membalas ucapan Zahiya, cowok itu langsung berbalik badan dan melangkah lebar keluar dari ruang UKS.

Arjuna yang sempat mengabaikan ketegangan itu kembali membuka suara. "Oh iya, Lin. Btw, thanks ya udah ngajarin gue nyanyi lagu baru tadi di ruang musik."

"Oh, iya. Sama-sama, Jun. Gue senang kok bisa bantu," jawab Lintang tulus.

"Mm... yaudah kalau gitu gue duluan ya, mau balik ke kelas. Buburnya jangan lupa dimakan selagi hangat," pamit Arjuna bersiap pergi.

Lintang mengangguk. "Sekali lagi, thanks udah nolongin gue."

"Santai," ujar Arjuna.

Sebelum benar-benar melangkah pergi, Arjuna mengangguk sekali ke arah Lintang. Pandangannya kemudian beralih ke Zahiya—menatap cewek itu agak lama dengan sorot mata yang berbeda—sebelum akhirnya dia berbalik dan keluar dari UKS.

Lintang yang menyadari tatapan itu langsung terkekeh geli. Dia menatap sahabatnya yang masih memasang wajah cengo.

"Ternyata lu lebih nggak peka dari gue ya, Zah," ledek Lintang spontan.

Zahiya mengerutkan keningnya, menatap Lintang dengan pandangan polos. "Maksudnya apaan?"

1
siyuu nr
🩷
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!