"Kecantikan tak bisa memakan racun kiamat, dan jabatan tak bisa membendung gigitan mayat."
Bereinkarnasi satu tahun sebelum bencana wabah The Them pecah, Thomas—seorang pria asal Indonesia—memilih jalan kelam demi bertahan hidup. Bergabung dengan sindikat perdagangan manusia, ia membiarkan tangannya berlumuran darah, memburu wanita-wanita Jepang untuk dijual kepada para pejabat demi satu tujuan: mengumpulkan modal tanpa batas.
Seluruh uang haram itu ia sulap menjadi sebuah Fortress Mansion bernilai miliaran yen di puncak pegunungan dekat SMA Fujimi—benteng pertahanan baja mandiri yang dilengkapi teknologi tinggi, stok logistik melimpah, dan persenjataan lengkap yang dapat dioperasikan seorang diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamang to get her...., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 Pengusiran Di dalam Bus
Pintu kaca pintu keluar parkiran hancur berantakan saat kelompok itu menerobos keluar. Di halaman luar, sebuah bus sekolah berwarna hijau terparkir anggun. Suster Shizuka berlari paling depan dengan kunci di tangannya, disusul oleh Saya, Kohta, Rei, dan Saeko. Thomas berjalan paling belakang, dengan tenang menebas dua zombie yang mencoba merangkak menggapai tumitnya.
"Cepat masuk! Semuanya!" teriak Takashi sambil menahan pintu bus.
Satu per satu dari mereka memanjat naik ke dalam bus. Suster Shizuka segera masuk ke kursi pengemudi, memutar kunci kontak. Mesin bus meraung hidup, menggelegar menembus suara jeritan di sekitar sekolah.
Namun, di saat Thomas hendak melangkah menaiki tangga bus, sesosok pria paruh baya berseragam guru menjejakkan kakinya di pintu—Shido Koichi, guru manipulatif yang baru saja memimpin rombongan siswa lain keluar dari gedung. Di belakang Shido, Takashi berdiri memblokir jalan masuk dengan wajah tegang.
"Tunggu dulu," ujar Takashi dingin, memegang erat gagang tombaknya. "Kau tidak bisa ikut bus ini."
Suasana di dalam bus seketika mendadak hening. Saeko yang berada di barisan depan langsung menoleh tajam. "Takashi, apa maksudmu? Pria ini baru saja menyelamatkan nyawa kita di koridor."
"Dia benar, Takashi!" pangkas Rei, matanya menatap Takashi dengan bingung. "Tanpa parangnya, kita tidak akan pernah berhasil menembus tangga!"
"Dia asing! Dia berbahaya!" potong Takashi dengan nada suara meminggi. Tatapannya penuh prasangka dan kecemburuan yang meluap. "Lihat pakaiannya! Peralatan militernya! Parangnya! Dia bukan siswa, dia bukan guru. Bagaimana kalau dia ini penjahat atau buronan sebelum kiamat pecah? Mau ditaruh di mana keselamatan kita jika membiarkan serigala masuk ke dalam kandang domba?"
Shido Koichi mengumbar senyum liciknya, mengambil kesempatan untuk memperkuat posisinya. "Siswa Komuro benar. Di saat krisis seperti ini, ancaman terbesar bukanlah monster di luar, melainkan orang luar yang tidak terkendali. Demi keselamatan para siswa, kita tidak bisa menerima orang yang tidak beridentitas."
Saya Takagi menggigit bibirnya. Ia melirik Thomas, lalu melirik Takashi dan rombongan siswa lain yang mulai terpengaruh provokasi Shido. Meskipun Saya tahu betapa berharganya kemampuan tempur Thomas, plot armor dan tekanan kelompok membuatnya memilih untuk diam. Begitu pula dengan Suster Shizuka yang terlalu cemas untuk angkat bicara.
Thomas berdiri di anak tangga bawah bus, menatap Takashi yang berdiri angkuh di atasnya. Di mata Thomas, Takashi hanyalah seorang remaja tanggung yang ketakutan akan kehilangan posisinya sebagai "pahlawan" dan "pemimpin alpha" di mata gadis-gadis di sekelilingnya.
Thomas tidak marah. Ia bahkan tidak berkedip. Senyum sinis tertutup rapi di balik masker militernya.
"Kau pikir aku butuh bus ini?" suara Thomas terdengar sangat tenang, begitu datar hingga membuat Takashi yang membusungkan dada justru merasa merinding.
Thomas memundurkan kakinya satu langkah, melangkah turun dari tangga bus. Ia menatap ke dalam bus, menyapu pandangannya pada wajah-wajah gadis cantik yang dulu dipuja-puja di sekolah itu.
"Ingat hari ini," ujar Thomas pelan namun sarat ancaman. "Dunia yang kalian kenal sudah mati. Wajah tampan, kecantikan, gelar guru, atau kepemimpinan moral kalian... semua itu hanyalah sampah tak berguna di dunia baru."
Thomas berbalik badan, menyarungkan machete-nya yang masih berlumuran darah ke dalam sarung kulit di pahanya. Tanpa menoleh lagi, ia berjalan santai meninggalkan bus menuju jalan setapak yang mengarah ke wilayah pegunungan.
"Jalankan busnya, Suster!" teriak Takashi, menutupi rasa bergetar di dadanya saat menatap punggung Thomas yang berjalan menjauh tanpa rasa takut sedikit pun.
Bus sekolah itu akhirnya melaju kencang, menerobos barikade zombie dan meninggalkan area SMA Fujimi. Di dalam bus, Saeko Busujima menatap keluar jendela belakang, memperhatikan sosok Thomas yang perlahan menyatu dengan kegelapan bukit. Saeko tahu, kelompok mereka baru saja membuang satu-satunya orang yang benar-benar siap menghadapi neraka yang sesungguhnya.
Sementara itu, Thomas terus melangkah mendaki jalan pegunungan menuju mansion bentengnya. Udara dingin menyapa wajahnya.
"Biarkan mereka menikmati permainan pahlawan-pahlawanan mereka," gumam Thomas dingin. "Ketika perut mereka mulai melilit kelaparan dan monster sesungguhnya muncul, kita lihat seberapa jauh moralitas itu bisa menyelamatkan nyawa mereka."