Di Benua Awan Merah, bakat surgawi, garis keturunan, dan dukungan klan besar adalah segalanya. Awan tidak memiliki satupun dari hal itu. Lahir dengan meridian sempit sebagai anak seorang pandai besi miskin, dunia telah menakdirkannya untuk hidup dan mati sebagai manusia fana.
Namun, Awan menolak bertekuk lutut pada takdir. Tanpa bantuan artefak dewa purba, tanpa roh guru sakti, dan tanpa pil mujarab, ia menempuh jalan kultivasi melalui siksaan fisik yang ekstrem. Saat para jenius menyerap energi alam dengan mudah sambil duduk bermeditasi, Awan mengayunkan pedang besinya puluhan ribu kali di bawah terik matahari dan badai hujan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Menjangkar Bumi
Malam turun menyelimuti Halaman Angin Mati bagaikan tirai hitam pekat. Sesuai dengan namanya, tidak ada keheningan di tempat ini. Angin kencang berhembus turun dari puncak gunung menuju dasar jurang tanpa henti, menciptakan lolongan panjang yang terdengar seperti tangisan roh penasaran.
Bagi kultivator yang membutuhkan ketenangan untuk memandu Qi, tempat ini adalah neraka. Namun di tengah halamannya yang kini bersih dari ilalang, Awan sedang berdiri dengan mata terpejam, membiarkan angin badai itu menghantam tubuhnya.
Jubah birunya berkibar liar. Angin menekan dadanya, setara dengan beban puluhan kilogram yang terus-menerus mencoba mendorongnya jatuh ke dalam jurang di belakangnya.
Di kepalanya, barisan kalimat dari Seni Langkah Besi Jatuh terus berputar.
"Jangan tolak beban, seraplah. Titik berat bukan di dada, melainkan di tumit dan inti bumi. Saat kau menjadi gunung, angin hanyalah hembusan napas."
Awan perlahan merendahkan kuda-kudanya. Otot pahanya menegang, namun ia membiarkan tubuh bagian atasnya rileks. Ia memfokuskan pikirannya, membayangkan seluruh massa ototnya yang seberat baja cair merosot turun ke telapak kakinya.
Ajaibnya, meski angin berhembus semakin kencang, tubuh Awan perlahan berhenti bergoyang. Kakinya seolah menumbuhkan akar tak kasat mata yang menembus batuan tebing.
"Langkah pertama," gumam Awan.
Ia mengangkat kaki kanannya. Saat itu juga, tekanan angin mendorongnya, namun Awan tidak melawan. Ia membiarkan tubuhnya condong ke depan, seolah membiarkan dirinya jatuh, memanfaatkan gravitasi. Tepat sebelum tubuhnya menghantam tanah, kaki kanannya menjejak ke depan dengan ledakan tenaga dari betisnya.
BHOOM!
Suara ledakan tumpul terdengar. Kaki kanan Awan menghantam tanah dengan kekuatan yang mengerikan. Ubin batu di bawah kakinya retak menyebar, dan dalam seperseribu detik, tubuhnya melesat ke depan menembus tirai angin sejauh tiga meter.
Gerakan itu tidak terlihat lincah atau anggun seperti teknik meringankan tubuh para kultivator. Gerakan itu kasar, brutal, dan sangat berat. Seperti peluru meriam besi yang ditembakkan secara horizontal.
"Terlalu banyak tenaga yang terbuang ke tanah. Retakan ubin ini adalah bukti kelemahanku menyalurkan energi," evaluasi Awan sambil menatap jejak kakinya.
Ia kembali ke posisi awal. Mengatur napas, menurunkan titik berat, membiarkan gravitasi menariknya, dan menolak bumi.
BHOOM!
BHOOM!
BHOOM!
Sepanjang malam, di bawah sinar bulan yang tertutup awan mendung, suara hantaman kaki terus bergema di Halaman Angin Mati. Awan melatih Seni Langkah Besi Jatuh dengan dedikasi yang sama gilanya saat ia mengayunkan pedang sepuluh ribu kali. Kakinya berdarah, tulang keringnya berdenyut hebat, namun organ dalamnya yang telah diperkuat oleh Pil Pemecah Batas menyembuhkan kerusakan minor itu dengan kecepatan yang menakjubkan.
Tujuh hari berlalu dalam sekejap.
Di dalam gubuk kayunya, Awan duduk bersila sambil mengunyah potongan terakhir Daging Kering Serigala Batu yang ia beli di pasar bawah gunung. Ia meneguk air dari kendi hingga tandas.
"Uangku habis," gumam Awan, menatap kantong kecil berisi jatah bulanannya yang kini kosong melompong.
Latihan fisik yang ekstrem membutuhkan kalori yang ekstrem pula. Setelah organ dalamnya berevolusi, metabolisme Awan menjadi seperti tungku peleburan baja. Sepuluh Batu Roh tingkat rendah dan jatah makanan sekte yang ia dapatkan dari Tetua Sun hanya bertahan selama tujuh hari. Tubuhnya menjerit meminta lebih banyak daging siluman bermutu tinggi untuk membangun serat otot baru.
"Jika aku tidak makan daging dalam jumlah besar, staminaku tidak akan cukup untuk bertahan di Reruntuhan Lembah Angin akhir bulan ini," pikirnya.
Para Murid Luar biasanya menyelesaikan misi sekte, seperti menjaga tambang atau mengawal karavan, untuk mendapatkan poin dan Batu Roh. Namun misi seperti itu memakan waktu berminggu-minggu. Awan tidak punya waktu selama itu.
Satu-satunya cara cepat untuk mendapatkan daging dan uang adalah berburu di Hutan Kabut Hitam, wilayah liar yang terletak tepat di perbatasan belakang Sekte Daun Angin. Hutan itu dipenuhi oleh Siluman Buas tingkat rendah hingga menengah. Area itu sangat berbahaya, bahkan kultivator Alam Pengumpul Qi Tingkat Lima pun jarang berani memasukinya sendirian tanpa membentuk kelompok.
Tapi bagi Awan, hutan itu bukanlah sarang monster. Itu adalah dapur alam yang menyediakan makanan gratis.
Mengikat pedang Kayu Besi Hitam di punggungnya, Awan melangkah keluar dari halamannya.
Hutan Kabut Hitam sangat lembab dan gelap. Kanopi pepohonan raksasa menghalangi sinar matahari, menciptakan bayangan abadi di dasar hutan. Kabut tipis yang mengandung racun ringan melayang setinggi lutut, membuat jarak pandang menjadi sangat terbatas.
Awan berjalan melintasi semak belukar tanpa mengeluarkan suara. Seni Langkah Besi Jatuh tidak hanya mengajarkannya melesat cepat, tetapi juga mengajarkannya cara mengontrol bobot. Dengan menyebarkan titik beratnya, jejak kakinya nyaris tidak meninggalkan bekas di atas daun kering.
Tiba-tiba, telinga Awan menangkap suara gemeresik dari arah pukul dua.
Ia berhenti. Matanya yang tajam menyipit, menembus kabut. Sekitar dua puluh meter di depannya, sesosok bayangan besar sedang mengoyak bangkai seekor rusa tanduk besi.
Itu adalah Beruang Zirah Baja, siluman buas tingkat dua. Kekuatannya setara dengan kultivator Alam Pengumpul Qi Tingkat Empat. Siluman ini terkenal memiliki temperamen yang sangat agresif dan kulit yang sekokoh pelat baja.
Merasa ada yang mengawasi, Beruang Zirah Baja itu berhenti mengunyah. Ia menoleh perlahan, moncongnya yang berlumuran darah mengendus udara. Ketika mata merah siluman itu menatap Awan, ia mengeluarkan raungan yang menggetarkan dedaunan di sekitarnya.
GROAAAR!
Bagi siluman buas, manusia tanpa fluktuasi Qi di tubuhnya tak lebih dari sekadar camilan empuk. Beruang raksasa setinggi nyaris tiga meter itu bangkit dengan kedua kaki belakangnya, lalu menerjang ke arah Awan bak tank baja berdaging. Setiap pijakan kaki beruang itu membuat tanah bergetar hebat.
Awan tidak mundur selangkah pun. Sebaliknya, senyum tipis, yang jarang ia perlihatkan, terukir di wajahnya.
"Sempurna. Mari kita uji langkah baruku," gumamnya.
Saat beruang raksasa itu hanya berjarak lima meter dan bersiap mengayunkan cakarnya yang setajam pedang, Awan bergerak.
Ia tidak melompat ke belakang untuk menghindar. Ia menurunkan pinggulnya secara ekstrem, nyaris mencium tanah. Langkah Besi Jatuh!
DHUM!
Bukan suara ledakan lantai batu kali ini, melainkan suara udara yang terbelah. Awan tidak menghancurkan tanah di bawahnya, ia telah berhasil menyalurkan seratus persen tolakan kakinya menjadi tenaga kinetik horizontal.
Dalam sekejap mata, Awan lenyap dari pandangan sang Beruang. Kecepatannya jauh melampaui Langkah Kilat Fana yang ia gunakan di turnamen. Ini adalah perpindahan instan yang murni mengandalkan daya ledak otot betis.
Beruang Zirah Baja itu kebingungan saat cakarnya hanya merobek udara kosong.
Tiba-tiba, sebuah bayangan hitam muncul tepat di bawah perut beruang tersebut. Itu adalah Awan. Ia telah meluncur masuk ke zona pertahanan sang siluman dengan presisi yang menakutkan.
Tanpa membuang waktu, tangan kanan Awan mencabut pedang Kayu Besi Hitam dari punggungnya dalam gerakan memutar yang sangat sempit. Ia tidak menebas, melainkan menggunakan ujung kayu yang tumpul itu untuk melakukan sodokan ke atas, langsung mengarah ke ulu hati sang Beruang yang tidak terlindungi zirah tulang.
Jurus Dasar: Menusuk!
DHUAAGH!
Suara benturan teredam yang memuakkan terdengar.
Beruang Zirah Baja raksasa yang beratnya lebih dari satu ton itu mendadak kaku. Ujung Kayu Besi Hitam milik Awan yang diisi dengan seluruh tenaga rotasi pinggulnya, menembus lapisan lemak dan menghantam jantung siluman itu dari luar hingga organ tersebut hancur berantakan di dalam rongga dadanya.
Tidak ada darah yang keluar, tidak ada luka robek terbuka. Murni kerusakan internal yang fatal.
Mata merah sang beruang memudar. Tubuh raksasanya ambruk ke depan, jatuh berdebum di atas daun-daun kering, mati seketika sebelum sempat menyadari apa yang baru saja membunuhnya.
Awan berdiri perlahan, menyeka setetes keringat di dahinya. Ia menatap pedang kayunya, lalu menatap bangkai raksasa di kakinya. Hanya butuh satu langkah, dan satu tusukan.
"Teknik Langkah Besi Jatuh benar-benar mengerikan jika dipadukan dengan pertarungan jarak dekat," Awan mengangguk puas. Jika ia menggunakan kecepatan ini saat melawan Wu Jian di turnamen, jenius sekte itu tidak akan punya waktu untuk memanggil satu pun angin spiritual.
Awan berlutut dan mengeluarkan pisau daging dari balik jubahnya. "Daging beruang cukup untuk mengisi staminaku selama tiga hari. Kulit dan cakarnya bisa kujual di kota untuk membeli ramuan penguat tulang. Jika aku memburu sepuluh ekor lagi sebelum akhir bulan..."
Tiba-tiba, gerakan tangan Awan terhenti.
Insting bertarungnya yang diasah di ujung maut tiba-tiba berteriak keras. Bulu kuduk di tengkuknya berdiri tegak. Sebuah hawa pembunuhan yang sangat pekat dan dingin mengunci posisinya dari arah kanopi pohon di atasnya.
Hawa pembunuhan ini bukan milik siluman buas. Hawa ini terlalu terarah, terlalu tenang, dan terlalu licik. Ini adalah hawa pembunuhan milik manusia.
"Siapa di sana?" Awan mencengkeram gagang Kayu Besi Hitamnya, pandangannya menyapu kegelapan di atas dahan pohon.
"Refleks yang sangat tajam untuk seorang manusia fana," sebuah suara dingin dan serak terdengar dari atas.
Sesosok pria berpakaian serba hitam, lengkap dengan cadar yang menutupi wajahnya, melayang turun dari dahan pohon seolah tidak memiliki berat sama sekali. Di tangannya terdapat sepasang belati bengkok yang melumuri racun berwarna hijau pekat.
Fluktuasi Qi yang memancar dari pria bercadar itu sangat kuat dan tertutup rapat. Ini bukan Murid Luar biasa. Tekanannya berada di Puncak Alam Pengumpul Qi Tingkat Sembilan, satu langkah lagi menuju Fondasi Roh!
"Siapa yang mengirimmu?" tanya Awan tenang, kakinya perlahan bergeser menyesuaikan titik beratnya.
Pembunuh bercadar itu terkekeh sinis. "Kau telah menghancurkan masa depan seorang tuan muda jenius di arena, menampar wajah klan besarnya di depan ribuan orang. Kau pikir mereka akan membiarkanmu hidup hingga Ujian Lembah Angin? Nyawamu dihargai lima ratus Batu Roh tingkat menengah, Bocah. Berbanggalah saat kau mati."