NovelToon NovelToon
ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Tujuh tahun lalu, Alena melarikan diri dari Kerajaan Aveloria dalam keadaan hamil. Ayah anaknya adalah Pangeran Adrian, pewaris takhta yang dicintainya diam-diam. Takut dihukum mati dan kehilangan bayinya, Alena memilih menghilang tanpa memberitahu kebenaran. Kini, ia kembali sebagai selir kerajaan bersama Elian, putranya yang berusia tujuh tahun. Adrian membencinya karena mengira Alena meninggalkannya, tetapi kemiripan Elian perlahan membangkitkan kecurigaan. Di tengah intrik istana, pertunangan politik, dan ancaman terhadap putranya, Alena harus mempertahankan rahasia terbesar hidupnya. Namun semakin dekat Adrian dengan Elian, semakin sulit Alena menyembunyikan kebenaran yang dapat mengubah masa depan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33 — ADRIAN MEMBAWA ELIAN KELUAR

Sinar matahari pagi yang cerah membasahi pelataran Paviliun Barat, mengikis sisa-sisa hawa dingin yang menyelimuti dinding batu istana. Di teras kediaman, Elian berdiri memegang lengan kemeja ibunya, matanya berbinar-binar gembira saat menatap sosok tegap yang melangkah mendekat.

Pangeran Adrian berjalan menyusuri lorong taman dengan pakaian yang amat berbeda dari biasanya. Tidak ada zirah perak yang mengintimidasi, tidak ada jubah kebesaran beludru, dan tidak ada pahlawan militer yang kaku. Pria itu hanya mengenakan kemeja linen berwarna biru tua melonggar, celana panjang cokelat gelap, dan mantel kulit biasa—pakaian seorang bangsawan menengah yang tidak memancing perhatian.

Di belakangnya, Gareth dan dua pengawal pribadi mengekor dalam jarak yang cukup jauh, mengenakan pakaian penunggang kuda biasa tanpa lambang kerajaan.

"Ibu! Lihat, Pangeran Adrian datang lagi!" seru Elian riang, melompat-lompat kecil di tempatnya.

Alena berdiri menegang di ambang pintu. Jemarinya meremas kain gaun birunya, matanya menatap Adrian dengan kewaspadaan penuh. Sejak pengungkapan tentang dalang rahasia dari malam pelariannya oleh Mira kemarin, rasa cemas Alena telah mencapai puncaknya.

"Selamat pagi, Alena," sapa Adrian pelan. Suaranya tenang, mengabaikan jarak dingin yang coba dibangun oleh wanita itu. Pandangan mata abu-abu sang pangeran berpindah pada Elian, dan seketika kilatan kehangatan murni terpancar di matanya. "Bagaimana keadaanmu pagi ini, Elian? Lutut dan demammu sudah membaik?"

"Sudah tidak sakit lagi, Yang Mulia!" jawab Elian membanggakan diri, menunjukkan lututnya yang kini tertutup balutan kain bersih. "Aku bahkan sudah bisa melompat!"

Adrian tersenyum tipis, berlutut di atas satu kaki di hadapan anak itu. "Baguslah. Karena hari ini, aku berjanji akan membawamu melihat sesuatu yang jauh lebih seru daripada patung naga di taman."

Mata Elian membelalak lebar. "Sesuatu yang seru? Apa itu?"

"Pasar Kerajaan di Distrik Bawah," kata Adrian seraya mendongak menatap Alena. "Di sana ada pertunjukan boneka kayu, toko kue gandum manis, dan penjual mainan dari wilayah timur."

"Pasar?!" Elian berseru gembira, tangannya menepuk-nepuk udara. "Ibu! Kita boleh pergi ke pasar?!"

"Tidak!" potong Alena cepat, suaranya sedikit terlalu keras dan panik hingga membuat Elian terkejut.

Alena melangkah maju, memindahkan Elian ke balik punggungnya secara refleks. Matanya yang berwarna hijau hazel menatap Adrian dengan kemarahan dan ketakutan yang bercampur aduk.

"Anda tidak bisa membawanya keluar dari lingkungan istana, Yang Mulia," kata Alena tegas, suaranya bergetar tipis. "Istana ini sudah cukup berbahaya, dan membawa anak saya ke area publik seperti Pasar Kerajaan adalah tindakan gila! Saya tidak mengizinkannya."

Adrian berdiri perlahan, merapikan mantel kulitnya. Ia menatap Alena tanpa kejengkolan, memahami betul alasan ketakutan di balik penolakan wanita itu.

"Dia sudah terkunci di dalam paviliun ini selama berminggu-minggu, Alena," ujar Adrian pelan, suaranya penuh nada persuasi yang lembut. "Dia anak kecil yang butuh melihat dunia luar, bukan terus-menerus mengamati tembok batu dan para pengawal yang kaku."

"Tapi bahaya di luar sana—"

"Aku tidak akan membiarkan sehelai rambut pun di kepalanya tersentuh, Alena," potong Adrian dengan ketegasan mutlak. Tangannya terangkat, mengisyaratkan Gareth di kejauhan. "Gareth dan delapan pengawal terbaikku sudah mengamankan rute Pasar Kerajaan. Kami menyamar sebagai masyarakat biasa. Tidak ada yang akan menyadari siapa kami."

Adrian melangkah mendekat, menatap lurus mata Alena dari jarak yang sangat dekat.

"Percayalah padaku, Alena. Sekali ini saja," bisik Adrian, suaranya sarat akan permohonan yang amat jujur. "Aku berjanji akan membawanya kembali kepadamu tanpa cacat sedikit pun."

Alena menelan ludahnya yang terasa pahit. Ia melirik ke arah Elian yang sedang menatapnya dengan mata abu-abu yang besar, memancarkan binar permohonan yang begitu polos. Anak itu sangat merindukan kebebasan yang pernah dirasakannya di Desa Bellmare.

Dinding pertahanan Alena runtuh oleh rasa iba pada putranya.

"Hanya dua jam," kata Alena parau, suaranya dipenuhi ancaman tersirat. "Jika dalam dua jam Anda belum membawanya kembali... saya sendiri yang akan keluar menyusul Anda, Pangeran Adrian."

Adrian tersenyum—sebuah senyuman lega yang tulus. "Dua jam. Aku berjanji."

Pasar Kerajaan Aveloria pagi itu riuh oleh suara pedagang yang menjajakan barang dagangan, gelak tawa warga kota, dan harum semerbak roti gandum yang baru dipanggang dari kedai-kedai tepi jalan. Kereta-kereta kuda melintas pelan di atas jalan berbatu yang ramai.

Di tengah kerumunan warga, Elian berjalan dengan langkah-langkah kecil yang cepat. Tangannya yang mungil tergenggam erat di dalam telapak tangan Adrian yang besar dan tegap. Anak itu terus mendongak, matanya yang besar menyapu setiap kedai—mulai dari penjual buah-buahan eksotis dari wilayah selatan hingga panggung boneka kayu yang dikerumuni anak-anak kota.

Adrian melangkah dengan sabar di sampingnya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Putra Mahkota Aveloria yang terkenal dingin dan kaku di medan perang ini merasa sangat santai. Tidak ada beban takhta, tidak ada perdebatan dewan yang membosankan, dan tidak ada ancaman politik yang menekan dadanya.

Yang ada hanyalah kehangatan jemari mungil anaknya yang berada di dalam genggamannya.

"Pangeran Adrian, lihat itu!" seru Elian, menunjuk ke arah seorang pria tua yang sedang meniup gelembung sabun raksasa di tepi air mancur pasar. "Gelembungnya besar sekali!"

"Kau mau memegang gelembung itu?" tanya Adrian lembut.

"Boleh?!"

Adrian terkekeh pelan, mengangkat tubuh Elian dan mendekatkannya ke arah gelembung sabun yang melayang di udara. Elian menyentuh gelembung itu dengan telunjuknya, tertawa nyaring saat gelembung itu pecah menyemburkan bintik air harum.

Beberapa warga kota dan pedagang di sekitar air mancur memperhatikan interaksi itu. Mereka tersenyum melihat kehangatan seorang 'ayah' berbadan tegap yang begitu memanjakan 'putranya'.

Namun, di balik kehangatan itu, beberapa mata prajurit pengintai yang menyamar di kerumunan memperhatikan hal lain.

Cara Elian tertawa saat berada di samping Adrian, struktur garis rahang anak itu saat mendongak, dan kilatan warna abu-abu di mata mereka berdua... menciptakan pemandangan yang amat serasi. Siapa pun yang memperhatikan dengan cermat akan segera menyadari bahwa keduanya memiliki ikatan darah murni yang tak bisa disangkal.

Gareth, yang berjalan sepuluh langkah di belakang mereka dengan pakaian pedagang, memperhatikan bisik-bisik beberapa pengunjung pasar. Sang kepala pengawal merapatkan mantelnya, memberi isyarat mata kepada para prajurit untuk memperketat lingkaran pengamanan di sekitar Adrian dan Elian.

Sementara itu, Adrian membawa Elian duduk di tepi bangku kayu dekat toko roti manis. Pria itu menyodorkan sepotong kue pai gandum hangat yang baru dibelinya.

"Enak?" tanya Adrian saat melihat mulut Elian penuh oleh remah roti manis.

"Sangat enak!" jawab Elian gembira, menyapu remah kue di pipinya dengan punggung tangan—kebiasaan polos yang langsung membuat Adrian tertawa halus.

Adrian mengulurkan saputangan sutranya, menyapu remah kue di wajah Elian dengan ketelitian yang teramat lembut.

Namun saat jemarinya menyentuh pipi hangat Elian, sebuah perasaan asing yang mendalam mendadak merayap naik ke dada Adrian. Perasaan nyaman, kebahagiaan yang meluap, sekaligus rasa takut yang amat sangat.

Ia merasa sangat nyaman berada di dekat anak ini. Ia merasa utuh setiap kali mendengar tawa nyaring Elian.

Dan justru rasa nyaman itulah yang mulai menakutinya.

Adrian menyadari betapa rentannya dirinya saat ini. Selama bertahun-tahun, ia telah menempa hatinya menjadi besi yang tak tersentuh emosi agar bisa bertahan dalam politik kerajaan yang kejam. Namun kini, anak kecil berusia tujuh tahun yang sedang mengunyah pai gandum di sampingnya ini telah menjadi pusat dari seluruh kelemahannya.

Jika sesuatu terjadi pada Elian... jika musuh-musuhnya di istana menggunakan anak ini untuk menghancurkannya... Adrian tahu ia tidak akan sanggup menanggungnya.

Adrian meremas jemarinya sendiri di atas pangkuannya, menatap wajah Elian yang sedang tersenyum padanya. Di balik ketakutan baru yang hinggap di dalam jiwanya, sebuah janji tersirat kembali mengkristal di benak sang pangeran: ia akan mempertaruhkan seluruh takhta, pedang, dan nyawanya untuk memastikan senyuman polos anak ini tidak akan pernah padam oleh racun Istana Valerian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!