Shen Yunan mengalami kematian tragis. Dikhianati keluarga, dikhianati pria yang dia cintai, menghabisii orang yang mencintainya dengan tulus.
Mendengar tawa sang putra mahkota yang baru naik tahta, dengan pedang di tangan yang telah menusuknya, bersama Shen Yuxiao, putri palsu yang mencuri tempatnya di kediaman Marquis selama 17 tahun. Shen Yunan bersumpah, dia akan membalas mereka semua. Dia akan membuat semua orang yang menertawakan kematiannya menangis.
'Jika ada kehidupan kedua, aku akan habisi kalian semua!'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
"Nona tidak jadi makan malam, apa mau aku ambilkan sesuatu dari dapur nona? kue atau makanan kecil..."
"Tidak Cao Cao, siapkan air hangat saja. Aku mau mandi, kemudian tidur. Setelah siapkan air, kamu juga istirahatlah!" jawab Shen Yunan.
"Baik nona"
Shen Yunan duduk di kursi di dekat kamarnya. Dia meregangkan sedikit otot lehernya. Lehernya sedikit pegal karena dia harus bersikap sabar tadi. Menahan emosi memang membuat seseorang bisa merasa sangat pegal di bagian otot lehernya.
Tak berselang lama, Cao Cao datang memberitahukan kalau air hangat untuk mandi Shen Yunan sudah siap.
"Nona, air mandinya sudah siap, pakaian ganti sudah saya siapkan juga!"
"Baiklah, pergi dan istirahatlah!"
"Iya nona"
Shen Yunan perlahan berjalan ke ruangan yang ada di belakang kamar tidurnya itu. Ruangan itu tertutup, lebih tertutup dari ruangan manapun, karena memang ruangan itu sangat privasi.
Sebuah bak mandi besar dari kayu dengan Aira hangat yang dipenuhi kelopak bunga. Jaman dulu orang membuat tubuh mereka harum dengan cara seperti itu.
Shen Yunan melepaskan satu persatu pakaiannya. Lalu masuk perlahan ke bak mandi kayu yang cukup rendah itu.
Begitu dia duduk, bersandar di bak mandi yang penuh dengan air hangat dan aroma yang menenangkan itu. Shen Yunan memejamkan matanya perlahan. Dia benar-benar melepaskan semua penat yang dia rasakan.
Sesekali, tangannya memainkan kelopak bunga, hingga membuat wanginya lebih menyeruak.
Namun beberapa saat kemudian, Shen Yunan menyadari ada langkah kaki mendekat ke arahnya. Shen Yunan masih tidak membuka matanya, dia yakin sekali siapa yang bisa masuk secara diam-diam seperti itu di kamar seorang gadis di kediaman Marquis.
Langkah kaki yang begitu pasti, langkahnya ringan, tapi sangat tepat. Dari situ saja, Shen Yunan bisa menebak, kalau ilmu yang dimiliki oleh orang itu cukup tinggi.
Bahkan helaan nafasnya sangat teratur dan sulit di dengarkan. Siapa lagi yang punya ilmu tenaga dalam begitu besar di kediaman Marquis ini selain Liu Yuting.
Begitu pria itu berada di belakang bak mandi. Shen Yunan membuka matanya. Dan gerakan yang dilakukan Shen Yunan membuat Liu Yuting melebarkan matanya sekilas sebelum akhirnya berbalik dan terlihat kesal.
"Wanita macam apa yang begitu berani menunjukkan tubuhnya pada seorang pria asing!" pekik Liu Yuting.
Liu Yuting terdengar marah. Tentu saja, dia sudah berusaha untuk tidak melihat tubuh Shen Yunan dengan berdiri di belakang bak mandi. Dimana posisi Shen Yunan juga membelakanginya.
Tapi alih-alih diam saja, Shen Yunan malah dengan cepat merubah posisinya, membuat bagian atas itu terekspos dan terpampang nyata di depan mata Liu Yuting.
Shen Yunan yang mendengar Liu Yuting marah malah terkekeh.
"Kenapa marah padaku? memangnya aku mengundangmu datang, salah sendiri datang ketika aku tidak memakai apapun!"
Liu Yuting mendengus kesal. Shen Yunan malah kembali terkekeh pelan.
'Kenapa dia marah? di kehidupan lalu, bagian mana yang belum kamu lihat dan sentuh?' batin Shen Yunan.
"Wanita licik!"
"Aku anggap itu pujian, tuan Liu. Ada apa tuan Liu mencari ku?" tanya Shen Yunan.
"Pakai pakaianmu, kita bicara setelah kamu berpakaian!" ujar Liu Yuting yang meninggalkan tempat itu dan pergi ke kamar Shen Yunan.
Shen Yunan mendengus pelan.
"Tuan Liu, memang seperti rumor yang beredar ternyata! tidak suka perempuan!"
Liu Yuting tidak perduli, dia hanya langsung duduk di kursi yang ada di kamar. Menyangkan teh yang ada di sana ke dalam cangkir, dan meminumnya.
'Wanita ini benar-benar tidak tahu malu' geramnya dalam hati.
Tapi, meskipun dia mengatakan kalimat seperti itu di dalam hatinya. Tapi malah wajahnya yang memerah.
Begitu selesai berpakaian, Shen Yunan keluar dari ruangan itu menuju kamarnya.
Melihat Shen Yunan datang dengan pakaian tipis dan duduk di sampingnya, bahkan meminum teh yang ada di cangkir di depannya yang belum habis membuat mata Liu Yuting terbelalak marah.
"Wanita dari desa memang tidak tahu aturan!"
Shen Yunan menanggapinya dengan santai.
"Apa salahku? ini sudah malam, aku mau tidur. Haruskah aku pakai pakaian lengkap seperti mu? lagipula ini di dalam kamar..."
"Cangkir itu belum selesai aku minum!" protes Liu Yuting.
"Oh, tinggal di isi lagi kan..."
"Kamu benar-benar tidak tahu malu! tahu apa artinya meminum dari cangkir yang sama dengan seorang pria?" tanya Liu Yuting dengan tatapan serius.
Bukan hanya tatapannya yang serius, nada bicara pria itu juga terdengar sangat serius.
"Aku tahu, sama saja dengan berciuman bukan?" tanya Shen Yunan dengan santai.
Liu Yuting kehabisan kata-kata. Rahangnya semakin mengeras.
"Aku tidak keberatan, mau secara langsung aku juga tidak keberatan!"
Brakk
Liu Yuting berdiri dan menggebrak meja.
"Apa kamu memang tidak tahu malu? apa kaku bicara seperti ini pada semua pria?" suara Liu Yuting makin meninggi.
Untung paviliun Shen Yunan ini paling jauh dari paviliun utama. Jika tidak, pasti sudah ada yang datang mengetuk pintu dan memeriksa.
"Tidak! hanya padamu, calon kekasihku!"
Rahang pria yang berwajah tegas itu semakin kentara dan mengeras.
"Jangan bicara sembarangan, jika pun di dunia ini sudah tidak ada wanita lagi. Aku juga tidak akan menjadi kekasihmu!"
Shen Yunan menanggapinya dengan santai. Teh yang tadi dia tuangkan untuk Liu Yuting kembali dia minum sendiri.
"Ya sudah, jadi simpanan juga boleh!"
"Kau..." Liu Yuting menjeda ucapannya, semakin diteruskan dia rasa memang tidak akan ada ujungnya, "aku peringatkan padamu, aku sudah bekerja sama dengan ayahmu, tentang masalah pengungsi. Jadi, jika kamu berbohong tentang utusan dari Huwei, maka ayahmu juga akan celaka!"
'Kamu pikir aku perduli pada tua bangka itu?' batin Shen Yunan.
"Aku tidak akan mengecewakan mu, calon kekasihku..."
"Siapa calon kekasihmu? bicara seperti itu lagi, aku potongg lidahmu!"
"Galak sekali, tapi tidak masalah. Kamu hanya perlu meyakini hal ini. Di dunia ini, jika ada orang yang tidak akan pernah mengkhianati mu. Orang itu adalah aku!" Shen Yunan bicara sambil tersenyum.
Mata Liu Yuting yang tadinya membelalak lebar mendadak bergetar.
"Omong kosong!" ujar pria itu yang langsung pergi dengan sangat cepat.
Shen Yunan duduk sambil kembali menuangkan teh. Karena tinggal besok saja, maka semua keraguan Liu Yuting padanya akan hilang. Saat itu, mereka benar-benar akan menjadi sekutu yang kuat.
"Kita memang hanya akan menjadi sepasang kekasih rahasia tuan Liu. Karena aku harus jadi putri mahkota, untuk membuatmu selamat!" gumam Shen Yunan lalu meneguk teh itu dan pergi tidur.
Sementara itu, Wen Lang yang melihat tuannya datang ke kamar tamu yang siapkan oleh Marquis Shen. Sangat penasaran, hingga bertanya.
"Tuan, wajah anda merah. Anda demam?"
"Siapa yang demam, pergi sana!"
***
Bersambung...
Gengsi aja di gedein.. Menggemaskan..🤣🤣🤣