NovelToon NovelToon
PARIS NOIR

PARIS NOIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan alternatif / Komedi
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: Yossi anugrah

Katanya Paris adalah kota paling romantis di dunia.

Entahlah.

Aku belum pernah punya waktu untuk jatuh cinta.

Namaku Maël. Enam belas tahun. Pagi menjual koran, siang berlari dari polisi, malam mencari tempat tidur yang tidak terlalu dingin. Kadang hidup memaksaku mencopet, tapi percayalah, itu bukan bagian yang paling berbahaya dari kota ini.

Kalau kalian ingin melihat Paris dari balik jendela hotel, kalian salah memilih buku.

Tapi kalau kalian berani menyusuri lorong-lorong sempit, stasiun métro yang penuh sesak, dan jalanan tempat orang-orang seperti kami belajar bertahan hidup...

Bienvenue à Paris.

Aku akan menjadi pemandu kalian.

Oh, dan satu lagi...

Jaga dompet kalian. Aku mungkin sudah berubah. Teman-temanku belum. 😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yossi anugrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 Anak yang Dicuri dari Kegelapan

Aku tidak langsung bicara.

Bukan karena tidak ingin.

Tetapi karena otakku sedang berusaha mengejar semua yang baru saja kudengar.

Marcel...

Menculikku.

Tidak.

Menyelamatkanku.

Aku bahkan tidak tahu mana yang harus kupercaya.

Ruangan kembali sunyi.

Jam tua di dinding berdetak pelan.

Tik...

Tik...

Tik...

Seolah sedang menghitung berapa lama lagi aku mampu menahan semua kenyataan ini.

Aku akhirnya mengangkat kepala.

"Marcel."

Pria tua itu perlahan menatapku.

"Iya."

"Jawab satu pertanyaan."

"Apa saja."

"Kalau waktu itu kau benar-benar menyelamatkanku..."

"...kenapa kau tidak pernah memberitahuku?"

Marcel menarik napas panjang.

Lalu duduk di kursi kayu yang mulai berderit karena usianya.

"Aku takut."

Katanya sederhana.

Aku mengerutkan dahi.

"Takut?"

"Aku takut..."

"...kalau suatu hari mereka menemukanmu lagi."

Henri menyambung pelan.

"Semakin sedikit yang kau tahu..."

"...semakin besar kemungkinan kau tetap hidup."

Aku tertawa kecil.

Tawa yang hambar.

"Lucu."

Semua orang menatapku.

"Selama lima belas tahun aku hidup di jalan."

"Aku mencuri."

"Aku tidur di bawah jembatan."

"Aku lari dari polisi."

"Aku kelaparan."

"Lalu sekarang kalian bilang..."

"...semua itu dilakukan supaya aku hidup?"

Tak ada yang menjawab.

Karena memang tidak ada jawaban yang bisa menghapus lima belas tahun itu.

── Maël kepada kalian ──

Orang sering berkata,

"Kebohongan kecil tidak akan menyakiti siapa pun."

Aku tidak setuju.

Karena kebohongan yang dipelihara terlalu lama...

Akan tumbuh lebih besar daripada kebenaran.

Dan saat akhirnya pecah...

Semua orang terluka.

── Kembali ke cerita ──

Étienne membuka map tua lainnya.

Isinya bukan foto.

Melainkan koran-koran lama.

Sampulnya sudah menguning.

Ia menyerahkan satu kepadaku.

Judul utamanya langsung membuatku berhenti bernapas.

"Kebakaran Misterius Menghanguskan Sebuah Panti Asuhan di Pinggiran Paris."

Tanggalnya...

17 Oktober 2014.

Tanggal yang sama dengan kertas di dalam pin.

Aku membaca cepat.

Tidak ada nama korban.

Hanya disebutkan bahwa sebagian besar arsip ikut terbakar.

"Ini..."

gumamku.

"...apa hubungannya denganku?"

Henri menjawab lirih.

"Itu bukan panti asuhan."

Aku mengangkat kepala.

"Lalu?"

"Itu rumah persembunyian."

"Tempat ibumu bersembunyi."

Dadaku kembali sesak.

"Dan aku?"

"Kau juga di sana."

Tanganku mulai gemetar.

"Berarti..."

"...aku ada di dalam kebakaran itu?"

Marcel mengangguk.

"Ya."

"Lalu?"

"Aku membawamu keluar."

Ruangan kembali hening.

Aku memejamkan mata.

Entah kenapa...

Aku mulai mengingat sesuatu.

Bukan ingatan yang jelas.

Hanya potongan-potongan kecil.

Api.

Asap.

Suara perempuan menangis.

Lalu...

Seseorang menggendongku.

Aku spontan memegang kepala.

"Aduh..."

Léo langsung berdiri.

"Maël!"

"Kau kenapa?"

"Entahlah..."

"...kepalaku sakit."

Camille buru-buru mengambil segelas air.

Aku meminumnya perlahan.

Ingatan itu menghilang lagi.

Secepat ia datang.

Di luar toko...

Bel kembali berbunyi.

Ting...

Semua orang refleks menoleh.

Seorang anak laki-laki masuk.

Usianya mungkin sebelas tahun.

Pakaiannya lusuh.

Topi wol menutupi sebagian rambutnya.

Ia membawa setumpuk koran.

"Bonjour."

sapanya.

Camille tersenyum.

"Bonjour, Jules."

Anak itu mengangguk.

Lalu matanya berhenti tepat di wajahku.

Kami saling menatap beberapa detik.

Kemudian...

Matanya membesar.

"Maël?"

Aku ikut bingung.

"Kita kenal?"

Jules mengangguk cepat.

"Tentu."

"Kita pernah rebutan tempat tidur di bawah Jembatan Bir-Hakeim."

Aku langsung tertawa.

"Oh!"

"Anak kecil yang selalu ngorok?"

"Itu bukan ngorok."

"Itu teknik bertahan hidup."

"Teknik apa?"

"Biar tikus takut."

Aku menoleh ke Léo.

"Lihat?"

"Bahkan anak kecil lebih lucu darimu."

"Hei!"

Jules menghampiriku.

"Aku mencarimu."

"Kenapa?"

Ia mengeluarkan sebuah amplop dari balik jaketnya.

"Seseorang menyuruhku memberikan ini."

Henri langsung mengambil amplop itu.

"Siapa yang memberimu?"

Jules mengangkat bahu.

"Seorang pria."

"Ciri-cirinya?"

"Pakai mantel hitam."

"Itu saja?"

"Dia memberiku lima puluh euro."

Aku langsung melongo.

"LIMA PULUH EURO?"

Jules mengangguk bangga.

"Aku langsung beli roti."

"Itu keputusan yang benar."

kataku.

Henri membuka amplop tersebut.

Di dalamnya hanya ada selembar foto.

Foto hitam putih.

Isinya...

Aku.

Masih bayi.

Sedang digendong seorang perempuan.

Namun...

Di belakang perempuan itu...

Berdiri seorang pria memakai topeng rubah.

Wajahnya tidak terlihat.

Tetapi ia sedang memandang lurus ke arah kamera.

Seolah tahu...

Bahwa lima belas tahun kemudian...

Foto itu akan kembali ditemukan.

Di belakang foto hanya tertulis tiga kata.

"Aku menemukannya dulu."

Tidak ada nama.

Hanya simbol rubah hitam.

Ruangan mendadak terasa jauh lebih dingin.

Étienne mengepalkan tangannya.

"Dia..."

"...sedang bermain."

Henri mengangguk.

"Lucien selalu seperti itu."

Aku memandang foto itu lebih lama.

"Berarti..."

"...dia sudah mengawasiku sejak bayi?"

Tak ada yang menjawab.

Karena jawabannya...

Mungkin jauh lebih mengerikan daripada yang kubayangkan.

── Maël kepada kalian ──

Pernah merasa diawasi?

Aku sering.

Biasanya karena habis mencopet dompet orang.

Tapi kali ini berbeda.

Perasaan ini...

Seperti seseorang sudah mengenalku jauh sebelum aku mengenal diriku sendiri.

Dan jujur saja...

Itu jauh lebih menyeramkan daripada dikejar polisi.

── Kembali ke cerita ──

Sore mulai turun.

Hujan benar-benar berhenti.

Cahaya matahari menembus jendela toko buku.

Camille menutup tirainya perlahan.

Henri menggulung semua peta.

Marcel berdiri dan mengambil mantelnya.

"Ayo."

katanya.

"Kita harus pergi."

Aku mengernyit.

"Ke mana?"

Henri menatapku.

"Kau pernah bilang..."

"...kau mengenal setiap lorong di Paris."

"Iya."

"Kalau begitu..."

"...sekarang giliran kau memimpin."

Aku menunjuk diriku sendiri.

"Aku?"

Henri mengangguk.

"Musuh kita mengenal dunia orang dewasa."

"Tapi..."

"...mereka tidak mengenal dunia anak jalanan sebaik dirimu."

Aku tersenyum kecil.

Untuk pertama kalinya...

Ada sesuatu yang bisa kulakukan.

Bukan sebagai anak yang terus diselamatkan.

Melainkan sebagai seseorang yang benar-benar berguna.

Aku mengambil topi lusuhku.

Memasangnya terbalik seperti biasa.

Léo tertawa.

"Nah."

"Maël yang kukenal kembali."

Aku tersenyum lebar.

"Bienvenue."

kataku sambil membuka pintu belakang toko.

"Selamat datang."

"Lupakan peta."

"Lupakan jalan besar."

"Kalau mau menghilang dari Paris..."

"...ikuti aku."

Aku melangkah lebih dulu memasuki gang sempit di belakang toko.

Gang yang bahkan tidak ada di peta wisata.

Gang yang hanya dikenal oleh orang-orang yang hidup di bawah bayangan kota.

Dan tanpa kusadari...

Aku baru saja membawa mereka menuju tempat...

Yang akan mengubah semuanya.

1
aytysz
Semangat yaa kak! kalau kakaknya ada waktu luang, boleh dong berkunjung ke profil ku 🤍 di sana ada cerita sederhana yang mungkin kakaknya suka 💙
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!