Yang tak suka, silahkan minggir!
Perceraian tak lantas menyudahi hubungan diantara Bagaspati Samudera dan Adinda Ayuningtyas. Sebab masih ada penghubung diantara mereka, sayangnya penghubung mereka hilang entah kemana.
"Dua tahun belakangan ini, Eyang sakit, Dind. Beliau mau ke Jakarta, dan ingin menginap di rumah kita," kata Bagas.
"Lalu, apa masalahmu? Bukankah Eyang sudah tahu kita berpisah?" sahut Adinda sengit.
"Itulah masalahnya, Ingatan Eyang mulai kacau sejak dokter memvonis beliau menderita demensia. Please, Dind, anggap saja ini permintaan terakhir Eyang pada kita."
Apakah permintaan Eyang Tuti pada Bagas dan Adinda?
Apakah Adinda sanggup menurutinya, sedangkan mereka bukan pasangan halal seperti dulu?
Berhasilkah mereka merajut kembali benang pernikahan yang dulu tercerai berai? Lantas bagaimana nasib putri kecil mereka yang hilang beberapa tahun silam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#17
#17
“Ayo kita rujuk, Adindaku. Percayalah, pria tampan ini masih menandaimu seperti dulu, dan seutuhnya masih menjadi milikmu.”
Dinda melengos, Bagas tak pernah berubah, masih suka menggombal.
“Aku sudah katakan semalam, bahwa penyesalan terbesarku adalah setuju bercerai denganmu. Karena itulah aku ingin kita rujuk secepatnya,” imbuh Bagas.
Wanita berparas cantik itu masih betah membisu, karena perceraian mereka dulu bukan semata-mata karena Bagas kedapatan ada di apartemennya bersama seorang wanita. Tapi juga ada penyebab lainnya.
“Sayang—” Bagas membuyarkan lamunan Dinda.
“Mas tahu, kan, penyebab utama kita berpisah bukan hanya karena kamu membawa seorang wanita ke kamar. Tapi karena kita tak henti adu mulut sejak Abel hilang, tak henti saling menyalahkan. Kamu menyalahkan aku karena tak bisa menjaga anakku, di saat yang sama aku pun mengungkapkan kemarahanku pada Biandra karena sudah membawa Abel pergi dari rumah.”
“Kita berdua sama-sama hilang arah, tapi tatapanmu padaku terus mengatakan bahwa aku seorang ibu yang tidak becus menjaga anaknya, bahwa aku juga adalah penyebab utama hilangnya Abel. Dan sekarang kamu berharap kita rujuk?!”
Dinda ingat sekali, tatapan penuh permusuhan dan tuduhan yang ditujukan keluarga Bagas padanya saat itu.
“Harusnya kamu kunci pintu, dong. Dengan begitu tak ada siapapun yang bisa masuk ke kamar, dan semua ini tak akan pernah terjadi.”
“Kenapa, Nak? Bagaimana bisa kamu meninggalkan Abel sendirian di kamar tanpa penjagaan?”
Suara-suara sumbang itulah yang membuat Dinda kian terpuruk, Tak perlu mencari dan menuding siapa yang salah, sebab seorang ibu akan lebih dulu menyalahkan dirinya bila sesuatu yang tidak baik terjadi pada anaknya. terlebih lagi karena anak itu masih bayi.
Tapi itulah kenyataannya, Dinda menghadapi tekanan yang seolah menghantamnya dari segala sisi, hingga yang tersisa setelah kembali ke rumah, hanya rasa frustasi, lelah, putus asa. Ditambah Bagas yang melampiaskan kesedihannya dengan mengkonsumsi alkohol.
Dinda lelah, ia butuh pegangan, sementara tak seorang pun hadir di dekatnya memberi semangat dan pelukan sebagai pelipur lara.
“Maaf, Mas. Jangan mendesakku, karena aku tak pernah berpikir untuk kembali menjalin hubungan denganmu.”
Setelah mengatakan penolakannya, Dinda menyibak selimutnya, sambil menahan nyeri di kepala wanita itu pergi meninggalkan Bagas seorang diri. Lebih baik ia keluar dan ngobrol dengan Eyang Tuti, sekaligus meminta maaf karena mereka harus membatalkan jadwal kontrol rutin eyang ke dokter.
“Eyang—” kata Dinda begitu melihat Eyang duduk manis di sofa ruang tengah.
“Lho, kok, bangun? Pulang jam berapa semalam? Kata Bagas semalam kamu demam? Sudah sarapan?” tanya Eyang bertubi-tubi.
“Entahlah, Eyang, aku lupa, lagian langsung tidur, nggak sempat lihat jam.” Dinda duduk dan bersandar manja di bahu Eyang Tuti, eyang tersenyum sambil mengusap kepala Dinda dengan usapan lembut.
“Kenapa, hmm? Adakah yang ingin kamu bicarakan.”
“Tidak ada apa-apa, Eyang. Terlalu lama berbaring membuatku pusing.”
“Jangan terlalu memforsir diri, sibuk boleh, tapi ingat untuk tetap menjaga kesehatanmu.”
Dinda diam dan mencerna dengan baik ucapan Eyang Tuti.
“Eyang boleh tanya sesuatu?”
Kepala Dinda mengangguk. “Eyang mau tanya apa?”
“Kamu dan Bagas tidak sedang ada masalah, kan?”
Dinda mulai gugup, wajahnya pucat karena mengira jika Eyang Tuti mulai curiga dengan sandiwara konyolnya bersama Bagas. “Nggak, tuh, kami baik-baik saja.”
Eyang Tuti tersenyum, “Nggak, ya? Berarti hanya perasaan Eyang saja.”
“Eyang pikir, karena ada Eyang di sini, kamu dan Bagas jadi gak bisa romantis-romantisan.”
Merah padam wajah Dinda, jelas saja mereka tak bisa beradegan romantis, lha wong sudah bercerai. “Dindanya pemalu, Eyang,” cetus Bagas yang entah sejak kapan menyusul keluar.
“Kenapa malu? Abaikan saja keberadaan Eyang. Jangan ditahan,” saran Eyang Tuti, berharap ucapannya bisa memberikan semangat untuk kedua cucunya. “Biar adeknya Abel segera hadir,” imbuh Eyang Tuti.
“Terus Bagas juga khawatir Eyang dan Bi Sani akan iri.”
Eyang Tuti menoyor pipi Bagas, pria itu terkekeh, “Sembarangan, Eyang juga pernah muda, sudah kenyang romantis-romantisan dengan Eyang Kakungmu dulu.”
“Yakin gak pengen lagi, nih?” ledek Bagas semakin berani.
Eyang melotot kesal, “Sebentar, sebentar, kan, tadi Eyang bilang kalian yang harus mesra, romantis-romantisan, kok, tiba-tiba Eyang yang jadi sasaran?”
“Tonjok aja Mas Bagas nya, Eyang, emang suka kelewatan kalau ngomong,” timpal Dinda.
“Biar begitu, kamu tetep kesengsem, kan? Ngaku aja, Sayang?” Bagas menaik turunkan kedua alisnya.
“Jangan ngaco, deh,” jawab Dinda, risih dengan gombalan mantan suaminya.
“Aku nggak ngaco, kok. Kita memang harus melanjutkan yang tadi,” bisik Bagas lirih.
Dinda semakin merinding, “Sudah, sudah, sana lanjutkan! Kalian ini membuat Eyang berpikir macam-macam,” usir Eyang Tuti, lalu kembali fokus pada layar televisi. Menonton acara favoritnya.
“Tuh, Sayang. Eyang bilang harus dilanjutkan, tuk, ke kamar.” Bagas menarik tangan Dinda dengan sedikit memaksa. Dinda tak bisa mengelak, bingung harus beralasan apa di depan eyang.
“Harus gol, ya, Gas?”
Bagas tertawa lebar, “Siap, Eyang.” Jawaban Bagas membuat Dinda makin geram. “Etapi, cetak gol nya nanti aja, Eyang. Tunggu Dinda sehat dulu.”
“Terserah kalian, atur saja!” sahut Eyang tanpa menoleh lagi.
•••
Karena hari sabtu mereka gagal mengantar eyang, jadi mereka membuat jadwal bertemu Dokter Candra di hari minggu. Untunglah wanita itu bersedia meluangkan waktu sejenak.
Pemeriksaan berlangsung, dan dokter bilang hasil cek kesehatan eyang baik semua, hanya perlu diperhatikan agar jangan sampai kelelahan. Atau kurang istirahat.
“Cucu mantu saya ini, loh, Dok, yang kelelahan, sampai kemarin demam,” adu Eyang Tuti.
“Eyang— kok jadi aku, sih?”
“Ya, memang kamu yang harusnya perlu banyak istirahat, dan jangan terlalu banyak beban pikiran.”
Dokter Candra tersenyum, melihat keakraban Eyang Tuti dengan Dinda yang terlihat natural, berbeda dengan dirinya yang tak pernah bisa menyatu dengan keluarganya sendiri.
“Baiklah, saya rasa begitu saja,” kata Dokter Candra mengakhiri sesi konsultasi.
Menyadari bahwa mereka sudah terlalu banyak mengganggu waktu akhir pekan sang dokter, Dinda dan Eyang Tuti pun pamit. Mereka menghampiri Bagas yang menunggu di luar ruangan.
“Sudah selesai, Sayang?”
Dinda mengangguk, meski risih dengan nama panggilan Bagas padanya.
“Mami, ayo! Katanya mau main ke mall?”
Bagas, Eyang Tuti, dan Dinda, menoleh bersamaan ke arah datangnya suara. Gadis kecil itu memberontak dari penjagaan sang pengasuh, lalu berlari ke pelukan Dokter Candra.
Deg!
Dinda tertegun, anak itu, Alisha namanya. Anak yang sempat membuat Dinda merasakan perasaan aneh.
Dengan sayang, Dokter Candra mengangkat Alisha dalam gendongannya, “Iya, Sayang. Ini sudah selesai, kok. Ayo, salim dulu sama, Om, Tante, dan Eyang.”
Dokter Candra membawa Alisha mendekat agar bisa bersalaman dengan orang-orang yang ada di hadapan mereka.
“Halo, Om,” sapa Alisha kala mencium punggung tangan Bagas, seperti ada perasaan aneh yang mendadak membuncah manakala Bagas menerima uluran tangan Alisha. Tubuh gadis kecil itu membuat Bagas ingin memeluknya dengan erat.
“Halo, Tante.” Kini Alisha beralih pada Dinda. Wanita itu pun merasakan perasaan yang tak jauh berbeda dengan Bagas, kedua matanya berkaca-kaca, ketika ia kembali melihat senyum ceria di wajah Alisha.
Usia Alisha saat ini, sama dengan usia Abel, sayangnya Dinda dan Bagas tak tahu ada dimana putri kecil mereka saat ini.
aku lupa nama Kaka nya bagas